← Shift Ketiga

Chapter Twenty Seven

Komite

POV: Vero


Rapat pertama diadakan hari Selasa jam sebelas siang di ruang belakang toko, di antara kardus retur dan rak besi baris tiga yang bautnya M10.

Yang hadir: aku, Yoga, Bu Tuti, Pak Herman, dan satu anak berumur delapan tahun yang seharusnya sedang di sekolah tapi ternyata hari itu libur karena rapat guru.

“Sebelum mulai,” kata Bu Tuti, “Ibu mau bilang bahwa ini bukan rapat resmi dan tidak ada notulennya.”

“Bu, Yoga bawa buku.”

“Yoga, taruh bukunya.”

“Ini buku stok, Bu.”

“Bagus. Berarti kalau ada yang nanya, kita lagi bahas stok.”


Aku menjelaskan situasinya selama enam menit.

Bukan versi lengkapnya. Aku tidak menceritakan bagian di gerbang gudang, atau bagian di tengah toko hari Sabtu, karena itu bukan milik siapa-siapa selain kami berdua.

Aku menceritakan yang perlu: ada tawaran kerja bagus. Ardafa menolaknya. Alasannya jadwal. Kalau dia masuk kantor, kami cuma bertemu tiga jam sehari dan yang delapan menit setiap pagi hilang.

“Dan dia nggak akan berubah pikiran,” kataku. “Karena dia udah nolak, dan orang itu kalau udah mutusin sesuatu, dia nggak bakal nyusahin orang lain buat balikin.”

Hening.

“Jadi,” kata Yoga pelan, “kita harus bikin dia nggak perlu milih.”

“Iya.”

“Vero, itu artinya kamu yang pindah shift.”

“Iya.”

Bu Tuti melepas kacamatanya.

“Kamu udah mikirin ini berapa lama?”

“Empat hari.”

“Kamu udah ngomong ke dia?”

“Belum.”

Dan Bu Tuti — yang sudah dua puluh dua tahun kerja di ritel, yang sudah melihat orang mencuri dan berbohong dan kabur membawa setoran — meletakkan kacamatanya di meja dan menatapku dengan tatapan yang membuatku ingin menunduk.

“Vero.”

“Iya, Bu.”

“Kamu tahu kamu lagi ngelakuin persis hal yang kamu marahin dari dia?”


Ruangan itu sunyi selama beberapa detik.

Yoga menatap buku stoknya dengan sangat serius. Pak Herman tidak bergerak sama sekali.

“Beda, Bu,” kataku.

“Beda gimana?”

“Beda karena—” Aku berhenti. “Beda karena aku ngomongnya nanti, kalau udah jelas.”

“Dia juga bilang gitu.”

“Bu.”

“Ibu nggak lagi ngeledek kamu.” Beliau memasang kacamatanya lagi. “Ibu cuma mau kamu sadar bahwa penyakit itu nular. Dan kamu ketularan dalam waktu tiga hari.”

Aku duduk di kursi plastik di ruang belakang dan menatap lantai.

“Terus saya harus gimana, Bu.”

“Kamu tetap urus,” kata Bu Tuti. “Tapi kamu bilang ke dia sekarang, bukan nanti. Bilang kamu lagi ngurus sesuatu. Nggak usah jelasin detailnya kalau belum jelas.”

“Dia bakal nyuruh saya berhenti.”

“Ya bagus.” Beliau mengangkat bahu. “Berarti kalian akhirnya rebutan buat ngurusin satu sama lain. Itu namanya pacaran, Vero, bukan bergiliran jadi pahlawan.”


Sisa rapatnya berjalan seperti ini.

Yoga mengusulkan agar dia yang mengambil shift pagi permanen, “demi persahabatan”, lalu menarik usulannya dalam waktu empat puluh detik setelah menyadari bahwa itu berarti bangun jam empat setiap hari.

“Aku tetep dukung kalian secara moral.”

“Yoga.”

“Moral itu penting, Vero.”

Bu Tuti menjelaskan prosedur mutasi shift, yang ternyata jauh lebih rumit dari yang aku kira: butuh persetujuan supervisor, butuh pengganti untuk slot yang ditinggalkan, dan butuh alasan tertulis yang masuk kategori resmi.

“Kategorinya apa aja, Bu?”

“Kuliah, urusan keluarga, kesehatan, atau kebutuhan operasional toko.”

“Nggak ada kategori ‘pacar’?”

“Vero.” Bu Tuti menatapku di atas kacamatanya. “Kalau ada kategori itu, setengah karyawan ritel di Indonesia udah pindah shift.”

Pak Herman tidak berkata apa-apa selama dua puluh menit pertama.

Beliau duduk di kursi lipat yang dibawa Yoga dari depan, memegang gelas kopi, dan mendengarkan seluruh perdebatan tentang prosedur mutasi tanpa satu komentar pun.

Sekar menghabiskan seluruh rapat dengan menggambar di balik lembaran kertas stok, dan menyerahkan hasilnya ke aku menjelang akhir.

Gambarnya: dua orang berdiri di depan sebuah kotak persegi dengan pintu, dan matahari di sudut kanan atas.

“Ini apa?”

“Itu toko.”

“Terus ini siapa?”

“Kak Vero sama Kakak.”

“Kok mataharinya ada?”

Sekar menunjuk sudut gambarnya.

“Soalnya nanti Kakak dateng ke tokonya siang,” katanya. “Jadi ada mataharinya.”

Aku menatap gambar itu.

“Sekar.”

“Hm.”

“Kamu tahu kita lagi ngomongin apa?”

“Tahu.”

“Dari tadi?”

“Dari kemarin,” katanya, sambil mengambil kembali krayonnya. “Kakak nggak tidur dua hari. Kalau Kakak nggak tidur, aku bangun.”


Rapat bubar jam dua belas kurang.

Aku mengantar Sekar ke depan untuk menunggu tetangga depan menjemput, dan waktu kami sampai di kursi plastik depan kaca, Pak Herman sudah duduk di situ.

Beliau sudah membayar kopinya. Lagi. Dua minggu berturut-turut.

“Nak Vero.”

“Iya, Pak.”

“Kategori kebutuhan operasional toko.”

Aku berhenti.

“Maaf, Pak?”

Beliau melipat korannya. Empat lipatan.

“Toko ini buka jam lima,” kata beliau. “Kasir shift pagi cuma satu. Kalau ada pengiriman pagi, kasirnya harus tinggalin mesin buat terima barang. Betul?”

“Betul, Pak.”

“Berapa kali seminggu?”

“Tiga.”

“Berapa lama tokonya nggak ada kasir?”

Aku berpikir.

“Sepuluh menit. Kadang lima belas.”

Pak Herman menyeruput kopinya.

“Dua tahun saya duduk di sini tiap pagi,” kata beliau. “Dua tahun saya lihat orang ngantre sambil pegang barang, nunggu kasirnya balik dari gudang. Ada yang nunggu. Ada yang naruh barangnya terus pergi.”

Beliau meletakkan gelasnya.

“Itu bukan urusan pacar, Nak Vero. Itu kebutuhan operasional toko.”

Aku berdiri di sana dengan mulut terbuka.

“Bu Tuti,” teriakku ke dalam. “BU TUTI.”


Malamnya aku menelepon Ardafa jam sembilan, sebelum shift-nya mulai.

“Halo?”

“Dafa.”

“Kenapa? Kamu belum tidur?”

“Aku mau bilang sesuatu.”

“Apa?”

Aku menarik napas.

“Aku lagi ngurus sesuatu,” kataku. “Aku belum bisa cerita detailnya karena belum jelas. Tapi aku lagi ngurus sesuatu, dan aku ngasih tahu kamu sekarang, bukan nanti.”

Hening di ujung sana.

Hening yang lama.

“Vero.”

“Iya?”

“Aku pengen nanya sesuatu.”

“Jangan.”

“Aku belum nanya.”

“Aku tahu kamu mau nanya apa dan jawabannya jangan.”

Dan aku dengar dia menghela napas — lewat hidung, pendek, cara dia menghela napas kalau sedang menyerah — dan lalu, sangat pelan:

“Oke.”

“Oke?”

“Oke,” katanya lagi. “Aku nggak nanya.”

Aku duduk di lantai kos dengan punggung ke kasur dan ponsel di telinga dan mata yang tiba-tiba panas.

“Kamu tahu itu susah, kan.”

“Iya.”

“Kamu tahu itu susah banget buat kamu.”

“Vero.”

“Iya?”

“Aku tahu.”


Besoknya, jam empat lima puluh, dia datang seperti biasa.

Dua roti sobek cokelat, satu susu stroberi.

Dan waktu aku menyebutkan harganya, dia mengulurkan uangnya dan menahan tanganku di sana lebih lama dari yang perlu, dan berkata:

“Aku nggak nanya.”

“Aku tahu.”

“Aku cuma mau kamu tahu bahwa aku nggak nanya.”

“Dafa.”

“Ini susah banget.”

Dan aku tertawa sampai harus menutup mulutku dengan punggung tangan, di belakang mesin kasir, jam empat lima puluh pagi, di toko yang belum buka.