← Setengah Detik

Chapter Eight

Kotak Musik

POV: Zara


Pentas seni selesai hari Sabtu, dan hari Senin sekolah terasa seperti rumah sesudah lebaran.

Aula masih berantakan. Panggung belum dibongkar. Ada tiga karung sampah di pojok yang tidak ada yang mau mengaku itu milik siapa. Dan seksi perlengkapan — yang minggu lalu jadi jabatan paling penting di sekolah ini — kembali jadi tidak ada.

“Nggak ada yang bantu?” tanyaku.

“Ada.”

“Mana?”

Alvaro menunjuk Bagas, yang sedang duduk di tepi panggung, memegang sapu, tidak menyapu.

“Aku istirahat,” kata Bagas.

“Kamu belum mulai.”

“Istirahat sebelum mulai itu strategi.”

Aku mengambil sapu kedua dari sudut dan mulai menyapu, dan Bagas langsung berdiri dengan wajah orang yang harga dirinya terluka.

“Ya jangan gitu dong. Aku jadi kelihatan jelek.”

“Kamu emang jelek,” kata Alvaro, dari atas tangga, sambil melepas lampu sorot.

“ITU KATA PERTAMA YANG KAMU UCAPKAN HARI INI DAN ISINYA GITU?”


Kami selesai jam lima. Bagas pulang duluan karena ada les yang aku yakin tidak ada.

Aku dan Alvaro duduk di tepi panggung yang tinggal setengah, dengan kaki menggantung, minum air dari botol yang sama karena punyaku habis dan aku tidak berpikir panjang waktu mengambil punya dia.

Dia juga tidak berkomentar. Dia cuma menerima botolnya kembali dan minum.

Untuk seseorang yang katanya tidak pernah suka siapa-siapa, dia benar-benar tidak punya sistem alarm.

“Al.”

“Hm.”

“Kamu tuh kalau libur ngapain?”

“Bengkel.”

“Selain bengkel.”

“Nggak ada.”

“Nggak ada?”

“Nggak.”

“Nggak nonton? Nggak main? Nggak—“

“Bengkel buka tiap hari.”

Aku menendang-nendangkan tumit ke panggung. Bunyinya kosong.

“Hidup kamu membosankan banget.”

“Iya.”

“Kok kamu ngaku.”

“Emang bosen.”

Aku tertawa. Dan entah karena tawa itu, atau karena aulanya kosong, atau karena sore yang seperti itu memang bikin orang lengah, aku bicara lagi.

“Aku kalau libur beres-beres kamar.”

“Tiap libur?”

“Hampir.”

“Kamarnya sekotor apa.”

“Nggak kotor.” Aku menendang panggung lagi. “Cuma banyak barang lama yang nggak berani aku buang.”

“Contohnya.”

Dan aku menyebutkannya. Begitu saja, tanpa aku rencanakan, dengan nada yang sama seperti aku menyebutkan cuaca.

“Kotak musik.”

“Kotak musik?”

“Iya. Yang kalau dibuka ada balerina muter, terus bunyi. Jadul banget.” Aku menggerakkan tangan menggambarkan ukurannya. “Segini. Kayu, dicat putih. Catnya udah ngelupas di sudut.”

“Bunyi?”

“Enggak. Udah lama nggak bunyi.”

“Sejak kapan?”

“Sejak SMP.” Aku minum. “Kelas dua.”

Aku bisa berhenti di situ. Aku biasanya berhenti di situ. Kalimat berikutnya itu kalimat yang biasanya aku simpan sampai orangnya sudah kenal aku minimal setahun, dan bahkan sesudah setahun pun biasanya aku tidak keluarkan.

“Itu kado terakhir dari ibuku,” kataku.

Kaki Alvaro berhenti bergerak di tepi panggung.

“Ulang tahunku yang ketiga belas,” lanjutku, dan aku sengaja bikin nadanya ringan, karena kalau nadanya tidak ringan aku tidak akan bisa menyelesaikan kalimatnya. “Terus dua bulan kemudian beliau meninggal. Terus tiga bulan sesudahnya kotaknya jatuh dari lemari. Bukan siapa-siapa yang jatuhin. Jatuh sendiri. Ya, mungkin akunya yang naruh miring.”

Aku menunggu.

Aku selalu menunggu di titik ini, karena aku hafal apa yang terjadi berikutnya. Orang akan bilang ya ampun, aku turut berduka. Atau orang akan menyentuh bahuku. Atau — yang paling sering, dan yang paling aku benci — orang akan diam sambil menatapku dengan mata yang basah, dan aku harus menghibur mereka.

Alvaro tidak melakukan satu pun dari itu.

Dia bertanya, “Bunyinya berhenti mendadak atau pelan-pelan?”

Aku menoleh.

“...Hah?”

“Waktu jatuh. Langsung mati, atau sempat bunyi pelan dulu terus mati.”

“Ng.” Aku memikirkannya. Aku tidak pernah memikirkannya. “Sempat. Sempat bunyi, tapi pelan. Terus makin lama makin nggak mau.”

“Kamu putar terus?”

“Iya. Sampai bener-bener nggak bunyi.”

“Kamu putar ke arah mana?”

“Ya ke arah biasa—“ Aku berhenti. “Aku nggak inget.”

Dia mengangguk sekali, seperti orang yang mendapat jawaban yang cukup, lalu melompat turun dari panggung dan memungut sapunya.

Dan itu saja.

Tidak ada turut berduka. Tidak ada tangan di bahu. Tidak ada mata basah yang harus aku hibur.

Aku duduk di tepi panggung itu selama beberapa detik dan menyadari bahwa itu percakapan paling nyaman yang pernah aku alami tentang ibuku, dan bahwa aku bahkan tidak sedih, dan bahwa aku sama sekali tidak mengerti kenapa.


Dia menunggu di pintu aula sambil memegang dua sapu.

“Bawa.”

“Bawa apa?”

“Kotak musiknya.”

“Buat apa?”

“Aku lihat.”

Aku mengerutkan kening. “Al, itu udah delapan tahun. Udah ada tiga orang yang nyerah. Tukang jam di pasar bilang per-nya udah—“

“Bawa.”

“Kamu nggak dengerin aku.”

“Aku dengerin. Bawa.”

Aku menghela napas dengan cara paling dramatis yang aku bisa, dan dia sama sekali tidak terkesan, dan kami mengembalikan sapu ke gudang.


Aku membawanya hari Rabu, dibungkus kaus lama, di dalam tas.

Aku menyerahkannya di ruang perlengkapan dengan perasaan yang aneh — seperti menitipkan sesuatu yang tidak seharusnya dititipkan ke siapa pun.

Dia membukanya dari kaus itu dan menaruhnya di meja. Dia tidak langsung membongkarnya. Dia cuma memutarnya pelan-pelan, melihat keempat sisinya, melihat bagian bawahnya, membuka tutupnya, menutupnya lagi.

Balerinanya tidak bergerak.

“Kenapa?” tanyaku.

“Belum tahu.”

“Bisa?”

“Belum tahu.”

“Al.”

“Aku nggak mau bilang bisa kalau belum tahu.”

Aku mengangguk. Anehnya, justru itu yang bikin aku agak lega.

“Berapa lama?”

“Nggak tahu.”

“Seminggu?”

“Nggak tahu.”

“Ya kira-kira—“

“Zara.”

Dia jarang memanggil namaku. Aku baru sadar saat itu, betapa jarangnya, dan betapa anehnya kalimat sesimpel itu terdengar waktu ada namaku di dalamnya.

“Aku nggak janji,” katanya.

“Iya.”

“Kalau nggak bisa, aku balikin utuh. Nggak aku bikin tambah rusak.”

“Iya.”

“Ya udah.”

Aku pulang hari itu dengan tas yang lebih ringan dan dada yang entah kenapa lebih berat.


Aku menanyakannya empat kali sesudah itu.

Minggu pertama: “Gimana?” — “Belum.” Minggu kedua: “Gimana?” — “Belum.” Minggu ketiga: “Al, gimana?” — “Belum.” Minggu keempat, aku sudah setengah bercanda: “Udah nyerah, ya?” — dan dia cuma melirik sekali dan bilang, “Belum.”

Sesudah itu aku berhenti bertanya.

Bukan karena aku kecewa. Karena aku sudah menganggapnya tidak akan pernah selesai, dan karena — jujur — bagian dari diriku merasa lebih tenang begitu. Selama kotak itu ada di tangannya, kotak itu belum jadi barang rusak yang final. Cuma barang yang sedang dikerjakan.

Aku tidak menanyakannya lagi sampai berbulan-bulan kemudian.

Dan waktu akhirnya aku menanyakannya lagi, aku sudah tidak berhak.