Chapter Thirteen
Kelompok Empat
POV: Zara
Pengumumannya keluar hari Selasa jam sebelas malam, karena panitia mana pun di dunia ini tidak sanggup mengumumkan sesuatu di jam kerja.
“KELUAR,” teriak Ipeh dari kamar sebelah, dan aku dengar dia lari di lantai kos, dan pintuku dibuka tanpa diketuk seperti empat tahun terakhir.
“Kelompok berapa?”
“Bentar.”
“IPEH.”
“BENTAR. Ini file-nya berat banget, panitianya nge-scan pakai HP kayaknya.”
Kami berdesakan di satu layar.
KKN Tematik. Kolaborasi dua kampus. Enam bulan. Program elektrifikasi dan pengembangan Dusun Ngadirejo, Kecamatan Sumberarum.
Enam bulan itu yang bikin semua orang di angkatanku mengeluh sejak sosialisasi pertama. KKN biasa cuma satu setengah bulan. Yang ini proyek, bukan KKN, dan kami tetap disuruh menyebutnya KKN.
“Kelompok empat,” kata Ipeh. “Kita berdua sekelompok. Alhamdulillah.”
“Siapa lagi?”
Dia scroll.
Sepuluh nama. Lima dari kampus kami, lima dari kampus sebelah — yang teknik, yang kampusnya di ujung utara kota, yang mahasiswanya terkenal dua hal: jarang tidur dan jarang mandi.
Aku membaca dari atas.
Nama, nama, nama, Ipeh, aku. Lalu garis pemisah. Lalu:
Olivia Naura Queen — Teknik Elektro (koordinator kelompok) Reza Alfarizi — Manajemen Alvaro Zaidan Alfarishi — Teknik Elektro
Aku membaca nama ketiga itu tiga kali.
Ipeh masih bicara di sebelahku. Sesuatu soal jarak dusunnya, sesuatu soal sinyal, sesuatu soal kamar mandi. Aku tidak mendengar satu pun.
“...Zar?”
“Hah?”
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu bengong.”
“Ngantuk.”
Ipeh menoleh ke layar, lalu ke aku, lalu ke layar lagi, dan aku bisa melihat otaknya bekerja dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.
“Ini Alvaro yang mana?”
“Nggak tahu.”
“Zara.”
“Nggak tahu, Peh.”
“Kamu SMA-nya sama dia nggak?”
“Kayaknya.”
“KAYAKNYA?”
“Aku tidur ya, besok pagi ada kelas.”
Aku mendorongnya keluar dan menutup pintu, dan Ipeh berteriak dari balik pintu bahwa suaraku naik setengah nada, dan aku bilang tidak, dan dia bilang NAH ITU LAGI.
Aku tidak tidur sampai jam dua.
Yang aneh bukan karena aku memikirkan dia. Yang aneh adalah aku sadar aku sudah lama tidak memikirkan dia, dan bahwa berhentinya itu terjadi tanpa aku putuskan.
Tahun pertama kuliah, aku masih chat. Dia balas. Pendek, seperti biasa, tapi selalu balas. Tahun kedua, jadi sebulan sekali. Lalu tiga bulan sekali. Tahun ketiga, cuma ucapan ulang tahun. Aku duluan. Dia balas empat jam kemudian: makasih.
Tidak ada yang bertengkar. Tidak ada yang marah. Cuma dua orang yang jadwalnya tidak pernah bertemu lagi, dan itu ternyata cukup.
Aku sempat berpikir malam itu bahwa mungkin dia sudah tidak ingat aku.
Lalu aku merasa itu pikiran yang berlebihan dan dramatis dan aku tidur.
Briefing pertama hari Sabtu, di aula kampus teknik, jam delapan pagi.
Aku datang jam delapan kurang sepuluh dan aulanya sudah setengah penuh dan aku langsung menyesal memakai sepatu yang salah karena lantainya licin.
“Kelompok empat di sebelah sana,” kata panitia.
Aku jalan ke sana. Ipeh di belakangku sambil memegang lengan bajuku, bukan karena butuh, tapi karena Ipeh memang begitu.
Ada tujuh orang sudah berkumpul di lingkaran kursi.
Aku melihatnya sebelum dia melihat aku.
Dia berdiri, agak di luar lingkaran, memegang gulungan kertas — denah, atau apa — sambil mendengarkan seseorang bicara. Kaus polos. Celana kerja. Sepatu yang jelas dipakai untuk lapangan.
Bahunya lebih lebar. Rambutnya lebih pendek. Rahangnya lebih tegas dengan cara yang bikin aku sadar bahwa aku dulu mengenal anak SMA, dan yang berdiri di sana bukan anak SMA.
Dan satu hal lagi, yang butuh beberapa detik untuk aku rumuskan.
Dia terlihat tenang.
Bukan diam. Tenang. Ada orang bertanya sesuatu ke dia; dia menjawab, singkat, dan orang itu tertawa. Ada orang lain menepuk bahunya sambil lewat; dia mengangguk. Dia berdiri di ruangan penuh orang dengan cara orang yang tidak keberatan ada di situ.
Alvaro yang aku kenal tidak begitu. Alvaro yang aku kenal berdiri di pinggir ruangan dan menunggu semuanya selesai.
Lalu dia menoleh.
Aku tidak tahu apa yang aku harapkan. Kaget, mungkin. Atau senyum. Atau salah satu dari seribu hal yang aku bayangkan tanpa sengaja selama empat hari terakhir.
Yang aku dapat: dia melihatku, mengenali, dan wajahnya tidak berubah sama sekali.
Lalu dia berjalan ke arahku.
Dan mengulurkan tangan.
“Zhafira.”
Aku menatap tangannya.
Aku menatap tangan itu terlalu lama, cukup lama sampai orang di sebelah kami mulai memperhatikan, dan akhirnya aku menyambutnya karena tidak ada pilihan lain.
Salamannya normal. Dua detik. Kuat tapi tidak berlebihan. Lalu lepas.
Salaman.
Kami tidak pernah bersalaman seumur hidup kami. Tidak sekali pun. Bukan karena apa-apa — cuma karena kami tidak pernah punya alasan. Orang tidak bersalaman dengan orang yang tiap hari duduk di ruangan yang sama.
“Al—“
“Kelompok empat?”
“...Iya.”
“Bagus.” Dia membuka gulungan kertasnya sedikit. “Kamu Komunikasi?”
“Iya.”
“Nanti bagian pendataan warga. Enak.”
“Enak?”
“Nggak manjat.”
Dan dia sudah berbalik ke orang lain yang memanggilnya.
Aku duduk di kursi selama sisa briefing dan tidak mendengar apa pun tentang proposal, jadwal, atau anggaran.
Aku memikirkan dua hal.
Yang pertama: Zhafira.
Nama belakangku. Yang dipakai dosen kalau mengabsen. Yang dipakai orang bank. Yang dipakai orang yang belum kenal aku.
Dia tidak pernah memanggilku begitu. Dia memang jarang memanggil namaku sama sekali — itu salah satu hal yang dulu aku catat diam-diam — tapi kalau dia memanggil, selalu Zara.
Yang kedua, dan yang lebih sulit aku akui: dia baik-baik saja.
Aku tidak tahu kenapa itu mengganggu. Seharusnya bagus, kan. Teman lama yang baik-baik saja. Sehat, sibuk, punya banyak kenalan, disukai orang di kelompoknya.
Tapi ada bagian dari diriku — bagian yang sangat kecil dan sangat memalukan dan yang tidak akan pernah aku ceritakan ke siapa pun — yang merasa seperti orang yang datang ke reuni dengan seluruh kenangan masih utuh, dan menemukan bahwa ruangannya sudah dicat ulang.
“Zar.” Ipeh menyikut. “Kamu diem dari tadi.”
“Denger kok.”
“Tadi bagian apa?”
“Bagian... anggaran.”
“Dari tadi bahas jadwal keberangkatan.”
“Ya itu maksudku.”
Malamnya aku packing.
Enam bulan. Dua koper. Aku sudah membuat daftarnya dua minggu lalu dan aku mencoretnya satu per satu dan semuanya masuk akal dan semuanya sudah aku perhitungkan.
Lalu aku berdiri di depan lemari, dan aku melihat ke belakang pintu kamar.
Ada paku di situ. Ada satu jaket digantung di paku itu, biru pudar, bahan tebal, dengan bordir empat huruf di dada kiri.
Sudah tiga tahun di paku yang sama. Sudah pindah kos dua kali dan tetap digantung di paku yang sama.
Aku berdiri di depannya cukup lama.
Lalu aku mengambilnya, melipatnya, dan menaruhnya di dasar koper — paling bawah, di bawah semua pakaian, di bawah handuk, di tempat yang tidak akan aku buka kecuali kalau semua yang lain sudah keluar.
Aku menutup kopernya.
Aku bilang ke diri sendiri bahwa itu jaket bagus, dan di desa pasti dingin, dan aku mungkin butuh.
Aku bahkan hampir percaya.
- 1 Kipas Angin Kelas Sebelah
- 2 Obeng Plus, Gagang Kuning
- 3 Ruangan yang Bau Debu
- 4 Dua Detik
- 5 Satu Kata
- 6 Jaket Bengkel
- 7 Lima Sentimeter
- 8 Kotak Musik
- 9 Rantai
- 10 Sepuluh Sentimeter
- 11 Setengah Detik
- 12 Yang Bisa Dibenerin
- 13 Kelompok Empat reading
- 14 Ditaruh di Meja
- 15 Bahasa yang Aku Nggak Ngerti
- 16 Tudung
- 17 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 18 Tiga Tahun
- 19 Punggung Tangan
- 20 Air
- 21 Dua Detik Lagi
- 22 Api Unggun
- 23 Yang Aku Tahu Sejak Awal
- 24 Hitungan Mundur
- 25 Alasan Nomor Enam
- 26 Obeng Baru
- 27 Nggak Bisa
- 28 Sandal
- 29 Salah Orang
- 30 Duduk
- 31 Zara
- 32 Pagi Pertama
- 33 Asisten
- 34 Payung yang Sama
- 35 Yang Harus Diselesaikan
- 36 Api Unggun Kedua
- 37 Datar
- 38 Empat Puluh Delapan Rumah