Chapter Seventeen
Tiga Puluh Kilometer per Jam
POV: Zara
Aku bangun jam lima pagi dan Ipeh sudah duduk di kasurku.
“Peh.”
“Pakai yang biru.”
“Ini jam lima.”
“Yang biru bagus.”
“Kita ke kecamatan, bukan ke kondangan.”
“Aku nggak bilang kondangan. Aku bilang bagus.”
Aku melempar bantal ke dia. Dia menangkapnya dan menaruhnya kembali dengan sopan, yang jauh lebih menyebalkan daripada kalau dia melemparnya balik.
“Peh.”
“Hm.”
“Motornya beneran cuma sisa satu?”
Ipeh berdiri, membuka pintu, dan berkata, “Aku juga heran,” dengan nada yang membuat aku ingin memanggil polisi.
Berangkat jam setengah tujuh.
Kecamatan Sumberarum jaraknya tiga belas kilometer dari dusun. Dua kilometer pertama jalan batu, sisanya aspal yang baru diperbaiki tahun lalu dan mulus seperti meja.
Alvaro sudah di halaman waktu aku keluar, sedang mengecek tekanan ban belakang dengan cara jongkok dan menekannya pakai ibu jari.
“Pagi,” kataku.
“Pagi.” Dia berdiri. “Helmnya di jok.”
“Oke.”
“Yang biru.”
“Ada dua?”
“Yang satu retak. Jangan yang itu.”
“Kenapa nggak dibuang?”
“Belum sempat.”
Aku memakai helm biru itu. Ada bau bensin tipis dan bau plastik dan sesuatu yang lain yang aku putuskan untuk tidak identifikasi.
Dia menstarter motornya. Motor bebek pinjaman dari Pak Karso, tua, tapi bunyinya halus dengan cara yang aku curigai bukan bawaan lahir.
“Kamu servis motornya Pak Karso?”
“Kemarin.”
“Disuruh?”
“Enggak.”
“Terus?”
“Bunyinya nggak enak.”
Aku naik.
Dua kilometer pertama tidak ada masalah, karena jalan batu itu bikin motor bergoyang terus dan tidak ada waktu untuk memikirkan apa pun kecuali bertahan.
Aku pegang besi di belakang jok. Itu posisi yang benar dan sopan dan aman.
Lalu kami masuk aspal, dan dia menambah gas, dan di tikungan pertama badanku terlempar ke kanan sekitar sepuluh senti.
“Pegangan yang bener.”
“Aku pegangan.”
“Besi itu bukan pegangan.”
“Ya terus apa?”
“Jaket.”
Aku memegang jaketnya, di bagian bawah, di dua titik. Rasanya seperti orang memegang tirai.
“Zhafira.”
“Apa.”
“Kalau aku ngerem, kamu nabrak punggungku.”
“Ya udah nggak apa-apa.”
“Nggak apa-apa buat aku.”
Aku diam.
Ada satu detik yang lucu di situ — satu detik di mana aku memutuskan sesuatu tanpa berpikir sama sekali.
Aku memindahkan tanganku ke pinggangnya.
Bukan memeluk. Cuma memegang, dua tangan, di dua sisi, dengan jarak yang menurutku sangat profesional.
Dia tidak bilang apa-apa.
Motornya, yang tadi jalan sekitar lima puluh, turun jadi empat puluh dalam waktu sekitar sepuluh detik.
Lalu turun lagi jadi tiga puluh lima.
Lalu tiga puluh.
Aku melihat ke spidometer dari balik bahunya.
“Al.”
“Hm.”
“Kenapa pelan banget?”
“Jalannya rusak.”
Aku melihat ke jalan.
Jalan itu adalah aspal terbaik yang pernah aku lihat di kabupaten ini. Mulus, hitam, dengan marka putih yang masih terang. Ada bapak-bapak yang menyalip kami naik motor sambil membawa dua karung rumput.
“Jalannya rusak,” ulangku.
“Iya.”
“Al, kita disalip sama rumput.”
“Dia buru-buru.”
“KITA JUGA BURU-BURU. KANTORNYA TUTUP JAM SEBELAS.”
“Sekarang jam tujuh.”
“Ya tapi—“
“Sampai jam delapan.”
“Kalau segini terus sampai jam sembilan!”
“Nggak.”
Dan dia tetap tiga puluh.
Aku menyerah dan bersandar ke belakang sedikit dan membiarkan tiga belas kilometer itu jadi urusan dia.
Aku mau mencatat sesuatu, karena aku Komunikasi dan mencatat adalah profesiku.
Punggung orang itu tidak informatif. Tidak ada ekspresi di punggung. Tidak ada mata, tidak ada mulut, tidak ada alis.
Tapi kalau kamu duduk tiga puluh senti di belakang punggung seseorang selama tiga puluh menit dengan tangan di pinggangnya, ternyata ada banyak sekali data.
Data pertama: dia tidak pernah menggeser badannya sekali pun. Tidak sekali pun. Selama tiga puluh menit dia duduk dalam posisi yang sama persis, seperti orang yang sedang menahan sesuatu supaya tidak tumpah.
Data kedua: setiap kali ada polisi tidur, dia mengurangi gas jauh sebelum polisi tidurnya. Bukan mengerem mendadak. Melambat pelan-pelan, dari dua puluh meter sebelumnya, supaya tidak ada hentakan sama sekali.
Ada lima polisi tidur. Lima-limanya begitu.
Data ketiga, dan ini yang bikin aku menatap punggung itu agak lama.
Waktu ada truk pasir menyalip dari belakang di kilometer kesembilan — dekat, dan berisik, dan menyemburkan angin — dia memindahkan motor ke bahu jalan sebelum truk itu sampai.
Dia melihatnya dari spion. Dia melihat spion terus-terusan sepanjang perjalanan. Aku baru sadar itu di kilometer kesembilan.
Aku memikirkan seorang laki-laki yang mengendarai motor tiga puluh kilometer per jam sambil terus melihat spion selama tiga puluh menit.
Dan aku memikirkan bahwa aku pernah kenal anak SMA yang bergeser lima sentimeter menjauh waktu aku hampir jatuh tertidur di bahunya — yang mana tidak aku ketahui waktu itu, dan tidak akan pernah aku ketahui, dan yang aku sebutkan di sini cuma karena sekarang aku sudah tahu.
Sekarang.
Waktu itu, di kilometer kesembilan, aku cuma memegang pinggang orang dan berpikir bahwa dia terlalu hati-hati untuk ukuran orang yang katanya cuma teman satu kelompok.
Kami sampai jam delapan lewat lima.
“Jam delapan lewat lima,” kataku, sambil melepas helm.
“Iya.”
“Kalau lima puluh, kita sampai jam setengah delapan.”
“Iya.”
“Terus kenapa—“
“Kantornya baru buka jam delapan.”
Aku berhenti.
“...Oh.”
“Kalau sampai jam setengah delapan, kita nunggu tiga puluh menit di parkiran.”
“Kenapa nggak bilang?”
“Kamu nggak nanya itu. Kamu nanya kenapa pelan.”
Aku menatapnya dari balik helm yang sudah aku pegang di tangan.
“Kamu tuh,” kataku, “ngeselin banget.”
“Iya.”
Dan dia mengunci motornya dan jalan duluan ke kantor kecamatan.
Urusannya selesai jam sepuluh. Tanda tangan camat, tiga stempel, dan satu bapak-bapak bagian umum yang bercerita panjang lebar tentang proyek KKN tahun lalu yang gagal.
Kami mampir beli oleh-oleh untuk posko karena Ipeh mengirim daftar sepanjang dua puluh item yang aku potong jadi enam.
Pulangnya, kami berhenti di warung pinggir jalan karena Alvaro tiba-tiba menepi.
“Kenapa?”
“Kamu belum sarapan.”
Aku membuka mulut.
Aku tidak menyebut sarapan sekali pun sejak jam lima pagi. Aku tidak menyentuh perutku. Aku tidak mengeluh. Aku bahkan tidak memikirkannya sampai detik dia menyebutnya, dan begitu dia menyebutnya, perutku langsung bunyi seolah menunggu izin.
“Kok tahu?”
“Tadi di posko piringmu masih bersih.”
“Kamu merhatiin piring orang?”
“Aku yang cuci piring hari ini.”
Aku berdiri di depan warung itu dan tidak tahu harus bilang apa, dan akhirnya aku cuma bilang, “Ya udah, beli.”
Kami makan soto di bangku kayu menghadap sawah, dan dia menghabiskan punyanya dalam empat menit, dan aku menghabiskan punyaku dalam lima belas karena aku terus bicara.
Pulangnya, dia jalan lima puluh.
Aku menyadarinya di kilometer keempat.
Aku tidak bertanya kenapa.
- 1 Kipas Angin Kelas Sebelah
- 2 Obeng Plus, Gagang Kuning
- 3 Ruangan yang Bau Debu
- 4 Dua Detik
- 5 Satu Kata
- 6 Jaket Bengkel
- 7 Lima Sentimeter
- 8 Kotak Musik
- 9 Rantai
- 10 Sepuluh Sentimeter
- 11 Setengah Detik
- 12 Yang Bisa Dibenerin
- 13 Kelompok Empat
- 14 Ditaruh di Meja
- 15 Bahasa yang Aku Nggak Ngerti
- 16 Tudung
- 17 Tiga Puluh Kilometer per Jam reading
- 18 Tiga Tahun
- 19 Punggung Tangan
- 20 Air
- 21 Dua Detik Lagi
- 22 Api Unggun
- 23 Yang Aku Tahu Sejak Awal
- 24 Hitungan Mundur
- 25 Alasan Nomor Enam
- 26 Obeng Baru
- 27 Nggak Bisa
- 28 Sandal
- 29 Salah Orang
- 30 Duduk
- 31 Zara
- 32 Pagi Pertama
- 33 Asisten
- 34 Payung yang Sama
- 35 Yang Harus Diselesaikan
- 36 Api Unggun Kedua
- 37 Datar
- 38 Empat Puluh Delapan Rumah