Chapter Twelve
Yang Bisa Dibenerin
POV: Alvaro
Bengkel tutup jam sembilan.
Aku tidak tidur jam sembilan.
Aku menyalakan lampu meja dan mulai dari motor bebek Pak Warno, yang sebenarnya sudah selesai kemarin dan tinggal diambil. Aku bongkar karburatornya lagi. Aku bersihkan lagi. Aku pasang lagi.
Lalu kompresor, yang bunyinya sudah agak berat sejak dua bulan lalu dan masih bisa dipakai enam bulan lagi. Aku ganti sealnya.
Lalu lampu neon di dinding utara, yang berkedip sekali setiap beberapa menit. Aku ganti ballast-nya.
Lalu kunci pintu geser depan, yang seret. Aku lepas, aku bersihkan, aku kasih pelumas, aku pasang lagi.
Lalu kipas angin berdiri yang sudah rusak dari zaman aku SD dan tidak pernah dibuang. Aku bongkar. Aku ganti kapasitornya dengan kapasitor bekas. Dia hidup. Aku matikan lagi karena tidak ada yang butuh kipas jam satu pagi.
Lalu rak kunci, yang salah satu pakunya sudah longgar. Aku cabut pakunya, pindah dua senti ke kiri, paku lagi.
Lalu aku berdiri di tengah bengkel dan melihat sekeliling, dan tidak ada lagi yang rusak.
Itu masalahnya.
Aku mulai membongkar hal-hal yang tidak perlu dibongkar.
Aku sadar aku sedang melakukannya. Aku membuka penutup rantai sepeda motor yang tidak apa-apa. Aku melepas busi yang masih bagus, membersihkannya, memasangnya lagi. Aku mengukur tekanan ban yang sudah aku ukur kemarin.
Tanganku bergerak terus dan itu satu-satunya yang aku minta darinya.
Karena selama tanganku bergerak, aku tidak perlu memutar ulang. Dan kalau berhenti, aku memutar ulang. Dan setiap kali aku memutar ulang, aku berhenti di tempat yang sama persis: setengah detik.
Bukan di bagian dia menyebut nama Reza. Bukan juga di bagian aku memberi saran.
Setengah detik itu. Jarak antara aku membuka mulut dan dia membuka mulut. Ruang sekecil itu.
Kalau aku tidak menunggu dia menutup pintu. Kalau aku tidak menaruh obeng dulu. Kalau aku bilang namanya dengan suara yang lebih keras. Kalau aku tidak berhenti waktu dia mulai bicara.
Aku memikirkan itu berkali-kali, dan tiap kali jawabannya sama: aku akan berhenti. Aku akan selalu berhenti. Karena aku selalu berhenti kalau orang lain bicara.
Jadi sebenarnya tidak ada setengah detik.
Sebenarnya tidak pernah ada.
Jam dua kurang, lampu rumah belakang menyala.
Bapak keluar pakai sarung dan kaus dalam, rambutnya berdiri sebelah, matanya masih setengah.
Beliau berdiri di ambang pintu penghubung dan melihat.
Melihat kompresor yang sudah terbuka. Melihat kipas tua yang sudah dipasang lagi. Melihat lampu neon yang tidak berkedip. Melihat busi yang tergeletak di kain lap. Melihat aku.
Aku menunggu beliau bertanya.
Beliau tidak bertanya.
Beliau mengambil kursi plastik, menyeretnya sampai ke sebelahku, dan duduk.
Lalu beliau menyalakan rokok dan tidak mengatakan apa-apa.
Kami di situ lama sekali. Aku tidak tahu berapa lama, karena aku tidak melihat jam dan tidak mau melihat jam. Aku terus bekerja. Beliau terus duduk. Sesekali beliau menyodorkan kunci yang aku butuhkan sebelum aku minta, karena beliau juga hafal urutannya.
Jam berapa pun itu, tanganku akhirnya berhenti sendiri.
Bukan karena aku memutuskan berhenti. Berhenti saja.
Aku duduk di lantai semen, bersandar ke kaki meja, dengan kunci pas masih di tangan.
“Pak,” kataku.
“Hm.”
Aku melihat ke seluruh bengkel itu. Ke semua benda yang sudah aku betulkan malam itu, yang tidak satu pun perlu dibetulkan.
“Ada yang nggak bisa dibenerin, Pak.”
Bapak mengisap rokoknya sekali.
Beliau tidak bertanya apa. Beliau tidak bilang yang sabar. Beliau tidak bilang nanti juga ada yang lain.
Beliau cuma bilang, “Iya.”
Dan kami duduk di situ sampai langit di atas atap seng berubah abu-abu.
Aku tidak membuang kotak musik itu.
Aku sempat memegangnya di depan tong sampah belakang bengkel, dan aku sempat berpikir bahwa itu akan jadi hal yang bersih dan selesai dan masuk akal.
Lalu aku ingat bahwa itu bukan barangku.
Aku memasukkannya ke kotak perkakas paling bawah, yang jarang aku buka, di bawah kain lap dan kunci-kunci yang sudah tidak dipakai.
Kotak itu masih di sana waktu aku lulus SMA. Masih di sana waktu aku mulai kuliah. Masih di sana waktu aku pindah kos, dan aku membawanya, dan aku tidak pernah menjelaskan ke diriku sendiri kenapa.
Reza jadian dengan siapa-siapa? Tidak. Dia menolak. Halus, dan bingung, dan minta maaf berkali-kali dengan cara yang khas dia.
Aku tahu itu dari Reza, tiga hari kemudian, sambil dia makan bakso dan bertanya-tanya apakah dia sudah melakukannya dengan benar.
Aku bilang sudah.
Aku tidak pernah menanyakan apa pun ke Zara sesudah hari itu. Dia juga tidak pernah cerita. Kami tetap bicara — di koridor, di ruang perlengkapan, di kelas dua belas yang tiba-tiba sibuk oleh ujian dan pendaftaran dan hal-hal besar lain.
Cuma ada satu yang berubah, dan aku tidak yakin dia menyadarinya.
Aku berhenti menunggu.
Kalau dia datang, aku ada di sana. Kalau tidak, aku juga tidak menoleh ke pintu.
Kami lulus. Dia diterima di kampus di kota. Aku diterima di kampus yang lain, di kota yang sama, jurusan yang jam praktikumnya membuat orang lupa punya kehidupan.
Di hari terakhir, di lapangan, dia memelukku seperti dia memeluk semua orang, dan bilang jangan ilang, ya.
Aku bilang ya.
Lalu tiga tahun lewat, dan aku tidak melihat wajahnya sekali pun.
- 1 Kipas Angin Kelas Sebelah
- 2 Obeng Plus, Gagang Kuning
- 3 Ruangan yang Bau Debu
- 4 Dua Detik
- 5 Satu Kata
- 6 Jaket Bengkel
- 7 Lima Sentimeter
- 8 Kotak Musik
- 9 Rantai
- 10 Sepuluh Sentimeter
- 11 Setengah Detik
- 12 Yang Bisa Dibenerin reading
- 13 Kelompok Empat
- 14 Ditaruh di Meja
- 15 Bahasa yang Aku Nggak Ngerti
- 16 Tudung
- 17 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 18 Tiga Tahun
- 19 Punggung Tangan
- 20 Air
- 21 Dua Detik Lagi
- 22 Api Unggun
- 23 Yang Aku Tahu Sejak Awal
- 24 Hitungan Mundur
- 25 Alasan Nomor Enam
- 26 Obeng Baru
- 27 Nggak Bisa
- 28 Sandal
- 29 Salah Orang
- 30 Duduk
- 31 Zara
- 32 Pagi Pertama
- 33 Asisten
- 34 Payung yang Sama
- 35 Yang Harus Diselesaikan
- 36 Api Unggun Kedua
- 37 Datar
- 38 Empat Puluh Delapan Rumah