Chapter Thirty Four
Payung yang Sama
POV: Zara
Bulan kelima, hujannya berubah sifat.
Kalau bulan pertama hujannya sore dan sopan, bulan kelima hujannya datang jam dua siang dan berhenti jam tujuh malam dan tidak menerima keberatan dari siapa pun.
Program kerja lapangan dihentikan tiga hari.
Sepuluh orang di satu rumah kayu selama tiga hari tanpa sinyal adalah eksperimen sosial yang seharusnya diteliti.
Hari pertama: semua orang mengerjakan laporan. Hari kedua: semua orang main kartu. Hari ketiga: Reza mulai mewawancarai orang dengan sendok sebagai mikrofon.
“Selamat siang, pemirsa. Kita kedatangan Mbak Ipeh. Mbak Ipeh, gimana rasanya jomblo di dusun?”
“Aku lempar kamu.”
“Jawaban yang jujur. Selanjutnya, Mas Alvaro—“
“Enggak.”
“MAS ALVARO—“
“Enggak.”
Hari keempat hujannya berhenti jam empat sore, dan aku harus ke balai untuk mengambil berkas dari Pak Karso, dan itu dua ratus meter.
Aku sudah di teras memakai sandal — sandal yang bertali cokelat, yang solnya karet tebal, yang kalau aku pikirkan terlalu lama masih membuatku aneh — waktu dia keluar.
“Ke mana?”
“Balai.”
“Bentar.”
Dia masuk lagi.
Dia keluar membawa payung.
Aku melihat payung itu dan berhenti bernapas selama sekitar dua detik.
Payung lipat. Kecil. Gagangnya hitam dan sudah pudar jadi abu-abu. Salah satu jeruji di ujungnya bengkok dan sudah pernah dibetulkan, kelihatan dari besi kecil yang dililit di sambungannya.
Ada bagian di kainnya yang warnanya beda karena kelamaan kena matahari.
“Al.”
“Hm.”
“Ini payung yang mana?”
“Payungku.”
“Al.”
“Kenapa?”
Aku mengambilnya dari tangannya dan membukanya.
Payung itu kecil sekali. Aku ingat itu. Aku ingat berdiri di bawahnya dan berpikir bahwa payung ini terlalu kecil untuk dua orang dan tidak mengatakannya karena aku tidak mau dia menutupnya.
Ada tulisan yang sudah hampir hilang di pinggir kainnya, nama toko, huruf merah.
“Ini yang di SMA,” kataku.
“Iya.”
“Al, ini tujuh tahun.”
“Enam.”
“Ini payung dua puluh ribu.”
“Iya.”
“Kamu masih pakai payung dua puluh ribu dari SMA?”
Dia mengambil payung itu kembali dari tanganku, menutupnya, dan berjalan turun dari teras.
“Masih bisa,” katanya.
Kami jalan ke balai.
Gerimisnya sudah tinggal sisa, yang paling menyebalkan jenisnya — tidak cukup untuk basah, cukup untuk membuat orang tetap membuka payung.
Dia memegang gagangnya.
Dan dia memiringkannya ke arahku.
Aku menyadarinya di langkah kesepuluh.
Sekitar dua puluh derajat, ke kanan, ke arahku. Dan bahu kirinya di luar.
Aku berhenti jalan.
“Kenapa?”
“Payungnya miring.”
“Enggak.”
“Miring, Al.”
“Anginnya.”
“Angin dari kiri,” kataku. “Miringnya harusnya ke kiri.”
Dia tidak menjawab.
Dan aku berdiri di jalan setapak berlumpur di dusun tujuh ratus meter dengan gerimis di rambut, dan aku merasakan seluruh isi dadaku bergerak sekaligus.
Karena aku mengucapkan kalimat yang sama persis enam tahun lalu.
Kata per kata. Aku ingat sekarang. Aku ingat aku bilang angin dari kiri, Al, miringnya harusnya ke kiri, dan aku ingat dia tidak menjawab, dan aku ingat aku menghela napas dan bergeser sepuluh sentimeter ke kanan.
Dan aku ingat aku berpikir, waktu itu, bahwa aku bergeser supaya bahunya tidak basah.
Dan aku tidak pernah sekali pun berpikir kenapa payungnya miring.
“Al.”
“Hm.”
“Waktu itu kamu miringin juga.”
Dia melihat lurus ke depan.
“Iya.”
“Sengaja?”
“Iya.”
“Dari langkah keberapa?”
Dia diam agak lama.
“Kedua,” katanya.
Aku tidak bergeser sepuluh sentimeter.
Aku masuk sampai bahuku menempel di bahunya, sampai lengan kami bertemu dari siku ke pundak, sampai tidak ada jarak sama sekali yang bisa diukur oleh siapa pun.
Dan aku mengambil tangannya yang bebas.
“Sekarang payungnya lurus,” kataku.
“Iya.”
“Kita berdua nggak basah.”
“Iya.”
“Butuh enam tahun.”
“Iya.”
Dan dia tidak bilang apa-apa lagi, tapi aku merasakan bahunya turun sedikit — cara orang menghela napas kalau mereka tidak mau kelihatan menghela napas — dan kami jalan dua ratus meter seperti itu.
Nenek di rumah ketiga sudah tidak bertepuk tangan lagi. Sekarang beliau cuma mengangguk seperti orang yang urusannya sudah selesai.
Berkasnya sudah siap dan Pak Karso menahan kami setengah jam untuk minum teh, yang mana adalah standar minimal di dusun ini.
“Nanti bulan depan sudah pulang ya, Mas, Mbak?”
“Tanggal dua puluh delapan, Pak.”
“Wah.”
Beliau menghitung dengan jari.
“Tinggal tiga puluh sembilan hari.”
Aku memegang gelas tehku.
Aku belum menghitungnya. Aku sengaja belum menghitungnya. Dan Pak Karso menghitungnya untukku dalam empat detik dengan wajah orang yang membicarakan cuaca.
Aku melirik ke samping.
Dia sedang melihat ke luar jendela.
Wajahnya tidak berubah sama sekali.
Aku sudah cukup lama mengenal wajah itu sekarang untuk tahu apa artinya kalau wajah itu tidak berubah sama sekali.
Pulangnya sudah tidak hujan.
Dia tetap memegang payung yang tertutup, dan aku tetap memegang tangannya, dan tidak ada yang menyebut angka tiga puluh sembilan.
Kami sampai di posko jam setengah enam. Teras kosong. Semua orang di dalam karena ada acara TV yang tertangkap antena untuk pertama kalinya dalam seminggu.
Aku duduk di anak tangga teras.
Dia duduk di sebelahku.
Matahari sudah turun di balik punggungan barat, dan langit di atas dusun itu warna jingga yang tidak pernah ada di kota, dan dari tempat kami duduk kelihatan empat puluh delapan rumah dan empat puluh tiang beton yang berdiri berbaris menuruni lereng.
Kami tidak bicara sekitar sepuluh menit.
Lalu aku memiringkan kepalaku dan menaruhnya di bahunya.
Aku ingin mencatat ini karena ini yang paling penting dari seluruh sore itu.
Dia tidak bergeser.
Dia juga tidak kaku. Dia tidak mengatur napasnya. Dia tidak menahan apa pun.
Bahunya cuma turun sedikit, menyesuaikan tingginya, supaya leherku tidak salah posisi.
Dan tangannya naik dan memindahkan rambutku yang menutupi mata, ke belakang telinga, dengan gerakan yang jelas bukan gerakan pertama kalinya di kepalanya.
“Al.”
“Hm.”
“Aku ngantuk.”
“Tidur.”
“Nanti aku ketiduran.”
“Ya udah.”
“Nanti kamu pegel.”
“Nggak apa-apa.”
“Nanti kalau aku ketiduran kamu geser nggak?”
Aku merasakan dia berhenti bergerak.
Aku tidak mengangkat kepalaku. Aku sengaja tidak mengangkat kepalaku, karena aku ingin dia menjawabnya tanpa harus melihat wajahku.
“Enggak,” katanya.
“Janji?”
“Enggak,” katanya lagi, lebih pelan. “Nggak akan.”
Dan aku tidur di bahunya di anak tangga teras rumah Bu Sarni sampai jam tujuh malam, dan waktu aku bangun, langit sudah gelap dan lampu-lampu dusun sudah menyala dan orang itu masih duduk di posisi yang sama persis.
- 1 Kipas Angin Kelas Sebelah
- 2 Obeng Plus, Gagang Kuning
- 3 Ruangan yang Bau Debu
- 4 Dua Detik
- 5 Satu Kata
- 6 Jaket Bengkel
- 7 Lima Sentimeter
- 8 Kotak Musik
- 9 Rantai
- 10 Sepuluh Sentimeter
- 11 Setengah Detik
- 12 Yang Bisa Dibenerin
- 13 Kelompok Empat
- 14 Ditaruh di Meja
- 15 Bahasa yang Aku Nggak Ngerti
- 16 Tudung
- 17 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 18 Tiga Tahun
- 19 Punggung Tangan
- 20 Air
- 21 Dua Detik Lagi
- 22 Api Unggun
- 23 Yang Aku Tahu Sejak Awal
- 24 Hitungan Mundur
- 25 Alasan Nomor Enam
- 26 Obeng Baru
- 27 Nggak Bisa
- 28 Sandal
- 29 Salah Orang
- 30 Duduk
- 31 Zara
- 32 Pagi Pertama
- 33 Asisten
- 34 Payung yang Sama reading
- 35 Yang Harus Diselesaikan
- 36 Api Unggun Kedua
- 37 Datar
- 38 Empat Puluh Delapan Rumah