Chapter Twenty Five
Alasan Nomor Enam
POV: Zara
“Satu,” kata Ipeh.
“Apa?”
“Aku ngitung.”
“Ngitung apa?”
“Alasan.”
Aku tidak menjawab dan pergi ke halaman sambil membawa buku catatan yang tidak aku butuhkan.
Alasan nomor satu: aku butuh data teknis untuk bab tiga laporan.
Ini alasan yang bagus karena ini benar. Laporan KKN memang butuh bab teknis dan aku memang tidak mengerti apa-apa dan orang yang paling tahu memang dia.
“Kabelnya ukuran berapa?”
“Tiga puluh lima.”
“Tiga puluh lima apa?”
“Milimeter persegi.”
“Oh.” Aku menulis. “Kenapa segitu?”
Dan dia menjelaskan. Dua menit, jelas, dengan kalimat yang bisa aku salin langsung ke laporan.
Selesai dalam dua menit. Aku sudah menyiapkan pertanyaan untuk empat puluh menit.
“Terus... kenapa tiangnya beton, bukan besi?”
“Karat.”
“Oh.”
“Ada lagi?”
“Ng.” Aku melihat catatanku. “Nggak.”
“Ya udah.”
Dan dia naik ke tangga lagi.
Alasan nomor dua: dokumentasi.
“Aku harus foto proses pemasangan.”
“Boleh.”
“Buat lampiran.”
“Boleh.”
“Jadi aku ikut ya hari ini.”
“Boleh.”
Aku ikut. Aku memotret empat belas foto. Sebelas di antaranya adalah tiang.
Ipeh melihat galeriku malamnya dan berkata, “Ini tiang semua.”
“Iya.”
“Zar, ini kayak orang lagi survei tiang.”
“Ini emang survei tiang.”
“Yang tiga ini ada orangnya.”
“Kebetulan lewat.”
Ipeh mengangkat dua jari. “Dua.”
Alasan nomor tiga adalah pelatihan warga, yang jadwalnya masih dua bulan lagi tapi yang aku bilang harus dipersiapkan dari sekarang.
Alasan nomor empat adalah aku ingin belajar menyolder, yang berakhir dengan aku membakar meja Bu Sarni seukuran koin lima ratus dan dilarang menyentuh solder selamanya.
Alasan nomor lima adalah aku bilang ke Oliv bahwa aku ingin ikut tim lapangan supaya laporannya lebih “berbasis pengalaman langsung”.
Oliv menatapku dari balik papan jalannya selama tiga detik penuh.
“Boleh,” katanya.
Lalu, sambil berbalik: “Kamu bawa sepatu yang bener, ya.”
Aku bersumpah dia hampir tertawa.
Alasan nomor enam aku sampaikan hari Kamis pagi, dan itu titik di mana aku kehilangan seluruh sisa harga diri.
“Al.”
“Hm.”
“Aku boleh ikut nggak?”
“Ke mana?”
“Ke... yang kamu mau ke sana itu.”
Dia menoleh dari tas perkakasnya.
“Aku mau ke belakang balai. Ganti mur.”
“Boleh ikut?”
“Ganti mur.”
“Iya.”
“Satu mur.”
“Iya.”
Ada jeda tiga detik.
“Ya udah,” katanya.
Dan aku berjalan dua ratus meter di bawah matahari jam sepuluh untuk menonton seorang laki-laki mengencangkan satu baut selama empat puluh detik.
Di teras, waktu aku balik, Ipeh mengangkat enam jari tanpa mengatakan apa-apa.
“Diem.”
“Aku nggak ngomong.”
“Kamu ngangkat jari.”
“Jari nggak bisa ngomong, Zar. Itu di luar kuasaku.”
Aku berhenti mencari alasan di hari kesembilan.
Bukan karena sadar diri. Karena aku kehabisan.
Dan begitu aku kehabisan alasan untuk mendekat, aku terpaksa melakukan hal lain — hal yang sebenarnya sudah aku lakukan diam-diam sejak hari pertama tanpa aku beri nama.
Aku memperhatikan.
Ini yang aku temukan dalam dua minggu, dan aku menuliskannya di halaman belakang buku catatan lapangan, di halaman yang tidak akan dibaca siapa pun karena isinya bukan data proyek.
Dia tidak sarapan kalau ada pekerjaan besar hari itu. Bukan lupa. Dia memutuskan tidak, karena kalau sarapan dia harus menunggu semua orang selesai dan itu memakan tiga puluh menit.
Dia selalu kehilangan obeng plus. Selalu. Dalam dua minggu, empat kali. Dia mencarinya dengan tenang, tanpa mengeluh, dan sesudah ketemu dia menaruhnya di tempat yang sama yang jelas-jelas bukan tempat yang aman.
Dia tidur empat jam. Aku tahu karena aku bangun jam lima sekali dan lampu gudang belakang masih menyala, dan aku bangun jam dua sekali dan lampu gudang belakang menyala.
Dia minum kopi tanpa gula dan tidak menyukainya. Aku tahu karena setiap teguk pertama dia berhenti sepersekian detik.
Kalau ada yang memanggil “Mas Insinyur”, dia menjawab. Kalau ada yang memanggil “Alvaro”, dia menoleh lebih cepat.
Dia tidak pernah duduk di ruangan yang gelap.
Dan setelah dua minggu memperhatikan orang seperti itu, aku sampai pada kesimpulan yang membuatku duduk di anak tangga belakang selama dua puluh menit tanpa bergerak.
Ini melelahkan.
Bukan memperhatikan orangnya. Yang melelahkan adalah bagian sesudahnya — bagian di mana kamu tahu sesuatu tentang seseorang dan tidak bisa menggunakannya untuk apa pun tanpa ketahuan.
Aku tahu dia tidak sarapan. Aku tidak bisa menaruh piring di depannya, karena kalau aku menaruh piring di depannya, dia akan tahu aku tahu.
Jadi aku menaruhnya di meja bersama piring yang lain, dan aku menggeser piringnya sedikit lebih dekat ke tempat dia biasa duduk, dan aku pergi sebelum dia turun.
Aku melakukan itu tiga hari berturut-turut dan tidak ada satu orang pun di posko yang menyadarinya.
Dan di hari ketiga, sambil berdiri di dapur jam setengah enam pagi seperti orang bodoh, aku menyadari sesuatu.
Dia melakukan ini selama dua tahun.
Dua tahun. Kipas, obeng, pintu yang tidak dikunci, sepeda, jaket, kotak musik. Setiap satu dari itu adalah pagi seperti pagi ini — berdiri di suatu tempat, melakukan sesuatu, lalu pergi sebelum ada yang lihat.
Aku baru tiga hari dan aku sudah capek.
Dia dua tahun.
Dan sesudah dua tahun itu, dia duduk di gudang perlengkapan dan mendengarkan aku bilang aku suka orang lain, dan lalu membantuku.
Aku menangis di dapur pagi itu, sebentar, sambil memegang gagang panci, dan berhenti sebelum ada yang turun.
Lalu aku menggeser piringnya lagi dan naik ke kamar.
Sore itu Ipeh disuruh Oliv mengambil kunci inggris dari ransel Alvaro yang ditinggal di ruang tengah.
Aku sedang menulis di meja waktu dia masuk.
Dia jongkok, membuka ransel, dan berhenti.
Aku tidak melihat apa yang dia lihat. Aku cuma melihat punggungnya, dan aku melihat punggung itu berhenti bergerak selama sekitar empat detik.
Lalu dia menutup ranselnya, tanpa mengambil apa-apa, dan berdiri.
“Nggak ada,” katanya ke Oliv.
“Nggak ada?”
“Nggak ada.”
“Aneh, tadi dia bilang di ransel.”
“Mungkin di gudang.”
Dan Ipeh keluar.
Aku memperhatikannya sepanjang malam itu.
Ipeh tidak bercerita apa pun ke siapa pun. Ipeh tidak menyindir. Ipeh tidak mengangkat jari. Ipeh tidak menyebut kata “cie” satu kali pun, yang mana adalah rekor seumur hidupnya.
Jam sepuluh malam, waktu kami sikat gigi berdua di belakang, aku bertanya.
“Peh.”
“Hm.”
“Tadi di ransel Alvaro ada apa?”
Dia meludah, membilas, dan mengelap mulutnya dengan lengan.
“Kunci inggris nggak ada,” katanya.
“Aku nggak nanya kunci inggris.”
Ipeh menaruh sikat giginya.
Dia menatap aku lewat cermin kecil yang digantung di paku, cukup lama, dan wajahnya tidak seperti wajah Ipeh sama sekali.
“Zar,” katanya. “Sekali ini aja, aku nggak mau cerita.”
“...Kenapa?”
“Karena bukan punyaku.”
Dan dia masuk duluan.
- 1 Kipas Angin Kelas Sebelah
- 2 Obeng Plus, Gagang Kuning
- 3 Ruangan yang Bau Debu
- 4 Dua Detik
- 5 Satu Kata
- 6 Jaket Bengkel
- 7 Lima Sentimeter
- 8 Kotak Musik
- 9 Rantai
- 10 Sepuluh Sentimeter
- 11 Setengah Detik
- 12 Yang Bisa Dibenerin
- 13 Kelompok Empat
- 14 Ditaruh di Meja
- 15 Bahasa yang Aku Nggak Ngerti
- 16 Tudung
- 17 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 18 Tiga Tahun
- 19 Punggung Tangan
- 20 Air
- 21 Dua Detik Lagi
- 22 Api Unggun
- 23 Yang Aku Tahu Sejak Awal
- 24 Hitungan Mundur
- 25 Alasan Nomor Enam reading
- 26 Obeng Baru
- 27 Nggak Bisa
- 28 Sandal
- 29 Salah Orang
- 30 Duduk
- 31 Zara
- 32 Pagi Pertama
- 33 Asisten
- 34 Payung yang Sama
- 35 Yang Harus Diselesaikan
- 36 Api Unggun Kedua
- 37 Datar
- 38 Empat Puluh Delapan Rumah