Chapter Six
Jaket Bengkel
POV: Zara
Bengkel itu tidak sesuai bayanganku, dan bayanganku memang tidak berdasar apa-apa.
Aku membayangkan tempat yang gelap dan sempit. Ternyata terbuka, menghadap jalan, dengan atap seng tinggi dan lantai semen yang bersih dengan cara yang aneh — masih ada bekas oli di mana-mana, tapi tidak ada satu pun barang yang berserakan. Semua kunci digantung berurutan dari kecil ke besar. Ban-ban ditumpuk rapi di pojok. Ada kalender tahun lalu yang belum diganti.
Ada bapak-bapak duduk di kursi plastik, merokok, dan dia berdiri begitu melihat aku.
“Wah,” katanya. “Ada tamu.”
“Sore, Om.”
“Om?” Dia tertawa. “Baru kali ini ada yang manggil Om. Biasanya Pak.”
“Bapak?”
“Ya Om aja.”
Dari dalam, tanpa menoleh, Alvaro berkata, “Pak.”
“Om,” kata bapaknya.
Aku duduk di kursi plastik yang kedua, yang jelas-jelas kursi pelanggan, dan tidak ada yang mengusirku.
Alvaro sedang mengerjakan motor bebek merah yang tangkinya sudah dilepas. Dia pakai kaus, bukan seragam, dan ada jaket biru digantung di paku di dinding di belakangnya. Jaket kerja, bahan tebal, warnanya sudah pudar jadi biru abu-abu, dengan bordir nama di dada kiri.
Aku memiringkan kepala untuk membaca bordirnya. ALFA.
“Alfa?”
“Hm.”
“Kok bukan Alvaro?”
“Kepanjangan.”
“Itu cuma tiga huruf bedanya.”
“Bordirnya dihitung per huruf.”
Aku menatap punggungnya.
“Kamu ngirit bordir?”
“Bapak yang ngirit.”
“BENAR,” teriak Om dari luar.
Aku di sana satu setengah jam dan aku tidak bosan sama sekali, yang mana mengganggu, karena aku bosan di tempat-tempat yang seharusnya menyenangkan dan tidak bosan di bengkel bau oli di pinggir jalan.
Yang aku lakukan cuma duduk dan lihat.
Ada tiga pelanggan datang. Yang pertama ibu-ibu dengan motor matic yang bunyinya aneh; Alvaro dengar sepuluh detik lalu bilang “rantai CVT” dan ibu itu manggut-manggut padahal jelas tidak mengerti. Yang kedua bapak ojol yang minta ganti oli dan mengeluh soal aplikasi selama seluruh proses. Yang ketiga anak SMP yang bannya bocor dan tidak bawa uang cukup.
Anak SMP itu berdiri lama sekali sambil menghitung uang di tangannya.
“Kurang berapa?” tanya Alvaro.
“Lima ribu, Bang.”
“Ya udah.”
“Besok saya bayar.”
“Ya udah.”
“Beneran besok, Bang.”
“Ya.”
Anak itu pergi. Aku menunggu sampai motornya jauh.
“Dia bakal balik nggak?”
“Nggak.”
“Kok kamu kasih?”
“Lima ribu.”
“Ya tapi—“
“Ban bocor jam segini, dia dorong tiga kilo.” Dia menyeka tangan ke lap. “Mending rugi lima ribu.”
Aku diam.
Aku sudah kenal Alvaro sekitar sebulan dan aku baru sadar ada satu pola yang belum aku beri nama: dia tidak pernah menjelaskan kebaikannya sebagai kebaikan. Selalu ada alasan teknis. Kipas itu dibetulkan karena bearing-nya kering. Ban itu digratiskan karena tiga kilo. Seolah kalau dia mengakui alasannya yang sebenarnya, sesuatu akan rusak.
Hujan datang jam lima, mendadak, seperti hujan sore memang selalu.
Bukan gerimis. Langsung deras, dan anginnya masuk ke bengkel dari arah jalan, dan dalam waktu satu menit lantai depan basah setengah meter ke dalam.
Aku menarik kursiku mundur. Kaus seragamku sudah kena di bagian bahu.
“Duh.”
“Mundur lagi.”
“Udah mentok.”
Alvaro melihat ke aku sekali. Cuma sekali, cepat.
Lalu dia mengambil jaket biru itu dari paku dan menyerahkannya.
“Nggak usah, aku—“
“Ambil.”
“Aku nggak kedinginan.”
“Bibirmu udah beda warna.”
Aku berhenti membantah karena aku tidak punya bahan.
Jaketnya berat. Jauh lebih berat dari jaket biasa, karena bahannya memang untuk kerja, dan baunya bukan bau parfum atau deterjen tapi bau bengkel — oli, sedikit besi, sedikit matahari.
Aku memasukkan tangan dan lengannya kepanjangan sekitar sepuluh senti.
Lalu aku menarik resletingnya, dan resletingnya macet di tengah, dan aku menariknya lagi, dan macetnya makin parah, dan aku menarik lebih keras dengan strategi yang jelas-jelas salah.
“Jangan ditarik.”
“Ini kenapa sih.”
“Gigi resletingnya bengkok satu.”
“Kamu tahu dari kapan?”
“Dari dulu.”
“KOK NGGAK DIBILANG.”
“Nggak sempat.”
Dia menaruh kunci pas di meja dan berdiri di depanku.
“Aku benerin, ya.”
Dan dia menunduk sedikit — dia lebih tinggi dariku, dan aku tidak pendek, jadi itu bukan hal yang sering aku alami — dan memegang bagian bawah resletingnya dengan dua tangan.
Aku tidak bisa mundur karena di belakangku hujan.
Jadi aku berdiri di situ, di dalam jaket kebesaran, sementara orang itu mengurus resleting di jarak tiga puluh senti dari wajahku, dengan konsentrasi penuh, seperti dia sedang mengurus kabel gosong di langit-langit kelas.
Dia tidak melihat wajahku sama sekali.
Bukan menghindar. Dia memang benar-benar sedang melihat resleting.
Dan aku — dan ini bagian yang membuatku ingin menenggelamkan diri di ember bekas oli — aku justru merasa aneh karena dia tidak melihat.
“Jadi,” katanya, dan resletingnya naik mulus sampai atas.
“Cepet banget.”
“Giginya cuma bengkok.”
“Kamu bisa benerin apa aja, ya.”
Dia mengambil kunci pasnya lagi.
“Nggak apa aja.”
Hujan berhenti jam setengah tujuh. Om memaksa aku dibungkuskan gorengan yang aku tidak minta. Alvaro mengantar sampai ujung gang karena angkotnya lewat di situ.
Aku baru sadar di dalam angkot, waktu aku duduk dan mengeluarkan HP.
Aku masih memakai jaketnya.
Aku bisa turun. Angkotnya baru jalan tiga puluh meter. Aku bisa teriak kiri dan lari balik dan mengembalikannya dan itu memakan waktu total mungkin empat menit.
Aku tidak melakukannya.
Aku duduk di angkot yang bau asap, di dalam jaket kerja yang lengannya kepanjangan sepuluh senti, dan aku memasukkan kedua tanganku ke saku, dan aku memutuskan bahwa aku akan mengembalikannya besok.
Besoknya aku tidak mengembalikannya.
“Kenapa?” tanya Ipeh, tanpa menoleh dari cerminnya.
“Lupa bawa.”
“Kamu bawa tas.”
“Ya lupa masukin.”
“Zara.”
“Apa.”
Ipeh menutup cerminnya dengan bunyi klik yang menurutku sengaja.
“Kamu tahu nggak,” katanya, “kamu itu kalau bohong, suaranya naik setengah nada.”
“Enggak.”
“Nah, itu. Naik.”
Aku melempar bantal kursi ke arahnya.
Malamnya aku menggantung jaket itu di belakang pintu kamar, di paku yang sebelumnya kosong.
Aku bilang ke diri sendiri bahwa itu supaya besok tidak lupa.
Jaket itu masih di paku yang sama tiga bulan kemudian.
- 1 Kipas Angin Kelas Sebelah
- 2 Obeng Plus, Gagang Kuning
- 3 Ruangan yang Bau Debu
- 4 Dua Detik
- 5 Satu Kata
- 6 Jaket Bengkel reading
- 7 Lima Sentimeter
- 8 Kotak Musik
- 9 Rantai
- 10 Sepuluh Sentimeter
- 11 Setengah Detik
- 12 Yang Bisa Dibenerin
- 13 Kelompok Empat
- 14 Ditaruh di Meja
- 15 Bahasa yang Aku Nggak Ngerti
- 16 Tudung
- 17 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 18 Tiga Tahun
- 19 Punggung Tangan
- 20 Air
- 21 Dua Detik Lagi
- 22 Api Unggun
- 23 Yang Aku Tahu Sejak Awal
- 24 Hitungan Mundur
- 25 Alasan Nomor Enam
- 26 Obeng Baru
- 27 Nggak Bisa
- 28 Sandal
- 29 Salah Orang
- 30 Duduk
- 31 Zara
- 32 Pagi Pertama
- 33 Asisten
- 34 Payung yang Sama
- 35 Yang Harus Diselesaikan
- 36 Api Unggun Kedua
- 37 Datar
- 38 Empat Puluh Delapan Rumah