← Shift Ketiga

Chapter Thirty Two

Jam Empat Lima Puluh

POV: Ardafa


Enam bulan kemudian, aku bangun jam empat pagi tanpa alasan.

Badanku masih menagih. Tiga tahun kerja malam tidak hilang dalam enam bulan, dan kadang-kadang — tidak sering, mungkin sekali dalam dua minggu — mataku terbuka jam empat dan tidak mau tutup lagi, dan aku berbaring di kasur mendengarkan rumah yang sedang tidur.

Hari itu aku menyerah jam empat lewat dua puluh.

Aku turun dari kasur, memakai jaket hitam yang sudah lama tidak aku pakai, dan keluar.


Gang itu sama.

Tetangga depan sudah menyalakan lampu dapur. Tetangga belakang sudah mulai bawang. Warung fotokopi masih tutup dan akan tutup sampai jam delapan.

Angkot pertama lewat jam empat tiga puluh delapan.

“Loh,” kata Pak Sarju lewat spion. “Kamu masih hidup?”

“Masih, Pak.”

“Kamu udah lama nggak naik.”

“Saya kerja kantor sekarang, Pak. Berangkat jam tujuh.”

Pak Sarju mengangguk-angguk.

“Bagus,” kata beliau. “Muka kamu udah nggak kayak orang dijemur.”

Beliau tidak menagih ongkos, seperti biasa, dan aku memasukkannya ke kaleng sendiri waktu turun, seperti biasa.


Aku turun di depan terminal dan berjalan tiga menit.

Toko itu gelap.

Bukan gelap total — lampu papan nama menyala, dan ada satu lampu darurat di dalam yang selalu dibiarkan hidup. Tapi rolling door masih setengah tertutup dan tidak ada siapa-siapa di dalam, dan jam di ponselku menunjukkan empat lewat empat puluh dua.

Aku berdiri di trotoar seberang.

Kucing oranye itu datang dari bawah mobil, duduk di sebelahku, dan tidak mengatakan apa-apa karena dia kucing.

“Dia nggak di sini,” kataku.

Mentega menguap.

“Aku tahu.”


Aku menyeberang jam empat lima puluh.

Aku berdiri di depan pintu kaca itu, di titik yang biasa, dengan tangan di sisi badan.

Di kaca ada bayanganku dan di belakang bayanganku ada toko yang gelap, dan aku bisa melihat garis rak roti di dalam sana, dan rak permen, dan mesin kasir yang layarnya mati.

Aku tidak mengetuk.

Aku berdiri di sana selama satu menit penuh dan membiarkan diriku merasakan apa yang perlu aku rasakan, yang mana adalah sesuatu yang tidak punya nama dan tidak perlu punya nama.

Seratus dua puluh delapan pagi.

Delapan menit setiap pagi.

Aku menghitungnya sekali, di kepalaku, untuk terakhir kalinya: seribu dua puluh empat menit. Tujuh belas jam. Kurang dari satu hari penuh.

Itu semuanya. Itu seluruh waktu yang aku punya bersamanya sebelum aku berhasil mengucapkan tiga kata di pintu ini.

Aku menempelkan telapak tanganku ke kaca sebentar — di titik yang biasa, sedikit di atas stiker promo susu yang sudah kedaluwarsa promonya sejak Februari dan yang, entah bagaimana, masih di situ.

Lalu aku berbalik dan pulang.


Rumah masih gelap waktu aku sampai.

Aku membuka pintu pelan-pelan, melepas jaket, dan berjalan ke dapur untuk menyalakan kompor.

Ada empat kursi plastik sekarang. Yang keempat aku beli waktu Ibu datang bulan lalu dan tinggal seminggu, dan tidak ada yang menyuruh aku menyimpannya lagi setelah beliau pulang.

Aku menaruh wajan. Menyalakan api. Mengeluarkan telur.

Di kamar sebelah, ada bunyi orang berbalik di kasur.

Lalu bunyi pintu.

Lalu suara serak yang belum sepenuhnya bangun:

“Kamu ke mana?”

Aku menoleh.

Dia berdiri di ambang pintu dapur dengan kausku yang sampai ke pertengahan paha — kaus yang sudah aku anggap hilang delapan bulan lalu dan yang ternyata cuma pindah kepemilikan — dengan rambut yang berantakan di satu sisi dan mata yang masih setengah tertutup.

“Jalan.”

“Jam empat?”

“Iya.”

“Ke mana?”

Aku mematikan api.

“Ke toko.”

Dia berhenti mengucek mata.


Dia berjalan ke kursi dan duduk, dan menarik satu kaki ke atas kursi seperti biasa, dan memandangiku dari sana.

“Ngapain?”

“Berdiri.”

“Doang?”

“Doang.”

“Berapa lama?”

“Semenit.”

Dia diam.

Poninya jatuh ke matanya. Dia mengangkat wajahnya sedikit dan meniupnya, sekali, dan poni itu naik lalu jatuh lagi ke tempat yang persis sama.

Delapan bulan, dan bagian di dalam dadaku masih melakukan hal yang sama setiap kali dia melakukan itu.

“Kamu kangen?” katanya.

“Iya.”

“Sama tokonya?”

“Sama pintunya.”

Dan Vero menutup matanya dan menghela napas panjang dan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi.

“Aku juga,” katanya. “Kadang aku sampai toko jam setengah satu siang terus aku ngeliat ke pintu itu dan aku mikir, dulu tuh gelap di sini.”

“Kamu nyesel?”

“Nggak.”

“Vero.”

“Nggak, Dafa.” Dia membuka matanya. “Aku nggak nyesel sedetik pun. Aku cuma kangen. Itu dua hal beda.”


Sekar keluar jam lima lewat.

Rambut satu sisi menempel di pipi. Seragam kancing atas salah lubang. Sepuluh tahun sekarang, kelas empat, dan masih persis sama.

Dia naik ke kursinya, duduk, dan melihat meja.

“Ini apa.”

“Sarapan.”

“Aku tahu ini sarapan, Kak. Ini kenapa ada rotinya?”

Aku menaruh piring di depannya.

Dua roti sobek cokelat, satu susu stroberi.

“Aku beli semalem,” kataku. “Di toko deket kantor.”

Sekar menatap piring itu.

Lalu menatapku.

Lalu menatap Vero.

“Kalian kenapa?”

“Nggak apa-apa,” kata Vero.

“Kalian aneh dari tadi.”

“Makan, Sekar.”

“Kak Vero nangis.”

“AKU NGGAK NANGIS.”

“Kak Vero nangis dan Kakak muterin kotak susunya biar penyoknya nggak keliatan,” kata Sekar, sambil menusukkan sedotannya. “Aku udah tahu itu dari kelas dua.”


Aku mengantar Sekar ke ujung gang jam setengah tujuh.

Aku yang mengantar sekarang. Setiap hari, dengan motor, tanpa toples gula. Tetangga depan sempat protes selama dua minggu dan sekarang sudah menyerah.

Waktu aku kembali, Vero masih duduk di kursi yang sama, dengan gelas kopi dari termos bekas Bapak di tangannya.

Aku mengambil jaket dan tas kerja.

“Dafa.”

“Hm.”

Dia meletakkan gelasnya.

“Aku belum pernah balas.”

Aku berhenti di tengah memakai jaket.

“Balas apa?”

“Yang kamu bilang di toko. Waktu ditolak Pak Bagas.” Dia berdiri dari kursi. “Enam bulan lalu.”

“Kamu nggak usah—”

“Aku mau.”

Dia berjalan ke arahku dan berhenti terlalu dekat, dan harus menengadah untuk menatapku, dan poninya jatuh lagi.

Aku membetulkannya dengan jari.

“Aku nyimpen kalender di ruang belakang,” katanya. “Aku tandain pakai pulpen merah. Dari hari kelima.”

“Aku tahu.”

“Aku bangun dua puluh menit lebih pagi buat ngintip dari balik poster promo.”

“Aku tahu itu juga.”

“Aku mindahin rak roti buat ngetes kamu.”

“Vero.”

“Aku jatuh cinta sama kamu juga,” katanya. “Dari jam empat lima puluh yang keberapa, aku lupa.”

Aku menaruh tas kerjaku di lantai.

Dan aku menciumnya di dapur rumah petak nomor tiga, jam tujuh kurang seperempat, dengan tangan di rahangnya dan tangannya di kerah kemejaku yang baru disetrika semalam dan yang sekarang jelas-jelas sudah tidak rapi lagi.

“Kamu telat,” bisiknya.

“Iya.”

“Kantormu jam delapan.”

“Iya.”

“Dafa—”

“Sebentar.”


Aku berangkat jam tujuh lewat lima.

Di ujung gang, aku menoleh, dan dia masih berdiri di depan pintu dengan kausku yang kebesaran dan gelas kopi di tangan, seperti setiap pagi selama enam bulan terakhir.

Aku menyalakan motor.

Dan lalu aku mengucapkan sesuatu yang, selama seratus dua puluh delapan pagi, selalu diucapkan orang lain dan tidak pernah aku.

“Hati-hati di jalan,” kataku.

Dia menyipit. “Aku nggak ke mana-mana. Aku baru berangkat jam dua belas.”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa—”

“Aku ngutang seratus dua puluh delapan,” kataku. “Ini yang pertama.”

Dan aku berangkat sebelum sempat melihat wajahnya, karena aku sudah tahu bentuknya, karena aku sudah mempelajari wajah itu dari jarak sebelas meter selama empat bulan sebelum aku berani menyeberang.

Di belokan, aku dengar dia berteriak sesuatu.

Aku tidak menoleh.

Aku tersenyum sepanjang jalan ke kantor, di bawah matahari, jam tujuh lewat, di jam kerja orang normal — dan aku memikirkan bahwa dari semua yang shift ketiga ambil dariku selama tiga tahun, ada satu hal yang dia berikan, dan bahwa satu hal itu sedang berdiri di depan pintu rumahku memegang gelas kopi.

— TAMAT —