Chapter One
Kipas Angin Kelas Sebelah
POV: Alvaro
Ada dua jenis orang yang datang ke ruang perlengkapan. Yang pertama datang untuk minjam kunci aula. Yang kedua datang untuk mengeluh.
Hari itu yang datang jenis kedua, dan dia datang bertiga.
“Fa.” Bagas menaruh buku catatan di meja, terbalik, dengan gaya orang menyerahkan surat perintah. “Sebelas IPS satu.”
“Kenapa.”
“Kipas.”
“Udah tiga hari,” kata anak yang berdiri di belakangnya. Aku tidak hafal namanya. “Kita udah tulis di buku pengaduan dua kali.”
Aku membalik buku catatan itu supaya bisa dibaca. Memang ada. Dua kali. Tulisan yang pertama rapi dan sopan. Tulisan yang kedua memakai tanda seru tiga biji.
“Kelas kalian ada empat kipas.”
“Yang mati yang tengah.”
“Masih ada tiga.”
Anak itu menarik napas seperti orang yang sudah menyiapkan pidato sejak semalam. “Mas, kelas kami menghadap barat. Jam dua siang itu matahari masuk sampai ke bangku ketiga. Tiga kipas untuk empat puluh orang di ruangan yang menghadap barat itu namanya bukan kelas, itu namanya oven.”
Bagas menepuk bahunya. “Bagus. Dia latihan dari tadi pagi.”
Aku menutup buku catatan.
“Ya,” kataku. “Nanti.”
“Nanti kapan?”
“Nanti.”
Mereka pergi dengan langkah yang tidak puas. Bagas tidak ikut pergi. Bagas tidak pernah ikut pergi.
“Lo tau nggak,” katanya sambil duduk di atas tumpukan kursi lipat, “kalau lo ngomong ‘nanti’ itu, orang denger ‘nggak akan’.”
“Nanti ya nanti.”
“Ya makanya. Kadang tambahin satu kata. ‘Nanti sore.’ ‘Nanti jam empat.’ Dua suku kata doang, Fa. Nggak bikin lo bangkrut.”
Aku mengambil tas perkakas dari kolong meja dan mengeceknya. Tang ada. Isolasi ada. Obeng minus ada.
Obeng plus tidak ada.
“Sore,” kataku.
Bagas mengangkat kedua tangannya ke atas seperti orang menyaksikan mukjizat.
Aku sampai di depan kelas sebelas IPS satu jam empat lewat sepuluh, waktu sekolah sudah setengah kosong dan koridornya sudah mulai enak.
Kelasnya belum kosong. Itu masalahnya.
Ada enam orang di dalam, duduk melingkar di bangku belakang, mengerjakan sesuatu yang jelas bukan tugas karena tidak ada satu pun buku terbuka. Waktu aku masuk, enam kepala menoleh serentak.
Aku sudah biasa masuk kelas orang. Biasanya orang melirik sekali, lalu kembali ke urusan masing-masing, karena tukang benerin kipas itu setara dengan tiang bendera — ada, tapi tidak perlu dipikirkan.
Kali ini enam kepala itu tidak kembali ke urusan masing-masing.
“Eh,” salah satu berbisik, terlalu keras untuk disebut bisik. “Yang jatoh dari tangga aula itu bukan sih?”
“Bukan. Yang itu anak kelas dua belas.”
“Sama aja kali.”
Aku menaruh tas perkakas di meja guru dan melihat ke atas. Kipas tengah. Baling-balingnya diam di posisi yang sama seperti tiga hari lalu — aku tahu, karena aku lewat kelas ini setiap pagi.
Aku menggeser meja pertama ke tengah ruangan. Kakinya menggores lantai dan bunyinya panjang sekali.
“Mas,” kata anak perempuan yang tadi berbisik. “Nggak pakai tangga?”
“Tangganya di aula.”
“Ambil aja.”
“Jauh.”
“Ya tapi—“
Aku sudah naik ke atas meja.
Dari atas, langit-langit kelas itu ternyata lebih rendah dari yang kelihatan dari bawah. Aku harus agak menunduk. Aku membuka penutup sakelar kipas dengan ujung obeng minus — bukan alat yang benar, tapi tidak ada pilihan lain — dan mencium bau yang sudah kutebak sejak dari koridor.
Gosong. Bukan gosong yang parah. Gosong yang cuma berarti satu kabel kepanasan dan satu sambungan longgar.
“Gimana, Mas?”
“Bisa.”
“Bisa hari ini?”
Aku menarik kabelnya sedikit untuk melihat seberapa longgar. Terlalu sedikit. Aku menarik lagi.
Dan di detik itu pintu kelas terbuka.
Aku tidak tahu kenapa aku menoleh. Aku selalu menoleh kalau ada pintu terbuka, itu saja, tidak ada alasannya. Tapi kaki mejanya sudah tidak sepenuhnya di lantai sejak tadi, dan berat badanku sudah tidak sepenuhnya di tengah sejak tadi, dan begitu aku menoleh, dua hal itu bertemu.
Meja itu miring.
Aku sempat berpikir, dengan sangat jernih, bahwa aku masih bisa menyelamatkan ini.
Aku tidak bisa menyelamatkan ini.
Yang aku ingat berikutnya adalah lantai, punggung, dan bunyi meja yang jatuh di sebelahku dengan suara jauh lebih heboh daripada yang aku perlukan.
Kelas itu diam satu detik penuh.
Lalu ada satu orang tertawa.
Bukan tertawa mengejek. Tertawa yang meledak duluan sebelum sempat ditahan, lalu buru-buru ditutup pakai tangan, dan tetap bocor dari sela-sela jari.
Aku masih telentang waktu aku melihat ke arah pintu.
Dan itu masalah kedua hari itu.
Karena aku tahu wajah itu. Semua orang di sekolah ini tahu wajah itu. Wajah yang bikin anak kelas dua belas tiba-tiba lupa jalan pulang, wajah yang bikin guru olahraga memanggil namanya dua kali padahal absen cuma sekali.
Zara Zhafira. Kelas sebelas IPS satu. Yang aku lewati setiap pagi tanpa pernah sekali pun ikut menoleh, karena aku sudah memutuskan sejak lama bahwa aku tidak akan jadi salah satu dari mereka.
Dia berdiri di ambang pintu, masih menutup mulutnya, dan matanya berair karena menahan tawa.
“Maaf,” katanya. Suaranya pecah di tengah. “Maaf. Beneran. Aku—“ dia tertawa lagi. “Maaf.”
Aku bangun. Punggungku bilang sesuatu yang tidak enak, tapi aku bangun.
“Nggak apa-apa.”
“Sakit nggak?”
“Nggak.”
“Bohong.”
Aku memungut obeng minus yang menggelinding sampai ke bawah lemari. “Nggak sakit.”
“Mas, tadi bunyinya sampai kedengeran dari koridor.”
“Itu mejanya.”
“Itu bukan mejanya.”
Anak-anak di bangku belakang mulai ikut tertawa, dan sekali sudah mulai, tidak ada yang berhenti. Ada yang bertepuk tangan. Ada yang bilang ulang, Mas, aku belum sempet ngerekam. Aku berdiri di tengah kelas orang lain sambil memegang obeng yang salah dan memutuskan bahwa aku tidak akan menanggapi satu pun dari mereka.
Zara masuk, mengambil tasnya dari bangku ketiga dari depan, lalu berhenti di sebelah meja yang terguling.
Dia mengangkat meja itu berdiri lagi. Sendirian, tanpa disuruh, sambil masih setengah tertawa.
“Jadi bisa dibenerin nggak?”
“Bisa.”
“Hari ini?”
“Nggak.” Aku menaruh obeng minus itu ke tas. “Obengnya salah. Besok.”
“Yah.”
“Besok pagi.”
Dia mengangguk. Lalu dia melakukan hal yang tidak masuk akal, yaitu tetap berdiri di situ, padahal urusannya sudah selesai dan tasnya sudah di bahu.
“Sebenernya aku duduk di sana,” katanya, menunjuk bangku ketiga dari depan. “Yang tepat di bawah kipas itu.”
“Aku tahu.”
Dia mengerjap. “Kok tahu?”
Dan di sinilah seharusnya aku berhenti. Aku tahu batasnya. Aku selalu tahu batasnya.
“Kursimu satu-satunya yang digeser,” kataku. “Dua puluh senti ke kiri, ke arah kipas yang masih hidup. Yang lain nggak ada yang geser.”
Kelas itu sunyi lagi, tapi kali ini sunyinya beda.
Zara melihat ke kursinya. Lalu melihat ke aku. Lalu ke kursinya lagi, seolah kursi itu baru saja mengadukan sesuatu tentang dirinya.
“Kamu merhatiin kursi orang?”
“Aku merhatiin kipas.”
“Itu bukan jawaban.”
“Itu jawaban.”
Dia tertawa lagi — tawa yang lebih pendek, dan entah kenapa lebih susah dilupakan daripada yang tadi.
“Besok pagi, ya,” katanya. “Aku tungguin.”
“Nggak usah ditungguin.”
“Ya udah, aku tungguin.”
Dia keluar duluan.
Aku berdiri di kelas orang lain selama beberapa detik yang tidak ada gunanya, lalu memungut tas perkakas dan pulang.
Di rumah, sebelum tidur, aku membuka tas perkakas itu untuk mengecek ulang.
Obeng plusnya memang benar-benar tidak ada.
Aku mengambil satu dari bengkel Bapak — obeng plus dengan gagang kuning yang sudah pudar di dua sisi karena kelamaan dipegang — dan memasukkannya ke tas. Lalu aku menaruh tas itu di dekat pintu, supaya besok pagi tidak lupa.
Aku sempat berpikir bahwa itu berlebihan untuk satu kipas angin di kelas yang bukan kelasku.
Aku tetap menaruhnya di dekat pintu.
- 1 Kipas Angin Kelas Sebelah reading
- 2 Obeng Plus, Gagang Kuning
- 3 Ruangan yang Bau Debu
- 4 Dua Detik
- 5 Satu Kata
- 6 Jaket Bengkel
- 7 Lima Sentimeter
- 8 Kotak Musik
- 9 Rantai
- 10 Sepuluh Sentimeter
- 11 Setengah Detik
- 12 Yang Bisa Dibenerin
- 13 Kelompok Empat
- 14 Ditaruh di Meja
- 15 Bahasa yang Aku Nggak Ngerti
- 16 Tudung
- 17 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 18 Tiga Tahun
- 19 Punggung Tangan
- 20 Air
- 21 Dua Detik Lagi
- 22 Api Unggun
- 23 Yang Aku Tahu Sejak Awal
- 24 Hitungan Mundur
- 25 Alasan Nomor Enam
- 26 Obeng Baru
- 27 Nggak Bisa
- 28 Sandal
- 29 Salah Orang
- 30 Duduk
- 31 Zara
- 32 Pagi Pertama
- 33 Asisten
- 34 Payung yang Sama
- 35 Yang Harus Diselesaikan
- 36 Api Unggun Kedua
- 37 Datar
- 38 Empat Puluh Delapan Rumah