← Setengah Detik

Chapter Nineteen

Punggung Tangan

POV: Alvaro


Aku tahu aku demam sejak bangun tidur.

Bukan demam yang serius. Kepala berat, punggung pegal, dan rasa dingin di lengan yang tidak sesuai dengan cuaca. Aku sudah pernah begini belasan kali dan aku tahu polanya: dua hari, lalu hilang.

Jadi aku minum air dua gelas dan berangkat.

“Fa.” Oliv menghentikanku di halaman. “Muka kamu.”

“Kenapa.”

“Pucat.”

“Kurang tidur.”

“Kamu tidur jam berapa?”

“Setengah dua.”

“Ngerjain apa?”

“Ngitung andongan.”

“Itu udah selesai kemarin.”

“Ngitung ulang.”

Oliv menatapku dengan cara yang sudah aku kenal selama tiga tahun, yaitu cara orang yang sedang memutuskan apakah ini pantas diperdebatkan.

“Kamu nggak manjat hari ini,” katanya.

“Aku manjat.”

“Fa.”

“Yang lain belum bisa pasang isolator.”

“Ajarin.”

“Hari ini nggak sempat.”

“Ya makanya jangan hari ini.”

Aku mengangkat tas perkakas ke bahu. “Tiang delapan sampai dua belas hari ini. Kalau geser, jadwal minggu depan geser semua.”

Oliv menghela napas.

“Kamu tahu nggak,” katanya, “kamu tuh sebenarnya nggak tanggung jawab. Kamu cuma nggak bisa berhenti.”

Aku tidak menjawab, karena tidak ada jawaban yang tidak membuktikan ucapannya.


Tiang delapan sampai dua belas selesai jam dua siang.

Aku naik lima kali. Setiap kali naik, ada dua detik di ketinggian empat meter di mana pandanganku menyempit di pinggir, dan aku berhenti bergerak sampai kembali normal.

Aku tidak menyebutkan itu ke siapa pun.

Yang menyebutkannya adalah Reza, yang berdiri di bawah sambil memegang tali dan yang ternyata memperhatikan lebih dari yang aku kira.

“Fa, kamu tadi diem lama.”

“Ngecek.”

“Ngecek apa?”

“Isolatornya.”

“Dua puluh detik?”

“Iya.”

“Fa.”

“Reza, talinya kendor.”

Dia menegangkan tali, dan lupa.

Itu selalu berhasil pada Reza. Itu satu-satunya hal yang membuatnya aman.


Sore, di posko, aku duduk di teras dan tidak bergerak selama lima belas menit, yang bagi orang lain mungkin biasa dan bagi aku adalah pengakuan.

Zara keluar membawa dua gelas.

“Teh.”

“Makasih.”

Dia menaruh satu di meja, dan duduk di anak tangga.

Lalu dia menoleh.

Lalu dia berdiri lagi.

“Al.”

“Hm.”

“Kamu sakit?”

“Enggak.”

“Bohong.”

“Capek.”

“Muka kamu abu-abu.”

“Itu debu.”

“Al.”

Dan sebelum aku sempat memutuskan apa pun, dia sudah selangkah di depanku dan menempelkan punggung tangannya ke dahiku.


Aku ingin menjelaskan sesuatu, dan aku akan menjelaskannya sekali saja lalu tidak lagi.

Ada perbedaan antara telapak tangan dan punggung tangan.

Telapak tangan itu untuk memegang. Punggung tangan itu untuk memeriksa. Orang menempelkan punggung tangan ke dahi orang lain karena punggung tangan lebih peka terhadap panas dan karena itu yang dilakukan ibu-ibu di seluruh dunia.

Jadi itu bukan sentuhan yang berarti apa-apa.

Aku tahu itu.

Aku memejamkan mata.

Bukan lama. Tidak sampai satu detik penuh. Mungkin seperempat, mungkin kurang, dan sesudahnya aku membukanya lagi dan tidak ada yang berubah di ruangan itu dan tidak ada yang melihat.

Aku memejamkan mata karena tangannya dingin dan dahiku panas, dan karena selama seperempat detik itu aku tidak sedang menjaga apa pun.

“Kamu panas,” katanya.

“Dikit.”

“Ini bukan dikit.”

“Besok hilang.”

“Kamu manjat tiang hari ini?”

“Iya.”

“Lima kali?”

“Iya.”

“AL.”

“Kalau geser, jadwal minggu depan—“

“AKU NGGAK NANYA JADWAL.”

Dia berdiri di depanku dengan tangan di pinggang, dan Bu Sarni dari dalam berkata “wah, dimarahi”, dan tiga orang di ruang tengah tertawa.

“Minum obat,” katanya.

“Iya.”

“Sekarang.”

“Iya.”

“Aku ambilin.”

“Nggak usah—“

Dia sudah masuk.

Aku minum obatnya. Aku memang berniat minum obat sejak pagi dan aku memang lupa, jadi tidak ada yang perlu diperdebatkan.


Malamnya semua orang duduk di ruang tengah karena hujan dan karena tidak ada sinyal dan karena sepuluh orang yang tidak punya sinyal akhirnya akan bicara satu sama lain.

Percakapannya, seperti semua percakapan posko di minggu ketiga, akhirnya sampai ke mantan.

Aku duduk di sudut, di lantai, bersandar ke dinding, dengan gelas air di tangan dan kepala yang masih berat.

“Ipeh dulu berapa?” tanya seseorang.

“Dua. Yang pertama nggak dihitung.”

“Kenapa nggak dihitung?”

“Karena SD.”

“Ya dihitung dong.”

“SD ITU BUKAN HUBUNGAN, ITU KEGIATAN.”

Semua tertawa.

“Zara?”

Aku minum air.

“Satu,” katanya.

“CUMA SATU?”

“Kenapa? Aku sibuk.”

“Zar, dengan muka kamu, satu itu kayak... kayak orang punya mobil terus dipakai buat jemur baju.”

“Itu perumpamaan paling jelek yang pernah aku dengar.”

“Terus gimana? Berapa lama?”

“Empat bulan.”

“Kenapa putus?”

Zara memikirkannya sebentar. Lalu dia tertawa — tawa yang benar-benar tawa, bukan yang untuk menutupi apa-apa.

“Nggak kenapa-kenapa,” katanya. “Itu masalahnya. Nggak ada yang salah sama sekali. Dia baik, aku baik, semuanya baik. Terus lama-lama kita kayak dua orang yang ketemu karena udah janjian aja.”

“Terus?”

“Terus aku bilang kayaknya kita udahan aja. Dia bilang iya. Terus kita makan bakso.”

“HABIS PUTUS MAKAN BAKSO?”

“Ya udah terlanjur di tempat baksonya.”

Ruangan itu meledak.

Aku ikut tersenyum. Aku ingin mencatat itu: aku ikut tersenyum, di waktu yang tepat, dengan ukuran yang tepat, dan aku melakukannya tanpa kesulitan sama sekali.

Tiga tahun itu ada gunanya.

Yang aku pikirkan, sementara ruangan itu tertawa, adalah bahwa laki-laki itu punya empat bulan.

Empat bulan. Seratus dua puluh hari, kira-kira, dan seratus dua puluh hari itu dianggap tidak ada yang salah sama sekali, dan berakhir di tempat bakso.

Aku menghitungnya.

Aku sadar aku menghitungnya, dan aku berhenti, dan aku minum air lagi.


“Kalau Alvaro?”

Suaranya dari seberang ruangan. Aku tidak tahu siapa yang bertanya.

Semua kepala menoleh.

“Nggak ada,” kataku.

“Nggak ada gimana?”

“Nggak ada.”

“Seumur hidup?”

“Iya.”

Ada suara hah kolektif, dan seseorang bilang “nggak mungkin”, dan Ipeh bilang “aku percaya sih”, dan aku sudah bersiap untuk menunggu ini lewat seperti semua percakapan sebelumnya.

Lalu Reza bicara.

“Alvaro tuh,” katanya, sambil menunjuk aku dengan kerupuk, “dari SMA emang gitu. Aku pernah nanya, ‘lo pernah suka orang nggak?’ Dia jawab ‘ngapain suka orang’. Kata-katanya persis gitu. Aku inget sampai sekarang.”

Ruangan itu tertawa lagi.

“Serius?”

“SERIUS. Anak ini emang nggak ada perasaannya.”

“Kasihan banget.”

“Kan,” kata Reza, senang, karena tertawa orang adalah bahan bakarnya. “Makanya aku dulu sampai kasihan sama dia.”

Aku menunduk ke gelasku.

Yang aku pikirkan bukan Reza.

Yang aku pikirkan adalah bahwa dari sepuluh orang di ruangan itu, ada satu orang yang tidak ikut tertawa.

Aku tidak mendongak untuk memeriksa. Aku tidak perlu. Aku bisa mendengar di mana tawa itu ada dan di mana tidak ada, karena aku sudah menghabiskan seumur hidup memperhatikan hal-hal yang tidak ada.

Percakapannya pindah ke topik lain dalam dua menit.

Aku menghabiskan air, mengembalikan gelasnya ke dapur, dan tidur jam sepuluh.

Aku tidak tahu, malam itu, bahwa Reza baru saja melakukan hal itu untuk pertama kalinya.

Dan bahwa dia akan melakukannya lagi.