Chapter Twenty
Air
POV: Alvaro
Pompa balai mati hari Senin pagi.
Aku tidak tahu itu sampai jam tujuh, waktu aku turun ke halaman dan menemukan sembilan ember berjajar di depan posko dan tidak ada satu pun yang berisi.
“Mati dari semalam, Mas Insinyur,” kata Pak Karso. Beliau sudah di halaman, entah sejak jam berapa. “Nggak ada air sama sekali.”
“Satu dusun?”
“Satu dusun.”
Aku perlu menjelaskan sesuatu tentang Ngadirejo supaya kalimat itu punya bobot yang benar.
Dusun ini ada di ketinggian tujuh ratus meter. Sumber airnya satu, mata air di lereng bawah, tiga ratus meter di bawah permukaan dusun. Air itu tidak naik sendiri. Air itu naik karena ada satu pompa di balai yang memompanya ke tandon, dan dari tandon dibagi ke empat puluh delapan rumah lewat pipa yang dipasang warga sendiri tahun dua ribu sembilan.
Kalau pompa itu mati, tidak ada air.
Bukan airnya kecil. Tidak ada.
“Kemarin masih hidup?”
“Masih. Sore masih. Habis magrib bunyi aneh terus mati.”
“Bunyi aneh gimana?”
Pak Karso mencoba menirukannya dengan mulut, dan yang keluar adalah bunyi yang tidak bisa dijadikan data apa pun.
“Ya udah,” kataku. “Saya lihat.”
Balai desa jam setengah delapan sudah ada dua puluh orang.
Itu jumlah yang mengganggu. Aku terbiasa bekerja dengan nol penonton, kadang satu.
Pompanya jenis lama. Pompa jet, tiga per empat PK, merek yang sudah tidak diproduksi. Terpasang di rumah pompa kecil dari batako, tanpa ventilasi, dengan kabel yang disambung pakai isolasi hitam di tiga tempat.
Aku membuka penutupnya.
Bau gosong.
“Gimana, Mas?” tanya seseorang.
“Bentar.”
“Bisa?”
“Bentar.”
Aku melepas kipas pendinginnya. Aku memutar porosnya dengan tangan. Seret, tapi berputar. Aku mengecek kapasitornya — sudah menggembung di atas, jelas mati.
Tapi kapasitor mati tidak bikin bau gosong.
Aku membuka rumah gulungannya.
Dan di situ jelas: satu bagian gulungan sudah menghitam, dan isolasi kawatnya sudah meleleh, dan bau itu bau bakaran vernis.
Aku duduk di lantai rumah pompa sekitar sepuluh detik.
“Gimana, Mas Insinyur?”
Dua puluh orang di luar. Aku bisa dengar mereka meskipun tidak melihat.
“Gulungannya terbakar,” kataku.
“Artinya?”
“Artinya harus digulung ulang. Atau ganti.”
“Berapa lama kalau digulung ulang?”
“Tergantung tukang gulungnya. Di kota, tiga hari sampai seminggu.”
“Seminggu?”
“Kalau antre, iya.”
Ada suara di luar. Bukan ribut. Lebih buruk dari ribut — suara orang yang saling melihat dan tidak tahu harus bilang apa.
Aku keluar dari rumah pompa.
Dua puluh orang, sebagian besar ibu-ibu, sebagian bapak-bapak yang seharusnya sudah di kebun sejak jam enam. Dan di ujung, di anak tangga balai, ada beberapa anak KKN yang datang menyusul.
“Kalau seminggu, kami gimana, Mas?” tanya salah satu ibu. Bukan marah. Bertanya beneran. “Anak saya tiga.”
“Sungai ada?”
“Ada, di bawah. Turun empat puluh menit.”
“Naiknya?”
“Sejam. Bawa jeriken.”
Aku memikirkan sejam naik tanjakan sambil membawa jeriken dua puluh liter, dikali empat puluh delapan rumah, dikali tujuh hari.
“Nggak usah,” kataku.
“Nggak usah gimana?”
Aku melihat ke rumah pompa. Lalu ke dua puluh orang itu.
“Saya benerin, ya.”
Aku tidak tahu apakah aku bisa waktu aku mengucapkannya.
Itu perlu aku catat dengan jujur, karena aku punya aturan yang aku pegang bertahun-tahun: jangan bilang bisa kalau belum tahu.
Aku melanggarnya hari itu.
Aku melanggarnya karena ibu itu punya tiga anak dan karena naiknya sejam dan karena kalau aku bilang “coba dulu”, dua puluh orang itu akan pulang dan mulai menghitung jeriken.
Yang aku lakukan berikutnya adalah hal yang paling tidak elegan dalam karier singkatku sebagai orang yang memperbaiki barang.
Aku tidak menggulung ulang motornya. Aku tidak bisa. Menggulung ulang butuh alat, kawat email, dan dua hari kerja penuh, dan aku tidak punya satu pun dari itu.
Yang aku lakukan adalah mencari pompa lain.
“Pak Karso, di dusun ini ada pompa lain nggak? Yang rusak juga nggak apa-apa.”
“Ada. Punya almarhum Pak Tarno. Udah lama nggak dipakai.”
“Di mana?”
“Di gudang belakang rumahnya. Tapi itu udah karatan, Mas.”
“Boleh saya lihat?”
Pompa Pak Tarno memang karatan. Casing-nya keropos, kakinya patah satu, dan bagian hisapnya sudah tidak ada.
Tapi motornya utuh. Setengah PK, bukan tiga per empat, dan gulungannya masih bagus.
Dan pompa jet setengah PK, di ketinggian ini, dengan pipa hisap yang sudah terpasang, tidak akan kuat mengangkat air tiga ratus meter sekaligus.
Kecuali dia tidak perlu mengangkat sekaligus.
“Pak,” kataku. “Tandon di lereng tengah ada?”
“Ada. Yang bekas, udah nggak dipakai lima tahun.”
“Bocor?”
“Kayaknya. Retak di bawah.”
“Kalau ditambal, muat berapa?”
Pak Karso menghitung dengan tangannya. “Seribu liter? Dua ribu?”
Aku mengangguk.
“Kita pompa dua tahap,” kataku. “Bawah ke tengah, tengah ke atas. Pakai satu pompa, bergantian.”
“Bisa?”
“Lebih lama. Tapi air naik.”
Yang terjadi berikutnya berlangsung tiga hari dan aku tidak akan menceritakan semuanya, karena sebagian besar isinya adalah orang mengangkat barang.
Tambal tandon tengah: satu hari, semen cepat kering, dikerjakan enam bapak-bapak yang lebih ahli dari aku dalam hal ini.
Pindah motor pompa Pak Tarno ke rumah pompa balai: setengah hari, plus mengganti kapasitor dengan yang aku beli di kecamatan, plus membubut dudukan baru dari besi siku bekas di bengkel las Pak Nur di dusun bawah.
Pasang pipa sementara dari tandon tengah ke atas: satu setengah hari, dua ratus meter pipa, sambungan dua puluh tiga titik.
Kabel: aku ganti seluruhnya. Yang lama disambung isolasi di tiga tempat dan itu penyebab sebenarnya dari semua ini — sambungan longgar, panas, tegangan tidak stabil, gulungan terbakar.
Kalau tidak diganti, pompa berikutnya juga akan terbakar dalam enam bulan.
Aku menggantinya.
Hari Kamis jam empat sore, kami menyalakan pompa.
Ada sekitar enam puluh orang di halaman balai. Aku tidak mengundang siapa pun. Mereka datang sendiri, sejak jam tiga, dan berdiri di sana sambil mengobrol dan minum teh yang dibawa entah oleh siapa.
Pompanya menyala. Bunyinya kasar tapi stabil.
Empat puluh menit untuk mengisi tandon tengah. Empat puluh menit yang panjang sekali, di mana enam puluh orang berdiri di halaman balai tidak melakukan apa-apa.
Lalu tahap dua. Pompa dipindah jalurnya lewat kran yang aku pasang di dinding.
Dua puluh menit.
Lalu ada suara dari atas — dari rumah paling ujung, teriakan perempuan, dan setelah itu teriakan lain, dan setelah itu halaman balai itu berisik sekali.
Aku duduk di anak tangga rumah pompa dengan tangan penuh oli dan tidak berdiri.
Pak Karso menepuk bahuku empat kali dengan kekuatan yang membuat bahuku sakit sampai besok.
Ibu yang punya tiga anak itu datang, membawa gelas teh, dan menaruhnya di sebelahku, dan tidak bilang apa-apa karena beliau menangis dan kelihatannya kesal pada dirinya sendiri karena itu.
Aku bilang “sama-sama, Bu” ke gelas teh itu.
Aku mendongak sekali, sekitar jam lima, waktu suasananya sudah mulai turun.
Zara berdiri di anak tangga balai, di antara orang-orang, dengan perekam di tangan yang jelas-jelas menyala karena dia sedang bekerja hari itu.
Dia tidak sedang mewawancarai siapa-siapa.
Dia berdiri diam di tengah enam puluh orang yang ribut, dengan alat perekam menyala di tangannya, dan menatap ke arah rumah pompa.
Aku menunduk lagi ke tanganku.
Malamnya listrik dusun mati jam sembilan.
Aku berdiri dan mengambil senter.
“Fa,” kata Oliv. “Aku aja.”
“Nggak usah.”
“Kamu tiga hari nggak berhenti.”
“Aku hafal jalannya.”
“Aku juga.”
“Oliv.”
Dia menatapku beberapa detik. Lalu menyerahkan senternya.
“Ya udah,” katanya. “Tapi kamu tahu, kan, sekring itu bukan alasan.”
Aku mengambil senternya dan keluar tanpa menjawab.
- 1 Kipas Angin Kelas Sebelah
- 2 Obeng Plus, Gagang Kuning
- 3 Ruangan yang Bau Debu
- 4 Dua Detik
- 5 Satu Kata
- 6 Jaket Bengkel
- 7 Lima Sentimeter
- 8 Kotak Musik
- 9 Rantai
- 10 Sepuluh Sentimeter
- 11 Setengah Detik
- 12 Yang Bisa Dibenerin
- 13 Kelompok Empat
- 14 Ditaruh di Meja
- 15 Bahasa yang Aku Nggak Ngerti
- 16 Tudung
- 17 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 18 Tiga Tahun
- 19 Punggung Tangan
- 20 Air reading
- 21 Dua Detik Lagi
- 22 Api Unggun
- 23 Yang Aku Tahu Sejak Awal
- 24 Hitungan Mundur
- 25 Alasan Nomor Enam
- 26 Obeng Baru
- 27 Nggak Bisa
- 28 Sandal
- 29 Salah Orang
- 30 Duduk
- 31 Zara
- 32 Pagi Pertama
- 33 Asisten
- 34 Payung yang Sama
- 35 Yang Harus Diselesaikan
- 36 Api Unggun Kedua
- 37 Datar
- 38 Empat Puluh Delapan Rumah