← Setengah Detik

Chapter Twenty Three

Yang Aku Tahu Sejak Awal

POV: Olivia


Aku bukan orang yang suka tidak tahu.

Itu sifat yang bagus untuk teknik dan buruk untuk hampir semua hal lain. Kalau ada yang tidak beres, aku ukur. Kalau angkanya aneh, aku ukur ulang. Kalau angkanya tetap aneh, aku bongkar sampai ketemu.

Yang tidak pernah aku lakukan selama tiga tahun adalah membongkar Alvaro.

Bukan karena tidak bisa. Karena aku sudah tahu jawabannya sejak lama dan aku memilih untuk tidak menuliskannya.


Aku menembaknya bulan April, semester lima, di lab, jam sebelas malam.

Aku memilih waktu itu bukan karena romantis. Karena itu waktu paling jujur yang kami punya — dua orang yang sudah tiga belas jam di lab, sudah tidak punya tenaga untuk sopan-sopanan, sudah melewati fase saling menjaga wajah.

Aku bilangnya biasa saja. Aku tidak menangis, tidak berputar-putar. Aku bilang aku suka dia, sudah lama, dan aku mau dia tahu.

Dia menaruh solder.

Aku ingat itu. Dia menaruh soldernya dulu di dudukannya, benar, tidak asal, sebelum menjawab.

“Maaf,” katanya. “Aku nggak bisa.”

Dan aku, yang seumur hidup tidak bisa membiarkan angka aneh lewat begitu saja, bertanya.

“Kenapa nggak bisa?”

Dia diam lama sekali.

Lalu dia bilang, “Bukan karena kamu.”

“Itu bukan jawaban.”

“Iya.”

“Fa.”

“Aku tahu itu bukan jawaban,” katanya. “Aku minta maaf.”

Dan dia tidak memberi apa pun lagi. Tidak malam itu, tidak minggu berikutnya, tidak selama satu setengah tahun sesudahnya.

Kami tetap satu tim. Kami tetap kerja bareng, tetap saling lempar kalimat setengah jadi, tetap saling percaya soal hal-hal yang bisa membunuh orang kalau salah hitung. Dia tidak pernah canggung. Itu bagian yang paling aku hormati dan yang paling bikin kesal: dia menolak aku tanpa merusak apa pun.

Aku sempat berpikir mungkin dia memang begitu. Ada orang yang memang tidak tertarik pada siapa pun, dan itu sah.

Aku berhenti berpikir begitu di hari kedua KKN.


Yang pertama aku catat adalah salaman itu.

Aku berdiri tiga meter dari mereka di aula briefing. Aku melihat Alvaro berjalan ke arah perempuan yang baru masuk, dan aku sempat berpikir oh, dia kenal, dan detik berikutnya aku melihat dia mengulurkan tangan.

Alvaro tidak bersalaman dengan siapa pun.

Aku tiga tahun satu tim dengannya dan aku bisa menghitung dengan satu tangan berapa kali dia menyalami orang, dan semuanya dosen.

Yang kedua, nama.

“Zhafira.”

Malam itu aku bertanya, di jalan pulang dari sekring: kamu kenal anak Komunikasi itu? Dia menghitung dua langkah sebelum menjawab. Aku menghitung langkahnya. Dua.

“Satu SMA,” katanya. Lalu, “Sekelompok organisasi.”

Dua kalimat untuk pertanyaan satu kata. Itu satu kalimat kebanyakan.

Yang ketiga, dan yang membuatku berhenti berpura-pura tidak tahu: barang yang ditaruh di meja.

Dia melakukannya ke semua orang. Itu bagian yang pintar. Kalau dia cuma melakukannya ke satu orang, semua orang akan tahu dalam tiga hari.

Tapi aku pernah melihat dia melempar kunci pas ke aku dari jarak empat meter di lab, dan aku pernah melihat dia menarik tanganku menjauh dari kabel yang belum mati, dan aku pernah melihat dia mendorong bahu Reza sampai Reza jatuh ke kolam.

Orang itu bukan orang yang tidak menyentuh.

Orang itu adalah orang yang sedang tidak menyentuh satu orang, dan menyamarkannya dengan tidak menyentuh siapa pun.


Aku menyimpan semua itu selama dua bulan tanpa mengatakan apa-apa.

Kenapa? Karena aku belum punya bukti bahwa itu lama.

Bisa saja itu baru. Bisa saja Alvaro bertemu perempuan itu lagi sesudah tiga tahun dan sesuatu tumbuh dalam dua bulan, dan kalau begitu, penolakan aku bulan April itu tidak ada hubungannya, dan aku bisa menyimpan harga diriku utuh.

Aku ingin sekali itu yang benar.

Malam api unggun itu Reza menghancurkannya dalam empat puluh detik.


Aku tidak melihat ke Reza waktu dia bercerita.

Aku melihat ke Zara, karena aku sudah belajar bahwa yang paling banyak bicara di sebuah ruangan bukan orang yang sedang bicara.

Aku melihat dia berhenti mengunyah di kalimat kelima.

Aku melihat tangannya, yang memegang jagung, turun ke pangkuannya dan berhenti di situ.

Aku melihat dia menghitung. Aku tidak tahu dia menghitung apa waktu itu, tapi aku kenal wajah orang yang sedang menghitung karena aku punya wajah itu setiap hari kerja.

Dan waktu Reza sampai ke bagian gudang perlengkapan, sore, sebelum pulang, aku sudah tidak perlu melihat wajah siapa-siapa lagi.

Kelas dua belas.

Tiga tahun lalu, ditambah satu tahun SMA yang belum selesai.

Empat tahun.

Aku menembak seorang laki-laki yang sudah tiga tahun mengurus sesuatu yang tidak selesai, dan dia bilang “aku nggak bisa”, dan itu bukan penolakan sopan.

Itu keterangan teknis.

Dia memang tidak bisa.


Aku duduk di api unggun itu sampai selesai. Aku ikut tertawa waktu Ipeh cerita soal surat yang dibalas “ok”. Aku bilang selamat malam ke semua orang dan aku membantu mengangkat nampan ke dapur.

Aku sempat marah sekitar dua puluh menit.

Aku mau jujur soal itu, karena kalau aku bilang aku langsung legawa, itu bohong dan bohongnya jelek.

Aku marah, dan aku marah pada hal yang salah, dan aku tahu itu bahkan ketika aku sedang marah.

Aku berdiri di dapur mencuci gelas yang tidak perlu dicuci malam itu, dan aku memikirkan bahwa perempuan itu tidak melakukan apa pun. Dia tidak tahu. Dia tidak minta. Dia tidak pernah mengambil apa pun dariku. Dia bahkan tidak sadar dia sedang memegang sesuatu.

Dan itu yang bikin aku kesal.

Karena kalau dia jahat, aku punya tempat untuk menaruhnya.


Aku mencari dia jam sebelas.

Dia ada di teras samping, sendirian, duduk di anak tangga dengan botol air yang tidak dia minum sejak tadi.

“Boleh duduk?”

Dia mengangguk.

Aku duduk. Aku tidak bicara sekitar satu menit, karena aku sedang memilih kalimat pertama dan aku tidak mau salah.

“Kamu udah tahu, ya,” katanya duluan.

“Iya.”

“Dari kapan?”

“Yang tadi malam? Barusan. Yang lain, dari hari kedua.”

Dia menoleh ke aku.

“Hari kedua?”

“Kamu tahu nggak dia nggak pernah salaman sama siapa-siapa?”

Zara membuka mulut. Tidak ada yang keluar.

“Dan kamu tahu nggak,” lanjutku, “kalau dia nggak pernah manggil nama depan siapa pun kecuali kalau dia deket?”

“...Dia manggil aku Zhafira.”

“Iya.”

“Dulu Zara.”

“Iya,” kataku. “Itu bukan sopan. Itu jarak.”

Dia menunduk dan memegang keningnya dengan satu tangan.

“Oliv.”

“Hm.”

“Kamu suka dia, kan?”

Aku sempat mempertimbangkan berbohong.

“Iya,” kataku. “Aku nembak dia bulan April tahun lalu. Ditolak.”

“Ya Tuhan.”

“Nggak apa-apa.”

“Ini nggak nggak apa-apa.”

“Zara—“

“Aku nggak tahu, Oliv. Aku beneran nggak tahu. Aku—“ Dia berhenti. Suaranya berubah bentuk. “Aku minta maaf. Aku minta maaf sama kamu, sama dia, aku—“

“Berhenti.”

Dia berhenti.

Aku menunggu sampai napasnya normal, karena aku tidak mau kalimat berikutnya keluar di atas isakan orang.

“Kamu nggak salah apa-apa,” kataku. “Itu yang bikin aku kesel.”

Dia menoleh.

“Aku udah mikir dua jam ini cari cara buat marah sama kamu,” lanjutku. “Nggak ketemu. Kamu nggak tahu, kamu nggak minta, kamu bahkan nggak sadar. Jadi aku nggak punya tempat naruh ini.”

“Oliv...”

“Jadi aku taruh di sini. Sekali. Terus selesai.”

Kami duduk lama sekali.

Bunyi jangkrik. Bunyi genset yang sudah dimatikan sejak jam sepuluh. Bunyi angin di seng.

“Satu hal,” kataku akhirnya.

“Apa?”

“Aku ditolak pakai kalimat ‘aku nggak bisa’.” Aku berdiri dan merapikan celanaku. “Kalau nanti dia bilang itu ke kamu — dan dia bakal bilang itu ke kamu — jangan kamu terjemahin jadi ‘nggak mau’.”

“Bedanya apa?”

“Bedanya,” kataku, “yang satu artinya berhenti. Yang satu artinya ada yang rusak.”

Aku masuk.

Aku tidak menoleh, karena kalau aku menoleh aku akan melihat wajahnya, dan aku sudah cukup baik untuk satu malam.


Aku tidur jam satu.

Sebelum tidur aku membuka catatan proyek dan menghitung ulang panjang andongan tiang dua puluh sembilan sampai tiga puluh tiga, yang sudah benar, yang tidak perlu dihitung ulang sama sekali.

Aku menghitungnya sampai jam dua.

Ternyata semua orang punya bengkelnya sendiri.