← Setengah Detik

Chapter Fifteen

Bahasa yang Aku Nggak Ngerti

POV: Zara


Rapat perdana kelompok empat berlangsung di ruang tengah, jam delapan pagi, dengan papan tulis kecil yang dibawa dari kampus dan spidol yang tinggal satu.

Olivia Naura Queen memimpinnya dengan cara yang bikin aku sadar bahwa aku belum pernah melihat perempuan seumurku memimpin rapat.

Dia tidak berteriak. Dia tidak minta perhatian. Dia cuma mulai bicara, dan dalam empat detik semua orang diam.

“Enam bulan. Tiga tahap.” Dia menulis di papan. “Tahap satu, dua bulan: survei, pendataan, pemetaan jaringan eksisting. Tahap dua, tiga bulan: instalasi. Tahap tiga, satu bulan: uji coba, pelatihan warga, laporan.”

“Pertanyaan,” kata Reza sambil mengangkat tangan.

“Ya.”

“Kita libur nggak?”

“Enggak.”

“Oke.”

“Ada pertanyaan yang bukan soal libur?”

Aku suka dia langsung. Itu penting untuk dicatat, karena semua yang terjadi sesudahnya jadi lebih memalukan kalau aku tidak mengakui bagian ini: aku suka Oliv dari menit pertama.

Dia cantik. Bukan cantik yang bikin orang berhenti — cantik yang bikin orang duduk lebih tegak. Rambut pendek sebahu, kacamata yang dilepas kalau dia serius, dan cara bicara yang membuat kalimatnya selalu selesai.

“Bagian teknis,” lanjutnya. “Fa, jelasin.”

Dan Alvaro berdiri.


Aku tidak mengerti satu pun dari yang dia jelaskan.

“Jaringan eksisting cuma sampai dusun bawah. Dari trafo terakhir ke Ngadirejo ada gap sekitar satu koma dua kilo. Warga atas nyambung sendiri, jadi drop tegangan-nya parah.”

“Berapa?” tanya Oliv.

“Aku ukur kemarin. Di ujung, seratus tujuh puluh.”

“Astaga.”

“Makanya pompa nggak kuat.”

“Kabel yang mereka pakai?”

“Kecil. Kayaknya dua koma lima.”

“Untuk satu koma dua kilo?”

“Iya.”

“Ya udah jelas.”

“Iya.”

Mereka mengangguk bersamaan, dengan wajah dua orang yang baru saja menyelesaikan sesuatu, dan aku duduk di sana sambil memegang bolpoin dan tidak menulis apa-apa.

“Berarti butuh tiang berapa?” tanya Oliv.

“Kalau spanning tiga puluh, tiga puluh sembilan. Bulatin empat puluh.”

“Anggaran cuma cukup tiga puluh dua.”

“Berarti spanning-nya empat puluh.”

“Boleh?”

“Boleh, tapi kabelnya harus naik satu ukuran. Kalau enggak, andongan-nya kejauhan.”

“Kalau naik satu ukuran, harganya?”

“Naik dua puluh persen. Tapi kita hemat delapan tiang.”

Oliv diam sebentar, menghitung di kertas.

“Untung.”

“Iya.”

“Oke. Kita pakai itu.”

Dan selesai. Dua menit. Dua orang. Tidak ada yang perlu menjelaskan apa pun ke siapa pun.

Aku menoleh ke Ipeh. Ipeh mengangkat alis.

“Kamu ngerti?” bisikku.

“Enggak.”

“Syukurlah.”


Yang mengganggu bukan bahasanya.

Aku sudah biasa tidak mengerti bahasa orang lain. Aku Komunikasi. Setengah hidupku isinya mewawancarai orang tentang hal yang aku tidak tahu apa-apa.

Yang mengganggu adalah kecepatannya.

Alvaro yang aku kenal bicara dua kata. Alvaro yang di depanku pagi itu bicara dalam kalimat yang saling menyambung dengan orang lain, potong-memotong, tanpa jeda, seperti dua orang yang sudah lama punya cara sendiri.

Dan dia tidak pernah sekali pun kelihatan berpikir sebelum menjawab.

“Fa, yang tiang kemarin—“

“Yang di tikungan?”

“Iya.”

“Miring dua belas derajat. Aku udah foto.”

“Kirim ke aku.”

“Udah kemarin malam.”

“Oh iya. Maaf, aku belum buka.”

“Nggak apa-apa.”

Aku menulis sesuatu di buku catatanku. Aku baca ulang sesudahnya dan yang aku tulis adalah kata “tiang” tiga kali.


Istirahat jam sepuluh, Bu Sarni membawa singkong rebus dan teh panas dan menolak dibantu oleh siapa pun.

Aku duduk di teras dengan Ipeh.

“Zar.”

“Hm.”

“Kamu mau aku bilang apa yang aku lihat, atau kamu mau aku diem?”

“Diem.”

“Oke.” Dia mengambil singkong. “Tapi aku lihat, ya.”

“Ipeh.”

“Aku diem.”

Dari ruang tengah masih terdengar suara. Oliv tertawa — tawa yang pendek, satu kali — dan aku dengar suara Alvaro sesudahnya, dua kata, dan Oliv tertawa lagi.

Aku menggigit singkong.

Ada perasaan di dadaku yang tidak enak dan aku tidak bisa memberinya nama, dan itu bikin aku kesal karena memberi nama pada perasaan adalah satu-satunya hal yang aku merasa jago.

Yang jelas bukan cemburu. Cemburu itu untuk orang yang punya sesuatu.

Aku putuskan itu capek. Aku bangun jam lima pagi. Perjalanan kemarin empat jam. Wajar.


Sore itu tim survei berangkat ke dusun bawah, dan aku ikut karena bagianku pendataan warga.

Jalan setapaknya turun curam dan berbatu, dan aku memakai sepatu yang salah untuk kedua kalinya dalam seminggu.

“Zar, hati-hati,” kata Ipeh dari belakang.

“Iya.”

“Itu batunya goyang.”

“Iya, aku—“

Kakiku meleset.

Bukan jatuh. Cuma meleset, dan aku sempat menahan diri di batu berikutnya, dan yang benar-benar terjadi cuma tanganku yang menggapai ke samping dan tidak menemukan apa-apa karena tidak ada apa-apa di sana.

Aku berdiri lagi. Total durasi kejadian: mungkin satu detik.

“Aduh, hampir,” kata Ipeh.

“Nggak apa-apa.”

Aku mendongak.

Alvaro ada di depan, sekitar empat meter, sudah berbalik dan sudah berhenti.

Dia berdiri di situ dengan gulungan denah di tangan dan menatap ke arahku, dan sesuatu di posturnya bilang bahwa dia sudah bergerak setengah langkah ke arahku sebelum berhenti.

Kami saling menatap sekitar dua detik.

“Batunya goyang,” katanya.

“Iya.”

“Yang sebelah kiri lebih rata.”

“Oke.”

Dan dia berbalik dan jalan lagi.

Ipeh, di belakangku, tidak bilang apa-apa.

Ipeh tidak bilang apa-apa dengan sangat keras.


Kami sampai di rumah pertama jam empat.

Ibu-ibu, kira-kira lima puluhan, dengan tiga anak dan satu televisi yang gambarnya bergaris.

Aku mengeluarkan formulir dan perekam, dan aku mulai bekerja, dan begitu aku mulai bekerja perasaan tidak enak di dada itu hilang, karena wawancara adalah satu-satunya kegiatan di dunia yang bikin aku lupa memikirkan diri sendiri.

“Ibu, listriknya nyambung dari mana?”

“Dari rumah Pak Tris, Mbak.”

“Bayarnya gimana?”

“Patungan. Nggak tentu.”

“Sering mati?”

“Wah, sering. Kalau hujan pasti.”

Aku mencatat. Perekam menyala di antara kami di atas meja.

Di luar, di halaman, aku dengar suara orang menaiki sesuatu, dan suara Pak Karso berkata “hati-hati, Mas Insinyur”, dan suara logam ketemu logam.

“Itu yang manjat siapa, Mbak?” tanya ibu itu.

“Teman saya.”

“Yang tinggi itu?”

“Iya.”

Ibu itu melihat ke jendela agak lama.

“Sejak kemarin sore itu naik-turun tiang terus,” katanya. “Nggak dibayar to, Mbak?”

“Nggak, Bu. Ini KKN.”

“Lho.” Dia menggeleng. “Kok mau.”

Aku membuka mulut untuk menjawab, lalu menyadari aku tidak punya jawaban yang bisa aku ucapkan dalam satu kalimat.

Jadi aku bilang, “Emang gitu orangnya.”

Dan aku pindah ke pertanyaan berikutnya, dan perekamnya terus menyala, dan aku tidak memikirkannya lagi sampai berbulan-bulan kemudian.