← Setengah Detik

Chapter Twenty Nine

Salah Orang

POV: Alvaro


Aku sudah menghadapi banyak hal yang rusak.

Aku belum pernah menghadapi orang yang berhenti punya rasa malu.


Hari pertama.

“Mas Insinyur.”

“Itu panggilan Pak Karso.”

“Aku pinjem.”

“Jangan.”

“Mas Insinyur,” ulangnya, lebih keras, dan tiga warga di halaman menoleh dan tertawa.


Hari kedua.

“Pak Teknisi.”

“Aku bukan—“

“Pak Teknisi, tolong lihat kabel saya.”

“Kamu nggak punya kabel.”

“Ada, di hati.”

Aku menaruh tang.

“Itu jelek banget,” kataku.

“Aku tahu. Aku nyusunnya semalem.”

“Semalem?”

“Dari jam sebelas.”


Hari ketiga.

“Sayang.”

“Salah orang.”

“Nggak salah.”

“Salah.”

“Al—“

“Salah orang,” kataku, dan meneruskan mengencangkan mur, dan dia berdiri di sebelahku selama satu menit penuh sambil menahan tawa dengan cara yang gagal total.


Aku perlu menjelaskan mekanismenya, karena kalau tidak, kelihatannya aku ini orang yang tidak punya pertahanan sama sekali.

Aturanku masih tiga. Tidak berubah.

Yang berubah adalah dia menemukan celah di antaranya.

Aturanku melarang aku menyentuh. Aturanku tidak melarang aku menjawab. Aturanku melarang aku berdua. Aturanku tidak melarang aku ada di ruangan yang sama dengan delapan orang lain sementara satu di antaranya memanggilku “Pak Teknisi”.

Dan yang paling parah: aturanku tidak melarang aku mengambilkan barang.

Dia menemukan itu di hari keempat, dan sejak itu aku tidak punya waktu senggang.

“Al, ambilin garam.” “Al, itu pintunya.” “Al, sendokku jatuh.” “Al, kerudungku yang mana? Yang biru atau yang abu?”

“Aku nggak ngerti kerudung.”

“Ya makanya pilih.”

“Zhafira—“

“Satu detik. Biru atau abu.”

“Biru.”

“Kenapa biru?”

“Karena kamu nanya.”

“Bukan itu jawabannya.”

“Itu jawabannya.”

Dia memakai yang biru.

Setiap hari selama seminggu sesudah itu, dia bertanya, dan setiap hari aku menjawab, dan setiap hari dia memakai yang aku sebut.

Aku menyadari di hari kelima bahwa aku sudah punya pendapat tentang kerudung, dan itu informasi tentang diriku sendiri yang aku tolak untuk periksa lebih jauh.


Insiden ojek.

Ojek dusun ada dua. Pak Nardi dan anaknya. Zara sudah naik ojek sendiri ke pasar kecamatan sejak bulan kedua, sekitar dua puluh kali, tanpa masalah.

“Al.”

“Hm.”

“Aku takut naik ojek.”

Aku mengangkat wajah dari panel.

“Kamu naik ojek dua puluh kali.”

“Sekarang takut.”

“Kenapa sekarang?”

“Trauma.”

“Trauma apa?”

“Trauma... baru.”

Reza, dari kursi seberang, mengeluarkan bunyi yang bukan bunyi manusia.

Aku menutup panel.

“Jam berapa?”

“Sekarang.”

Dan itulah bagaimana aku mengantar seseorang ke pasar kecamatan pada hari Selasa jam sepuluh pagi untuk membeli benang jahit seharga tiga ribu rupiah.


Di tanjakan pertama dia memegang jaketku.

“Pegangan yang bener.”

“Ini udah bener.”

“Bukan itu.”

“Al, ini jalannya lurus.”

“Nanti tikungan.”

Dan dia memindahkan tangannya ke pinggangku, dan aku merasakan kedua tangannya bertemu di depan, jari-jarinya saling mengait, dan itu bukan posisi yang sama dengan tiga bulan lalu.

Aku menyetir tiga belas kilometer dan tidak mengucapkan satu kata pun.

Di parkiran pasar dia turun dan bilang, dengan wajah paling polos di dunia:

“Kamu tadi lima puluh.”

“Iya.”

“Kenapa nggak tiga puluh?”

“Pasarnya udah buka.”

Dia tertawa sampai harus memegang spion.


Insiden pusing.

Hari Kamis, di lokasi tiang dua puluh dua, dia tiba-tiba memegang kepalanya.

“Al.”

“Hm.”

“Pusing.”

Aku turun dari tangga dalam waktu yang menurut Reza kemudian adalah “empat detik, gue ngitung”.

“Duduk.”

“Nggak kuat.”

“Duduk.”

Aku mendudukkannya di batu, memeriksa dahinya dengan punggung tangan — yang aku lakukan tanpa berpikir dan yang aku sesali dua detik kemudian — dan mengambil botol air dari tas.

“Kamu sarapan?”

“Enggak.”

“Kenapa nggak sarapan?”

“Kesiangan.”

“Minum.”

Dia minum. Aku jongkok di depannya sambil mengecek warna bibirnya dan berpikir tentang jarak ke puskesmas dan apakah pikap Pak Nur ada di rumah.

Lalu aku melihat wajahnya.

Dia sedang berusaha keras untuk tidak tersenyum, dan gagal, dan bibir bawahnya bergerak.

Aku berdiri.

“Kamu bohong.”

“Enggak.”

“Zhafira.”

“...Dikit.”

“Dikit gimana?”

“Aku emang nggak sarapan,” katanya, cepat, membela diri. “Bagian itu bener.”

Aku memandanginya cukup lama.

Lalu aku menunjuk galon air dua puluh liter yang harus dibawa dari pikap ke lokasi, dua ratus meter, menanjak.

“Bawa.”

“HAH?”

“Bawa.”

“Al, itu dua puluh liter.”

“Kamu udah sembuh.”

“AKU MASIH PUSING.”

“Kamu bilang dikit.”

Reza, dari kejauhan, berteriak “HUKUM, FA! HUKUM!”

Dia membawa galon itu sejauh empat puluh meter sebelum menyerah dan duduk di tanah dan tertawa sampai tidak bisa napas, dan Reza mengambil alih galonnya, dan aku naik ke tangga lagi dan memasang isolator dan tidak menoleh ke bawah selama dua puluh menit karena wajahku sedang tidak bisa diandalkan.


Gombalan.

Ini bagian yang paling melelahkan, karena volumenya.

Rata-rata empat per hari. Kualitasnya tidak pernah membaik. Kadang dia menyiapkannya semalam dan kadang dia jelas-jelas mengarangnya di tempat, dan yang dikarang di tempat justru lebih parah.

Selama dua minggu aku tidak membalas.

Di minggu ketiga aku membuat kesalahan.

“Al, kamu tahu nggak bedanya kamu sama lampu dusun?”

Aku sedang menghitung. Aku menjawab tanpa berpikir.

“Lampu dusun nyala kalau ada yang naikin sekring.”

“...Hah?”

“Aku enggak.”

Ruang tengah diam.

Reza menaruh gelasnya.

Zara berdiri di tengah ruangan dengan mulut terbuka dan wajah yang berubah warna dalam waktu sekitar dua detik, dan lalu dia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan berjalan keluar tanpa berkata apa-apa.

“FA.” Reza berdiri. “FA. APA YANG BARUSAN TERJADI.”

“Nggak ada.”

“NGGAK ADA APANYA.”

“Aku salah ngomong.”

“Kamu nggak salah ngomong. Kamu ngelakuin sesuatu.”

Oliv, dari sudut, tanpa mengangkat wajah dari laptopnya, berkata: “Dia balas.”

“DIA BALAS.”

“Dia nggak pernah balas,” kata Oliv. “Tiga tahun.”

Aku pergi ke gudang dan mengecek genset yang tidak perlu dicek selama empat puluh menit.


Ini yang aku pelajari selama dua minggu itu, dan aku menuliskannya di sini karena aku ingin jujur.

Aku bisa menahan yang besar.

Aku menolak dia di gudang solar dan aku sanggup. Aku tidur malam itu. Aku bangun pagi dan bekerja dan tidak ada yang runtuh.

Yang tidak bisa aku tahan adalah yang kecil.

Garam. Pintu. Sendok jatuh. Kerudung biru atau abu.

Setiap satu dari itu terlalu kecil untuk ditolak. Kalau aku menolak mengambilkan garam, aku harus menjelaskan kenapa, dan tidak ada penjelasan yang tidak berupa pengakuan.

Jadi aku mengambilkan garam.

Dan dalam dua minggu, seseorang membangun tiga ratus jembatan kecil, dan aku menolak untuk melewati satu jembatan besar sambil berdiri di tengah tiga ratus jembatan kecil.


Malam Sabtu, makan bersama di ruang tengah. Sepuluh orang, satu tikar, lauk di tengah.

Aku duduk di sisi barat. Dia duduk di sebelahku karena tempat itu yang kosong, dan aku sudah berhenti mempercayai bahwa tempat kosong itu kebetulan.

“Al, suapin.”

“Enggak.”

“Kok gitu.”

“Enggak.”

“Reza aja disuapin Ipeh.”

“ITU BOHONG,” teriak Ipeh.

Aku mengambil satu potong tempe dari piringku dan menaruhnya di piringnya.

Dia melihat tempe itu.

Lalu dia tidak bicara selama sekitar dua menit, yang merupakan rekor sejak dia lahir.


Dan di sekitar menit keempat, di bawah meja rendah tempat kami makan, di tempat yang tidak kelihatan oleh sembilan orang lain, aku merasakan sesuatu di punggung tanganku.

Bukan genggaman.

Dua jari. Menarik ujung jari kelingkingku, pelan, sekitar satu sentimeter.

Lalu berhenti di situ.

Tidak menggenggam. Tidak menarik lagi. Cuma memegang ujung satu jari, di bawah meja, di ruangan berisi sepuluh orang.

Aku bisa menarik tanganku.

Aku sudah menarik tangan dua minggu lalu di gudang solar dan aku sudah membuktikan bahwa aku bisa.

Aku tidak menariknya.

Aku duduk di tikar itu dan makan dengan tangan kanan dan mendengarkan Reza bercerita tentang sapi Pak Nardi, dan aku membiarkan dua jari itu memegang ujung jariku selama sisa makan malam.

Dan aku tahu, di detik itu juga, bahwa aku sudah kalah.

Bukan besok. Bukan minggu depan.

Sudah.