← Setengah Detik

Chapter Thirty Five

Yang Harus Diselesaikan

POV: Alvaro


Reza menghindar selama dua minggu.

Bukan menghindar yang jelas. Reza tidak bisa melakukan apa pun yang jelas. Yang dia lakukan adalah tiba-tiba jadi orang paling rajin di posko — bangun paling pagi, mengangkat paling banyak, dan mengambil semua pekerjaan yang letaknya jauh dari tempat aku berada.

Aku membiarkannya dua minggu.

Di hari keempat belas, aku menyuruhnya ikut ke tiang tiga puluh satu, berdua, tanpa Pak Nur.

“Kenapa aku?”

“Karena yang lain sibuk.”

“Yang lain nggak ada yang sibuk.”

“Berangkat.”


Kami jalan lima ratus meter tanpa bicara, yang mana bagi Reza adalah bentuk penyiksaan.

Dia bertahan sampai meter ketiga ratus.

“Fa.”

“Hm.”

“Fa, gue—“

“Bentar.”

“Fa.”

“Tiangnya dulu.”

Aku naik, mengencangkan dua baut yang tidak perlu dikencangkan, dan turun.

Lalu aku duduk di batu di pinggir jalan dan membuka botol air dan menunggu.

Reza berdiri di depanku selama sekitar sepuluh detik, dan lalu seluruh isi kepalanya keluar sekaligus, tanpa urutan, dengan volume yang naik-turun tidak beraturan.


“Gue nggak tahu, Fa. Gue beneran nggak tahu. Bagas nggak pernah nyebut nama, dia cuma bilang ‘ada orang’, gue kira anak kelas lain, gue kira—“

“Reza.”

“—gue cerita itu udah kayak tiga puluh kali seumur hidup gue. Ke temen kos. Ke anak-anak kampus. Ke tante gue. Gue anggep itu cerita lucu, Fa. Gue anggep itu—“

“Reza.”

“—dan gue nyeritain itu di depan orangnya. DI DEPAN ORANGNYA. Sambil makan jagung. Gue—“

Dia berhenti.

Dia berhenti karena napasnya habis, bukan karena selesai.

“Dan yang paling parah,” katanya, lebih pelan, “gue baru sadar hari itu juga. Bahwa hari itu, di gudang, orang yang lo tungguin itu masuk ke situ buat ngomongin gue.”

Aku minum air.

“Fa, gue—“ Suaranya pecah. “Gue nolak dia. Lo tau nggak? Gue nolak dia, gue bilang maaf, gue bahkan sempet mikir gue baik banget karena nolaknya sopan. Terus gue makan bakso sama lo tiga hari kemudian dan lo bilang ‘udah bener’.”

“Iya.”

“LO BILANG UDAH BENER.”

“Iya.”

“Fa, lo waras nggak sih?”

Aku memikirkan pertanyaan itu dengan serius selama beberapa detik.

“Waktu itu enggak,” kataku.


Reza duduk di tanah. Bukan di batu. Di tanah, di jalan setapak, dengan kaki disila dan tangan menutupi wajah.

“Gue mau minta maaf,” katanya dari balik tangannya. “Tapi gue nggak tau minta maaf yang mana dulu.”

“Nggak usah.”

“Ada tiga, Fa. Satu, gue nggak tahu. Dua, gue nyeritain. Tiga—“ Dia menurunkan tangannya. “Tiga, delapan tahun gue temenan sama lo dan gue nggak pernah sekali pun nanya dengan bener.”

“Kamu nanya.”

“Gue nanya sekali. Kelas sebelas. Di ruang OSIS. Lo bilang ‘ngapain suka orang’ dan gue ketawa.”

Aku ingat itu.

Aku ingat kursi lipat, dan buku inventaris, dan tiga puluh empat kursi yang seharusnya empat puluh.

“Kamu ketawa karena aku pengin kamu ketawa,” kataku.

“Hah?”

“Aku milih jawaban yang bikin kamu berhenti nanya.”

Reza menatapku.

“...Anjir.”

“Iya.”

“Jadi itu salah lo.”

“Iya.”

“Bukan salah gue.”

“Bukan.”

“Fa.” Dia menunjuk aku. “Lo nggak boleh gitu.”

“Gimana?”

“Lo nggak boleh ngambil semua salahnya sendiri. Itu bikin gue kelihatan makin jelek.”


Dia minta maaf akhirnya, dengan cara yang paling berantakan yang pernah aku lihat.

Dia berdiri, membersihkan celananya, menarik napas, dan mengucapkan sesuatu yang jelas-jelas dia hafalkan sejak dua minggu lalu, lengkap dengan tiga poin dan satu penutup.

Di tengah poin kedua dia lupa, dan mengulang dari awal.

Di poin ketiga suaranya hilang.

Aku menunggu sampai selesai.

“Udah?”

“Udah.”

“Oke.”

Dia menatapku.

“Oke?”

“Oke.”

“CUMA ‘OKE’?”

“Iya.”

“Fa, gue nyiapin itu dua minggu.”

“Kelihatan.”

“LO—“

Dan dia menendang tas perkakasku, pelan, dan aku mengambil tas perkakasku, dan kami jalan pulang, dan di meter kedua ratus dia sudah mulai bercerita soal sapi Pak Nardi lagi.

Itu Reza. Semua yang ada di kepalanya keluar dalam tiga detik, dan begitu keluar, dia bisa hidup lagi.

Aku dulu berpikir itu sifat yang aman.

Aku sekarang berpikir itu sifat yang jujur, dan bahwa aku menghabiskan enam tahun melakukan kebalikannya, dan bahwa dari kami berdua yang lebih rusak jelas bukan dia.


Oliv mengundurkan diri dari kepanitiaan peresmian hari Kamis.

Bukan dari KKN. Dari kepanitiaan. Dia menyerahkan koordinasi acara ke Ipeh dan mengambil bagian laporan teknis, yang artinya dia akan menghabiskan dua minggu terakhir di depan laptop di ruang tengah dan bukan di lapangan.

Aku tahu apa artinya itu.

Aku menemuinya di teras samping malam Jumat.

“Oliv.”

“Hm.”

“Kenapa mundur?”

“Karena laporannya berantakan dan cuma aku yang bisa.”

“Oliv.”

Dia menutup laptopnya.

“Fa, kamu mau nanya sesuatu yang jawabannya udah kamu tahu,” katanya. “Itu buang waktu kita berdua.”

Aku duduk di kursi plastik di seberangnya.

“Aku mau minta maaf,” kataku.

“Jangan.”

“Oliv—“

“Fa.” Dia melepas kacamatanya, yang selalu dia lakukan kalau dia serius. “Aku mau kasih satu informasi, terus kita selesai. Boleh?”

“Boleh.”

“Kamu nggak ngambil apa-apa dari aku.”

Aku diam.

“Bulan April tahun lalu, kamu nolak aku dalam empat detik dan kamu nggak bohong sedetik pun,” katanya. “Kamu nggak bilang ‘kita temenan aja ya’. Kamu nggak bilang ‘nanti kalau aku siap’. Kamu nggak ngasih aku satu pun harapan yang bisa aku pegang selama setahun.”

“Aku nggak kasih penjelasan.”

“Iya, dan itu nyebelin,” katanya. “Tapi kamu nggak bohong.”

Dia memasang kacamatanya lagi.

“Aku setahun setengah kerja satu tim sama kamu tanpa harus mikir. Tanpa harus nebak-nebak. Tanpa harus mikirin arti dari setiap kali kamu ngambilin aku kunci.” Dia membuka laptopnya lagi. “Kamu tahu berapa langka itu?”

Aku tidak menjawab.

“Jadi jangan minta maaf,” katanya. “Bilang makasih aja. Itu lebih tepat.”

Aku duduk di kursi plastik itu selama beberapa detik.

“Makasih, Liv.”

“Sama-sama.” Dia mulai mengetik. “Dan tolong, laporan bab empat kamu itu grafiknya kebalik. Sumbu X-nya waktu, bukan tegangan.”

“Iya.”

“Sekarang.”

“Iya.”


Aku mencuci gelas di dapur jam sepuluh malam.

Rumah sudah sepi. Delapan orang di ruang tengah menonton sesuatu yang antenanya baru dapat sinyal.

Aku sedang membilas gelas ketiga waktu ada langkah di belakangku.

Lalu ada dua tangan di pinggangku.

Lalu ada dahi di antara tulang belikatku.

Aku berhenti bergerak.

Dia tidak bilang apa-apa. Dia cuma berdiri di situ, memeluk dari belakang, dengan wajah di punggungku, tidak bergerak.

“Kamu ngapain,” kataku.

“Nempel.”

“Aku lagi cuci.”

“Ya udah, cuci.”

Aku mencuci gelas keempat dengan dua tangan sementara ada satu orang menempel di punggungku, yang ternyata secara teknis lebih sulit daripada yang aku duga.

“Al.”

“Hm.”

“Tadi kamu ngobrol sama Oliv.”

“Iya.”

“Aku lihat dari jendela.”

“Iya.”

“Aku nggak dengerin.”

“Aku tahu.”

Dia menempelkan dahinya lebih rapat.

“Al.”

“Hm.”

“Dua puluh tiga hari.”

Aku menaruh gelas terakhir di rak.

“Iya,” kataku.

Dan aku tidak berbalik, dan aku tidak melepas tangannya, dan kami berdiri di dapur rumah Bu Sarni seperti itu selama beberapa menit yang tidak aku hitung.