Chapter Sixteen
Negosiasi Gagal
POV: Ardafa
Idenya datang dari Vero dan aku sudah tahu dari awal itu tidak akan berhasil.
“Aku mau bikinin Sekar sarapan.”
“Nggak bisa.”
“Kenapa nggak bisa?”
“Karena dia cuma mau roti sobek cokelat sama susu stroberi.”
“Iya, tapi kan itu—” Dia menggerakkan tangannya. “Itu kan bukan sarapan. Itu kudapan yang dipromosikan jadi sarapan.”
“Aku tahu.”
“Anak umur delapan tahun harusnya makan yang ada proteinnya.”
“Aku tahu.”
“Kamu udah pernah coba?”
Aku menatapnya.
“Dua tahun,” kataku. “Aku udah coba dua tahun.”
Dan Vero — yang sedang berdiri di belakang mesin kasir dengan seragam kebesaran dan lengan dilipat sampai siku dan wajah orang yang belum pernah kalah dari siapa pun di bawah umur sepuluh — mengangkat dagunya.
“Kamu belum pernah coba pakai aku.”
Hari Selasa. Hari liburnya. Yang tertulis di papan gabus rumahku dengan pulpen, yang sampai sekarang masih dia singgung tiga kali sehari.
Dia datang jam setengah lima pagi.
Aku belum pulang dari gudang. Dia menunggu di gang dengan tas belanja di kedua tangan, di depan pintu rumahku, dalam gelap, sendirian.
“Kamu gila?”
“Selamat pagi juga.”
“Vero, ini jam setengah lima—”
“Aku jalan kaki lima menit dari kos ke toko tiap hari jam empat, Dafa.” Dia menyerahkan satu tas belanja ke tanganku. “Ini gang kamu lebih rame daripada jalanan depan toko. Ada tiga orang lagi nyalain motor tadi.”
Aku membuka pintu dan tidak menang perdebatan itu, seperti biasa.
Isi tas belanjaannya: telur, roti tawar gandum, keju lembaran, susu segar, pisang, dan satu bungkus sosis yang bentuknya dibuat seperti dinosaurus.
“Itu apa?”
“Sosis dinosaurus.”
“Kenapa dinosaurus?”
“Karena anak-anak suka dinosaurus.”
“Sekar nggak suka dinosaurus.”
Dia berhenti. “Semua anak suka dinosaurus.”
“Sekar suka gurita.”
“Kenapa gurita?”
“Karena tangannya delapan dan umurnya delapan. Dia bilang itu bukan kebetulan.”
Vero menatap bungkus sosis dinosaurus di tangannya dengan ekspresi seorang jenderal yang baru menyadari peta perangnya salah cetak.
Aku duduk di kursi plastik dan menonton.
Ini bagian favoritku dari seluruh hari itu, dan aku akan mengakuinya sekarang karena tidak ada yang bisa membuktikan sebaliknya: aku tidak membantu sama sekali.
Aku bisa. Dapurnya dapurku. Aku tahu kompor sebelah kiri apinya tidak rata dan wajan yang bagus yang gagangnya agak longgar. Aku bisa berdiri dan membantu dalam empat detik.
Aku tidak melakukannya, karena perempuan itu sedang memasak di dapurku dengan rambut diikat asal pakai jepit kuning dan lengan seragam — bukan seragam, kaus biasa, tapi tetap kebesaran karena semua yang dia pakai selalu kebesaran satu ukuran — dan sesekali dia meniup poninya karena tangannya kotor.
Aku sudah lama tahu dia manis. Aku sudah lama tahu itu dari jarak sebelas meter di belakang mesin kasir.
Di dapurku, jam lima kurang, dengan bau mentega dan bunyi telur, itu berhenti jadi sesuatu yang bisa aku tanggung dengan tenang.
“Kamu ngeliatin.”
“Iya.”
“Ngeliatin apa?”
“Kamu.”
Dia menjatuhkan spatula.
“Berhenti.”
“Nggak.”
“Ardafa, aku lagi masak, kalau aku kebakar itu salah kamu.”
“Aku bakal ganti.”
“Ganti apa? Ganti tangan aku?”
“Ganti sarapannya.”
Dan dia melempar sarung tangan oven ke arahku dan meleset satu meter.
Jam lima lewat sepuluh, Sekar keluar kamar.
Dia berhenti di ambang pintu. Rambut satu sisi menempel di pipi. Seragam kancing atas salah lubang, seperti biasa, seperti setiap hari selama dua tahun.
Dia melihat meja.
Di meja: roti bakar keju yang dipotong segitiga, telur dadar yang digulung rapi, potongan pisang, dan segelas susu segar dengan sedotan.
Lalu dia melihat Vero.
Lalu dia melihat aku.
“Kak.”
“Iya.”
“Ini apa.”
“Sarapan.”
Sekar naik ke kursi. Duduk. Melipat kedua tangannya di atas meja.
“Kak Vero.”
“Iya, Sekar?”
“Ini bagus banget.”
Aku melihat wajah Vero menyala.
“Iya?”
“Iya. Ini kayak di hotel.”
“Kamu pernah ke hotel?”
“Belum. Tapi kayaknya gini.”
Vero duduk di kursi seberang dengan wajah orang yang baru saja memenangkan perang tanpa perlu bertempur.
Aku tidak berkata apa-apa. Aku sudah tahu apa yang akan terjadi. Aku sudah dua tahun tahu apa yang akan terjadi.
“Tapi aku nggak makan.”
Wajah Vero berhenti.
“...kenapa?”
“Aku nggak makan yang beginian pagi-pagi.”
“Kamu belum coba.”
“Aku udah tahu.”
“Sekar.” Vero mencondongkan badan, dan aku bisa dengar dia mengganti persneling ke mode yang dia pakai untuk pelanggan yang komplain. “Kalau kamu coba satu gigit dan kamu nggak suka, aku nggak akan maksa lagi. Janji.”
Sekar mempertimbangkan ini.
Lalu dia mengambil satu segitiga roti bakar, menggigit ujungnya, mengunyah tujuh kali, dan menelan.
Hening.
“Gimana?”
“Enak.”
Vero mengangkat kedua tangannya.
“Tapi aku tetep nggak makan.”
“KAMU BILANG ENAK.”
“Iya, enak.” Sekar meletakkan roti itu kembali ke piring dengan hati-hati. “Tapi aku nggak makan yang enak pagi-pagi.”
Vero menatapku.
Aku mengangkat bahu.
“Kenapa?” tanyanya ke Sekar, dan suaranya sudah setengah putus asa. “Kenapa nggak boleh yang enak?”
Dan Sekar — yang berumur delapan tahun, yang seragamnya salah kancing, yang belum pernah ke hotel — menjawab dengan nada anak yang sedang menjelaskan hal paling jelas di dunia:
“Karena kalau aku makan yang enak, nanti Kakak nggak beli roti.”
Dapur itu jadi sangat sunyi.
“Kalau Kakak nggak beli roti,” lanjutnya, sambil menusuk pisang dengan garpu, “Kakak nggak ke toko. Kalau Kakak nggak ke toko, Kakak nggak ketemu Kak Vero.”
Dia memasukkan pisang ke mulutnya.
“Aku udah mikirin ini dari bulan lalu.”
Aku tidak bisa bicara selama beberapa detik.
Waktu aku menoleh ke Vero, dia sudah menutup mulutnya dengan kedua tangan dan matanya sudah basah, dan dia menggeleng ke arahku seperti orang yang minta jangan diajak bicara dulu.
“Sekar,” kataku akhirnya.
“Hm.”
“Kakak tetep akan ke toko.”
“Beneran?”
“Iya.”
“Walaupun aku makan telur?”
“Walaupun kamu makan telur.”
Sekar berpikir selama tiga detik penuh.
Lalu dia menarik piring itu mendekat dan mulai makan dengan kecepatan anak yang sudah lapar dari tadi dan menahannya berdasarkan perhitungan strategis.
Vero berdiri, jalan ke belakang kursi Sekar, dan memeluk kepalanya dari belakang.
“Kak Vero, aku lagi makan.”
“Bentar.”
“Kak Vero.”
“BENTAR.”
Pagi itu aku tetap ke toko.
Dua roti sobek cokelat, satu susu stroberi — untuk bekal, bukan sarapan, karena Sekar bilang “kalau nggak dibeli nanti tokonya rugi” dan tidak ada satu pun dari kami yang punya energi untuk membantah logika itu.
Vero berdiri di belakang kasir dengan mata yang masih bengkak.
“Empat belas ribu lima ratus,” katanya, dan suaranya pecah di angka lima ratus.
Aku mengulurkan uangnya dan membiarkan tanganku di sana lebih lama dari yang perlu.
“Kamu kalah sama anak delapan tahun,” kataku.
“Aku nggak kalah.”
“Kamu kalah telak.”
“Aku menang.” Dia menghapus matanya dengan punggung tangan dan tersenyum sampai lesungnya kelihatan penuh. “Aku menang banyak banget, Dafa.”
- 1 Hari ke Seratus Delapan Belas
- 2 Empat Kata
- 3 Teori Nomor Tujuh
- 4 Tiga Detik
- 5 Stok Roti Sobek
- 6 Sebelas Sentimeter
- 7 Arah yang Salah
- 8 Saksi Berumur Delapan Tahun
- 9 Kasihan
- 10 Tanpa Ketukan
- 11 Orang Ini Siapa
- 12 Kursi Plastik Nomor Dua
- 13 Gudang Belakang
- 14 Interogasi Jam Satu Pagi
- 15 Ujian Masuk
- 16 Negosiasi Gagal reading
- 17 Rekaman Kamera Tiga
- 18 Kaus yang Kebesaran
- 19 Namanya Wulan
- 20 Kue yang Miring
- 21 Kolom Nama Wali
- 22 Delapan Belas Foto
- 23 Kabar Bagus
- 24 Yang Aku Hitung
- 25 Sendirian di Tangga Besi
- 26 Yang Tidak Aku Tahu
- 27 Komite
- 28 Izin
- 29 Ditolak di Baris Ketiga
- 30 Telepon Pertama
- 31 Nama-Nama
- 32 Jam Empat Lima Puluh