Chapter Eleven
Setengah Detik
POV: Alvaro
Aku ingat cuacanya.
Itu hal yang aneh untuk diingat, tapi aku ingat: mendung sejak pagi, tidak hujan sampai sore, dan udaranya berat dengan cara yang bikin semua orang mengantuk di jam kedua.
Aku ingat aku tidak sarapan.
Aku ingat aku memeriksa tasku empat kali sebelum berangkat, dan empat kali itu kotak musiknya masih ada di tempat yang sama, dibungkus kaus lama, di bagian paling atas supaya tidak tertekan.
Aku ingat aku menaruh tas itu di kolong meja ruang perlengkapan dan bukan di rak, karena rak itu kadang dipakai orang lain.
Aku ingat semuanya dengan sangat jelas, dan aku sudah mencoba selama tiga tahun untuk berhenti mengingatnya.
Hari itu panjang sekali.
Jam pertama Fisika. Aku tidak mendengar satu kalimat pun. Jam ketiga ada rapat panitia yang aku hadiri secara fisik. Waktu istirahat, Bagas duduk di depanku di kantin dan bertanya kenapa aku tidak makan, dan aku bilang tidak lapar, dan dia menatapku dengan mata menyipit selama lima detik lalu berkata:
“Hari ini?”
“Nggak tahu.”
“Fa.”
“Nggak tahu.”
“Kalau iya, chat aku.”
“Nggak.”
“Ya kali aja aku perlu siapin sesuatu.”
“Siapin apa.”
“Ya... “ Dia menggerakkan tangannya. “Dukungan moral. Atau motor. Buat kabur.”
Aku pergi dari kantin dan dia berteriak SEMANGAT, FA dengan suara yang kedengaran sampai lapangan.
Bel pulang jam setengah empat.
Aku ke ruang perlengkapan seperti biasa, karena itu memang tempatku, dan karena kalau aku menunggu di tempat lain artinya aku menunggu, dan aku tidak mau kelihatan menunggu.
Aku mengerjakan hal-hal kecil.
Aku memeriksa dua kabel roll yang tidak perlu diperiksa. Aku menulis ulang daftar inventaris yang sudah rapi. Aku mengelap meja, yang belum pernah aku lakukan seumur hidupku.
Jam empat lewat sepuluh, koridor mulai kosong.
Jam empat lewat dua puluh, mendungnya turun jadi gelap, dan aku menyalakan lampu — satu-satunya lampu di ruangan itu, di langit-langit, yang cahayanya kuning dan tidak sampai ke sudut-sudut.
Jam empat lewat dua puluh lima, pintunya terbuka.
“Al.”
“Hm.”
Dia masuk dan menutup pintunya di belakangnya, yang biasanya tidak dia lakukan.
Aku memperhatikan tiga hal dalam dua detik. Dia tidak menaruh tasnya di tumpukan kursi seperti biasa — dia masih memeluknya. Dia tidak langsung bicara seperti biasa. Dan tangannya, yang biasanya ke mana-mana kalau dia ngomong, sekarang mencengkeram tali tasnya di dua titik.
Dia gugup.
Aku ingin mencatat, dengan jujur, apa yang aku pikirkan pada detik itu.
Aku berpikir: dia juga gugup.
Itu saja. Empat kata. Dan empat kata itu cukup untuk membuat seluruh sisa sore itu bergerak ke arah yang salah, karena begitu aku berpikir begitu, aku berhenti membaca dan mulai berharap. Dan orang yang berharap itu buta dengan cara yang sangat spesifik: dia melihat semua tandanya, dan menerjemahkan semuanya ke satu arah.
“Duduk?” kataku.
“Nggak usah.”
“Oh.”
“Kamu juga jangan duduk.”
“Aku emang berdiri.”
“Ya udah.”
Dia tertawa pendek, gugup, dan tawa itu putus di tengah.
Ruangan itu sepi sekali. Dari luar cuma ada bunyi gerimis di atap seng koridor, dan jauh sekali di lapangan ada anak-anak ekskul basket yang belum pulang.
Aku menaruh obeng yang sedang aku pegang.
Aku sengaja menaruhnya, karena aku tidak mau memegang apa pun waktu aku mengucapkannya. Aku sudah memikirkan detail sekecil itu. Aku sudah memikirkan segalanya kecuali satu hal.
Aku menarik napas.
Aku berdiri lebih tegak — aku tahu ini, karena aku merasakan bahuku bergerak ke belakang.
Aku membuka mulut.
“Za—“
“Fa, aku duluan ya. Aku takut nggak jadi ngomong.”
Setengah detik.
Itu jarak antara suaraku dan suaranya. Bukan satu detik. Bukan dua. Setengah, mungkin kurang, dan dalam setengah detik itu aku sudah membentuk huruf pertama namanya dan sudah punya seluruh kalimatnya di lidahku, dan aku menutup mulut karena aku selalu berhenti kalau orang lain bicara, karena begitulah aku dibesarkan, karena itu sopan.
Setengah detik.
“Iya,” kataku.
Dan dia bicara.
“Aku suka sama Reza.”
Aku mendengar kalimatnya dengan jelas. Semua katanya. Tidak ada satu pun yang meleset.
Yang aneh adalah tubuhku tidak melakukan apa-apa. Aku pikir akan ada sesuatu — dada yang sakit, telinga yang berdenging, sesuatu yang seperti di film. Tidak ada. Aku berdiri di tempat yang sama dengan tangan di samping badan dan aku bahkan tidak berkedip lebih sering dari biasanya.
Yang berubah cuma satu: ruangan itu jadi terasa jauh. Seperti aku mundur beberapa meter tanpa memindahkan kaki.
“Udah lama,” lanjutnya, cepat, karena begitu mulai dia tidak bisa berhenti. “Sebenernya dari semester lalu. Tapi aku nggak berani ngomong ke siapa-siapa. Ipeh belum tahu. Beneran, kamu yang pertama.”
“Oh.”
“Aku bingung banget, Al. Dia tuh baik ke semua orang. Jadi aku nggak bisa bedain aku ini dianggep apa.”
Ada satu detik di situ. Satu detik penuh di mana aku bisa mengatakan sesuatu.
Aku tahu itu, waktu itu juga, bukan baru sekarang. Aku tahu ada pintu yang masih terbuka selebar satu detik.
Aku tidak bisa membayangkan wajahnya kalau aku mengucapkannya sekarang. Bukan wajah menolak. Wajah kasihan. Wajah orang yang baru sadar dia sudah salah menaruh seseorang selama berbulan-bulan dan sekarang harus membereskannya.
Aku pernah melihat dia menghibur orang. Dia hebat sekali. Dia akan hebat sekali.
Dan aku memutuskan, di detik itu, bahwa aku tidak sanggup ditolong olehnya.
“Kamu deket sama dia kan?” katanya. “Kalian sahabatan dari kelas sepuluh.”
“Iya.”
“Bantuin aku ya, Al.”
Setengah detik lagi.
“Boleh,” kataku.
Yang terjadi berikutnya adalah bagian yang, kalau aku boleh memilih satu hal untuk dihapus dari hidupku, akan aku pilih.
Bukan penolakannya. Yang berikutnya.
Karena dia langsung duduk di tumpukan kursi lipat, dan menaruh tasnya di lantai — akhirnya — dan mengeluarkan HP, dan mulai bertanya.
Dan aku menjawab semuanya.
“Dia sukanya apa sih?”
“Basket. Tapi bukan main. Nonton.”
“Nonton doang?”
“Dia nggak suka olahraga yang dia nggak jago.”
Dia tertawa. “Aku hafal itu.”
“Dia hafal statistik. NBA. Dia bisa ngomong satu jam kalau ada yang nanya.”
“Serius?”
“Jangan tanya kalau kamu nggak siap satu jam.”
Dia mengetik di HP-nya.
“Terus?”
“Dia nggak bisa baca sinyal.”
“Maksudnya?”
“Kalau kamu ngasih kode, dia nggak akan nangkap. Selamanya.”
“Nggak mungkin selamanya.”
“Selamanya,” kataku. “Kelas sepuluh ada yang naruh surat di tasnya. Dia kira salah tas. Dia balikin ke wali kelas.”
“YA TUHAN.”
“Jadi jangan ngasih kode.”
“Terus aku harus gimana?”
“Ngomong.”
“Ngomong langsung?”
“Iya.”
“Nggak kepagian?”
“Dia nggak akan ngerti apa pun yang bukan kalimat lengkap.”
Dia mengetik lagi, cepat, sambil menggigit bibir.
“Terus kapan waktu yang bagus?”
“Jangan pas ada orang. Dia jadi lawak kalau ada penonton.”
“Oke.”
“Jangan sore. Sore dia latihan.”
“Oke.”
“Pagi. Sebelum jam pertama. Dia paling waras jam segitu.”
“Oke. Oke.” Dia mendongak. “Kamu tuh kayak punya manualnya.”
Aku punya.
Aku sudah punya sejak kelas sepuluh. Aku hafal cara kerja Reza seperti aku hafal cara kerja mesin dua tak, karena aku memang begitu, karena aku memperhatikan orang yang ada di sekitarku sampai aku bisa menebak apa yang akan mereka lakukan sebelum mereka melakukannya.
Aku memakai seluruh keahlian itu, sore itu, di ruangan yang bau debu, untuk satu tujuan.
Dan aku melakukannya dengan baik. Itu bagian yang paling tidak bisa aku maafkan dari diriku sendiri. Aku tidak melakukannya asal-asalan, tidak setengah hati, tidak dengan diam-diam menyabotase. Aku memberikan yang terbaik yang aku punya, sampai detail, sampai jam berapa dan di mana dan kalimat pertamanya sebaiknya apa.
Karena dia minta tolong.
Dan aku tidak bisa tidak menolong. Itu satu-satunya hal yang aku bisa.
Jam lima lewat, gerimisnya berhenti.
Dia berdiri dan memasukkan HP-nya, dan wajahnya sudah berbeda dari waktu dia masuk. Bahunya turun. Cengkeraman di tali tasnya lepas. Dia tersenyum dengan seluruh wajahnya, cara dia tersenyum kalau sesuatu sudah selesai.
“Aku lega banget,” katanya. “Serius. Dari tadi pagi aku nggak bisa mikir.”
“Ya.”
“Makasih ya, Al.”
“Ya.”
Dia sudah di pintu waktu dia berbalik.
“Kamu tuh,” katanya, sambil menunjuk aku dengan jari, seperti biasa, “emang paling ngerti aku.”
Dan dia pergi.
Pintunya tidak ditutup rapat. Angin dari koridor membuatnya bergerak sedikit, membuka-menutup beberapa sentimeter, sampai aku berjalan ke sana dan menutupnya.
Aku berdiri di ruangan itu selama entah berapa lama.
Aku ingat aku memikirkan hal-hal yang tidak penting. Aku memikirkan bahwa lampu di langit-langit itu perlu diganti karena cahayanya sudah kuning. Aku memikirkan bahwa tumpukan kursi lipat itu harus dikembalikan ke aula minggu depan. Aku memikirkan bahwa gerimis sudah berhenti dan aku tidak perlu payung.
Lalu aku jongkok dan mengambil tas dari kolong meja.
Kotak musik itu masih di bagian paling atas, dibungkus kaus lama, persis di tempat aku menaruhnya pagi tadi supaya tidak tertekan.
Aku memegangnya beberapa detik.
Aku tidak membukanya.
Aku menutup ritsleting tasnya, mengangkatnya ke bahu, mematikan lampu, dan mengunci ruang perlengkapan dari luar.
Di koridor, seseorang lewat dan bilang, “Duluan, Mas.”
“Ya,” kataku.
Suaraku biasa saja.
Itu yang paling aneh dari seluruh sore itu. Suaraku biasa saja.
- 1 Kipas Angin Kelas Sebelah
- 2 Obeng Plus, Gagang Kuning
- 3 Ruangan yang Bau Debu
- 4 Dua Detik
- 5 Satu Kata
- 6 Jaket Bengkel
- 7 Lima Sentimeter
- 8 Kotak Musik
- 9 Rantai
- 10 Sepuluh Sentimeter
- 11 Setengah Detik reading
- 12 Yang Bisa Dibenerin
- 13 Kelompok Empat
- 14 Ditaruh di Meja
- 15 Bahasa yang Aku Nggak Ngerti
- 16 Tudung
- 17 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 18 Tiga Tahun
- 19 Punggung Tangan
- 20 Air
- 21 Dua Detik Lagi
- 22 Api Unggun
- 23 Yang Aku Tahu Sejak Awal
- 24 Hitungan Mundur
- 25 Alasan Nomor Enam
- 26 Obeng Baru
- 27 Nggak Bisa
- 28 Sandal
- 29 Salah Orang
- 30 Duduk
- 31 Zara
- 32 Pagi Pertama
- 33 Asisten
- 34 Payung yang Sama
- 35 Yang Harus Diselesaikan
- 36 Api Unggun Kedua
- 37 Datar
- 38 Empat Puluh Delapan Rumah