Chapter Thirty Eight
Empat Puluh Delapan Rumah
POV: Zara, lalu Alvaro
Zara
Aku mulai packing jam lima pagi, dan aku gagal di menit ketujuh.
Bukan karena berat. Karena aku membuka lemari kayu di sudut kamar dan mengeluarkan jaket biru pudar itu, dan waktu aku melipatnya, ada sesuatu yang jatuh dari saku dan berbunyi di lantai.
Tak.
Aku menunduk.
Obeng plus. Gagangnya kuning, pudar di dua sisi karena kelamaan dipegang.
Aku duduk di lantai kamar dengan obeng itu di tangan selama sekitar lima menit.
Aku menghitung mundur.
Jaket ini masuk ke tanganku bulan Oktober, kelas dua belas, di bengkel bau oli, waktu hujan masuk sampai setengah meter ke dalam. Aku memakainya di angkot. Aku menggantungnya di paku di balik pintu kamarku malam itu dan aku bilang ke diri sendiri bahwa besok aku kembalikan.
Aku pindah kos dua kali. Aku membawanya dua kali. Aku menggantungnya di paku baru dua kali.
Aku memasukkannya ke dasar koper enam bulan lalu dan bilang ke diri sendiri bahwa di desa pasti dingin.
Dan selama tiga tahun tujuh bulan, ada obeng plus gagang kuning di saku kanannya, dan aku tidak pernah sekali pun memasukkan tangan ke saku itu.
Aku menyimpan barang orang selama tiga tahun tujuh bulan tanpa tahu.
Aku ingin tertawa dan aku juga ingin membenturkan kepalaku ke dinding kayu, dan yang keluar akhirnya adalah bunyi di antara keduanya, dan Ipeh bangun dan bertanya aku kenapa dan aku bilang tidak apa-apa.
Dusun itu tidak tidur sejak jam empat.
Aku turun jam enam dan halaman posko sudah ada delapan ibu-ibu memasak untuk acara yang baru mulai jam sepuluh. Bu Sarni menolak dibantu, seperti biasa, dan menyuruh kami duduk, dan menaruh piring di depan kami dengan gerakan yang sudah kami hafal selama enam bulan.
“Bu.”
“Iya, Mbak.”
“Kami pulang hari ini.”
“Iya.”
“Ibu nggak sedih?”
Beliau menaruh panci.
“Sedih to,” katanya. “Tapi Ibu udah masak dari jam tiga. Kalau Ibu nangis sekarang, gosong.”
Dan beliau masuk ke dapur lagi.
Ipeh menangis di meja makan jam tujuh pagi, keras-keras, tanpa malu, dan tiga ibu-ibu ikut menangis dan satu ibu-ibu tertawa dan bilang “wah, kalau begini terus, nasinya asin”.
Peresmiannya jam sepuluh.
Ada terpal, ada kursi plastik dua ratus, ada pengeras suara yang aku pasang sendiri bersama Reza dan yang mendengung sedikit di frekuensi tertentu sampai Alvaro datang dan memindahkan satu kabel dan dengungnya hilang.
Ada camat. Ada petugas dinas. Ada pita.
Dan ada satu tuas besar di panel utama di depan balai, yang sebenarnya tidak besar sama sekali, tapi yang diberi pita merah oleh Pak Karso karena menurut beliau “harus ada yang digunting”.
Sambutan camat delapan menit. Sambutan dinas enam menit. Sambutan Pak Karso dua puluh dua menit, di mana beliau menyebut nama seluruh warga yang membantu, satu per satu, dan menangis di menit keempat belas.
Beliau menyebut nama kami sepuluh orang di akhir.
“Dan yang terakhir,” kata beliau, “Mas Insinyur.”
Semua orang tertawa dan bertepuk tangan.
Aku menoleh ke arahnya.
Dia berdiri di pinggir kerumunan, di dekat panel, dengan tas perkakas di kaki, karena tentu saja dia berdiri di pinggir dan tentu saja dia membawa tas perkakas ke acara peresmian.
Alvaro
Yang menekan tuasnya bukan camat.
Camat sudah memegangnya, sudah difoto, dan lalu beliau melepaskannya dan berkata, “Yang masang, yang nyalain.”
Dan dua ratus orang menoleh ke arahku.
Aku ingin mencatat bahwa aku tidak suka ini. Aku sudah delapan tahun memperbaiki barang tanpa ada yang menoleh dan itu memang cara yang aku pilih sendiri.
Tapi Pak Karso sudah menarik lenganku, dan Pak Nur sudah mendorong punggungku, dan tidak ada satu pun jalan keluar yang bisa aku hitung.
Aku berdiri di depan panel.
Aku mengecek posisi tuasnya sekali — kebiasaan, bukan keperluan.
Lalu aku menaikkannya.
Bunyi pertama adalah bunyi kontaktor. Klak.
Bunyi kedua adalah bunyi dua ratus orang yang tidak mengeluarkan suara apa pun selama sekitar dua detik.
Lalu ada teriakan dari lereng bawah.
Lalu dari lereng tengah.
Lalu dari atas.
Dan lalu seluruh dusun itu berteriak sekaligus, dan orang-orang keluar dari rumah, dan anak-anak berlari di jalan setapak sambil berteriak entah apa, dan ada ibu-ibu yang menutup mulut dengan kain, dan ada bapak-bapak yang berdiri di halaman rumahnya sendiri menatap ke arah lampu teras yang menyala di siang bolong.
Siang bolong.
Itu bagian yang aku tidak perhitungkan. Jam setengah sebelas siang. Tidak ada gunanya menyalakan lampu jam setengah sebelas siang.
Empat puluh delapan rumah menyalakan seluruh lampunya.
Aku naik ke titik empat puluh sore itu, sendirian, jam setengah lima.
Aku pernah berdiri di titik ini lima bulan lalu, waktu jalur baru selesai dipetakan, dan aku ingat memikirkan bahwa enam bulan lagi garis lampu akan kelihatan sampai atas.
Aku duduk di batu di sebelah tiang empat puluh dan menunggu sampai gelap.
Aku tidak menunggu sendirian, karena tentu saja tidak.
“Kamu ninggalin aku,” katanya, sambil naik, dengan napas habis dan sandal cokelat bertali yang solnya karet tebal.
“Aku nggak ninggalin.”
“Kamu jalan duluan.”
“Kamu lagi ngobrol sama Bu Sarni.”
“Ya kamu bilang dong.”
“Nanti kamu ikut.”
“YA MEMANG AKU IKUT.”
Dia duduk di batu di sebelahku, masih ngos-ngosan, dan menyandarkan bahunya ke bahuku.
Kami menunggu matahari turun.
Jam enam kurang sepuluh, lampu-lampu itu mulai menyala.
Bukan serentak kali ini. Satu per satu, dari bawah ke atas, mengikuti kapan orangnya pulang dan kapan orangnya ingat.
Dari titik empat puluh, empat puluh delapan rumah itu kelihatan seperti garis yang diisi pelan-pelan.
Dan di sepanjang jalur itu, empat puluh tiang beton berdiri berbaris menuruni lereng, dan di setiap tiang ada satu lampu jalan yang menyala, dan itu garis yang belum pernah ada di dusun ini sebelumnya.
“Al.”
“Hm.”
“Ini kamu yang bikin.”
“Bukan aku.”
“Al.”
“Ada empat puluh orang.”
“Al.”
Aku diam sebentar.
“Iya,” kataku.
Dia tertawa dan menabrak bahuku dengan bahunya.
Dia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.
Jaket biru pudar itu, yang dia pakai sejak pagi, yang jahitan bahunya berkerut di satu tempat karena ditarik terlalu kencang.
Dia menaruhnya di telapak tanganku.
Obeng plus. Gagang kuning. Pudar di dua sisi.
Aku mengenalinya sebelum tanganku menutup.
“Aku nemu tadi pagi,” katanya. “Di saku kanan.”
Aku tidak bicara.
“Tiga tahun tujuh bulan, Al.” Suaranya bergetar sedikit. “Aku nyimpen barang kamu tiga tahun tujuh bulan dan aku nggak pernah masukin tangan ke sakunya. Sekali pun.”
Aku memutar obeng itu di tanganku.
Gagangnya masih pudar di dua sisi yang sama. Ujungnya masih agak tumpul karena aku dulu memakainya untuk membuka penutup sakelar, yang bukan fungsinya.
“Al, aku—“
“Zara.”
Dia berhenti.
“Aku benerin, ya.”
Dia menoleh.
“Apanya?”
Aku melihat ke bawah, ke garis lampu yang sekarang sudah lengkap dari bawah sampai atas.
“Bukan obengnya,” kataku.
Dan aku tidak menjelaskan lebih dari itu, karena aku tidak sanggup, dan karena dari cara dia menutup wajahnya dengan kedua tangan aku tahu dia mengerti.
Kami turun jam tujuh, lewat jalan setapak, lewat enam rumah.
Rumah ketiga, nenek itu berdiri di pintunya dengan lampu teras menyala di atas kepalanya.
“Mas Insinyur!”
“Nggih, Mbah.”
“Terang!”
“Nggih.”
“TERANG, MAS!”
“Nggih, Mbah.”
Beliau tertawa dan menutup pintunya, dan sepuluh detik kemudian membukanya lagi cuma untuk berkata “terang” sekali lagi.
Di antara rumah keempat dan kelima, di jalan setapak yang cuma diterangi satu lampu tiang, Zara berhenti jalan.
“Kenapa?”
Dia tidak menjawab.
Dia menarik kerah jaketku ke bawah dan menciumku di tengah jalan desa, di bawah lampu tiang nomor tiga puluh delapan, yang isolatornya aku pasang sendiri di hari aku demam.
Aku bisa mendengar TV dari rumah keempat.
Aku tidak peduli sama sekali.
Pikapnya berangkat jam delapan malam.
Setengah dusun mengantar sampai ujung jalan batu. Bu Sarni memberi enam bungkus makanan untuk sepuluh orang, yang mana adalah matematika yang tidak bisa dibantah. Pak Karso menepuk bahuku empat kali dengan kekuatan yang membuat bahuku sakit sampai kota.
Ipeh menangis dari menit pertama sampai kilometer keenam.
Reza menangis mulai kilometer keempat, diam-diam, sambil pura-pura kelilipan.
Oliv tidak menangis. Oliv duduk di depan dengan supir dan mengurus berkas, dan di kilometer kesepuluh dia menoleh ke belakang sekali dan bilang, “Fa, bab empat grafiknya udah kamu benerin?”
“Udah.”
“Bagus.”
Dan dia menghadap depan lagi.
Aku duduk di bak belakang, di sudut, bersandar ke dinding besi.
Zara duduk di sebelahku dengan kepala di bahuku dan selimut yang dipinjamkan Bu Sarni menutupi kami berdua.
Sekitar kilometer kelima belas dia mengeluarkan sesuatu dari ranselnya.
Kotak kayu. Dicat putih. Catnya mengelupas di sudut.
Dia memutar kuncinya tujuh kali dan membuka tutupnya.
Balerinanya berputar.
Bunyinya pelan sekali, hampir tidak terdengar di antara suara mesin dan angin, dan agak sumbang di dua nada.
Dan berhenti sebelum lagunya selesai.
Dia memutarnya lagi.
Dan lagi.
Dan aku duduk di bak pikap yang menuruni jalan batu di ketinggian tujuh ratus meter, dengan kepala seseorang di bahuku yang tidak akan aku geser lima sentimeter atau satu sentimeter atau sama sekali, mendengarkan sebuah lagu yang tidak pernah sampai ke ujungnya, berkali-kali, sepanjang jalan pulang.
Dan aku tidak berpikir untuk memperbaikinya.
Ada hal-hal yang memang begitu.
Yang penting bunyi.
— TAMAT —
- 1 Kipas Angin Kelas Sebelah
- 2 Obeng Plus, Gagang Kuning
- 3 Ruangan yang Bau Debu
- 4 Dua Detik
- 5 Satu Kata
- 6 Jaket Bengkel
- 7 Lima Sentimeter
- 8 Kotak Musik
- 9 Rantai
- 10 Sepuluh Sentimeter
- 11 Setengah Detik
- 12 Yang Bisa Dibenerin
- 13 Kelompok Empat
- 14 Ditaruh di Meja
- 15 Bahasa yang Aku Nggak Ngerti
- 16 Tudung
- 17 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 18 Tiga Tahun
- 19 Punggung Tangan
- 20 Air
- 21 Dua Detik Lagi
- 22 Api Unggun
- 23 Yang Aku Tahu Sejak Awal
- 24 Hitungan Mundur
- 25 Alasan Nomor Enam
- 26 Obeng Baru
- 27 Nggak Bisa
- 28 Sandal
- 29 Salah Orang
- 30 Duduk
- 31 Zara
- 32 Pagi Pertama
- 33 Asisten
- 34 Payung yang Sama
- 35 Yang Harus Diselesaikan
- 36 Api Unggun Kedua
- 37 Datar
- 38 Empat Puluh Delapan Rumah reading