← Setengah Detik

Chapter Thirty

Duduk

POV: Zara


Aku berhenti minta di hari Senin.

Bukan karena bosan. Karena aku sadar bahwa selama tiga minggu itu, seluruh strategiku isinya meminta — antarkan aku, ambilkan itu, pilihkan ini, temani aku — dan setiap satu dari permintaan itu adalah cara memaksa dia memberi.

Dan orang itu sudah lima tahun memberi.

Yang belum pernah dia dapat bukan permintaan.

Yang belum pernah dia dapat adalah orang yang datang membawa sesuatu.


Aku mulai dari sekring, karena aku bodoh.

Aku menonton video YouTube berjudul “Cara Mengganti MCB yang Sering Turun” sebanyak tiga kali, di kamar, dengan kuota yang aku beli khusus di kecamatan, sambil mencatat di buku.

Aku merasa sangat siap.

Hari Rabu, waktu semua orang ke lapangan dan posko kosong, aku pergi ke tiang balai dengan obeng dan senter dan rasa percaya diri yang tidak berdasar sama sekali.

Aku sempat membuka penutup kotaknya.

Lalu seluruh dusun mati.


Aku ingin mencatat bahwa aku tidak panik.

Aku panik total. Aku panik dengan cara yang sangat memalukan, yang melibatkan berlari dua ratus meter kembali ke posko dan berdiri di halaman sambil memikirkan apakah aku bisa pulang ke kota hari itu juga.

Yang datang duluan bukan Alvaro. Bu Sarni.

“Mati lagi, Mbak?”

“Iya, Bu.”

“Biasa.”

Dan beliau masuk lagi.

Alvaro datang jam empat, dari lapangan, dengan Reza dan Oliv.

Aku berdiri di halaman.

Dia melihat aku. Lalu dia melihat obeng di tanganku. Lalu dia melihat ke arah tiang balai, dua ratus meter, di mana penutup kotak MCB tergantung terbuka dan bergoyang tertiup angin.

Dia tidak bertanya.

Dia jalan ke tiang, naik, memasang penutupnya kembali, menaikkan sekringnya, dan turun.

Lampu menyala.

Dia berjalan kembali ke halaman dan berhenti di depanku.

“Kamu nyentuh yang mana?”

“Yang... item.”

“Item yang panjang atau yang kotak?”

“Kotak.”

Dia diam sebentar.

“Itu yang bener,” katanya. “Kamu naikin dari bawah?”

“Iya.”

“Sekali?”

“Tiga kali.”

“Ya makanya turun.”

“...Hah?”

“Kalau langsung dinaikin tiga kali, dia ngunci. Harus diturunin penuh dulu baru naik.”

“Video-nya nggak bilang gitu.”

“Video-nya mana?”

Aku menunjukkan HP-ku.

Dia menonton lima belas detik, mengembalikannya, dan bilang, “Ini buat MCB yang beda.”

Aku menutup wajahku.

“Al, aku hampir bikin satu dusun gelap.”

“Iya.”

“Kamu nggak marah?”

“Enggak.”

“Kenapa?”

Dia melepas sarung tangannya.

“Karena kamu manjat tiang,” katanya. “Sendirian. Buat hal yang bukan urusan kamu.”

Dan dia masuk ke posko.


Yang kedua lebih baik hasilnya, walaupun tidak banyak.

Jaket bengkel itu sobek di lengan kiri, di jahitan bahu, sekitar sepuluh senti. Aku menemukannya waktu memindahkannya dari dasar koper ke gantungan di balik pintu kamar — karena aku sudah berhenti menyembunyikannya sejak minggu lalu, dan karena Ipeh sudah melihatnya dan sudah tidak berkomentar lagi setelah kali kedua.

Sobeknya bukan sobek baru. Sobeknya sobek yang sudah lama, yang melebar pelan-pelan selama bertahun-tahun karena dijemur dan dilipat dan dipakai.

Aku menjahitnya.

Aku menjahit dua malam, dengan benang yang aku beli di pasar kecamatan waktu aku pura-pura takut naik ojek, dan hasilnya jelek sekali.

Jahitannya tidak lurus. Jaraknya tidak sama. Di satu tempat aku menariknya terlalu kencang sehingga bahannya berkerut.

Aku hampir membongkarnya dan mengulang.

Aku tidak mengulang, karena aku sadar bahwa kalau aku mengulang sampai rapi, itu jadi tentang aku lagi.


Aku memberikannya hari Jumat sore, di teras, waktu dia sedang membersihkan tang di kursi plastik.

Aku tidak menaruhnya di meja.

Aku menyodorkannya, dengan dua tangan, langsung.

Dia melihat jaket itu.

Aku melihat wajahnya waktu dia mengenalinya, dan aku ingin mencatat bahwa wajahnya tidak berubah, tapi bahwa tangannya berhenti bergerak di tengah gerakan mengelap tang.

Dia menerimanya.

Dia membalikkannya, menemukan jahitanku, dan melihat jahitan itu cukup lama.

“Ini jelek banget,” kataku.

“Iya.”

“AL.”

“Kamu yang bilang duluan.”

“Ya tapi kamu nggak harus setuju.”

Ada sesuatu di sudut mulutnya yang bergerak sedikit.

Lalu dia menaruh jaket itu di pangkuannya dan tidak mengembalikannya, dan tidak bilang apa-apa selama sekitar satu menit.

“Al.”

“Hm.”

“Sobeknya udah lama, ya.”

“Iya.”

“Kenapa nggak kamu jahit?”

“Jaketnya nggak ada di aku.”

Aku berdiri di teras itu dan menahan seluruh isi dadaku dengan kedua tangan yang aku lipat di depan.

“Aku benerin, ya,” kataku.

Suaranya keluar hampir tidak terdengar.

Dia mengangkat wajahnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku bertemu dia lagi di aula briefing empat bulan lalu, dia menatapku dan tidak memindahkan pandangannya.

“Itu jahitannya udah selesai,” katanya.

“Aku tahu.”

“Terus kenapa kamu bilang gitu sekarang?”

Aku tidak menjawab.

Karena tiga tahun lalu aku menanyakan pertanyaan yang persis sama kepadanya, di teras rumahku, dengan baskom di tangan, dan dia juga tidak menjawab.

Dan kami berdua tahu itu.


Lampunya mati jam sembilan lewat dua puluh.

Aku tidak mengaturnya. Aku bersumpah aku tidak mengaturnya. Pompa balai memang menyala tiap malam dan sekringnya memang jatuh dua sampai tiga kali seminggu selama lima bulan.

Ruang tengah gelap. Senter HP menyala. Reza berteriak.

Dan aku sudah duduk di dekat pintu samping sejak jam delapan, karena aku sudah tahu di mana dia duduk dan aku sudah menghitung berapa langkah.

Dia berdiri.

Aku bergerak.


Aku menahan pergelangan tangannya di gelap.

Dua tangan, di pergelangan, dan aku menahannya dengan kekuatan penuh karena aku tahu aku tidak akan menang kalau dia serius.

“Duduk,” kataku.

“Zhafira—“

“Duduk, Al.”

“Sekringnya—“

“Sekringnya udah lima bulan jatuh. Satu malam nggak akan mati siapa-siapa.”

Ruangan itu ribut. Sembilan orang lain sibuk dengan senter dan tidak ada yang melihat ke pintu samping karena tidak ada yang bisa melihat apa pun.

Aku merasakan lengannya menegang.

Dan aku merasakan dia menarik — sekali, pelan, bukan sungguhan.

Lalu berhenti.

Dan duduk.


Kami duduk di lantai kayu, di samping pintu, dengan punggung ke dinding.

Aku masih memegang pergelangan tangannya. Aku tidak melepasnya, karena kalau aku melepasnya dia akan berdiri.

“Kamu takut gelap?” kataku.

“Enggak.”

“Terus kenapa tiap lampu mati kamu keluar?”

Dia tidak menjawab.

“Lima bulan, Al. Tiap kali. Aku ngitung dua puluh tiga kali.”

Tidak menjawab.

“Gudang perlengkapan itu remang, kan,” kataku.

Aku merasakan pergelangan tangannya bergerak sekali di bawah jariku.

“Sore. Lampu satu di langit-langit. Yang nggak sampai ke sudut.”

“Zhafira.”

“Aku ingat semuanya,” kataku. “Aku ingat kamu naruh obeng. Aku baru sadar tahun ini bahwa orang kayak kamu nggak pernah naruh alat kecuali udah selesai.”

Aku mendengar napasnya berubah.

Dan aku melanjutkan, karena kalau aku berhenti aku tidak akan mulai lagi.


“Aku nggak akan minta maaf,” kataku.

“...Apa?”

“Aku udah nyiapin permintaan maaf. Panjang. Aku hapal. Aku nggak akan pakai.”

“Kenapa?”

“Karena minta maaf itu buat aku. Biar aku enak. Kamu nggak butuh itu.”

Aku menarik napas.

“Aku terlambat tiga tahun,” kataku. “Aku nggak bisa balikin. Aku nggak bisa jadi orang yang sadar duluan, karena orang itu udah lewat dan itu bukan aku.”

Gelap itu membantu. Aku ingin mencatat bahwa gelap itu membantu, karena aku tidak akan sanggup mengucapkan bagian berikutnya kalau aku bisa melihat wajahnya.

“Dan aku tahu kamu mikir apa,” lanjutku. “Kamu mikir aku ke kamu karena aku kasihan. Karena aku baru tahu, terus aku ngerasa berutang, terus aku mau bayar.”

Aku merasakan tangannya bergerak lagi.

“Al, kalau aku mau bayar utang, aku udah selesai dari bulan lalu. Aku udah minta maaf, aku udah nangis, kamu udah bilang nggak apa-apa, dan kita udah selesai. Itu gampang banget.”

Aku menggenggam pergelangan tangannya lebih erat.

“Yang aku lakuin sekarang nggak gampang. Aku dandan empat puluh menit buat orang yang cuma lihat sandalku. Aku manjat tiang dan hampir bikin satu dusun gelap. Aku jahit jaket dua malem dan hasilnya jelek. Aku digodain sepuluh orang tiap hari.”

Aku berhenti.

“Orang nggak ngelakuin itu semua buat bayar utang,” kataku. “Orang ngelakuin itu karena pengen.”


Kami diam sangat lama.

Di ruang tengah, Reza berteriak bahwa dia menemukan lilin. Ada yang bertepuk tangan. Cahaya kuning kecil muncul di ujung ruangan, jauh, tidak sampai ke tempat kami.

“Zhafira,” katanya.

Suaranya beda. Aku belum pernah dengar suaranya seperti itu selama lima tahun.

“Jangan panggil aku gitu,” kataku.

“Aku—“

“Al.”

Aku memindahkan tanganku dari pergelangan tangannya.

Aku memindahkannya ke telapak tangannya, jari ke sela jari, dan aku menggenggamnya.

Dan kali ini dia tidak melepas.