Chapter Sixteen
Tudung
POV: Alvaro
Minggu kedua, kami mulai memetakan jalur.
Itu artinya jalan kaki menyusuri satu koma dua kilometer dari trafo terakhir sampai ujung dusun atas, berhenti setiap tiga puluh meter, menancapkan patok, mencatat koordinat, dan mengulanginya sampai selesai.
Empat puluh titik. Dua hari kalau lancar. Empat hari kalau tidak.
Tidak lancar.
“Fa.” Reza berdiri di titik kedelapan belas sambil memegang patok terbalik. “Ini kenapa nggak pakai drone aja sih.”
“Kita nggak punya drone.”
“Kampus punya.”
“Kampus punya satu dan itu dipakai anak Geodesi.”
“Pinjem.”
“Udah. Ditolak.”
“Kamu minjemnya gimana?”
“Aku bilang mau minjem.”
“Nah, itu masalahnya.” Dia menancapkan patok itu, masih terbalik. “Kamu harus PDKT dulu sama anak Geodesi.”
“Patoknya kebalik.”
“Ini sengaja.”
“Reza.”
“Ya udah, ya udah.”
Gerimis mulai jam sebelas.
Bukan hujan. Gerimis yang tidak jelas maunya apa — cukup basah untuk bikin kertas lembek, tidak cukup deras untuk jadi alasan berhenti.
“Lanjut?” tanya Oliv.
“Lanjut,” kataku.
“Sampai titik berapa?”
“Dua puluh lima. Habis itu jalannya masuk kebun, licin.”
“Oke.”
Timnya bertahan. Dalam sepuluh menit, semua orang basah di bagian bahu dan kepala, dan tidak ada yang bawa jas hujan karena pagi tadi cerah dan karena kami sepuluh mahasiswa yang tidak belajar apa pun dari minggu pertama.
Zara jalan di belakang, membawa papan jalan yang dia lindungi dengan badannya sendiri, membungkuk sedikit supaya kertasnya tidak basah.
Jaketnya punya tudung. Tudungnya tergantung di punggung, tidak dipakai, karena kedua tangannya penuh.
Aku melihat itu di titik kedua puluh satu.
Aku tidak melakukan apa-apa di titik kedua puluh satu.
Di titik kedua puluh dua, rambutnya sudah basah di bagian depan dan menempel di dahi, dan dia meniupnya ke samping dengan cara yang tidak berhasil sama sekali, dua kali, tiga kali.
Aku berhenti dan mundur dua langkah.
“Papan jalannya.”
“Kenapa?”
“Sini.”
Dia menyerahkan papan jalannya, bingung. Aku memegangnya dengan tangan kiri.
Lalu aku mengambil tudung jaketnya dengan tangan kanan — dari ujung kainnya, di bagian jahitan belakang — dan menariknya ke atas.
Aku menariknya lewat, bukan lewat kepalanya. Aku mengangkatnya tinggi dulu, melewatkannya di atas, lalu menurunkannya ke depan sampai menutupi dahinya.
Tanganku tidak menyentuh apa pun kecuali kain.
Aku sudah memikirkan cara melakukannya sejak titik kedua puluh satu, dan itu fakta tentang diriku yang tidak akan aku bagikan ke siapa pun.
“Nah,” kataku. Aku menyerahkan papan jalannya kembali — dengan menyodorkannya sampai dia yang mengambil, karena tidak ada meja di tengah kebun.
Zara berdiri diam.
“Basah,” kataku, karena dia belum bergerak.
“Iya.”
“Kertasnya juga.”
“Iya.”
“Ya udah.”
Aku jalan lagi ke depan.
Yang tidak aku perhitungkan adalah Reza berdiri delapan meter di depan kami sambil memegang meteran gulung dan melihat seluruh kejadian itu dari awal sampai akhir.
“Cieee.”
Aku terus jalan.
“Fa.”
“Hm.”
“CIEEE.”
“Meterannya kamu tarik dari titik dua puluh dua, bukan dua puluh satu.”
“Jangan ganti topik.”
“Kamu salah tarik.”
“FA.”
“Kalau salah tarik, empat puluh titik geser semua.”
“AAAH.” Dia melihat meterannya. “Anjir. Iya.”
Dan dia menghabiskan sepuluh menit berikutnya menarik ulang, sambil mengeluh, sambil sesekali berkata cie dengan volume yang menurun setiap kali.
Aku mengecek koordinat berikutnya dan menuliskannya di bukuku dengan tulisan yang lebih rapi dari biasanya.
Yang aku pelajari selama tiga tahun terakhir bukan cara berhenti merasakan sesuatu.
Aku sudah mencoba itu di tahun pertama dan itu tidak bisa. Perasaan tidak punya sakelar. Kalau ada, aku sudah mencarinya sampai ketemu, karena mencari sakelar adalah keahlianku.
Yang aku pelajari adalah cara mengurus.
Kalau ada kabel yang tidak bisa dicabut, kabel itu dibungkus. Diisolasi rapat, dijauhkan dari air, dicek sesekali. Dia tetap bertegangan. Dia cuma tidak menyentuh apa pun.
Itu yang aku lakukan selama tiga tahun dan aku cukup ahli sekarang.
Aturannya ada tiga, dan aku menulisnya di kepala seperti orang menulis SOP.
Satu: jangan menyentuh. Dua: jangan menghitung. Tiga: jangan berdua.
Yang ketiga paling penting dan paling gampang dilanggar tanpa sadar, karena berdua itu tidak selalu diputuskan. Berdua itu terjadi. Orang lain pulang duluan, atau tim pecah dua, atau satu motor kurang.
Jadi aku selalu tahu di mana semua orang berada.
Sepanjang hari itu, aku tahu Reza ada di depan dan Oliv ada di titik terakhir dan Ipeh ada di posko.
Dan aku menaikkan tudung itu justru karena aku tahu Reza ada di depan.
Aku menyadari itu jam sembilan malam, waktu aku sudah di kasur, dan aku berbaring memandang langit-langit sambil memikirkan bahwa aku telah melakukan sesuatu yang aman karena ada saksinya.
Itu bukan pertahanan.
Itu izin yang aku berikan ke diriku sendiri dengan cara yang licik.
Aku bangun, minum, dan tidur lagi.
Besoknya gerimis lagi, dan besoknya lagi.
Titik dua puluh tiga sampai empat puluh selesai hari Jumat.
Hari Jumat sore, di titik terakhir, Oliv menutup buku catatan dan berkata, “Selesai. Cepat.”
“Empat hari,” kataku.
“Aku kira seminggu.”
“Kalau nggak gerimis, dua hari.”
“Kamu selalu ngitung yang paling cepat.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku melipat meteran.
“Biar nggak kelamaan.”
Oliv melihat aku sebentar.
“Fa.”
“Hm.”
“Kamu kalau lagi ngerjain sesuatu, kamu lupa makan.”
“Nggak.”
“Hari ini kamu makan jam berapa?”
Aku memikirkannya.
“Nanti,” kataku.
“Nah.”
Dia mengambil dua bungkus roti dari tasnya dan menyodorkan satu.
Aku menerimanya.
“Makasih.”
“Makan sekarang.”
“Iya.”
Dan aku makan sekarang, karena Oliv itu satu-satunya orang yang perintahnya aku turuti tanpa berdebat, dan karena tiga tahun kerja satu tim itu membuat sesuatu, meskipun sesuatu itu bukan yang orang kira.
Waktu kami jalan balik ke posko, aku melihat ke bawah, ke arah dusun.
Dari titik empat puluh, seluruh Ngadirejo kelihatan. Empat puluh delapan rumah, satu balai, satu masjid kecil, dan satu-satunya lampu jalan yang menyala terletak persis di depan balai karena itu satu-satunya yang tersambung benar.
Enam bulan lagi, dari titik ini, garis lampu akan kelihatan sampai atas.
Aku memikirkan itu, dan untuk beberapa detik aku benar-benar tidak memikirkan hal lain, dan itu perasaan yang paling lega yang aku punya sejak sampai di dusun ini.
Lalu aku turun, dan sampai di posko, dan Ipeh berdiri di teras sambil menyerahkan surat dari kecamatan.
“Mas Alvaro.”
“Ya.”
“Ini katanya harus diambil sendiri ke kecamatan. Sama tanda tangan. Besok pagi.”
“Oke.”
“Sama Mbak Zara, katanya. Soalnya yang bagian pendataan juga harus tanda tangan.”
Aku memegang surat itu.
“Berdua?”
“Iya,” kata Ipeh, dengan wajah paling polos yang pernah aku lihat di dunia. “Motornya cuma sisa satu, sih.”
- 1 Kipas Angin Kelas Sebelah
- 2 Obeng Plus, Gagang Kuning
- 3 Ruangan yang Bau Debu
- 4 Dua Detik
- 5 Satu Kata
- 6 Jaket Bengkel
- 7 Lima Sentimeter
- 8 Kotak Musik
- 9 Rantai
- 10 Sepuluh Sentimeter
- 11 Setengah Detik
- 12 Yang Bisa Dibenerin
- 13 Kelompok Empat
- 14 Ditaruh di Meja
- 15 Bahasa yang Aku Nggak Ngerti
- 16 Tudung reading
- 17 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 18 Tiga Tahun
- 19 Punggung Tangan
- 20 Air
- 21 Dua Detik Lagi
- 22 Api Unggun
- 23 Yang Aku Tahu Sejak Awal
- 24 Hitungan Mundur
- 25 Alasan Nomor Enam
- 26 Obeng Baru
- 27 Nggak Bisa
- 28 Sandal
- 29 Salah Orang
- 30 Duduk
- 31 Zara
- 32 Pagi Pertama
- 33 Asisten
- 34 Payung yang Sama
- 35 Yang Harus Diselesaikan
- 36 Api Unggun Kedua
- 37 Datar
- 38 Empat Puluh Delapan Rumah