Chapter Two
Obeng Plus, Gagang Kuning
POV: Alvaro
Aku sampai di sekolah jam setengah tujuh, dan itu pun sudah terlambat menurut ukuran orang tertentu.
“Lama,” kata Zara.
Dia duduk di bangku ketiga dari depan, di kelas yang baru diisi lima orang, dengan tas masih di pangkuan seolah dia belum sepenuhnya memutuskan untuk sekolah hari ini.
“Bel masuk jam tujuh.”
“Iya, tapi kamu bilang besok pagi.”
“Ini pagi.”
“Ini hampir setengah tujuh.”
“Setengah tujuh itu pagi.”
Dia membuka mulut, lalu menutupnya lagi, lalu menunjuk aku dengan botol minumnya. “Kamu ini orangnya bener terus, ya.”
Aku tidak menjawab, karena itu bukan pertanyaan dan karena aku sedang menyeret tangga aluminium dari koridor.
Tangganya berat, engselnya seret, dan salah satu kaki karetnya sudah hilang entah sejak kapan. Aku sudah pernah menulis itu di buku pengaduan. Buku pengaduan itu isinya sebagian besar tulisanku sendiri, yang dibaca sendiri, lalu dikerjakan sendiri, yang kalau dipikir-pikir memang agak menyedihkan.
“Nah, itu tangga,” kata Zara, dengan nada seorang guru yang muridnya akhirnya mengerti. “Kemarin ke mana aja.”
“Kemarin di aula.”
“Terus kenapa nggak diambil?”
“Jauh.”
“Sekarang diambil.”
“Sekarang saya perlu.”
“Kemarin juga perlu—“ Dia berhenti sendiri. “Ya udah, deh.”
Aku memasang tangga tepat di bawah kipas tengah dan mengeceknya dua kali, karena kalau aku jatuh dua hari berturut-turut di kelas yang sama, aku harus pindah sekolah.
Anak-anak mulai berdatangan. Ada yang lewat, melihat aku di atas tangga, lalu tertawa kecil dan meneruskan langkah. Ada satu yang berhenti dan bilang, dengan tulus, “Semangat, Mas.” Aku tidak kenal dia. Dia juga tidak kenal aku. Sekolah memang begitu.
Bau gosong itu masih ada, dan sekarang, dengan penerangan pagi yang lebih baik, aku bisa melihat sumbernya. Sambungan kabel di dalam sakelar sudah menghitam di satu titik, sebesar kepala korek api. Kabelnya sendiri masih bagus. Cuma perlu dipotong sedikit di ujung, dikupas ulang, dipasang lagi, dikencangkan.
Sepuluh menit kerja. Tiga hari kelas ini kepanasan karena sepuluh menit kerja.
Aku menurunkan tangan ke arah tas perkakas yang kutaruh di kursi paling depan.
“Yang mana?”
Aku menoleh. Zara sudah jongkok di sebelah tas itu, membukanya tanpa izin, dan menatap isinya dengan wajah orang yang sedang melihat isi kotak makan orang lain.
“Yang kepalanya silang.”
“Silang gimana.”
“Silang.”
“Ada tiga yang silang, Mas.”
Aku menghela napas dari atas tangga. “Yang gagangnya kuning.”
Dia mengambilnya. Obeng plus gagang kuning yang pudar di dua sisi, yang semalam aku ambil dari bengkel Bapak dan aku taruh di dekat pintu supaya tidak lupa.
Dia berdiri, mengangkat tangannya, dan menyodorkannya ke atas.
Aku meraihnya.
Dan ujung jariku kena ujung jarinya.
Bukan kena yang bagaimana-bagaimana. Kena yang seperempat detik, di punggung jari telunjuk, lalu selesai. Dia tidak bereaksi apa pun. Dia sudah menurunkan tangannya sebelum aku sempat menutup jari di sekeliling gagang obeng itu, dan hampir saja obengnya jatuh, dan aku menangkapnya di udara dengan cara yang tidak elegan sama sekali.
“Hati-hati,” katanya.
“Ya.”
Aku memutar badan menghadap sakelar. Punggungku menghadap kelas. Itu keputusan yang bagus.
Aku memotong ujung kabel yang gosong. Mengupasnya. Memilinnya. Memasangnya. Mengencangkan sekrupnya sampai bunyi.
Semuanya sepuluh menit. Semuanya bisa aku kerjakan sambil tidur.
Aku mengerjakannya dalam lima belas menit.
“Coba nyalain,” kataku.
Zara menekan sakelar di dinding.
Kipas itu berdenyit satu kali — bunyi yang selalu ada di kipas yang lama tidak dipakai — lalu mulai berputar. Pelan dulu. Lalu cepat. Lalu jadi kipas.
Yang terjadi berikutnya agak berlebihan menurut ukuranku.
Ada sekitar dua puluh anak di kelas itu sekarang, dan dua puluh anak itu bersorak. Beneran bersorak, seperti gol di menit akhir. Satu orang berdiri di kursi. Satu orang mengangkat tangan minta tos dan aku tidak sempat menolak jadi terpaksa aku layani. Anak yang kemarin berpidato soal oven berkata, keras-keras, “SAYA SUDAH BILANG DARI KEMARIN,” padahal dia tidak bilang apa-apa hari ini.
Aku turun dari tangga.
“Ada satu lagi yang bunyinya kasar,” kataku ke Zara, karena dia yang paling dekat. Aku menunjuk kipas paling belakang. “Yang itu bearing-nya kering. Belum mati, tapi bakal.”
“Berarti nanti mati juga?”
“Iya.”
“Kapan?”
“Sebulan. Dua bulan.”
Dia melihat kipas itu, lalu melihat aku, dan ada sesuatu di wajahnya yang mirip orang yang baru saja mendapat kabar buruk soal kerabat jauh.
“Aku benerin, ya,” kataku.
“Sekarang?”
“Nanti. Sebelum mati.”
“Kenapa nggak nunggu mati aja terus dibenerin?”
“Kalau nunggu mati, ganti motornya. Mahal.” Aku melipat tangga. “Kalau belum mati, cuma dikasih pelumas.”
Zara diam sebentar.
“Kamu selalu benerin barang sebelum rusak?”
“Kalau kelihatan bakal rusak, iya.”
“Kok tahu kelihatan?”
“Dari bunyinya.”
Dia mengangguk pelan-pelan, seperti orang yang menyimpan informasi itu untuk keperluan yang belum ada.
Bel masuk berbunyi. Aku menyeret tangga keluar. Zara tidak mengucapkan terima kasih dan aku juga tidak menunggu, karena kalau aku menunggu, artinya aku mengerjakannya untuk itu.
Yang tidak aku perhitungkan adalah bagian setelahnya.
Istirahat pertama, aku lewat koridor IPS dalam perjalanan ke kantin, dan dari dalam kelas sebelas IPS satu ada suara.
“Mas Kipas!”
Aku terus jalan.
“MAS KIPAS.”
Aku berhenti. Zara berdiri di ambang pintu, satu tangan memegang kusen, senyumnya lebar sekali untuk ukuran hari Selasa.
“Kenapa.”
“Nggak kenapa-kenapa. Nyapa.”
“Oh.”
“Kipasnya masih hidup.”
“Ya.”
“Aku kasih tahu aja.”
“Ya.”
Dia menunggu sesuatu. Aku tidak tahu apa. Aku berdiri di koridor selama dua detik yang terlalu panjang, lalu mengangguk sekali, lalu meneruskan jalan ke kantin.
Aku sempat berpikir itu selesai.
Pulang sekolah, lewat koridor yang sama: “Mas Kipas!”
Besoknya, pagi, di parkiran: “Pagi, Mas Kipas.”
Besoknya lagi, di depan ruang guru, di depan tiga orang guru: “Mas Kipas!” — dan salah satu guru menoleh ke aku dengan tatapan yang harus aku jelaskan selama lima menit.
Hari keempat, aku menyerah.
“Namaku Alvaro.”
Zara berhenti di tengah koridor. Anak-anak di belakangnya terpaksa memutar.
“Aku tahu,” katanya.
“Terus kenapa—“
“Ya biar kamu ngomong duluan.”
Dan dia jalan lagi, sambil tertawa, sambil bilang daah, Alvaro, dengan nada orang yang baru saja memenangkan sesuatu yang aku bahkan tidak tahu sedang dipertandingkan.
Malamnya di bengkel, Bapak menyuruhku mengambil obeng plus.
Aku baru sadar obeng plus gagang kuning itu masih ada di tas sekolahku, dan aku sudah tidak punya alasan apa pun untuk menaruhnya di situ.
Aku tetap tidak mengeluarkannya.
- 1 Kipas Angin Kelas Sebelah
- 2 Obeng Plus, Gagang Kuning reading
- 3 Ruangan yang Bau Debu
- 4 Dua Detik
- 5 Satu Kata
- 6 Jaket Bengkel
- 7 Lima Sentimeter
- 8 Kotak Musik
- 9 Rantai
- 10 Sepuluh Sentimeter
- 11 Setengah Detik
- 12 Yang Bisa Dibenerin
- 13 Kelompok Empat
- 14 Ditaruh di Meja
- 15 Bahasa yang Aku Nggak Ngerti
- 16 Tudung
- 17 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 18 Tiga Tahun
- 19 Punggung Tangan
- 20 Air
- 21 Dua Detik Lagi
- 22 Api Unggun
- 23 Yang Aku Tahu Sejak Awal
- 24 Hitungan Mundur
- 25 Alasan Nomor Enam
- 26 Obeng Baru
- 27 Nggak Bisa
- 28 Sandal
- 29 Salah Orang
- 30 Duduk
- 31 Zara
- 32 Pagi Pertama
- 33 Asisten
- 34 Payung yang Sama
- 35 Yang Harus Diselesaikan
- 36 Api Unggun Kedua
- 37 Datar
- 38 Empat Puluh Delapan Rumah