Chapter One
Hari ke Seratus Delapan Belas
POV: Vero
Ada tiga hal yang aku tahu tentang jam empat pagi.
Pertama, jalanan depan terminal masih basah walaupun tidak hujan. Kedua, tukang bubur di ujung gang sudah menyalakan kompornya sebelum aku bangun, dan dia selalu mengangguk waktu aku lewat seolah kami dua orang yang punya rahasia yang sama. Ketiga, Mentega akan menungguku di parkiran dengan tampang seperti tidak menunggu siapa-siapa.
“Pagi,” kataku.
Mentega menguap. Kucing oranye itu bahkan tidak berdiri. Dia cuma menggeser ekornya sedikit, yang dalam bahasa kucing mungkin artinya jangan dekat-dekat, aku belum siap sosialisasi.
Aku membuka gembok rolling door. Bunyinya selalu terlalu keras untuk jam segini, seperti seseorang menjatuhkan sekantong sendok dari lantai dua. Tiga bulan pertama aku merasa bersalah setiap kali membukanya. Sekarang aku sudah tidak.
Lampu neon menyala satu per satu, dari belakang ke depan, seperti toko ini bangun pelan-pelan sama seperti aku.
Jam empat lewat lima belas.
Aku punya empat puluh lima menit sebelum toko resmi buka, dan aku tahu persis harus mengisi waktu itu dengan apa. Mesin kopi dinyalakan. Rak roti diperiksa. Kulkas minuman ditata ulang karena shift malam kemarin selalu menaruh teh kotak di baris yang salah, dan aku sudah menyerah menegurnya.
Jam setengah lima, Pak Herman datang.
Dia selalu datang setengah jam sebelum buka dan duduk di kursi plastik depan kaca, walaupun kopinya belum boleh dibeli sampai kasir menyala. Aku sudah lama berhenti melarang. Aku cuma menyiapkan gelas dan menaruhnya di meja tanpa dicatat, dan kami berdua pura-pura itu tidak terjadi.
“Kemarin bibirmu sumbing sebelah,” katanya.
“Apa, Pak?”
“Senyum.” Dia menyeruput. “Kemarin senyummu miring. Ada apa?”
“Nggak ada apa-apa.”
“Bohong itu dosanya kecil, tapi menumpuk.”
Aku tertawa dan kembali ke belakang kasir. Pak Herman tidak pernah mengejar jawaban. Dia melempar kalimat seperti orang melempar batu ke kolam — sudah, selesai, terserah airnya mau bergerak sampai kapan.
Yang dia bilang tidak sepenuhnya salah, sih.
Jam empat empat puluh, aku mulai melihat ke pintu.
Aku tidak akan mengaku bahwa ini kebiasaan. Kalau ada yang bertanya, aku sedang mengecek apakah lampu papan nama di luar sudah menyala. Papan nama itu memang sering rusak. Itu alasan yang sangat masuk akal dan aku sudah memakainya seratus delapan belas kali.
Iya. Seratus delapan belas.
Aku menghitungnya bukan karena aku aneh. Aku menghitungnya karena aku pernah iseng menandai kalender di ruang belakang dengan pulpen merah, dan setelah tanda kelima aku jadi tidak bisa berhenti. Sekarang kalender itu penuh dan Yoga mengira aku sedang mencatat siklus sesuatu, dan aku membiarkan dia mengira begitu karena penjelasan yang sebenarnya jauh lebih memalukan.
Jam empat empat puluh delapan.
Aku merapikan poniku, lalu langsung menyesal karena merapikan poni itu artinya aku peduli, dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak peduli. Jadi aku meniupnya balik ke tempat semula. Kompromi.
Jam empat lima puluh.
Ketukan.
Dua kali, di kaca, di titik yang sama setiap hari — sedikit di atas stiker promo susu yang sudah kedaluwarsa promonya sejak Februari.
Aku menekan tombol pembuka pintu otomatis, yang seharusnya tidak boleh aku lakukan sebelum jam lima, dan yang sudah aku lakukan seratus delapan belas kali.
Dia masuk.
Jaket hitam yang sama. Tudung dilepas begitu melewati pintu, selalu, seperti orang yang diajari sopan santun sejak kecil dan tidak bisa melupakannya walaupun sedang sangat lelah. Rambut depannya terlalu panjang. Matanya merah di sudut, bukan merah menangis — merah orang yang lupa kapan terakhir tidur.
Dia berjalan lurus ke rak roti. Tidak melihat kiri kanan. Tidak berhenti di depan rak snack seperti manusia normal yang tergoda oleh diskon.
Tujuh langkah ke rak roti. Empat langkah ke kulkas. Sebelas langkah ke kasir.
Aku tahu jumlah langkahnya. Ini juga bukan sesuatu yang akan aku akui pada siapa pun.
Dua roti sobek cokelat, satu susu stroberi.
Dia menaruhnya di meja kasir dengan hati-hati, seperti barang itu bisa pecah. Roti. Yang bisa pecah. Aku sudah lama ingin menegur soal ini tapi tidak pernah menemukan cara yang tidak terdengar seperti aku mengawasinya, yang mana — ya. Benar juga.
“Empat belas ribu lima ratus,” kataku.
Uangnya sudah ada di tangannya sebelum aku selesai bicara. Selalu pas. Selembar sepuluh ribu, selembar dua ribu, dua lembar seribu, dan satu koin lima ratus yang entah dari mana dia dapat setiap hari, karena aku yang jaga kasir di kota ini dan aku tahu koin lima ratus itu langka seperti hujan di bulan Agustus.
Jarinya tidak menyentuh jariku. Tidak pernah. Uangnya diletakkan, bukan diberikan.
“Kantong plastik?” tanyaku, walaupun aku sudah tahu.
“Nggak usah.”
Dua kata. Suaranya rendah dan agak serak, dan aku benci bahwa aku menunggu dua kata itu setiap pagi seperti orang menunggu lagu favorit di radio.
Dia memasukkan roti ke saku jaket. Susu kotaknya dipegang di tangan kiri, tidak pernah dimasukkan ke mana pun, seperti benda itu punya perlakuan khusus.
Dia berbalik.
Dan aku, karena aku memang tidak bisa menahan diri, mengucapkan kalimat yang sama seperti kemarin, dan kemarinnya lagi, dan seratus enam belas hari sebelum itu.
“Hati-hati di jalan.”
Dia berhenti di ambang pintu. Setengah detik. Mungkin kurang.
Lalu keluar.
Pintu menutup pelan. Di luar, langit sudah mulai abu-abu di pinggirnya. Aku melihat punggung jaket hitam itu menyeberang, melewati Mentega yang — dan ini yang membuatku benar-benar tersinggung — langsung berdiri dan menggesekkan badan ke kakinya.
Kucing itu tidak pernah berdiri untukku. Tidak sekali pun. Aku memberinya makan tiga kali seminggu.
“Pengkhianat,” gumamku.
“Ngomong sama siapa?” Yoga muncul dari pintu belakang sambil mengancingkan seragam yang selalu salah kancing di lubang pertama. “Jangan bilang kucing lagi.”
“Bukan.”
“Kucing lagi.”
“Bukan.”
Yoga melihat ke kaca, ke arah jalan, ke punggung yang sudah hampir hilang di belokan. Lalu dia melihat ke aku. Lalu ke kaca lagi. Aku bisa mendengar otaknya bekerja dari jarak dua meter dan bunyinya tidak menyenangkan.
“Ohhh,” katanya.
“Jangan.”
“Aku belum ngomong apa-apa.”
“Kamu udah bilang ‘ohhh’. Itu udah termasuk ngomong.”
Dari kursi plastik di depan kaca, tanpa menoleh, tanpa menurunkan gelas kopinya, Pak Herman berkata pelan:
“Seratus delapan belas.”
Aku menjatuhkan struk.
Yoga berbalik dengan wajah seorang manusia yang baru saja diberi kunci ke seluruh perpustakaan dunia.
“Seratus delapan belas apa, Pak?”
“Tanya kasirmu.”
Dan pensiunan itu menyeruput kopinya dengan tenang, seperti orang yang sudah lama tahu segalanya dan baru hari ini memutuskan bahwa membocorkannya akan lebih menghibur.
- 1 Hari ke Seratus Delapan Belas reading
- 2 Empat Kata
- 3 Teori Nomor Tujuh
- 4 Tiga Detik
- 5 Stok Roti Sobek
- 6 Sebelas Sentimeter
- 7 Arah yang Salah
- 8 Saksi Berumur Delapan Tahun
- 9 Kasihan
- 10 Tanpa Ketukan
- 11 Orang Ini Siapa
- 12 Kursi Plastik Nomor Dua
- 13 Gudang Belakang
- 14 Interogasi Jam Satu Pagi
- 15 Ujian Masuk
- 16 Negosiasi Gagal
- 17 Rekaman Kamera Tiga
- 18 Kaus yang Kebesaran
- 19 Namanya Wulan
- 20 Kue yang Miring
- 21 Kolom Nama Wali
- 22 Delapan Belas Foto
- 23 Kabar Bagus
- 24 Yang Aku Hitung
- 25 Sendirian di Tangga Besi
- 26 Yang Tidak Aku Tahu
- 27 Komite
- 28 Izin
- 29 Ditolak di Baris Ketiga
- 30 Telepon Pertama
- 31 Nama-Nama
- 32 Jam Empat Lima Puluh