← Setengah Detik

Chapter Thirty Two

Pagi Pertama

POV: Zara


Aku bangun jam lima dan langsung tahu bahwa aku sedang dalam masalah.

Bukan karena semalam. Semalam sempurna.

Karena aku tinggal di satu rumah dengan sembilan orang, empat di antaranya perempuan yang tidur di kamar yang sama denganku, dan salah satunya adalah Ipeh.

Aku mengintip.

Ipeh sudah duduk.

Sudah duduk, sudah bangun, sudah pakai kerudung, dan sedang menatap ke arah kasurku dengan tangan dilipat di dada seperti orang tua yang menunggu anaknya pulang jam tiga pagi.

“Peh.”

“Aku nggak tidur,” katanya. “Aku nunggu dari jam sebelas.”

“Peh—“

“Jam berapa kamu masuk kamar?”

“...Setengah satu.”

“SETENGAH—“

“PELAN.”

Dua orang lain di kamar itu bergerak di kasurnya.

Ipeh menurunkan volumenya sampai bisikan yang lebih menakutkan dari teriakan.

“Zara Zhafira,” katanya. “Kamu keluar jam sembilan lewat dua puluh waktu lampu mati, dan kamu masuk setengah satu, dan kamu masuk sambil bawa kotak.”

“Peh—“

“KOTAK, ZAR.”

“Kamu lihat?”

“Aku LIHAT.”

Aku menutup wajahku dengan bantal dan Ipeh menarik bantalnya lagi.

“Kotak apa,” katanya.

Aku memandanginya.

Dan lalu aku ingat sesuatu, dan aku duduk.

“Peh. Waktu itu di ransel Alvaro.”

Ipeh berhenti bergerak.

“Kamu lihat kotak ini kan.”

Dia tidak menjawab selama tiga detik.

“Aku nggak lihat apa-apa,” katanya.

“Peh.”

“Aku ngambil kunci inggris dan kunci inggrisnya nggak ada.”

“IPEH.”

“AKU NGGAK LIHAT APA-APA,” katanya, dan matanya sudah merah, dan dia menoleh ke dinding dan mengipasi wajahnya dengan tangan sambil bilang “aduh, aduh” berkali-kali.


Aku memutuskan sesuatu sambil bersiap pagi itu.

Aku bisa turun seperti biasa dan membiarkan orang mengetahuinya pelan-pelan. Itu opsi yang waras.

Aku mengambil jaket biru pudar dari gantungan di balik pintu, memakainya, dan menggulung lengannya dua kali karena kepanjangan sepuluh senti.

Di dada kiri ada bordir empat huruf.

Ipeh melihatnya dan langsung menutup mulut dengan dua tangan.

“Zar.”

“Apa.”

“Kamu jahat banget.”

“Aku kedinginan.”

“Ini dua puluh sembilan derajat.”

“Di dusun ini dingin.”

“ZARA.”


Ruang makan jam setengah tujuh isinya sembilan orang.

Aku turun.

Aku ingin mencatat urutan kejadiannya dengan akurat karena ini adalah salah satu pagi paling memuaskan dalam hidupku.

Detik satu sampai tiga: tidak ada yang menyadari apa pun. Orang mengambil nasi.

Detik empat: Reza mengangkat wajah. Reza melihat jaketnya. Reza melihat bordirnya.

Detik lima: Reza menaruh sendok.

Detik enam: Reza berdiri.

Detik tujuh: Reza berteriak dengan suara yang menurut Bu Sarni terdengar sampai rumah Pak Nardi.

“ANJIR.”

“Reza.”

“ANJIR!”

“REZA.”

“FA!” Dia berputar mencari. “FA! MANA SI ALVARO! FA!”

“Dia udah ke lapangan,” kata Oliv, tanpa mengangkat wajah dari kopinya.

“DIA KE LAPANGAN? PAGI-PAGI GINI? SETELAH—“ Reza menunjuk aku dengan seluruh tangan. “SETELAH INI?”

“Dia berangkat jam lima,” kata Oliv.

“KENAPA?”

“Kamu pikir kenapa.”

Reza duduk lagi dan memegang kepalanya.

“Dia kabur,” katanya. “Dia kabur, ya Allah, dua puluh satu tahun aku kenal orang itu, dia kabur.”


Ipeh tidak menyiarkannya.

Aku perlu mencatat itu karena aku sendiri tidak percaya.

Yang menyiarkannya adalah Bu Sarni.

“Wah, akhirnya,” kata beliau dari dapur, sambil membawa panci. “Ibu udah nunggu dari dua bulan lalu.”

Semua kepala menoleh.

“Dua bulan?” tanya Reza.

“Iya. Dari yang piringnya digeser itu.”

Aku menjatuhkan sendokku.

“Ibu tahu?”

“Ya tahu to, Mbak. Ibu yang naruh piring.”

“Ibu nggak bilang apa-apa.”

“Ya buat apa bilang.” Beliau menaruh pancinya. “Nanti kalau Ibu bilang, Mbak-nya berhenti.”

Dan beliau masuk ke dapur lagi, dan sembilan mahasiswa duduk di ruang makan dalam keadaan hancur.

“Ibu-ibu itu,” kata Oliv pelan, “selalu lebih dulu.”


Aku menemukan dia di tiang tiga puluh empat jam delapan.

Dia sedang menarik kabel dengan Pak Nur, di atas, dengan sarung tangan dan tali pengaman dan wajah orang yang sudah bekerja tiga jam.

Aku berdiri di bawah tiang.

Dia melihat ke bawah.

Dia melihat jaketnya.

Dan aku melihat — dari jarak lima meter dan ketinggian enam meter — laki-laki itu berhenti bergerak selama sekitar dua detik di atas tiang listrik.

“Mas!” teriak Pak Nur. “Tegang, Mas! Kabelnya!”

“Iya, Pak.”

Dia turun sepuluh menit kemudian.

“Kamu ngapain di sini?”

“Nemenin.”

“Ini kerja.”

“Iya.”

“Panas.”

“Iya.”

Dia melepas sarung tangannya dan melihat jaket itu lagi.

“Itu kekecilan.”

“Ini kegedean.”

“Iya,” katanya. “Itu maksudku.”

Dan dia mengambil botol air dan minum dan tidak bilang apa-apa lagi, dan aku berdiri di sebelahnya di bawah matahari jam delapan merasa seperti orang yang baru memenangkan sesuatu yang besar.


Yang tidak aku perhitungkan adalah warga.

Kami jalan turun dari tiang tiga puluh empat ke balai, dua ratus meter, lewat jalan setapak yang melewati enam rumah.

Rumah pertama: ibu-ibu menyapu halaman. Beliau berhenti menyapu.

Rumah kedua: dua ibu-ibu duduk di teras. Salah satunya menyikut yang lain.

Rumah ketiga: seorang nenek berdiri di pintu dan berkata, keras sekali, “MAS INSINYUR SAMA MBAKNYA.”

Rumah keempat: ada yang tertawa dari dalam.

“Al.”

“Hm.”

“Kenapa semua orang lihat.”

“Kamu pakai jaketku.”

“...Oh.”

“Di sini semua orang tahu jaket siapa itu.”

“Ya ampun.”

“Iya.”

“Kenapa nggak bilang dari tadi?”

“Kamu senang.”

Aku berhenti jalan.

Dia jalan tiga langkah lagi sebelum sadar aku berhenti, lalu menoleh.

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa,” kataku.

Dan aku menyusul dan mengambil tangannya.


Di depan enam rumah dan tiga ibu-ibu dan satu nenek yang masih berdiri di pintu.

Aku menunggu dia melepasnya.

Aku sudah menyiapkan diri untuk itu, jujur. Orang seperti dia butuh waktu. Aku sudah memutuskan bahwa kalau dia melepas, aku tidak akan tersinggung, dan aku akan mencoba lagi minggu depan.

Dia tidak melepas.

Yang dia lakukan adalah memindahkan tas perkakas dari tangan kanan ke bahu kiri supaya tangan kanannya bebas.

Lalu dia menggenggam balik.

Dan kami jalan dua ratus meter ke balai desa, di jalan setapak, di depan enam rumah, jam sembilan pagi, sambil bergandengan.

Nenek di rumah ketiga bertepuk tangan.


Malamnya, di teras, Oliv duduk di sebelahku dengan dua gelas teh dan menyerahkan satu.

Aku menerimanya dan tidak tahu harus bilang apa.

“Nggak usah,” katanya, sebelum aku sempat mulai.

“Aku belum ngomong.”

“Aku tahu kamu mau ngomong apa.”

Kami duduk.

“Oliv.”

“Hm.”

“Yang naikin sekring semalem kamu, ya.”

Dia minum tehnya.

“Sekringnya jatuh,” katanya. “Ada yang harus naikin.”

Dan itu saja yang dia katakan tentang malam itu, malam itu dan selamanya.