← Setengah Detik

Chapter Thirty Three

Asisten

POV: Alvaro


Dia menyebut dirinya asisten sejak hari Selasa.

“Asisten apa?”

“Asisten teknis.”

“Kamu bakar meja Bu Sarni.”

“Itu bulan lalu.”

“Itu tiga minggu lalu.”

“Itu masa lalu,” katanya, dan mengambil tas perkakasku dari tanganku dengan gerakan yang jelas sudah dia latih, dan memanggulnya, dan langsung meringis karena beratnya delapan kilo.

“Sini.”

“NGGAK. Aku asisten.”

“Zara.”

“Aku bisa.”

Dia membawanya sejauh tiga puluh meter dengan langkah yang makin lama makin miring, lalu berhenti, lalu menaruhnya di tanah, lalu berkata dengan napas terputus:

“Aku... asisten pengawas.”


Pekerjaan minggu itu adalah penyambungan jalur cabang ke dusun seberang.

Enam titik sambungan, dua hari, tiga orang: aku, Pak Nur, dan satu asisten pengawas yang tugas resminya adalah memegang.

Aku perlu menjelaskan bahwa memegang itu pekerjaan beneran. Kalau ada yang memegang senter di sudut yang benar, kerjanya lebih cepat dua kali lipat.

Dia memegang senternya dengan sangat serius selama empat menit pertama.

“Al.”

“Hm.”

“Itu apa yang warna merah?”

“Fasa.”

“Yang biru?”

“Netral.”

“Yang kuning?”

“Nggak ada yang kuning.”

“Ada.”

Aku menoleh.

Ada.

Aku diam sekitar dua detik.

“Itu tali rafia,” kataku.

“Oh.”

Sentirnya sudah bergerak sepuluh senti ke kiri dari tempat yang aku butuhkan.


Yang aku pelajari selama dua hari itu:

Dia tidak bisa diam. Dalam satu jam, dia bertanya rata-rata sebelas kali. Aku menghitung. Aku melanggar aturan nomor dua secara terbuka sekarang, dan aturan nomor dua sudah tidak ada, jadi aku menghitung dengan bebas.

Sebelas pertanyaan per jam itu ternyata tidak mengganggu. Itu yang paling mengejutkan. Aku sudah delapan tahun bekerja sendirian dan aku menganggap suara orang di dekatku itu beban. Ternyata bukan. Ternyata cuma tergantung suaranya siapa.

Dia bisa menyalin. Ini yang tidak aku duga. Aku menyuruhnya mencatat angka pengukuran satu kali, sekadar untuk memberinya kerjaan, dan sesudah tiga titik dia sudah menulis satuannya sendiri tanpa aku sebut, dan sesudah lima titik dia sudah membuat kolom.

“Kamu bikin tabel?”

“Ya biar rapi.”

“Kolomnya kamu tambahin sendiri?”

“Kolom ‘catatan’. Buat hal aneh.”

“Hal aneh apa?”

Dia menunjukkan bukunya.

Titik 4 — ada sarang tawon di tiang, Pak Nur nggak mau naik. Titik 5 — anjing. Titik 6 — anjing yang sama.

Aku membaca itu terlalu lama untuk sesuatu yang cuma tiga baris.


Hari kedua, siang, sandalnya putus lagi.

Yang kanan. Di tempat yang sama. Kabel tis-nya masih bertahan tapi karet talinya sobek lebih lebar, dan kali ini seluruh talinya lepas.

Dia berdiri di jalan setapak dengan satu kaki terangkat.

“Al.”

“Hm.”

“Putus lagi.”

Aku berjongkok.

“Aku benerin, ya.”

“Al, ini udah nggak bisa dibenerin.”

“Bisa.”

“Ini karetnya udah—“

“Bisa.”

Aku mengambil kabel tis dari saku — dua kali lipat sekarang, karena aku sudah tahu — dan mengikatnya dari sisi yang berbeda, memutar ikatannya ke bawah supaya tidak menggesek kulit, dan memotong sisanya.

“Coba.”

Dia menginjaknya. Dia melangkah dua kali.

“Kuat.”

“Sementara.”

“Kamu bilang gitu juga tiga minggu lalu.”

“Iya.”

“Terus mana yang bener?”

Aku berdiri dan mengambil tas perkakas dan tidak menjawab.


Kami selesai jam empat dan jalan turun.

Jalan setapak dari dusun seberang itu turunan, berbatu, dan cukup lebar untuk dua orang kalau dua orang itu tidak keberatan bersentuhan.

Dia mengambil tanganku di belokan kedua.

Bukan menggandeng biasa. Dia memasukkan jari-jarinya ke sela jariku dan menutupnya, lalu mengunci, dengan gerakan yang jelas dia pikirkan.

“Al.”

“Hm.”

“Ini enak, ya.”

“Apanya?”

“Yang gini.” Dia mengangkat tangan kami berdua sedikit. “Yang jarinya masuk.”

“Iya.”

“Kamu suka?”

“Iya.”

“Kamu nggak keberatan?”

Aku memikirkan berapa kali dalam enam tahun terakhir aku menghitung jarak antara lenganku dan lengannya.

“Enggak,” kataku.

“Al.”

“Hm.”

“Kamu tuh kalau ngomong pendek, orang jadi mikir kamu nggak seneng.”

“Aku seneng.”

“Nah, gitu dong.”

“Aku seneng,” ulangku, dan dia menoleh cepat sekali dengan wajah yang tidak siap, dan aku menyimpan wajah itu.


Kami sampai di posko jam setengah lima.

Aku menyuruhnya duduk di teras dan masuk ke kamar dan mengambil sesuatu dari bawah dipan.

Kantong plastik. Dari pasar kecamatan.

Aku keluar dan menyerahkannya.

Dia membukanya.

Sandal. Yang bertali, warna cokelat tua, ukuran tiga puluh delapan. Solnya karet tebal dengan alur yang benar untuk jalan basah, dan talinya dijahit ke sol, bukan dimasukkan ke lubang.

Dia menatap sandal itu.

Lalu dia menatap aku.

“Ini kapan?”

“Apanya?”

“Kamu beli ini kapan.”

Aku mengambil tas perkakas dan mulai membereskan isinya, yang tidak perlu dibereskan.

“Al.”

“Hari Senin.”

“Senin yang mana?”

“Yang setelah syukuran.”

Dia menghitung.

Aku bisa melihat dia menghitung, karena mulutnya bergerak sedikit.

“Al, itu tiga minggu lalu.”

“Iya.”

“Itu sebelum—“

“Iya.”

“Kenapa nggak dikasih?”

Aku menutup tas perkakas.

“Nggak ada alasannya,” kataku.

“Alasan buat apa?”

“Buat ngasih sandal ke orang.”

Dia diam.

Dan aku duduk di kursi plastik di teras dan sengaja tidak melihat ke arahnya, karena aku sudah cukup mengerti bagaimana wajahnya kalau dia sedang menahan sesuatu, dan karena aku tidak sanggup melihatnya dua kali dalam seminggu.

“Al.”

“Hm.”

“Ukurannya bener.”

“Iya.”

“Kamu tahu ukuran sandalku.”

“Iya.”

“Dari mana?”

“Dari yang putus.”

“Kamu lihat angkanya?”

“Iya.”

“Kapan?”

“Waktu aku benerin.”

Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan tidak bicara selama satu menit penuh, dan aku duduk di sebelahnya dan tidak melakukan apa-apa, karena kadang tidak melakukan apa-apa itu yang benar.


Malamnya dia memakai sandal itu ke ruang makan.

Ipeh melihat sandalnya sebelum melihat wajahnya.

“Zar. Sandal baru?”

“Iya.”

“Beli di mana?”

“Nggak beli.”

Ipeh menoleh ke aku dengan kecepatan yang mengkhawatirkan lehernya.

“Mas Alvaro.”

“Ya.”

“Kamu beliin sandal.”

“Iya.”

“Kamu.”

“Iya.”

Reza menaruh gelasnya lagi, yang mana sudah jadi gerakan rutin di posko ini.

“Fa,” katanya. “Lo tau nggak, gue kenal lo dari kelas sepuluh.”

“Iya.”

“Sebelas tahun.”

“Iya.”

“Dan lo nggak pernah beliin gue apa pun.”

“Kamu nggak pernah putus sandal.”

Ruang makan itu ribut selama lima menit dan aku menghabiskan nasiku dalam empat.


Aku mencuci piring malam itu, seperti biasa, dan dia berdiri di sebelahku mengelap, seperti sudah tiga hari terakhir.

“Al.”

“Hm.”

“Yang kabel tis itu.”

“Kenapa?”

“Aku simpen.”

Aku berhenti menggosok.

“Yang mana?”

“Yang kamu potong tadi siang. Sisanya. Yang jatuh di tanah.”

“Itu sampah.”

“Iya,” katanya, sambil mengelap piring. “Aku simpen.”

Aku meneruskan mencuci dan tidak menjawab, karena aku sedang memikirkan sebuah label harga obeng yang ada di saku celana kerjaku sejak tiga minggu lalu dan yang belum aku buang.