Chapter Fourteen
Ditaruh di Meja
POV: Alvaro
Dusun Ngadirejo ada di ketinggian tujuh ratus meter, ujung jalan aspal berhenti dua kilometer sebelum dusunnya, dan sisanya batu.
Kami sampai jam empat sore dengan dua mobil bak dan satu pikap sewaan yang kopling-nya sudah minta diganti sejak tanjakan ketiga. Aku dengar bunyinya sepanjang jalan dan aku tidak bilang apa-apa karena itu bukan mobilku dan karena kalau aku bilang, supirnya akan tersinggung.
Poskonya rumah Bu Sarni. Rumah kayu, halaman luas, dapur di belakang, dan satu ruang tengah yang mulai hari itu berfungsi sebagai kantor, gudang, ruang rapat, dan tempat sepuluh orang berdebat soal jadwal piket.
“Wah, Mas Insinyur,” kata bapak-bapak yang menyambut kami di halaman, langsung ke aku, sebelum aku sempat memperkenalkan diri.
“Alvaro, Pak.”
“Iya, Mas Insinyur.”
“Saya bukan insinyur.”
“Belum,” katanya, dan menepuk bahuku dengan kekuatan yang tidak sesuai dengan tinggi badannya. “Saya Karso. Kepala dusun.”
Sampai enam bulan berikutnya, tidak ada satu pun warga yang memanggilku dengan nama.
Aturan pertama yang aku buat untuk diriku sendiri di dusun itu adalah aturan yang sudah aku jalankan selama tiga tahun, jadi sebenarnya bukan aturan baru.
Aturannya sederhana: jangan mulai apa pun yang tidak bisa diselesaikan.
Itu berlaku untuk kabel, untuk proyek, dan untuk hal lain.
Aturan kedua aku buat di mobil bak, di tanjakan ketiga, waktu aku duduk di bak belakang dan melihat kepala orang-orang bergoyang mengikuti jalan batu.
Aturan kedua: jangan menyentuh.
Bukan karena apa-apa. Bukan karena aku takut. Karena aku tahu persis bagaimana ini bekerja pada diriku — satu kali kontak yang tidak sengaja, disimpan, diputar ulang, dan dalam dua minggu aku sudah menghitung lagi.
Aku tidak akan menghitung lagi.
Jadi kalau ada yang minta tolong ambilkan sesuatu, aku ambil, dan aku taruh di meja.
Bukan diserahkan. Ditaruh.
Aku melakukannya untuk semua orang, supaya tidak kelihatan.
Hari pertama isinya bongkar barang.
Sepuluh orang, dua puluh dus, satu ruang tengah. Reza mengangkat satu dus, mengeluh, lalu menghabiskan empat puluh menit berikutnya berkenalan dengan seluruh dusun.
“Fa,” katanya, sambil kembali dari suatu tempat dengan segelas teh yang bukan miliknya. “Aku udah kenal tujuh orang.”
“Bagus.”
“Ada yang punya sapi.”
“Bagus.”
“Mau lihat sapinya?”
“Enggak.”
Oliv lewat sambil membawa papan jalan dan tanpa berhenti berkata, “Reza, dus yang di teras belum masuk semua.”
“Siap, Bu Koordinator.”
“Sekarang.”
“Siap.”
Dia tidak bergerak selama dua menit lagi.
Aku sedang memasang lampu tambahan di teras waktu suara itu datang dari belakang.
“Al.”
Aku tidak menoleh dari tangga.
“Hm.”
“Kunci pas yang kecil ada?”
“Buat apa?”
“Engsel kopernya seret.”
“Itu bukan kunci pas. Itu obeng.”
“Ya udah, obeng.”
Aku turun dari tangga, membuka tas perkakas, mengambil obeng minus kecil, dan menaruhnya di meja teras.
Lalu aku naik lagi ke tangga.
Ada jeda beberapa detik.
Lalu aku dengar dia mengambil obeng itu dari meja, dan pergi.
Aku memasang sekrup berikutnya.
Ini bagian yang tidak susah, sebenarnya. Yang susah bukan menahan diri. Yang susah adalah melakukannya cukup wajar sehingga tidak ada yang bertanya.
Yang bertanya, tentu saja, adalah orang yang tidak aku hitung.
“Mas Alvaro.”
Teman Zara. Yang rambutnya diikat tinggi dan yang matanya tidak pernah berhenti bergerak. Ipeh.
“Ya.”
“Aku boleh minta stapler?”
“Ada di dus dua.”
“Ambilin, dong.”
Aku turun, membuka dus dua, mengambil stapler, dan menaruhnya di meja teras.
Ipeh melihat stapler itu di meja.
Lalu melihat aku.
Lalu mengambilnya sendiri.
“Makasih,” katanya, dengan nada yang sudah lain.
Aku naik ke tangga lagi.
“Mas.”
“Ya.”
“Kenapa nggak dikasihin langsung?”
Aku memasang sekrup terakhir dan memastikan lampunya tidak goyang.
“Tangan saya kotor,” kataku.
Ipeh diam.
Yang bikin aku sedikit tidak nyaman adalah dia tidak membalas. Orang seperti dia biasanya membalas. Dia cuma berdiri di teras dengan stapler di tangan sambil melihat aku, dan sesudah beberapa detik dia bilang “oh, iya” dengan nada orang yang sedang menyimpan sesuatu di laci untuk dipakai nanti.
Lalu dia masuk.
Aku melihat tanganku.
Tanganku bersih.
Malam pertama, jam setengah delapan, lampunya mati.
Seluruh dusun. Bukan cuma posko — dari teras kelihatan rumah-rumah di lereng bawah ikut hilang satu per satu, seperti seseorang mematikannya berurutan.
Ruang tengah langsung ribut. Ada yang menjerit karena kaget. Ada yang menyalakan senter HP dan langsung menyorotkannya ke wajah orang lain. Reza berteriak TENANG SEMUA dengan suara yang justru bikin semua orang lebih panik.
Aku sudah berdiri sebelum jeritan pertama selesai.
Aku ingin mencatat ini dengan jujur, karena aku sedang mencoba jujur ke diriku sendiri belakangan ini: aku tidak berdiri karena aku bertanggung jawab. Aku berdiri karena aku selalu berdiri.
Ruangan gelap dengan sepuluh orang duduk berdekatan itu punya bentuk tertentu. Orang jadi lebih dekat. Suara jadi lebih pelan. Orang yang tadinya duduk satu meter jadi duduk dua puluh senti karena semua orang menggeser ke arah cahaya.
Aku tidak mau ada di ruangan itu waktu itu terjadi.
“Senter,” kataku.
“Ada.” Oliv sudah menyalakan senter beneran, bukan HP, karena Oliv memang begitu. “Aku ikut.”
“Nggak usah.”
“Ikut.”
Kami keluar ke halaman belakang. Sekring dusun ada di tiang depan balai, dua ratus meter, dan aku sudah tahu itu sejak siang karena aku memang mengecek hal seperti itu begitu sampai di tempat baru.
“Kamu udah tahu letaknya,” kata Oliv, sambil jalan.
“Iya.”
“Kamu baru sampai delapan jam.”
“Iya.”
Dia menyorot jalan setapak di depan kami dan tidak bertanya lagi, dan itu salah satu alasan kenapa aku bisa tahan kerja satu tim dengan dia selama tiga tahun.
Sekringnya memang jatuh. Beban dari pompa balai, yang dinyalakan bersamaan dengan tiga rumah yang menyambung tidak resmi.
Aku menaikkannya. Lampu dusun hidup lagi. Dari kejauhan terdengar suara ribut dari posko yang aku bisa tebak isinya sorakan.
Kami jalan balik pelan-pelan.
“Fa.”
“Hm.”
“Kamu kenal anak Komunikasi itu?”
Aku menghitung dua langkah.
“Satu SMA.”
“Deket?”
“Sekelompok organisasi.”
Oliv mengangguk sekali, dan tidak melanjutkan.
Itu juga salah satu alasannya. Dia tidak pernah menekan.
Yang aku lupa perhitungkan adalah bahwa orang yang tidak menekan biasanya orang yang sudah punya jawabannya.
Aku kembali ke posko dan semua orang sudah pindah ke teras karena di dalam panas.
Zara duduk di anak tangga teras paling atas. Ada ruang kosong di sebelahnya. Ipeh melirik ke ruang kosong itu, lalu ke aku, dengan gerakan kepala yang halus sekali dan sama sekali tidak halus.
Aku duduk di kursi plastik di seberang.
“Sekringnya kenapa?” tanya Zara.
“Kelebihan beban.”
“Bakal mati lagi nggak?”
“Iya.”
“Sering?”
“Tiap ada yang nyalain pompa bareng.”
“Berarti hampir tiap hari?”
“Iya.”
Dia menghela napas dan menyandarkan punggungnya ke tiang teras.
“Enam bulan,” katanya, ke udara.
“Enam bulan,” kataku.
Dan aku minum air dari gelasku, dan aku tidak melihat ke arahnya lagi selama sisa malam itu, dan aku tidur jam sebelas dan bangun jam empat dan tidak memikirkan apa pun yang tidak perlu.
Itu hari pertama.
Masih ada seratus tujuh puluh sembilan.
- 1 Kipas Angin Kelas Sebelah
- 2 Obeng Plus, Gagang Kuning
- 3 Ruangan yang Bau Debu
- 4 Dua Detik
- 5 Satu Kata
- 6 Jaket Bengkel
- 7 Lima Sentimeter
- 8 Kotak Musik
- 9 Rantai
- 10 Sepuluh Sentimeter
- 11 Setengah Detik
- 12 Yang Bisa Dibenerin
- 13 Kelompok Empat
- 14 Ditaruh di Meja reading
- 15 Bahasa yang Aku Nggak Ngerti
- 16 Tudung
- 17 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 18 Tiga Tahun
- 19 Punggung Tangan
- 20 Air
- 21 Dua Detik Lagi
- 22 Api Unggun
- 23 Yang Aku Tahu Sejak Awal
- 24 Hitungan Mundur
- 25 Alasan Nomor Enam
- 26 Obeng Baru
- 27 Nggak Bisa
- 28 Sandal
- 29 Salah Orang
- 30 Duduk
- 31 Zara
- 32 Pagi Pertama
- 33 Asisten
- 34 Payung yang Sama
- 35 Yang Harus Diselesaikan
- 36 Api Unggun Kedua
- 37 Datar
- 38 Empat Puluh Delapan Rumah