Chapter Twenty Six
Obeng Baru
POV: Alvaro
Aku tahu ada yang berubah di hari kedua.
Bukan karena dia mulai banyak bertanya. Dia memang selalu banyak bertanya.
Karena pertanyaannya berubah bentuk.
Dulu dia bertanya untuk mengisi ruangan. Sekarang dia bertanya lalu menunggu jawabannya sampai selesai, dan mencatat, dan bertanya lagi dari jawaban itu.
Orang yang bertanya seperti itu bukan orang yang sedang mengobrol.
Orang yang bertanya seperti itu sedang mengumpulkan.
Aku menyusun tiga kemungkinan.
Satu: dia benar-benar butuh bab teknis untuk laporannya. Mungkin. Tapi bab teknis tidak butuh dua minggu dan tidak butuh empat belas foto tiang.
Dua: dia bosan. Enam bulan di dusun tujuh ratus meter tanpa sinyal memang membuat orang mencari kegiatan. Mungkin.
Tiga: ada yang cerita.
Aku menghabiskan waktu yang tidak sedikit untuk mencoba percaya pada nomor satu dan nomor dua.
Yang membuatku berhenti mencoba adalah pagi hari Selasa, waktu aku turun ke ruang makan dan piringku sudah digeser.
Bukan disiapkan. Digeser. Sekitar sepuluh senti, ke arah tempat aku biasa duduk, di antara delapan piring lain yang letaknya acak.
Sepuluh senti.
Aku berdiri di ambang pintu ruang makan selama beberapa detik yang tidak wajar, lalu duduk dan makan seperti orang normal.
Aku tidak bertanya siapa yang menggeser.
Aku tidak bertanya karena aku sudah tahu, dan karena bertanya berarti mengakui bahwa aku memperhatikan letak piring, dan karena orang yang menggeser piring diam-diam adalah orang yang tidak mau ditanya.
Aku tahu itu karena aku sudah melakukannya selama dua tahun.
Aturannya aku perketat.
Bukan diubah. Diperketat.
Satu: jangan menyentuh. Ini yang paling mudah, karena aku sudah ahli, dan karena tidak ada satu pun situasi di dusun ini yang mengharuskan orang bersentuhan kecuali kalau ada yang jatuh dari tiang.
Dua: jangan menghitung. Ini yang paling sering aku langgar dan aku sudah berhenti berpura-pura tidak.
Tiga: jangan berdua.
Nomor tiga jadi pekerjaan penuh waktu.
Kalau dia ikut ke lapangan, aku pastikan Reza ikut. Kalau Reza tidak bisa, aku minta Pak Nur dari dusun bawah untuk membantu, dengan alasan pengelasan, meskipun tidak ada yang perlu dilas.
Kalau semua orang sudah tidur dan dia masih menulis di ruang tengah, aku ke gudang.
Kalau dia ke gudang, aku ke halaman.
Aku menghitung — melanggar aturan nomor dua — bahwa dalam dua minggu itu aku memindahkan diriku sebanyak tiga puluh satu kali.
Itu bukan pertahanan lagi. Itu pekerjaan.
Hari Jumat, Oliv menghentikanku di gudang.
“Fa.”
“Hm.”
“Kamu ngerjain apa?”
“Ngecek genset.”
“Gensetnya udah kamu cek kemarin.”
“Ngecek lagi.”
Dia bersandar ke kusen pintu dan melipat tangan.
“Fa, aku nggak akan ikut campur,” katanya. “Aku cuma mau kasih satu informasi teknis.”
“Apa.”
“Kamu udah kerja empat belas hari tanpa libur, tidur empat jam, dan hari ini kamu manjat tujuh kali.”
“Terus?”
“Terus orang yang capek itu ngambil keputusan jelek.”
Aku memutar obeng.
“Aku nggak lagi ngambil keputusan apa-apa.”
“Iya,” katanya. “Itu juga keputusan.”
Dan dia pergi.
Yang paling berat bukan menghindar.
Yang paling berat adalah bahwa dia tidak melakukan apa pun yang salah.
Kalau dia mengejar dengan cara yang berisik, aku bisa menolak. Ada pintu yang bisa ditutup. Ada kalimat yang bisa aku ucapkan.
Yang dia lakukan bukan itu.
Yang dia lakukan adalah menggeser piring sepuluh senti. Menaruh botol air di dekat tas perkakasku, di tempat yang tidak mengganggu. Berhenti bertanya “kamu udah makan?” dan mulai bertanya “yang di dapur udah abis, ya?” — yang mana tidak bisa aku tolak, karena itu bukan tawaran.
Dia belajar.
Dan yang dia pelajari adalah caraku sendiri, dipakai balik ke aku, dengan presisi yang bikin aku ingin marah dan tidak punya siapa pun untuk dimarahi.
Hari Sabtu, tas perkakasku hilang obeng plus.
Ini bukan kejadian luar biasa. Ini kejadian keempat dalam sebulan. Aku sudah menerima bahwa obeng plus adalah benda yang tidak mau tinggal bersamaku.
Aku mencarinya di rumah pompa, di gudang, di bak colt, dan di halaman balai, dan tidak ada.
Waktu aku kembali ke posko jam empat, ada obeng plus di meja teras.
Baru. Masih ada label harga di gagangnya. Gagangnya kuning.
Tidak ada catatan. Tidak ada orang di teras.
Aku berdiri di depan meja itu cukup lama.
Aku ingin mencatat apa yang aku rasakan, karena aku merasa penting untuk jujur di bagian ini.
Yang aku rasakan bukan senang.
Yang aku rasakan adalah takut, dalam bentuk yang sangat spesifik: takut yang datang waktu kamu sadar seseorang sudah cukup dekat untuk tahu benda apa yang sering kamu hilangkan.
Aku mengambilnya.
Aku memakainya hari itu juga.
Malamnya, waktu aku memasukkan alat-alat ke tas, aku melepas labelnya dan menyimpan labelnya di saku, dan aku tidak tahu kenapa aku melakukan itu dan aku tidak berniat mencari tahu.
Lampunya mati jam sembilan lewat.
Ruang tengah, seperti biasa, langsung ribut. Senter HP menyala berhamburan. Reza berteriak sesuatu yang tidak berguna.
Aku duduk di lantai, di dinding barat, dengan punggung bersandar.
Aku tidak berdiri.
Aku sadar penuh bahwa aku tidak berdiri. Aku menghitung — lagi — dan aku sampai di angka tujuh sebelum kakiku bergerak.
Tujuh detik.
Selama enam belas minggu, angka itu nol.
“Aku ambil senter,” kataku, dan berdiri.
Dan waktu aku berdiri, di dalam gelap, aku tahu persis di mana dia duduk.
Bukan karena aku melihat. Karena aku sudah tahu sejak lampunya masih menyala, dan karena bagian dari otakku yang tidak aku kendalikan telah menyimpan posisi itu dan tidak melepaskannya selama tujuh detik itu.
Aku keluar.
Aku menaikkan sekring — beban dari pompa, seperti biasa, seperti selalu — dan aku berdiri di depan tiang balai itu selama sekitar tiga menit sesudah lampunya hidup.
Aku sedang mengulur waktu dan aku tahu aku sedang mengulur waktu.
Dia menunggu di anak tangga teras waktu aku balik.
Sendirian. Yang lain sudah masuk karena nyamuk.
“Al.”
“Hm.”
“Boleh ngomong bentar?”
Aku berhenti di halaman, sekitar tiga meter dari tangga, dengan senter masih menyala di tanganku.
“Besok,” kataku.
“Sekarang aja.”
“Besok.”
“Al—“
“Aku capek.”
Itu benar. Itu satu-satunya kalimat yang benar seratus persen yang aku ucapkan sepanjang minggu itu.
Dia diam.
Lalu dia mengangguk.
“Ya udah,” katanya. “Besok.”
Aku masuk lewat pintu samping, dan aku mendengar dia masih di anak tangga itu waktu aku sampai kamar, dan aku berbaring di kasur dengan mata terbuka sampai jam satu.
Aku tahu apa yang akan terjadi besok.
Aku sudah tahu sejak dia menggeser piring itu sepuluh senti.
Dan aku menghabiskan seluruh malam itu untuk menyiapkan satu kalimat yang sudah aku pakai empat kali sebelumnya, dan yang setiap kali sesudahnya membuat aku bisa tidur, dan yang malam itu — untuk pertama kalinya — terasa seperti berbohong.
- 1 Kipas Angin Kelas Sebelah
- 2 Obeng Plus, Gagang Kuning
- 3 Ruangan yang Bau Debu
- 4 Dua Detik
- 5 Satu Kata
- 6 Jaket Bengkel
- 7 Lima Sentimeter
- 8 Kotak Musik
- 9 Rantai
- 10 Sepuluh Sentimeter
- 11 Setengah Detik
- 12 Yang Bisa Dibenerin
- 13 Kelompok Empat
- 14 Ditaruh di Meja
- 15 Bahasa yang Aku Nggak Ngerti
- 16 Tudung
- 17 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 18 Tiga Tahun
- 19 Punggung Tangan
- 20 Air
- 21 Dua Detik Lagi
- 22 Api Unggun
- 23 Yang Aku Tahu Sejak Awal
- 24 Hitungan Mundur
- 25 Alasan Nomor Enam
- 26 Obeng Baru reading
- 27 Nggak Bisa
- 28 Sandal
- 29 Salah Orang
- 30 Duduk
- 31 Zara
- 32 Pagi Pertama
- 33 Asisten
- 34 Payung yang Sama
- 35 Yang Harus Diselesaikan
- 36 Api Unggun Kedua
- 37 Datar
- 38 Empat Puluh Delapan Rumah