← Setengah Detik

Chapter Twenty Four

Hitungan Mundur

POV: Zara


Aku tidak tidur sampai subuh, dan malam itu aku melakukan hal yang paling aku kuasai di dunia.

Aku menyusun data.

Ini pekerjaanku. Ini yang aku pelajari empat tahun. Kumpulkan potongan, urutkan berdasarkan waktu, cari pola, uji polanya dengan potongan yang belum dipakai, dan kalau semuanya muat, kamu punya cerita.

Aku selalu menganggap itu keahlian.

Malam itu aku belajar bahwa keahlian bisa jadi hukuman kalau datanya tentang dirimu sendiri.


Satu.

Kipas kelas sebelas IPS satu. Yang mati yang tengah. Yang tepat di atas kursiku.

Dan dia tahu kursiku digeser dua puluh senti ke kiri, hari pertama, sebelum dia tahu namaku.

Dua.

Obeng plus gagang kuning. Dia bilang tidak bisa hari itu karena obengnya salah, dan besoknya dia bawa obeng dari bengkel bapaknya.

Aku tidak pernah menanyakan kenapa seseorang membawa obeng dari rumah untuk memperbaiki kipas kelas orang lain.

Tiga.

Setiap kali aku datang ke ruang perlengkapan, pintunya sudah tidak dikunci.

Aku pernah menganggap itu kebetulan, dua tahun berturut-turut.

Empat.

Jaket bengkel. Resleting yang giginya bengkok satu dan yang dia bilang “dari dulu” — artinya dia tahu jaket itu rusak dan tetap memberikannya, karena hujan.

Dan jaket itu tidak pernah dia minta kembali. Sekali pun. Selama tiga tahun.

Lima.

Sepeda. Rantai putus, dan yang dia ganti bukan cuma rantai. Gir belakang. Rem belakang. Sadel yang miring dua derajat ke kanan, yang berarti dia pernah berdiri di belakang sepedaku dan melihatnya, entah kapan, entah berapa kali.

Dua kilo, mendorong, jam dua siang.

Buku jarinya robek di tiga tempat.

Enam.

Kotak musik.

Aku menyerahkannya bulan November. Dia tidak pernah mengembalikannya. Aku bertanya empat kali dan dia bilang “belum” empat kali, dan sesudah itu aku berhenti bertanya.

Aku berhenti bertanya, dan aku merasa lega karena berhenti bertanya, dan aku tidak pernah sekali pun berpikir tentang orang yang masih memegangnya.

Tujuh.

“Udah bawa barang di tas seharian, katanya. Terus dia pulang. Barangnya masih di tas.”


Aku berhenti di nomor tujuh selama satu jam penuh.

Karena aku tidak tahu apa isi tas itu. Aku tidak bisa membuktikannya. Aku tidak akan pernah bisa membuktikannya kecuali aku bertanya, dan aku tidak akan bertanya.

Tapi aku tahu apa yang aku harapkan ada di dalamnya, dan mengetahui apa yang aku harapkan itu sendiri sudah cukup untuk membuatku duduk di lantai kamar jam dua pagi dengan tangan menutup mulut supaya tidak membangunkan empat orang lain.


Delapan.

Sore itu.

Aku ingat semuanya. Itu bagian yang paling tidak adil — aku ingat semuanya, karena sore itu adalah sore penting bagiku, dan aku sudah memutarnya berkali-kali selama bertahun-tahun dari sudut yang salah.

Aku ingat aku menutup pintu di belakangku, yang biasanya tidak aku lakukan.

Aku ingat aku memeluk tasku dan tanganku berkeringat.

Aku ingat dia menaruh obeng.

Aku ingat itu.

Aku ingat, dengan sangat jelas, dia menaruh obeng yang sedang dia pegang di atas meja, dan sekarang aku tahu bahwa orang seperti dia tidak pernah menaruh alat kecuali dia sudah selesai, dan dia belum selesai apa pun sore itu.

Aku ingat dia berdiri lebih tegak.

Aku ingat dia menarik napas.

Aku ingat huruf pertama namaku.

“Za—“

Dan aku ingat aku memotongnya.

“Fa, aku duluan ya. Aku takut nggak jadi ngomong.”


Setengah detik.

Aku menghitungnya malam itu, di lantai kamar, seperti orang gila. Aku benar-benar menghitungnya — aku mengucapkan “Za” dengan suara pelan sekali dan aku mengucapkan “Fa, aku duluan ya” sesudahnya dan aku mencoba mengukur jaraknya.

Setengah detik. Mungkin kurang.

Kalau aku diam.

Kalau aku menunggu satu tarikan napas lagi.

Kalau aku tidak takut, sore itu, dan tidak buru-buru mengeluarkan kalimat yang sudah aku susun seharian karena aku takut nyaliku habis.

Aku memikirkan seluruh hidupku yang berbeda, di lantai kamar kayu, di ketinggian tujuh ratus meter, jam tiga pagi.

Dan lalu aku memikirkan bagian yang lebih buruk.


Karena penolakan itu bukan bagian terburuknya.

Bagian terburuknya adalah yang sesudahnya.

Aku duduk. Aku mengeluarkan HP. Aku bertanya.

Dan dia menjawab. Semuanya. Detail. Reza suka apa, Reza tidak bisa apa, jangan kasih kode karena dia tidak akan pernah nangkap, jangan sore karena dia latihan, pagi sebelum jam pertama karena dia paling waras jam segitu.

Dia memberiku manual.

Aku ingat aku bilang, kamu tuh kayak punya manualnya, dan aku ingat dia tidak menjawab.

Aku ingat aku pulang dengan perasaan lega yang luar biasa.

Aku ingat aku bilang, di pintu, sambil menunjuk dia dengan jari:

“Kamu tuh emang paling ngerti aku.”


Aku menangis di bagian itu.

Bukan di bagian setengah detik. Bukan di bagian kotak musik. Bukan di bagian sepeda atau dua kilo atau buku jari yang robek.

Di bagian aku berterima kasih.

Aku berterima kasih ke orang itu. Aku berterima kasih sambil tersenyum lebar, di ambang pintu, dengan seluruh wajahku, kepada orang yang baru saja menghabiskan dua puluh menit membantuku mendapatkan orang lain dengan seluruh kemampuan yang dia punya.

Dan dia bilang, “Ya.”

Dua huruf.

Dan aku pergi.


Aku bangun jam setengah enam dengan mata yang tidak bisa disembunyikan oleh apa pun.

Ipeh sudah duduk di kasurnya, sudah bangun, jelas sudah lama bangun.

Dia tidak bertanya apa-apa.

Dia cuma bilang, “Aku bilang ke Bu Sarni kamu masuk angin. Kamu nggak usah turun hari ini.”

“Aku harus wawancara.”

“Aku yang wawancara.”

“Tulisan kamu jelek.”

“Zara.”

Aku menutup wajahku dengan bantal.

“Peh.”

“Hm.”

“Aku ngapain aja selama tiga tahun.”

“Kuliah.”

“Peh.”

“Kamu nggak ngapa-ngapain,” katanya. “Itu bukan dosa. Nggak tahu itu bukan dosa.”

“Terus kenapa rasanya kayak dosa?”

Ipeh diam agak lama.

“Karena kamu baru sadar orangnya baik banget,” katanya. “Dan kamu nggak bisa balikin waktu buat baik balik.”


Aku turun jam tujuh, karena aku tidak bisa berbaring lagi.

Dia sudah di halaman. Sudah pakai sepatu lapangan, sudah memanggul gulungan kabel kecil, sudah bicara dengan Pak Karso soal sesuatu.

Dia melihat aku.

“Pagi.”

“Pagi.”

“Kamu nggak enak badan?”

“Dikit.”

“Ya udah, istirahat.”

“Iya.”

Dan dia jalan ke gerbang, dan berhenti, dan menoleh setengah.

“Di dapur ada teh anget,” katanya. “Aku bikin tadi. Belum ada yang minum.”

Lalu dia pergi.

Aku berdiri di halaman itu selama entah berapa lama.


Aku masuk ke kamar jam delapan.

Aku menarik koperku dari kolong dipan, membukanya, dan mengeluarkan semuanya.

Baju. Handuk. Jaket hujan. Kantong plastik berisi entah apa.

Sampai ke dasar.

Dan di dasar koper itu, terlipat, di tempat yang tidak akan aku buka kecuali semua yang lain sudah keluar, ada jaket kerja biru pudar dengan bordir empat huruf di dada kiri.

Aku memegangnya lama sekali.

Lalu aku duduk di lantai, dengan jaket itu di pangkuan, dan aku mengatakan satu kalimat dengan suara yang sangat pelan ke ruangan yang kosong.

“Kamu bego banget, Zara.”

Dan aku tidak sedang bicara tentang tiga tahun.

Aku sedang bicara tentang setengah detik.