Chapter Twenty Seven
Nggak Bisa
POV: Zara
Aku tidak memilih gudangnya.
Aku ingin mencatat itu, karena kalau aku memilihnya, seluruh kejadian itu jadi terlalu rapi dan aku tidak suka hal-hal yang terlalu rapi.
Yang terjadi adalah: dia bilang besok, dan besok itu hujan sejak siang, dan seluruh posko penuh sepuluh orang yang tidak bisa ke mana-mana, dan satu-satunya tempat di kompleks rumah Bu Sarni yang tidak ada orangnya adalah gudang belakang tempat genset disimpan.
Dan dia di sana, jam empat sore, memindahkan dua jeriken solar dari sudut basah ke sudut yang tidak basah.
Aku masuk dan menutup pintunya di belakangku, karena hujannya masuk.
Baru setelah pintunya tertutup aku sadar apa yang baru saja aku lakukan.
Gudang. Sore. Hujan. Pintu ditutup.
Aku hampir tertawa.
“Kamu bilang besok,” kataku.
“Iya.”
“Ini besok.”
Dia menaruh jeriken kedua dan menegakkan badan.
Lampunya cuma satu, bohlam gantung di tengah, dan setengah ruangan itu tetap gelap karena barang-barang menghalangi. Bau solar dan karung dan lembap.
“Ya udah,” katanya.
Dia berdiri menghadapku, dengan tangan di samping badan, seperti orang yang sedang menunggu vonis dan sudah tahu isinya.
Dan aku menyadari, waktu itu juga, bahwa dia sudah tahu.
Dia sudah tahu sejak kapan aku tidak tahu. Mungkin sejak aku menggeser piring. Mungkin sebelum itu.
Dan dia sudah menyiapkan jawabannya, dan dia sedang berdiri di situ dengan jawaban itu di mulutnya, menunggu aku selesai bicara.
Itu membuatku ingin membalikkan seluruh urutannya.
“Aku udah nyiapin banyak banget,” kataku. “Aku nulis. Aku hapus. Aku nulis lagi. Semalem aku sampai nulis di HP terus aku hapus jam dua.”
“Zhafira—“
“Terus aku sadar aku ngelakuin hal yang sama persis kayak tiga tahun lalu.”
Dia berhenti.
“Aku nyiapin kalimat seharian,” lanjutku, “terus aku masuk ruangan, terus aku buru-buru ngeluarin semuanya sebelum orang lain sempat ngomong. Karena aku takut nyaliku abis.”
Aku menarik napas.
“Jadi kali ini aku nggak akan buru-buru.”
Dan aku berhenti.
Aku benar-benar berhenti. Aku diam di gudang itu, dengan hujan di atas seng dan bunyi genset yang tidak menyala dan bau solar, dan aku menunggu.
Aku menunggu selama mungkin lima detik.
Lima detik itu terasa seperti satu menit dan aku hampir tidak sanggup, dan setengah dari diriku menjerit supaya aku bicara saja, dan aku tidak bicara.
Dia tidak memakai lima detik itu.
Dan itu — bukan yang terjadi sesudahnya, tapi ini — yang membuatku tahu bahwa dia sudah memutuskan sebelum aku masuk.
“Oke,” kataku pelan. “Ya udah.”
Lalu aku mengangkat wajahku.
“Aku suka kamu, Al.”
Aku tidak menambahkan apa-apa.
Aku sudah menyiapkan tiga paragraf tentang tiga tahun, tentang kipas, tentang sepeda, tentang setengah detik. Aku sudah menyiapkan permintaan maaf yang panjang dan bagus dan yang aku latih sampai hafal.
Aku tidak mengucapkan satu pun.
Karena berdiri di gudang itu, aku sadar bahwa semua kalimat itu isinya tentang aku. Tentang penyesalanku, tentang kebodohanku, tentang bagaimana perasaanku.
Dan orang itu sudah menghabiskan lima tahun mendengarkan kalimat-kalimat tentang aku.
Jadi aku cuma bilang itu, empat kata, dan berhenti.
Dia diam lama sekali.
Cukup lama sampai aku bisa mendengar hujan berubah — dari deras jadi sedang — dan bisa mendengar seseorang di posko tertawa jauh sekali.
“Zhafira—“
“Zara.”
“...Apa?”
“Namaku Zara,” kataku. “Kamu manggil aku Zara selama dua tahun. Terus tiba-tiba enggak.”
Rahangnya bergerak sekali.
“Aku tahu itu bukan sopan,” lanjutku. “Aku udah mikirin ini berminggu-minggu. Itu jarak, kan.”
Dia tidak membantah.
Dia tidak membantah dan itu jawaban yang lebih jelas daripada apa pun yang bisa dia ucapkan.
Dan karena dia tidak membantah, aku melakukan hal berikutnya.
Aku melangkah maju dan mengambil tangannya.
Bukan menyentuh. Mengambil — dengan dua tangan, telapak ke telapak, jari-jariku masuk ke sela jarinya, dan aku menggenggamnya.
Tangannya besar dan kasar di tempat-tempat yang aku sudah hafal dari melihat, dan hangat, dan ada plester di buku jari kelingking yang aku bahkan tidak tahu kapan dia dapat.
Dia tidak menariknya.
Selama sekitar tiga detik, dia tidak menariknya.
Dan aku merasakan — aku bersumpah aku merasakan — jarinya bergerak. Satu kali. Setengah gerakan menutup, di jari telunjukku.
Setengah.
Lalu dia melepaskannya.
Bukan dihentakkan. Kalau dia menghentakkannya, mungkin lebih mudah.
Dia melepasnya pelan-pelan, satu jari dulu, seperti orang melepas kabel dari terminal, dengan hati-hati, sampai tanganku kosong dan turun ke samping badanku sendiri.
Lalu dia mundur setengah langkah.
“Maaf,” katanya.
Aku menunggu.
“Aku nggak bisa.”
Aku sudah tahu kalimatnya. Oliv sudah memberitahuku persis kalimatnya, kata per kata, dua minggu sebelumnya, sambil duduk di anak tangga teras.
Aku tetap tidak siap.
Tidak ada yang siap. Kamu bisa tahu persis apa yang akan diucapkan orang dan tetap merasa lantainya bergerak waktu dia mengucapkannya.
Aku berdiri di gudang itu dan tenggorokanku berbunyi sekali, dan aku menekannya turun dengan kekuatan yang aku tidak tahu aku punya.
Aku tidak akan menangis di depan dia.
Bukan karena gengsi.
Karena kalau aku menangis, dia akan menghibur. Dia pasti akan menghibur. Orang itu tidak sanggup melihat sesuatu rusak tanpa membetulkannya, dan aku sudah cukup lama jadi barang yang dia betulkan.
“Oke,” kataku.
Suaraku hampir normal. Hampir.
“Zhafira—“
“Bentar.”
Dia berhenti.
Aku menghitung tiga kali napas.
Lalu aku mengangkat wajahku dan menatapnya, dan aku mengucapkan kalimat yang sudah aku siapkan sejak dua minggu lalu untuk momen ini — satu-satunya kalimat dari seluruh persiapanku yang akhirnya aku pakai.
“Kamu bilang ‘nggak bisa’,” kataku. “Bukan ‘nggak mau’.”
Dia tidak bergerak.
“Empat orang, Al. Empat orang kamu tolak pakai kalimat yang sama persis. Dan nggak sekali pun kamu bilang ‘nggak mau’.”
Sesuatu di wajahnya berubah. Bukan banyak. Cukup.
“Siapa yang cerita—“
“Nggak penting.”
“Zhafira.”
“Aku nggak minta jawaban sekarang,” kataku. “Aku cuma mau kamu tahu bahwa aku denger bedanya.”
Dan aku membuka pintu gudang dan keluar ke hujan.
Aku berjalan ke samping rumah, ke tempat yang tidak kelihatan dari mana pun, dan aku berdiri di bawah talang selama sepuluh menit.
Aku menangis. Tentu saja aku menangis. Aku bukan orang suci.
Tapi aku ingin mencatat sesuatu tentang sepuluh menit itu, karena sepuluh menit itu yang menentukan sisa hidupku.
Aku menangis selama mungkin empat menit.
Enam menit sisanya aku berpikir.
Karena ada yang tidak beres, dan aku merasakannya sejak di dalam gudang, dan baru di bawah talang itu aku bisa menamainya.
Jarinya bergerak.
Setengah gerakan. Menutup. Di jari telunjukku.
Orang yang tidak mau tidak melakukan itu.
Orang yang tidak mau menarik tangannya dalam setengah detik dan selesai. Orang itu memegang tanganku selama tiga detik penuh, hampir membalasnya, lalu melepaskannya satu jari demi satu jari seperti orang yang sedang mematikan sesuatu dengan urutan yang benar supaya tidak meledak.
Itu bukan penolakan.
Itu prosedur.
Aku berdiri di bawah talang dengan rambut basah dan hidung tersumbat dan mata yang jelek, dan aku tertawa satu kali, pendek, dan bunyinya mengerikan.
Karena aku baru sadar aku salah selama ini.
Aku pikir ini soal minta maaf.
Ini bukan soal minta maaf.
Orang itu sudah lima tahun tidak percaya bahwa ada orang yang datang untuk dia, bukan untuk yang bisa dia perbaiki.
Dan kamu tidak bisa membetulkan itu dengan permintaan maaf.
Kamu membetulkannya dengan tidak pergi.
Aku masuk lewat pintu belakang, lewat dapur, supaya tidak ada yang lihat.
Ipeh ada di dapur.
Dia melihat wajahku, dan dia tidak bertanya apa-apa, dan dia menuangkan air panas ke gelas dan menyodorkannya.
“Ditolak?” katanya akhirnya.
“Iya.”
“Kamu nyerah?”
Aku memegang gelas itu dengan dua tangan.
“Enggak,” kataku.
Ipeh menatapku sebentar.
Lalu dia bilang, “Ya udah. Berarti aku harus mikirin strategi.”
“Kamu nggak usah ikut campur.”
“Zara.” Dia menyandarkan pinggulnya ke meja dapur. “Aku udah ikut campur dari bab satu.”
- 1 Kipas Angin Kelas Sebelah
- 2 Obeng Plus, Gagang Kuning
- 3 Ruangan yang Bau Debu
- 4 Dua Detik
- 5 Satu Kata
- 6 Jaket Bengkel
- 7 Lima Sentimeter
- 8 Kotak Musik
- 9 Rantai
- 10 Sepuluh Sentimeter
- 11 Setengah Detik
- 12 Yang Bisa Dibenerin
- 13 Kelompok Empat
- 14 Ditaruh di Meja
- 15 Bahasa yang Aku Nggak Ngerti
- 16 Tudung
- 17 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 18 Tiga Tahun
- 19 Punggung Tangan
- 20 Air
- 21 Dua Detik Lagi
- 22 Api Unggun
- 23 Yang Aku Tahu Sejak Awal
- 24 Hitungan Mundur
- 25 Alasan Nomor Enam
- 26 Obeng Baru
- 27 Nggak Bisa reading
- 28 Sandal
- 29 Salah Orang
- 30 Duduk
- 31 Zara
- 32 Pagi Pertama
- 33 Asisten
- 34 Payung yang Sama
- 35 Yang Harus Diselesaikan
- 36 Api Unggun Kedua
- 37 Datar
- 38 Empat Puluh Delapan Rumah