← Setengah Detik

Chapter Thirty Seven

Datar

POV: Alvaro


Tim monitoring datang hari Senin, delapan hari sebelum kami pulang.

Tiga orang: satu dosen pembimbing lapangan, satu staf dinas, dan satu mahasiswa tingkat akhir dari kampus ketiga yang ikut sebagai dokumentator peresmian.

Namanya Genta.

Aku ingin mencatat sejak awal bahwa Genta tidak melakukan satu pun kesalahan.

Itu penting, karena semua yang terjadi minggu itu terjadi di dalam kepalaku, dan bukan salah orang lain.


Dia sopan. Dia rajin. Dia tahu cara memakai kamera yang lensanya lebih mahal dari motor Pak Karso, dan dia menawarkan diri membantu mengangkat barang di hari pertama, yang mana adalah hal yang jarang dilakukan tamu.

Dia juga tinggi, wajahnya rapi, dan cara bicaranya membuat orang merasa didengarkan.

Aku menyalaminya. Aku menunjukkan jalur. Aku menjelaskan skema dua tahap pompa dan dia bertanya tiga pertanyaan yang bagus.

Semuanya baik-baik saja sampai jam sebelas pagi, waktu Zara datang dari dusun bawah untuk menyerahkan berkas.


Aku tidak akan mendeskripsikan reaksinya, karena aku sudah melihat reaksi itu ratusan kali sejak umur enam belas dan aku tidak lagi menganggapnya menarik.

Cukup begini: dia berhenti bicara di tengah kalimat, dan dia mengambil satu detik lebih lama untuk mengulurkan tangan, dan sesudah itu dia bertanya tiga hal berturut-turut yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.

Zara menjawab dengan ramah, karena dia ramah ke semua orang, karena itu memang dirinya, dan karena itu satu-satunya hal tentang dia yang selama enam tahun membuatku tidak bisa membedakan apa pun.

Aku memasang isolator.


Hari kedua, Genta ikut ke lapangan.

Hari ketiga, Genta membawakan tas Zara dari pikap ke posko.

Hari keempat, Genta memotret Zara sedang mewawancarai ibu-ibu di rumah kedua puluh satu, dan menunjukkan hasilnya, dan Zara bilang “bagus banget” dengan nada yang benar-benar tulus karena fotonya memang bagus.

Aku ada di tiang tiga puluh tujuh waktu itu, enam meter di atas tanah, memasang klem.

Aku mengencangkan bautnya.

Lalu aku mengencangkannya lagi.

Lalu Pak Nur berteriak dari bawah, “MAS! DRAT-NYA!”

Aku berhenti.

Bautnya sudah slek. Dratnya sudah habis. Aku harus turun, mengambil baut baru dari tas, naik lagi, dan memasangnya ulang, dan seluruh proses itu memakan sebelas menit yang seharusnya nol.

“Kenapa, Mas?” tanya Pak Nur waktu aku turun.

“Bautnya jelek.”

Pak Nur melihat bautnya.

Pak Nur tidak berkata apa-apa, tapi Pak Nur sudah dua puluh tahun kerja las dan Pak Nur tahu persis baut itu jelek atau tidak.


Aku ingin mencatat, dengan jujur, apa yang aku rasakan.

Bukan takut kehilangan. Itu bukan bentuknya.

Bentuknya adalah: aku menghabiskan enam tahun melihat orang berhenti bicara di tengah kalimat waktu perempuan itu lewat, dan selama enam tahun itu aku selalu berada di posisi yang sama — di pinggir ruangan, memegang obeng, memutuskan untuk tidak jadi salah satu dari mereka.

Dan sekarang aku bukan di pinggir ruangan lagi.

Dan ternyata posisi baru ini jauh lebih tidak nyaman, karena di pinggir ruangan tidak ada yang bisa hilang.


Hari kelima, saat makan siang di balai, Genta duduk di sebelah Zara.

Aku duduk di seberang, dengan Reza di sebelahku.

“Mbak Zara ini Komunikasi ya?”

“Iya.”

“Angkatan?”

“Dua puluh dua.”

“Wah, sama. Saya juga.”

“Serius?”

“Serius. Kita mungkin pernah papasan di seminar.”

Zara tertawa.

Reza, di sebelahku, menusuk lengan aku dengan sendok.

“Fa,” bisiknya.

“Hm.”

“Lo baik-baik aja?”

“Iya.”

“Fa.”

“Aku baik-baik aja.”

“Fa, nasi lo udah abis dari tadi dan lo masih nyendok.”

Aku melihat piringku.

Aku menaruh sendok.


Dia menemukanku di gudang jam empat sore.

Aku sedang mengecek genset, yang sudah aku cek pagi tadi, yang tidak perlu dicek sama sekali.

“Al.”

“Hm.”

“Kamu ngapain di sini?”

“Ngecek genset.”

“Kamu udah ngecek genset tadi pagi.”

“Ngecek lagi.”

Ada jeda.

Lalu aku dengar dia menutup pintu gudang.

“Al,” katanya, dan aku bisa mendengar dari suaranya bahwa dia sedang berusaha sangat keras untuk tidak tertawa. “Kamu cemburu, ya?”

“Enggak.”

“Al.”

“Enggak.”

“Kamu slek baut.”

Aku berhenti memutar obeng.

“Siapa yang cerita?”

“Pak Nur.”

“Pak Nur nggak bisa bahasa Indonesia.”

“Pak Nur bisa gerakan tangan,” katanya, “dan gerakannya jelas banget.”

Aku menutup penutup genset.

“Aku nggak cemburu.”

“Oke.”

“Aku cuma nggak suka orang megang tas kamu.”

Aku menyadari apa yang aku ucapkan sekitar setengah detik setelah aku mengucapkannya.

Zara mengeluarkan bunyi seperti orang yang baru menang undian.

“AL.”

“Aku nggak bilang apa-apa.”

“KAMU BILANG—“

“Genset ini bunyinya nggak beres.”

“KAMU BILANG KAMU NGGAK SUKA ORANG MEGANG TAS AKU.”

“Bunyinya nggak beres.”

Dan dia berdiri di gudang itu sambil menutup mulut dengan dua tangan dan melompat-lompat kecil di tempat, yang mana adalah pemandangan yang membuatku ingin masuk ke dalam genset.


Aku mengantarnya ke kecamatan hari Sabtu, untuk mencetak berkas peresmian.

Motor bebek Pak Karso, jalan yang sama, tiga belas kilometer.

Di tanjakan pertama dia memegang jaketku.

“Pegangan yang bener.”

“Al, aku udah tahu.”

“Ya makanya.”

Dan dia memindahkan tangannya ke pinggangku, dan mengaitkan jarinya di depan, dan menempelkan pipinya ke punggungku dengan cara yang jelas bukan soal keamanan berkendara.

Aku menyetir empat puluh.

Bukan tiga puluh. Aku sudah tidak punya alasan teknis lagi untuk tiga puluh.

Empat puluh masih terlalu pelan dan kami berdua tahu dan tidak ada yang menyebutkannya.


Di parkiran kantor kecamatan dia turun dan melepas helm.

“Al.”

“Hm.”

“Genta udah ada pacar.”

Aku mengunci motor.

“Namanya Nadya. Anak Farmasi. Empat tahun. Aku lihat fotonya di HP dia waktu dia nunjukin hasil jepretan.”

Aku menaruh kunci di saku.

“Oke,” kataku.

“Kamu nggak nanya kenapa aku cerita?”

“Enggak.”

“Kenapa nggak nanya?”

Aku berdiri di parkiran kantor kecamatan jam sembilan pagi dan memikirkan jawabannya.

“Karena kamu nggak perlu cerita,” kataku. “Dan kamu tetap cerita.”

Dia menatapku.

Lalu dia melangkah maju, dua langkah, sampai dekat sekali.

“Nunduk,” katanya.

“Kenapa?”

“Nunduk aja.”

Aku menunduk.

Dan dia mengecup keningku.


Aku berdiri di parkiran itu, di depan kantor kecamatan, dengan tiga orang tukang parkir dan satu ibu-ibu yang sedang menunggu antrean menonton dari jarak lima meter.

“Kamu tuh,” kataku.

“Apa?”

“Di depan orang.”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena kamu enam tahun berdiri di pinggir ruangan,” katanya. “Dan aku pengin semua orang lihat kamu udah nggak di situ lagi.”

Dan dia jalan duluan ke kantor, sambil membetulkan kerudungnya, seolah tidak baru saja mengatakan hal yang membuat seorang laki-laki berdiri diam di parkiran selama sepuluh detik penuh.


Pulangnya aku menyetir enam puluh.

Dia protes sepanjang jalan.

Aku bilang jalanannya bagus.