Chapter Thirty Six
Api Unggun Kedua
POV: Zara
Penarikan kabel selesai hari Sabtu jam empat sore.
Bukan penyalaan. Penyalaan masih menunggu petugas resmi dari kecamatan dan berkas yang belum ditandatangani dan satu rapat lagi yang menurut Oliv “seharusnya tidak perlu ada”.
Tapi kabelnya sudah tersambung dari trafo terakhir sampai tiang empat puluh, satu koma dua kilometer, dan itu artinya pekerjaan lapangan selesai.
Lima bulan.
Pak Karso mengumumkannya lewat pengeras suara masjid, yang menurutku berlebihan, dan yang menurut seluruh dusun tidak berlebihan sama sekali.
Api unggunnya lebih besar dari yang pertama.
Yang pertama, empat bulan lalu, cuma sepuluh mahasiswa dan tiga warga. Yang ini setengah dusun.
Terpal digelar di halaman belakang balai. Ibu-ibu membawa makanan tanpa diminta, seperti biasa, dalam jumlah yang tidak masuk akal. Ada yang membawa gitar. Ada yang membawa kendang kecil. Pak Nur membawa kambing, yang mana menimbulkan kepanikan singkat sampai diketahui kambingnya cuma ikut, bukan untuk disembelih.
Aku duduk di terpal, di dekat api, dengan Ipeh di sebelah kiri.
“Zar.”
“Hm.”
“Aku sedih.”
“Kenapa?”
“Nggak tahu.” Dia memeluk lututnya. “Ini kayak... kita bakal pulang, terus semuanya jadi cerita.”
Aku tidak menjawab, karena aku sudah memikirkan hal yang sama sejak tiga minggu lalu dan aku belum menemukan cara untuk menaruhnya.
Nyanyiannya mulai jam delapan.
Aku tidak tahu lagu-lagunya. Sebagian besar lagu Jawa yang tidak pernah aku dengar, dan sebagian lagi lagu lama yang aku tahu setengah liriknya dari ayahku.
Yang aku tahu: semua orang di dusun ini hafal semuanya.
Termasuk anak-anak. Termasuk nenek di rumah ketiga. Termasuk Pak Karso, yang suaranya jelek sekali dan yang menyanyikan seluruh bagian tanpa ragu-ragu.
Reza mencoba ikut menyanyi di lagu ketiga.
Reza dilarang menyanyi di lagu keempat, oleh voting terbuka, sembilan lawan satu.
“KALIAN NGGAK NGERTI SENI.”
“Kami ngerti, Mas,” kata ibu-ibu di seberang. “Makanya.”
Dia datang jam setengah sembilan.
Dari arah gudang, seperti biasa, karena selalu ada yang harus dicek sebelum dia bisa duduk.
Dia mencari tempat kosong, dan tempat kosong yang paling dekat adalah di belakangku, di pinggir terpal, bersandar ke tumpukan karung.
Dia duduk di situ.
Dan aku, tanpa memikirkan apa-apa sama sekali, bergeser mundur.
Aku bergeser mundur sampai punggungku menyentuh dadanya, lalu aku duduk di situ, di antara kedua kakinya yang ditekuk, membelakangi dia, menghadap api.
Aku merasakan seluruh tubuhnya kaget.
Satu detik.
Lalu tidak.
Lalu tangannya turun ke bahuku dan berhenti di situ, dan aku bersandar sepenuhnya, dan kami menonton api unggun seperti itu.
Aku ingin mencatat bahwa dua puluh orang melihat.
Aku tahu karena aku dengar. Ada suara “ciee” dari arah kanan, dua kali, dan ada ibu-ibu yang berbisik cukup keras, dan Ipeh — Ipeh mengeluarkan bunyi tinggi yang tidak akan aku deskripsikan.
Aku tidak peduli sama sekali.
Dan yang lebih penting: dia juga tidak.
Aku menunggu dia kaku. Aku menunggu dia menggeser badannya sedikit, atau melepaskan tangannya, atau melakukan salah satu dari seratus gerakan halus yang sudah aku hafal artinya.
Dia tidak melakukan satu pun.
Dia cuma duduk di belakangku, membiarkan seluruh berat badanku bersandar ke dadanya, di depan setengah dusun.
Lagu keenam pelan.
Aku tidak tahu judulnya. Aku tahu iramanya lambat dan bahwa ibu-ibu menyanyikannya dengan suara yang lebih rendah dari lagu-lagu sebelumnya, dan bahwa satu per satu orang berhenti bicara.
Dan di tengah lagu itu, aku merasakan tangannya bergerak.
Naik dari bahuku ke rambutku.
Dia mulai menyisirnya dengan jari.
Pelan. Dari atas, dari dekat ubun-ubun, turun sampai ujung, lalu mulai lagi dari atas.
Tidak ada tujuan apa pun. Rambutku tidak kusut. Tidak ada yang perlu dirapikan.
Dia cuma melakukannya, berulang-ulang, sambil mendengarkan orang bernyanyi, dengan tangan yang buku jarinya kasar dan yang seumur hidupnya dipakai untuk memegang benda logam.
Aku menutup mata.
Dan di situ, di halaman belakang balai desa, di ketinggian tujuh ratus meter, di antara setengah dusun yang menyanyikan lagu yang aku tidak tahu judulnya, aku memikirkan sesuatu yang membuat mataku panas.
Orang ini enam tahun lalu bergeser lima sentimeter menjauh supaya kepalaku tidak jatuh ke bahunya.
Aku tidak tahu itu waktu itu. Dia yang memberitahuku, dua minggu lalu, waktu aku bertanya apa saja yang tidak aku tahu, dan dia menjawab satu per satu dengan wajah datar seperti orang membacakan daftar barang.
Lima sentimeter.
Dia bilang alasannya: kalau aku bangun dalam posisi itu, aku akan canggung, dan kalau aku canggung, aku berhenti datang ke ruang perlengkapan.
Jadi dia menukar satu hal yang tidak akan pernah dia dapat lagi, dengan hak untuk duduk di ruangan yang sama denganku seminggu lagi.
Dan sekarang tangan yang sama sedang menyisir rambutku di depan dua puluh orang.
Aku memikirkan berapa jauh jarak antara dua hal itu, dan berapa lama waktunya, dan betapa hampir sekali kami tidak sampai.
Aku menangis sedikit. Diam-diam. Menghadap api, jadi tidak ada yang lihat, dan kalaupun ada yang lihat, mereka akan menyalahkan asapnya.
Tangannya berhenti sebentar di bagian atas kepalaku.
Lalu jalan lagi.
Dia tahu.
Dia tidak bertanya.
Lagunya selesai jam setengah sepuluh dan berganti jadi lagu cepat, dan Pak Nur berdiri dan menari, dan seluruh halaman meledak.
Reza diizinkan menyanyi lagi karena tidak ada yang bisa mendengar apa pun.
Kambing Pak Nur lepas dan dikejar empat orang.
Aku tetap duduk di tempatku, membelakangi dia, dan tidak bergerak sampai jam sebelas.
“Al.”
“Hm.”
“Kamu tahu nggak dua puluh orang lihat kita.”
“Iya.”
“Kamu nggak keberatan?”
Dia diam sebentar.
“Aku enam tahun keberatan,” katanya. “Capek.”
Aku tertawa dan menabrak dadanya dengan punggungku.
“Al.”
“Hm.”
“Aku mau nanya satu hal, tapi kamu jangan jawab kalau kamu nggak mau.”
“Ya.”
“Kalau nanti kita pulang,” kataku, “terus balik ke kampus masing-masing, terus jadwal kita nggak ketemu lagi kayak tiga tahun kemarin—“
Tangannya berhenti di rambutku.
“—kamu bakal nunggu lagi nggak?”
Dia tidak menjawab selama beberapa detik.
Lalu tangannya turun dari rambutku ke bahuku, dan dia menarikku sedikit lebih rapat ke belakang, dan dia bicara pelan sekali di dekat telingaku sehingga cuma aku yang dengar di antara semua kegaduhan itu.
“Aku nggak akan nunggu,” katanya.
Aku berhenti bernapas.
“Aku bakal dateng,” katanya.
Aku memutar badan menghadapnya, di terpal, di depan setengah dusun, dan aku tidak peduli sama sekali.
“Janji?”
“Aku nggak janji,” katanya. “Aku bilang aja.”
“Al—“
“Kalau aku janji, artinya ada kemungkinan enggak.”
Dan dia mengambil piring dari orang di sebelahnya dan menyerahkannya ke aku dan bilang “makan, kamu belum makan dari tadi”, dengan nada yang sama sekali tidak berubah, seolah dia baru saja membicarakan cuaca.
- 1 Kipas Angin Kelas Sebelah
- 2 Obeng Plus, Gagang Kuning
- 3 Ruangan yang Bau Debu
- 4 Dua Detik
- 5 Satu Kata
- 6 Jaket Bengkel
- 7 Lima Sentimeter
- 8 Kotak Musik
- 9 Rantai
- 10 Sepuluh Sentimeter
- 11 Setengah Detik
- 12 Yang Bisa Dibenerin
- 13 Kelompok Empat
- 14 Ditaruh di Meja
- 15 Bahasa yang Aku Nggak Ngerti
- 16 Tudung
- 17 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 18 Tiga Tahun
- 19 Punggung Tangan
- 20 Air
- 21 Dua Detik Lagi
- 22 Api Unggun
- 23 Yang Aku Tahu Sejak Awal
- 24 Hitungan Mundur
- 25 Alasan Nomor Enam
- 26 Obeng Baru
- 27 Nggak Bisa
- 28 Sandal
- 29 Salah Orang
- 30 Duduk
- 31 Zara
- 32 Pagi Pertama
- 33 Asisten
- 34 Payung yang Sama
- 35 Yang Harus Diselesaikan
- 36 Api Unggun Kedua reading
- 37 Datar
- 38 Empat Puluh Delapan Rumah