← Setengah Detik

Chapter Eighteen

Tiga Tahun

POV: Zara


Material datang hari Rabu.

Empat truk, dari jam enam pagi sampai jam dua siang, dan seluruh dusun ikut turun karena truknya tidak bisa naik sampai atas dan semuanya harus diangkut dengan pikap kecil bolak-balik dua belas kali.

Kabel dalam haspel besar. Isolator. Tiang beton — yang ini pakai truk khusus dan cuma bisa sampai balai. Kotak panel. Dus-dus kecil berisi barang yang aku tidak tahu namanya.

“Ini apa?” tanyaku, mengangkat satu dus.

“Konektor,” kata Oliv, tanpa menoleh dari daftar.

“Buat apa?”

“Nyambungin.”

“Nyambungin apa?”

“Kabel ke kabel.”

“Kok banyak banget?”

“Karena kabelnya banyak.”

Dia mencentang sesuatu dan pindah ke tumpukan berikutnya, dan aku berdiri memegang dus konektor sambil merasa seperti anak SD yang ikut kerja bakti.


Jam dua siang semua orang duduk di teras dengan es teh, kotor, dan tidak ada yang mau mandi duluan.

Ipeh duduk di sebelahku dan mengeluarkan kipas lipat yang entah dari mana.

Di halaman, Alvaro dan Oliv jongkok di depan haspel kabel, membuka penutupnya, memeriksa sesuatu di ujung kabel dengan senter kecil. Oliv menunjuk. Alvaro menggeleng. Oliv menunjuk lagi. Alvaro mengangguk.

Sepuluh menit begitu terus.

“Cocok, ya,” kata Ipeh.

Aku minum es teh.

“Zar.”

“Hm.”

“Aku bilang cocok.”

“Iya, aku denger.”

“Terus?”

“Terus apa.”

“Kamu nggak komentar?”

“Mereka satu jurusan, Peh.”

“Aku juga satu jurusan sama Deni, tapi aku nggak jongkok berdua sama Deni depan gulungan kabel selama sepuluh menit.”

“Itu haspel.”

“NAH.” Ipeh menunjuk aku dengan kipasnya. “Kamu tahu namanya.”

“Aku baru denger tadi.”

“Tapi kamu inget.”

Aku membuka mulut untuk membantah dan tidak menemukan bahan, dan itu terjadi terlalu sering belakangan ini.

Reza, dari kursi seberang, ikut nimbrung dengan mulut penuh gorengan.

“Emang cocok sih,” katanya. “Kayak, secara teknis.”

“Secara teknis gimana?”

“Ya gitu. Nyambung.”

“Reza, itu bukan analisis.”

“Ya aku bukan Komunikasi.”

Ipeh menyandarkan punggung dan berkata, dengan volume yang jelas-jelas lebih keras dari yang perlu:

“Ya tapi kalau soal cantik sih ya jelas Zara lah.”

Aku menendang kakinya.

“Aduh.”

“Peh.”

“Kenapa? Aku muji kamu.”

“Itu bukan mujian, itu bikin masalah.”

“Aku muji dengan cara membandingkan. Itu teknik retorika. Kamu harusnya tahu, kamu dapet A.”

Dan aku baru sadar, terlambat sekitar empat detik, bahwa Oliv sudah berdiri dari haspel dan sudah ada di anak tangga teras.

Ipeh membeku.

Aku ingin menghilang.

Oliv mengambil gelas es tehnya dari meja, minum setengah, dan berkata — santai, tanpa nada apa pun, seperti orang menyebutkan cuaca:

“Aku bisa nyolder. Dia nggak.”

Lalu dia masuk ke dalam.

Ada tiga detik hening.

“...Anjir,” kata Reza pelan. “Keren banget.”

“Aku pengen mati,” kata Ipeh.

“Kamu emang pantes mati,” kataku.


Aku minta maaf ke Oliv sore itu, di dapur, waktu dia sedang mengisi botol minum.

“Mbak Oliv.”

“Panggil Oliv aja.”

“Oliv. Soal tadi—“

“Nggak apa-apa.”

“Ipeh emang gitu, dia—“

“Zara.” Dia menutup botolnya. “Beneran nggak apa-apa. Aku udah dengar yang kayak gitu sejak SMP.”

Aku diam.

“Dan aku nggak tersinggung,” lanjutnya, “karena aku emang bisa nyolder.”

Dan dia tersenyum, dan senyumnya bikin aku ikut tertawa, dan aku pikir urusannya selesai di situ.


Malamnya listrik dusun mati lagi jam sembilan.

Semua orang sudah hafal prosedurnya sekarang. Alvaro berdiri, ambil senter, keluar. Oliv ikut. Sepuluh menit kemudian hidup lagi. Reza bertepuk tangan.

Kali ini Oliv tidak ikut.

Dia duduk di teras, di sebelahku, dengan kaki dilipat dan segelas kopi yang seharusnya tidak diminum jam sembilan malam.

Kami mengobrol soal hal-hal biasa. Kampus. Dosen pembimbing. Betapa laporan enam bulan itu akan jadi neraka.

Lalu, entah dari mana, dia bertanya:

“Kamu sama Alvaro satu SMA, ya?”

“Iya.”

“Deket?”

“Lumayan.” Aku memutar gelasku. “Kita sering bareng di OSIS.”

“Oh.” Dia mengangguk. “Berarti kamu tahu dia dari dulu emang gitu.”

“Gitu gimana?”

“Ya... gitu.” Dia menggerakkan tangannya. “Kalau dikasih kerjaan, dikerjain sampai selesai. Kalau dikasih perasaan, nggak dibuka.”

Aku tertawa. “Deskripsinya spesifik banget.”

“Tiga tahun, Zar.”

“Tiga tahun kalian sekelas terus?”

“Sekelas, satu lab, satu asisten praktikum, satu tim lomba dua kali.” Dia menghitungnya dengan jari, santai. “Jadi ya, aku hafal.”

“Dia sekarang gimana?”

“Sekarang gimana apanya?”

“Ya... di kampus. Dia gimana?”

Oliv menyandarkan kepalanya ke tiang teras.

“Dia orang yang paling diandalkan di angkatan,” katanya. “Kalau ada yang rusak, dia. Kalau ada yang nggak ada yang mau ngerjain, dia. Anak-anak manggilnya Fa doang, kayak nama alat.”

Aku tertawa.

“Terus,” lanjutnya, “dia nggak pernah pacaran.”

Aku masih tertawa, dan tawaku belum selesai waktu kalimat itu masuk.

“...Hah?”

“Nggak pernah.”

“Tiga tahun?”

“Tiga tahun.”

“Nggak mungkin.”

“Aku juga bilang gitu.” Oliv minum kopinya. “Padahal ditembak banyak, lho. Aku ngitung sendiri ada empat yang aku tahu. Yang aku nggak tahu mungkin lebih.”

“Terus?”

“Ditolak semua.”

“Semua?”

“Semua.”

“Alasannya?”

Oliv diam sebentar.

“Sama,” katanya. “Dia selalu bilang alasan yang sama.”

“Apa?”

“‘Maaf, aku nggak bisa.’”

Aku menunggu lanjutannya.

Tidak ada lanjutannya.

“Cuma itu?”

“Cuma itu. Nggak pernah bilang ‘nggak mau’. Selalu ‘nggak bisa’.” Oliv memutar gelas kopinya. “Yang aneh, kan? Nggak bisa itu kayak ada alasannya. Tapi nggak pernah ada yang tahu alasannya apa.”

Aku tertawa lagi. Aku ingat aku tertawa, karena aku masih ingat bunyi tawaku sendiri dan betapa palsunya.

“Mungkin emang orangnya aneh,” kataku.

“Mungkin.”

“Atau sibuk.”

“Mungkin.”

“Atau—“

“Zara.”

“Hm?”

Oliv menoleh ke aku.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku kenal dia, ada jeda di kalimatnya. Oliv selalu menyelesaikan kalimatnya. Kali ini dia berhenti, melihat aku, dan aku bisa merasakan ada sesuatu yang hampir dia ucapkan.

Lalu dia menutupnya.

“Nggak apa-apa,” katanya. “Kopinya kepahitan.”

Dan dia berdiri dan masuk.


Aku tidak tidur malam itu.

Bukan tidak bisa tidur. Tidak tidur. Ada bedanya.

Aku berbaring di kasur lipat di kamar perempuan, di antara Ipeh yang mendengkur dan tiga orang lain, dan aku menatap langit-langit kayu dan menghitung.

Tiga tahun.

Empat orang yang Oliv tahu. Mungkin lebih.

Maaf, aku nggak bisa.

Aku memikirkan kalimat itu berkali-kali, memutarnya, mencoba memasukkannya ke berbagai bentuk penjelasan yang masuk akal — sibuk, keluarga, bengkel, ekonomi, kepribadian, apa saja — dan tidak ada satu pun yang duduk dengan pas.

Lalu, sekitar jam dua, tanpa aku panggil, muncul satu potongan lain.

Zhafira.

Dan potongan lain.

Salaman.

Dan potongan lain.

Obeng yang ditaruh di meja. Stapler yang ditaruh di meja. Semua yang ditaruh di meja.

Aku menariknya kembali. Aku bilang ke diri sendiri bahwa itu berlebihan, bahwa aku sedang mencari pola di tempat yang tidak ada polanya, bahwa aku orang yang belajar mencari pola untuk pekerjaan dan sekarang otakku bekerja di jam yang salah.

Aku bilang ke diri sendiri, dengan sangat jelas, bahwa aku tidak punya bukti apa pun.

Dan itu benar.

Aku memang tidak punya bukti apa pun.

Aku cuma punya perasaan tidak enak di dada yang sudah dua minggu ini tidak pergi-pergi, dan yang malam itu, untuk pertama kalinya, mulai punya bentuk.