← Setengah Detik

Chapter Ten

Sepuluh Sentimeter

POV: Alvaro


Yang menyelesaikan kotak musik itu bukan keahlian. Yang menyelesaikannya adalah waktu.

Aku membongkarnya di malam kelima dan langsung tahu masalahnya bukan pada per. Pernya baik-baik saja. Yang patah adalah satu gigi pada roda gigi pengatur, gigi kecil sebesar ujung jarum, dan roda gigi itu tidak dijual di mana pun di kota ini karena barangnya dibuat tahun sembilan puluhan di negara yang bahkan tidak dicetak di bagian bawah kotaknya.

Jadi aku membuatnya.

Bukan seluruh rodanya — cuma satu giginya. Dari kuningan bekas, dikikir tangan, dicoba, tidak muat, dikikir lagi, dicoba, terlalu longgar, dibuang, mulai dari awal.

Percobaan pertama gagal. Kedua gagal. Kelima gagal.

Aku mengerjakannya setelah bengkel tutup, di bawah lampu meja, kadang sepuluh menit kadang dua jam, selama sepuluh minggu.

Bapak lewat berkali-kali. Bapak tidak pernah bertanya sekali pun, dan itu satu-satunya bentuk perhatian yang beliau punya.

Percobaan kedua belas masuk.

Aku memasang seluruh mekanismenya kembali, memutar kuncinya tujuh kali, dan membuka tutupnya.

Balerina itu bergerak. Bunyinya pelan, agak sumbang di dua nada, dan berhenti sebelum lagunya benar-benar selesai — karena pernya memang sudah tua dan aku tidak bisa memperbaiki tua.

Tapi bunyi.

Aku menutupnya. Membukanya lagi. Bunyi lagi.

Aku duduk di bengkel yang sudah gelap, jam setengah dua pagi, dan membuka-tutup kotak itu entah berapa kali, seperti orang bodoh.

Lalu aku membungkusnya dengan kaus lama yang sama, memasukkannya ke tas sekolah, dan menaruh tas itu di dekat pintu supaya besok tidak lupa.

Dan aku memutuskan sesuatu.


“Jadi gini.” Bagas menaruh HP-nya di meja kantin dengan gaya seorang dokter memasang hasil rontgen. “Ada tiga metode.”

“Nggak usah.”

“Fa, kamu udah minta tolong. Nggak bisa ditarik lagi.”

“Aku nggak minta tolong. Aku cuma cerita.”

“Kamu cerita ke aku. Itu sama aja minta tolong. Itu lebih parah malah, itu namanya kamu putus asa.”

Aku minum es teh.

Aku memang cerita. Itu kesalahan yang aku sesali dalam waktu empat detik sesudah aku melakukannya, dan tidak bisa aku tarik kembali, karena Bagas menyimpan informasi dengan cara yang sama seperti bank menyimpan uang.

“Metode satu. Surat.”

“Nggak.”

“Metode dua. Lewat orang.”

“Nggak.”

“Metode tiga—“

“Nggak.”

“Kamu belum denger metode tiga.”

“Nggak.”

Bagas mengambil HP-nya kembali dengan gaya tersinggung. “Ya kamu maunya gimana?”

“Ngomong.”

“Ngomong doang?”

“Iya.”

“Kamu?” Dia menunjuk aku dengan sedotan. “Kamu yang sehari ngomong dua belas kata? Ngomong doang?”

“Iya.”

“Fa.” Dia menyandarkan punggung. “Aku sayang kamu. Makanya aku harus jujur. Kamu bakal bilang ‘suka’, terus diem, terus dia nanya ‘apa?’, terus kamu bilang ‘nggak jadi’, terus kamu benerin kipas.”

Aku tidak menjawab, karena itu kemungkinan yang sudah aku pertimbangkan sendiri.

“Latihan,” katanya. “Minimal latihan.”

“Latihan sama siapa.”

“Sama cermin.”

Aku menatapnya.

“Serius,” katanya. “Kenapa kamu lihat aku kayak gitu. Semua orang latihan sama cermin.”


Hujan turun jam empat sore.

Aku sedang mengecek daftar inventaris di ruang perlengkapan waktu Zara masuk dengan rambut basah di bagian depan dan tas dipeluk di dada.

“Payung,” katanya.

“Nggak bawa?”

“Kamu bawa?”

“Bawa.”

“Nah.”

Dia duduk di tumpukan kursi lipat dengan gaya orang yang urusannya sudah selesai.

Aku menutup buku inventaris.

“Kamu nggak nanya dulu?”

“Buat apa? Kamu bakal ngasih.”

Dan yang paling parah dari kalimat itu adalah dia benar, dan dia tahu dia benar, dan aku tidak punya cara untuk membantahnya.


Payungnya kecil.

Payung lipat yang aku beli di pinggir jalan seharga dua puluh ribu, yang cukup untuk satu orang dewasa kalau orangnya menunduk sedikit.

Kami berdua ada di bawahnya, jalan dari gerbang sekolah ke pertigaan tempat angkot lewat, jarak sekitar tiga ratus meter, di hujan yang tidak deras tapi juga tidak berhenti.

Aku memegang gagangnya. Aku memiringkannya ke arahnya sekitar dua puluh derajat sejak langkah kedua, dan aku melakukannya pelan-pelan supaya tidak kelihatan.

Bahu kananku basah dalam waktu satu menit.

“Al.”

“Hm.”

“Payungnya miring.”

“Enggak.”

“Miring.”

“Anginnya.”

“Angin dari kiri, Al. Miringnya harusnya ke kiri.”

Aku tidak menjawab. Aku juga tidak membetulkannya.

Dia menghela napas, lalu — tanpa bilang apa-apa — dia menggeser dirinya sepuluh sentimeter ke kanan, ke arahku, sehingga dia masuk lebih dalam ke bawah payung dan bahuku tidak lagi di luar.

Sepuluh sentimeter.

Aku tahu angkanya karena aku selalu tahu angkanya, dan karena sepuluh sentimeter itu jarak yang tepat antara lengan kami: cukup dekat untuk merasakan bahwa ada orang di situ, tidak cukup dekat untuk bersentuhan.

Kami jalan tiga ratus meter seperti itu.

Dia bicara sepanjang jalan. Soal ulangan Sosiologi. Soal Ipeh yang katanya sudah dua minggu ini aneh. Soal warung soto yang tutup. Soal apa saja.

Aku menjawab dengan satu-dua kata seperti biasa, dan dia tidak keberatan seperti biasa, dan hujannya tidak berhenti, dan tiga ratus meter itu ternyata sangat pendek.

Di pertigaan, dia berdiri di bawah atap warung dan menutup ranselnya.

“Besok kamu ada di ruang perlengkapan?”

Ini dia.

“Ada,” kataku.

“Jam berapa?”

“Sampai sore.”

“Aku dateng.”

“Ya.”

Aku hampir mengucapkannya di situ. Di pertigaan, di depan warung yang tutup, dengan payung dua puluh ribu yang masih terbuka dan angkot yang belum datang.

Aku tidak mengucapkannya, karena tempatnya salah, dan karena besok lebih baik, dan karena kotak musiknya ada di rumah bukan di tasku.

Angkotnya datang. Dia naik. Dia melambai dari jendela dengan gaya berlebihan yang selalu dia pakai.

Aku pulang dengan bahu kanan basah seluruhnya dan bahu kiri kering seluruhnya, dan aku tidak keberatan sama sekali.


Malamnya aku berdiri di depan cermin kamar mandi.

Aku merasa sangat bodoh. Aku ingin mencatat bahwa aku sadar penuh betapa bodohnya ini.

“Aku suka kamu.”

Terlalu cepat.

“Aku suka kamu.”

Terlalu pelan.

“Aku... suka kamu.”

Kenapa ada jeda di situ.

Aku mencobanya sekitar dua puluh kali dan tidak satu pun terdengar seperti manusia, dan akhirnya aku memutuskan bahwa aku akan mengucapkannya bagaimanapun keluarnya, karena kalau aku menunggu sampai bagus, aku akan menunggu selamanya.

Aku mengecek tas sekolah sebelum tidur.

Kotak musik itu ada di dalam, dibungkus kaus lama, di antara buku dan tempat pensil. Aku memindahkannya ke bagian atas supaya tidak tertekan.

Lalu aku tidur, dan aku tidak bisa tidur sampai jam dua, dan aku bangun jam lima dan tidak lapar sama sekali.

Aku ingat berpikir, waktu berangkat pagi itu, bahwa yang paling parah pun cuma penolakan.

Aku sudah menyiapkan diri untuk penolakan.

Aku sudah menyiapkan diri untuk semua kemungkinan yang aku bisa bayangkan semalaman, dan tidak satu pun dari kemungkinan itu adalah yang benar-benar terjadi.