← Setengah Detik

Chapter Four

Dua Detik

POV: Alvaro


Genset sekolah dinyalakan dua kali setahun: waktu ujian nasional dan waktu classmeeting.

Tahun ini genset itu tidak menyala di dua-duanya, dan itu jadi urusanku karena sekolah punya kebiasaan menyerahkan semua benda yang berbunyi ke seksi perlengkapan.

“Kalau nggak bisa, bilang,” kata Pak Wibowo, pembina OSIS, sambil menyerahkan kunci gudang belakang. “Nanti panggil orang.”

“Iya, Pak.”

“Beneran, Alvaro. Jangan sok bisa.”

“Iya, Pak.”

Aku sudah tahu genset itu bisa. Aku sudah dengar bunyinya waktu dicoba starter minggu lalu — bunyi yang cuma berarti satu hal, yaitu bahan bakar tidak sampai ke tempatnya. Tapi kalau aku bilang begitu di depan Pak Wibowo, Pak Wibowo akan bertanya kenapa aku tahu, dan aku harus menjelaskan bahwa bengkel Bapak menerima servis genset sejak aku SD, dan itu percakapan lima menit yang tidak perlu.

Jadi aku bilang iya, Pak, dua kali, dan itu selesai dalam sepuluh detik.


Gudang belakang panas dan gelap dan bau solar.

Aku menarik gensetnya keluar sedikit supaya dapat cahaya, membuka penutup samping, dan menemukan apa yang aku duga: filter bahan bakar mampet, dan selang dari tangki sudah keras di satu ruas sampai retak halus.

Kerjaannya tidak susah. Kerjaannya cuma kotor.

Aku sudah setengah jalan waktu ada suara dari pintu gudang.

“Astaga.”

Aku tidak menoleh. Aku sudah hafal suara itu sekarang, dan menoleh sambil memegang selang bahan bakar adalah cara yang bagus untuk menumpahkan solar ke lantai.

“Al, ini gudang atau tempat pembuangan?”

“Gudang.”

“Ini bau banget.”

“Iya.”

“Kamu di sini dari tadi?”

“Dari jam satu.”

“INI JAM EMPAT.”

“Iya.”

Aku dengar dia masuk, langkahnya hati-hati, menghindari genangan yang bahkan tidak ada. Lalu kursi plastik diseret. Lalu diam.

Kalau dia mau melihat orang membongkar genset selama satu jam, itu urusannya.


Yang aku suka dari kerjaan seperti ini adalah kerjaan seperti ini tidak butuh dipikirkan.

Tanganku tahu apa yang harus dilakukan, jadi kepalaku bebas. Biasanya kepalaku dipakai untuk hal-hal yang wajar. Daftar barang inventaris. Kabel yang perlu diganti sebelum acara. Bengkel Bapak yang Sabtu ini pasti ramai karena awal bulan.

Hari itu kepalaku dipakai untuk menghitung.

Aku menghitung bahwa ini hari kesembilan belas sejak kipas itu diperbaiki. Aku menghitung bahwa dari sembilan belas hari itu, dia datang ke ruang perlengkapan atau ke mana pun aku sedang bekerja sebanyak tiga belas kali. Aku menghitung bahwa lima dari tiga belas kali itu dia tidak punya urusan apa pun.

Lalu aku berhenti menghitung, karena orang yang menghitung hal seperti itu biasanya sedang dalam masalah.

“Al.”

“Hm.”

“Itu apa sih yang kamu pegang?”

“Selang.”

“Selang apa?”

“Bahan bakar.”

“Kenapa dipegang?”

“Retak.”

Dia menghela napas panjang sekali. “Kamu tahu nggak, ngobrol sama kamu itu kayak nge-chat orang yang paketannya tinggal seratus mega.”

Aku memasang selang yang baru dan mengencangkan klemnya.

“Retak di ruas yang dekat mesin,” kataku. “Kalau panas, dia melar dikit, jadi bahan bakarnya bocor pelan-pelan. Bocornya nggak kelihatan karena langsung nguap. Jadi gensetnya nggak mati mendadak, cuma makin lama makin nggak mau nyala.”

Aku menoleh.

Dia sedang menatapku dengan mulut sedikit terbuka.

“Kenapa.”

“Kamu bisa ngomong panjang.”

“Kamu nanya.”

“Aku nanya dari tadi!”

“Kamu nanya ‘itu apa’. Aku jawab.”

“Ya Tuhan.”

Aku kembali ke genset. Dari sudut mata, aku lihat dia bersandar ke sandaran kursi dengan gaya orang yang baru saja diberi hadiah yang tidak dia minta.


Jam lima kurang, gensetnya hidup.

Bunyinya besar sekali di ruangan sesempit itu. Zara sampai menutup telinga dan berteriak sesuatu yang tidak kedengaran, dan aku membalas dengan sesuatu yang juga tidak kedengaran, dan kami berdiri di gudang bau solar sambil saling meneriakkan kalimat yang tidak sampai ke siapa-siapa selama sekitar sepuluh detik sebelum aku mematikannya lagi.

Sunyinya terasa aneh sesudah itu.

“Hidup,” katanya.

“Hidup.”

“Berarti classmeeting jadi?”

“Jadi.”

“Berarti besok ada listrik di lapangan?”

“Ada.”

“Berarti aku bisa nge-charge HP di lapangan?”

Aku menatapnya.

“Bercanda,” katanya. Lalu, lebih pelan: “Setengah.”

Aku membereskan kunci-kunci ke dalam tas. Dia berdiri, dan aku pikir dia mau pulang, tapi dia tidak pulang.

Dia berdiri di depanku dan mengeluarkan tisu dari saku roknya.

“Diem.”

“Kenapa.”

“Diem dulu.”

Dan dia mengangkat tangannya ke pipiku.


Aku ingin mencatat, untuk keperluanku sendiri, bahwa aku tidak melakukan apa-apa.

Aku tidak mundur. Aku tidak menoleh. Aku tidak bilang tidak usah. Empat hal itu semuanya masuk akal dan semuanya ada dalam jangkauanku dan aku tidak melakukan satu pun.

Tisu itu tipis. Yang aku rasakan bukan tisunya. Yang aku rasakan adalah dua ruas jari di balik tisu itu, menekan pelan di tulang pipi, bergerak dua kali ke bawah.

Dia mengerutkan kening sedikit, konsentrasi, seperti orang menghapus tulisan pensil.

“Banyak banget,” katanya. “Kamu ini kerja apa gosok muka pakai oli?”

Aku tidak menjawab.

“Nih, satu lagi. Deket hidung.”

Aku tidak menjawab.

Dia menghapus yang satu lagi, lalu menjauhkan tangannya, lalu melihat wajahku untuk mengecek hasilnya — dan berhenti.

Karena aku masih berdiri di posisi yang sama persis. Dagu sedikit terangkat. Tangan di samping badan. Tidak bergerak.

Selama dua detik lebih lama dari yang wajar.

Aku tahu itu dua detik karena aku menghitungnya, dan aku menghitungnya karena aku tidak bisa menghentikannya.

“...Al?”

Aku mengambil tas perkakas dari lantai.

“Udah?” kataku.

“Udah,” katanya, agak pelan.

“Ya udah.”

Aku jalan duluan ke pintu gudang, dan aku sengaja jalan agak cepat, dan aku tidak menoleh sampai di parkiran.


Malamnya aku duduk di bengkel sampai lewat sepuluh, memperbaiki karburator motor Pak RT yang sebenarnya bisa dikerjakan besok.

Bapak lewat sekali, melihat, dan tidak bertanya apa-apa.

Aku membuat satu peraturan malam itu, dan aku membuatnya dengan serius, seperti orang menempel tulisan di dinding bengkel:

Jangan hitung.

Jangan hitung berapa kali dia datang. Jangan hitung berapa detik. Jangan hitung apa pun, karena orang yang menghitung itu orang yang sedang menunggu angkanya jadi sesuatu.

Aku memasang kembali karburator itu, mengelap tangan, dan mematikan lampu bengkel.

Besoknya, di lapangan classmeeting, dia datang membawa dua gelas es teh dan memberikan satu ke aku tanpa bilang apa-apa.

Aku menerimanya.

Dan di dalam kepalaku, tanpa aku minta sama sekali, ada suara yang berkata: empat belas.