Chapter Nineteen
Namanya Wulan
POV: Vero
Aku mau mencatat sejak awal bahwa aku bukan orang yang cemburuan.
Aku sudah dua puluh tiga tahun dan aku tidak pernah, satu kali pun, memeriksa ponsel siapa pun. Aku tidak percaya pada kepemilikan. Aku percaya pada kepercayaan.
Aku menulis kalimat-kalimat itu di kepalaku hari Selasa sore sambil melihat foto di ponsel Ardafa, dan aku menulisnya dengan sangat keras, seperti orang yang sedang meyakinkan hakim.
Fotonya tidak sengaja.
Aku sedang mencari foto Sekar waktu ulang tahun kemarin karena Ardafa bilang ada dan aku belum lihat. Dia menyerahkan ponselnya begitu saja, tanpa dibuka dulu, tanpa dihapus apa pun, dengan sikap orang yang tidak punya apa pun untuk disembunyikan — sikap yang, di kemudian hari, akan aku sadari sebagai bagian dari masalahnya sendiri.
Aku menggeser ke atas.
Dan di antara foto surat jalan, foto papan jadwal, dan foto delapan belas struk barang masuk, ada satu foto orang.
Perempuan. Seragam gudang. Rambut diikat. Sedang tertawa sambil menunjuk ke arah kamera.
Aku berhenti menggeser.
“Ini siapa?”
Ardafa melihat sekilas dari kursi. “Wulan.”
“Wulan siapa?”
“Admin gudang.”
“Kok difoto?”
“Dia yang minta.” Dia kembali membaca sesuatu di kertas. “Buat kartu identitas darurat. Semua orang difoto.”
“Kok cuma dia yang ada di hape kamu?”
“Yang lain udah aku kirim.”
“Kenapa yang ini belum?”
“Karena sinyalnya jelek.”
Penjelasan itu masuk akal. Penjelasan itu seratus persen masuk akal. Aku memberikan ponselnya kembali dan berkata “oh, oke” dengan nada yang sangat dewasa.
Lalu aku memikirkannya sampai jam sebelas malam.
Rabu.
“Wulan itu udah lama kerja di situ?”
“Delapan bulan.”
“Umurnya berapa?”
“Nggak tahu.”
“Kok nggak tahu?”
“Kenapa aku harus tahu?”
Aku menatap layar mesin kasir dan mengetik angka yang salah.
Kamis.
“Kalian sering ngobrol?”
“Siapa?”
“Kamu sama Wulan.”
Ardafa mengangkat kepalanya dari gelas kopi.
Dan aku melihat sesuatu muncul di wajahnya — sesuatu yang kecil, yang cuma terlihat kalau kamu sudah menghabiskan empat bulan mempelajari wajah itu dari jarak sebelas meter.
Dia senang.
Laki-laki itu senang.
“Lumayan,” katanya.
“Lumayan itu berapa?”
“Tiap hari.”
Aku menutup laci uang lebih keras dari yang diperlukan.
“Ngomongin apa?”
“Surat jalan.”
“Doang?”
“Kadang cuaca.”
“CUACA?”
Dia menyeruput kopinya dengan wajah paling datar yang pernah diciptakan Tuhan.
Jumat.
Yoga menemukanku sedang berdiri di depan rak minuman selama empat menit tanpa mengambil apa pun.
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Vero, itu rak isotonik. Kamu nggak minum isotonik.”
“Aku lagi mikir.”
“Mikirin apa?”
“Kalau ada perempuan namanya Wulan,” kataku pelan, “menurutmu itu perempuan kayak gimana?”
Yoga meletakkan krat.
“Vero.”
“Apa.”
“Kamu cemburu.”
“Aku nggak cemburu.”
“Kamu berdiri di depan isotonik empat menit.”
“Aku lagi cek tanggal kedaluwarsa.”
“Kamu nggak megang apa-apa.”
Aku berbalik dan pergi ke kasir dan Yoga mengikuti sambil tertawa dengan cara yang sangat tidak profesional.
“Nama Wulan itu netral banget,” katanya dari belakang. “Bisa jelek, bisa cantik. Itu yang bikin kamu gila, kan?”
“Yoga.”
“Kalau namanya Sri kamu udah tenang dari kemarin—”
“YOGA.”
Dari kursi plastik di depan kaca, Pak Herman menyeruput kopinya.
“Foto,” kata beliau.
Kami berdua menoleh.
“Kalau mau tenang, lihat fotonya,” lanjut beliau, tanpa menurunkan koran. “Bayangan itu selalu lebih besar dari orangnya.”
Aku sudah lihat fotonya.
Itu masalahnya. Aku sudah lihat fotonya dan dia cantik, dan dia sedang tertawa, dan orang yang mengambil fotonya adalah pacarku.
Aku memikirkan ini sepanjang Sabtu dan sampai pada kesimpulan yang sangat matang: aku akan bersikap normal dan tidak akan menyinggungnya lagi.
Aku menyinggungnya jam empat lima puluh keesokan paginya, dalam waktu kurang dari dua puluh detik setelah pintu terbuka.
“Wulan hari ini masuk?”
Ardafa berhenti melepas tudungnya.
Lalu — dan aku bersumpah aku melihatnya — sudut bibirnya naik.
“Kenapa?”
“Nanya doang.”
“Vero.”
“NANYA DOANG.”
Dia berjalan ke rak roti sambil, aku yakin sekali, tersenyum.
Dan waktu dia sampai di kasir, dia menaruh roti dan susunya seperti biasa, mengeluarkan uang pas seperti biasa, lalu berkata dengan nada orang menyebutkan nomor gudang:
“Wulan udah nikah tiga tahun. Anaknya dua. Suaminya kerja di bagian ekspedisi. Namanya Pak Yudi. Orangnya lucu.”
Aku berdiri di belakang mesin kasir.
“...oh.”
“Dia yang foto itu buat kartu identitas darurat, dan dia minta aku yang motoin karena tangan aku paling stabil di gudang.”
“Oh.”
“Dan dia ngomongin cuaca terus karena rumahnya di daerah yang tiap hujan banjir.”
“Oh.”
Ardafa mengambil susunya dari meja.
“Kamu udah tahu dari kapan?” tanyaku.
“Hari Rabu.”
“HARI RABU?”
“Waktu kamu nanya umurnya.”
“KENAPA NGGAK LANGSUNG DIBILANG?”
Dia menaruh susu itu kembali ke meja, mencondongkan badan ke depan sampai wajahnya sejajar dengan wajahku, dan berkata dengan suara paling tenang di dunia:
“Karena aku suka.”
“Suka apa?”
“Kamu, kalau lagi begitu.”
Aku melempar struk ke arahnya.
Struk itu, karena struk adalah benda seberat nol koma dua gram, melayang ke samping dan jatuh di lantai satu meter dari kaki kami.
Kami berdua menatapnya.
“Aku mau lempar yang lebih berat,” kataku.
“Jangan susunya.”
“Aku nggak akan lempar susunya.”
“Sekar bakal—”
“AKU TAHU SEKAR BAKAL MARAH, DAFA.”
Dia mengejarku ke belakang kasir dan aku tidak lari terlalu cepat, dan itu adalah keputusan yang aku ambil secara sadar dan akan aku bela di pengadilan mana pun.
Dia menangkap pergelangan tanganku di depan pintu ayun.
“Marah?”
“Iya.”
“Beneran?”
“Iya.”
“Vero.”
“Jangan panggil aku pakai suara itu.”
“Suara apa?”
“Suara yang kamu pakai kalau kamu tahu kamu bakal menang.”
Dia menarik pergelangan tanganku pelan sampai aku berbalik, lalu meletakkan tangannya di pipiku, dan aku sudah kalah bahkan sebelum dia bicara.
“Aku nyimpen struk kamu di kaleng empat bulan,” katanya. “Kamu pikir aku bisa mikirin orang lain?”
“Itu bukan alasan—”
“Aku hafal jepit rambut kamu ada empat.”
“Dafa—”
“Aku tahu kamu meniup poni kamu, bukan dibetulin pakai tangan, karena tangan kamu selalu megang sesuatu.”
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan dan mengerang ke dalam telapak tanganku.
“Kamu curang.”
“Kamu bilang itu tiap hari.”
“KARENA BENER TIAP HARI.”
Dia melepaskan tanganku dari wajahku satu per satu, pelan, seperti orang membuka bungkus sesuatu, lalu mencium keningku.
“Wulan bawa gorengan tiap Jumat,” katanya. “Kamu mau aku bawain?”
“Iya.”
“Yang mana?”
“Semuanya.”
Dan aku dengar dia tertawa di atas kepalaku, dan hari itu — untuk sisa hari itu — aku tidak bisa berhenti tersenyum di depan pelanggan sampai ada bapak-bapak yang bertanya apakah ada promo.
- 1 Hari ke Seratus Delapan Belas
- 2 Empat Kata
- 3 Teori Nomor Tujuh
- 4 Tiga Detik
- 5 Stok Roti Sobek
- 6 Sebelas Sentimeter
- 7 Arah yang Salah
- 8 Saksi Berumur Delapan Tahun
- 9 Kasihan
- 10 Tanpa Ketukan
- 11 Orang Ini Siapa
- 12 Kursi Plastik Nomor Dua
- 13 Gudang Belakang
- 14 Interogasi Jam Satu Pagi
- 15 Ujian Masuk
- 16 Negosiasi Gagal
- 17 Rekaman Kamera Tiga
- 18 Kaus yang Kebesaran
- 19 Namanya Wulan reading
- 20 Kue yang Miring
- 21 Kolom Nama Wali
- 22 Delapan Belas Foto
- 23 Kabar Bagus
- 24 Yang Aku Hitung
- 25 Sendirian di Tangga Besi
- 26 Yang Tidak Aku Tahu
- 27 Komite
- 28 Izin
- 29 Ditolak di Baris Ketiga
- 30 Telepon Pertama
- 31 Nama-Nama
- 32 Jam Empat Lima Puluh