← Setengah Detik

Chapter Twenty One

Dua Detik Lagi

POV: Zara


Pendataan dusun seberang memakan waktu satu hari penuh dan itu perhitungan yang terlalu optimis.

Berangkat jam enam pagi naik angkutan desa — mobil bak yang ditutup terpal dan diberi dua bangku kayu memanjang di kiri dan kanan, yang di dusun ini disebut “colt” oleh semua orang tanpa peduli mereknya apa.

Dua puluh dua rumah. Aku dan Ipeh membagi dua. Alvaro ikut karena harus memetakan jalur cabang ke dusun seberang, dan Reza ikut karena Reza selalu ikut ke mana pun ada kemungkinan makan.

Jam sebelas hujan.

Jam satu masih hujan.

Jam tiga kami masih di rumah kesembilan belas, dan halaman rumah itu sudah berubah jadi lumpur setinggi mata kaki, dan sandalku sudah lama menyerah sebagai konsep.

“Zar.” Ipeh muncul dari pintu belakang dengan rambut lepek. “Punyaku sisa satu.”

“Punyaku tiga.”

“Aku bantuin?”

“Kamu nulisnya jelek.”

“YA MAAF.”

Selesai jam setengah lima.


Coltnya berangkat jam lima kurang, dan seluruh perjalanan pulang itu satu jam lima belas menit karena jalan bawah longsor kecil dan harus memutar.

Di dalam bak, delapan orang. Kami berempat, plus empat warga yang menumpang pulang dari pasar.

Aku duduk di bangku kanan, dekat ujung depan.

Alvaro duduk di sebelahku.

Bukan karena dia memilih. Aku perlu jujur soal itu, karena kalau tidak, seluruh bab ini jadi cerita yang berbeda. Yang terjadi adalah: empat warga naik duluan dan langsung mengisi bangku kiri, Ipeh dan Reza naik berikutnya dan duduk di bangku kanan ujung belakang, dan tempat yang tersisa cuma satu, di sebelahku.

Dia berdiri di pintu bak selama satu detik.

Lalu naik dan duduk.

Ada jarak sekitar sepuluh sentimeter antara lengannya dan lenganku, dan aku tahu itu sepuluh karena aku melihatnya, dan aku melihatnya karena saat itu aku memang sudah jadi orang yang memperhatikan hal-hal seperti itu.


Terpalnya berbunyi terus. Hujan di atas terpal itu bunyinya seperti seseorang menumpahkan beras dari ketinggian, tanpa henti, selama satu jam.

Nggak ada yang bicara. Bapak-bapak di seberang tidur dalam posisi duduk dengan mulut sedikit terbuka, ahli, seperti orang yang sudah puluhan tahun tidur di kendaraan.

Reza dan Ipeh berdebat pelan soal sesuatu di ujung belakang, lalu berhenti, lalu diam juga.

Aku bertahan sampai kilometer kedelapan.

Aku ingat memikirkan bahwa aku tidak boleh tidur. Aku ingat memikirkan itu dengan sangat serius, dua atau tiga kali, dengan mata yang sudah setengah tertutup.

Lalu bunyi hujan itu jadi rata, dan goyangan mobilnya jadi teratur, dan aku hilang.


Aku bangun karena mobilnya melewati lubang.

Bangun yang tidak penuh — bangun yang cuma cukup untuk sadar di mana aku berada, sebelum tubuhnya memutuskan apakah mau kembali tidur atau tidak.

Dan yang pertama aku sadari adalah bahwa kepalaku tidak menempel di terpal.

Kepalaku menempel di bahu orang.

Pipiku di lengan atasnya. Ada kain jaket di antara kami. Aku bisa merasakan panas badannya lewat kain itu, dan aku bisa mencium bau bengkel yang sudah tiga tahun tidak aku cium dari sumber aslinya.

Aku tidak bergerak.

Aku ingin mencatat, dengan jujur, bahwa aku sadar penuh saat itu. Aku tidak setengah tidur. Aku bangun, aku tahu di mana kepalaku, dan aku memutuskan untuk tidak mengangkatnya.

Ada seratus alasan yang aku susun dalam tiga detik. Aku capek. Bangun sekarang malah bikin canggung. Nanti dia mikir aku sengaja bangun karena risih.

Semuanya bohong dan aku tahu semuanya bohong.

Aku tetap diam.

Dan sesudah itu aku mulai menunggu.

Karena dia pasti akan bergeser.

Orang selalu bergeser. Itu hal yang wajar. Orang menggeser bahunya, atau berdehem, atau memindahkan tasnya, atau melakukan satu dari sepuluh gerakan sopan yang artinya bangun, tolong.

Aku menghitung.

Satu.

Dua.

Tiga.

Coltnya melewati lubang lagi. Kepalaku terangkat dua senti dan turun lagi ke tempat yang sama.

Dia tidak bergeser.

Empat. Lima.

Aku menyadari sesuatu di hitungan keenam, dan menyadarinya membuat jantungku bergerak ke tempat yang salah.

Lengannya kaku.

Bukan santai. Bukan orang yang sedang membiarkan sesuatu terjadi tanpa peduli. Otot lengannya tegang di bawah pipiku, dan bahunya tidak turun-naik dengan ritme yang benar, dan orang yang bernapas seperti itu adalah orang yang sedang mengatur napasnya.

Dia bangun.

Dia bangun, dia tahu, dan dia sedang tidak bergerak dengan usaha.

Aku memejamkan mata rapat-rapat dan tidak mengangkat kepalaku selama tiga puluh menit sisa perjalanan itu.


Coltnya berhenti di halaman balai jam enam kurang.

Aku “bangun” dengan pura-pura kaget yang menurutku pementasan paling buruk sepanjang sejarah, dan dia berkata, “Udah sampai,” dengan suara biasa, dan turun duluan.

Aku turun berikutnya.

Turun dari bak colt itu tinggi, dan tanahnya lumpur, dan aku melompat dengan perhitungan yang salah dan mendarat dengan cara yang membuat lumpur menyembur ke atas.

“Aduh.”

“Kena?”

“Kena semua.”

Lumpurnya di betis, di rok, di lengan, dan — aku tahu dari rasanya — di pipi kanan.

Ipeh sudah lari duluan ke posko karena hujan belum berhenti. Reza mengangkut tas-tas. Bapak-bapak yang menumpang membubarkan diri sambil mengucapkan terima kasih.

Tinggal kami berdua di samping colt.

“Pipimu,” katanya.

“Iya, aku tahu.”

Aku mengangkat lengan bajuku untuk mengelapnya, dan lengan bajuku juga penuh lumpur, dan aku berhenti di tengah gerakan dengan tangan menggantung di udara seperti orang bodoh.

Dan dia mengangkat tangannya.


Ibu jarinya di tulang pipiku.

Satu gerakan, dari bawah ke samping, menghapus lumpur itu. Lalu berhenti. Lalu satu gerakan lagi, lebih pendek, karena masih ada sisa.

Kulit ke kulit. Tidak ada tisu, tidak ada kain, tidak ada apa pun di antaranya.

Tangannya hangat dan kasar di satu tempat, di bantalan bawah ibu jari, tempat orang yang seumur hidup memegang kunci pas jadi kasar.

Aku tidak bergerak.

Bukan karena aku memutuskan tidak bergerak. Aku benar-benar tidak bisa, seolah ada bagian dari tubuhku yang lupa cara kerjanya.

Dia menarik tangannya.

Dan aku masih berdiri di posisi yang sama.

Dagu sedikit terangkat. Tangan menggantung. Mata terbuka.

Dua detik lebih lama dari yang wajar.

Aku tahu itu dua detik karena aku menghitungnya, dan aku menghitungnya karena aku tidak bisa menghentikannya.

“...Za—“

“Udah?” kataku.

Suaraku keluar terlalu cepat dan terlalu tinggi.

“Udah,” katanya.

“Ya udah.”

Dan aku jalan duluan ke posko, cepat, tanpa menoleh, dengan hujan yang sudah tidak aku pedulikan sama sekali.


Aku mandi lama sekali malam itu.

Dan sepanjang itu aku terus memikirkan satu hal, dan bukan hal yang kalian kira.

Bukan ibu jarinya.

Yang aku pikirkan adalah gerakan itu.

Karena aku pernah melakukan gerakan yang persis sama. Dulu. Di gudang bau solar, dengan tisu dari saku rok, pada seorang anak SMA yang berdiri diam dan tidak mundur dan tidak menolak.

Aku ingat aku menganggapnya lucu waktu itu.

Aku ingat aku bilang, kamu ini kerja apa gosok muka pakai oli.

Aku ingat dia tidak menjawab.

Aku berdiri di kamar mandi kayu di ketinggian tujuh ratus meter dengan air dingin yang sudah habis, dan aku ingat bahwa dia tidak menjawab, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku aku bertanya-tanya kenapa.