← Setengah Detik

Chapter Twenty Eight

Sandal

POV: Zara


Tiang terakhir berdiri hari Rabu.

Empat puluh tiang, dua ratus dua puluh hari kerja orang, tiga bulan sejak tiang pertama. Yang tersisa tinggal penarikan kabel dan penyambungan, tapi bagi warga, tiang berdiri itu artinya sudah jadi.

Jadi hari Sabtu ada syukuran.

Bukan syukuran kecil. Balai dibersihkan, terpal dipasang, ada panggung setinggi tiga puluh senti dari palet kayu, ada organ tunggal yang disewa dari kecamatan, dan ada tiga ratus lima puluh porsi nasi yang dimasak ibu-ibu sejak jam empat pagi.

“Wajib dateng semua,” kata Pak Karso. “Wajib. Yang nggak dateng, saya cari.”


Aku memutuskan sesuatu hari Kamis.

Aku ingin menjelaskan cara berpikirku waktu itu, karena kalau tidak, aku akan terdengar seperti orang yang sangat dangkal.

Aku sudah punya satu hal yang selalu bekerja. Seumur hidup.

Aku tidak bangga soal itu. Sebagian besar waktu, itu justru menyusahkan — orang jadi terlalu ramah, orang jadi gugup, orang jadi tidak jujur. Aku menghabiskan bertahun-tahun mencoba membuat orang melihat hal lain.

Tapi setelah tiga tahun dan satu penolakan di gudang solar, aku sampai di titik di mana aku bersedia memakai apa pun.

Jadi hari Kamis aku minta Ipeh membelikan sesuatu di kecamatan, dan hari Sabtu aku mulai bersiap jam dua siang untuk acara yang mulai jam empat.

“Zar.” Ipeh berdiri di pintu kamar. “Ini bakal jadi bencana.”

“Kenapa?”

“Bukan buat kamu. Buat dusun ini.”


Aku turun jam empat kurang sepuluh.

Aku tidak akan mendeskripsikan diriku sendiri panjang-panjang karena itu memalukan. Cukup begini: aku memakai dress selutut warna gading yang aku bawa dari kota untuk alasan yang tidak jelas, rambutku digerai dan aku menghabiskan empat puluh menit untuk itu, dan aku memakai riasan lengkap untuk pertama kalinya dalam empat bulan.

Aku memakai sandal, bukan sepatu, karena aku sudah cukup belajar soal tanah dusun ini.

Sandalnya sandal jepit tali yang agak bagus. Yang talinya menyilang di punggung kaki.

Ini penting nanti.


Yang terjadi di ruang tengah waktu aku turun berlangsung sekitar delapan detik dan aku akan mengingatnya seumur hidup.

Reza sedang minum. Reza tersedak. Reza tersedak dengan sangat serius sampai Oliv harus menepuk punggungnya.

Dua anak KKN dari kampus teknik berdiri dari kursi. Berdiri. Tanpa alasan. Lalu duduk lagi.

Bu Sarni keluar dari dapur, melihat, menaruh tangan di dada, dan berkata “ya Allah” dengan nada orang menemukan sesuatu di sawah.

Ipeh tidak berkata apa-apa. Ipeh, yang belum pernah diam lebih dari empat detik seumur hidupnya, berdiri di anak tangga dan tidak mengeluarkan satu suara pun.

Dan Oliv — Oliv menatapku dari seberang ruangan, lalu tersenyum kecil, dan mengangkat gelasnya satu senti.

Aku hampir mundur ke kamar saat itu juga.


Di halaman balai lebih parah.

Aku tidak akan menceritakan semuanya. Cukup begini: Pak Karso sedang membaca sambutan di atas panggung palet, dan beliau berhenti di tengah kalimat, dan beliau kehilangan tempatnya di kertas, dan beliau harus mengulang satu paragraf dari awal.

Tiga ratus orang menoleh ke arah yang sama.

Ada ibu-ibu yang menarik tanganku dan bertanya aku dari mana, padahal beliau sudah aku wawancarai dua kali. Ada anak SMP yang difoto temannya sambil berdiri lima meter di belakangku. Ada bapak-bapak yang menawarkan kursi plastik dengan gerakan seperti orang menyambut tamu negara.

Aku sudah biasa dengan ini. Sungguh. Aku sudah dua puluh dua tahun biasa dengan ini.

Yang tidak biasa adalah aku melakukannya dengan sengaja, untuk satu orang, dan orang itu sedang tidak ada di halaman.


Dia datang jam setengah lima.

Dari arah tiang, dengan tas perkakas di bahu, kaus kerja yang basah di punggung, dan tangan yang jelas belum dicuci.

“Fa!” Pak Karso berteriak dari panggung. “Mas Insinyur! Ke sini!”

“Sebentar, Pak. Cuci tangan dulu.”

Dia berjalan melewati kerumunan ke arah kran di samping balai.

Melewati aku.

Dan aku ingin mencatat, dengan sangat jujur, bahwa dia melihat.

Dia melihatku. Matanya berhenti. Dan ada satu momen — mungkin sepersekian detik, mungkin kurang — di mana sesuatu di wajahnya bergerak, dan bergeraknya cukup untuk aku lihat karena aku sudah menghabiskan empat bulan belajar membaca wajah yang tidak bergerak.

Lalu selesai.

Dan dia terus jalan ke kran.

Dan aku berdiri di halaman balai, dengan tiga ratus orang di sekelilingku dan dandanan empat puluh menit dan dress yang aku bawa dari kota untuk alasan yang tidak jelas, dan aku merasa lebih tidak terlihat daripada yang pernah aku rasakan seumur hidupku.


Aku mulai jalan ke belakang balai.

Bukan lari. Aku tidak lari. Aku cuma memutuskan bahwa aku perlu berdiri di tempat yang tidak ada tiga ratus orangnya selama dua menit.

Dan di anak tangga samping balai, tali sandalku putus.

Bunyinya kecil. Ptek. Tali kanan lepas dari lubangnya di bagian depan, dan telapak kakiku langsung menyentuh tanah, dan aku berhenti dengan satu kaki menggantung seperti orang bodoh.

Aku berdiri di situ selama tiga detik memikirkan apakah lebih memalukan berjalan pincang atau melepas kedua sandal dan nyeker di depan tiga ratus orang.

Lalu ada suara di belakangku.

“Sandalmu putus.”


Dia sudah selesai cuci tangan. Tangannya masih basah. Dia berdiri sekitar dua meter di belakangku, dan aku tidak tahu sejak kapan.

“Iya,” kataku.

“Yang mana?”

“Yang kanan.”

Dan dia berjongkok.


Aku ingin merekam bagian ini dengan lambat, karena bagian ini yang mengubah segalanya dan pada waktunya aku tidak mengerti kenapa.

Dia berjongkok di tanah, di samping anak tangga balai, dengan tiga ratus orang berisik di halaman sebelah.

Dia tidak melihat ke atas.

Dia mengangkat sandalnya — bukan kakiku, sandalnya, dia menunggu sampai aku mengangkat kaki dan melepasnya sendiri — dan memutarnya di tangan, memeriksa lubang talinya.

“Karetnya sobek dari dalam,” katanya. “Ini emang udah mau putus dari kemarin.”

“Aku nggak tahu.”

“Nggak kelihatan dari luar.”

Dia mengambil sesuatu dari saku celana kerjanya. Kabel tis. Yang kecil, hitam, yang selalu ada di sakunya karena orang seperti dia selalu punya kabel tis di sakunya.

Dia memasukkan talinya kembali ke lubang, menahannya dari bawah, mengikatnya dengan kabel tis, menariknya rapat, dan memotong sisanya dengan tang kecil yang juga ada di sakunya.

Lalu dia menaruh sandal itu di tanah, di depan kakiku, dan berdiri.

“Sementara,” katanya. “Nanti aku carikan yang bener.”

Dan dia jalan ke panggung karena Pak Karso memanggil lagi.


Aku berdiri di samping balai itu selama sepuluh menit.

Dandananku masih utuh. Dress-nya masih bagus. Tiga ratus orang di halaman sebelah masih akan menoleh kalau aku lewat.

Dan satu-satunya orang yang aku inginkan berjongkok di tanah dan memperbaiki sandalku dan bilang nanti dia carikan yang benar.

Aku duduk di anak tangga.

Dan aku menyadari dua hal sekaligus, dan dua hal itu datang bersamaan sehingga aku tidak bisa memisahkan mana yang lebih dulu.

Yang pertama: senjataku tidak mempan.

Satu-satunya hal yang selalu bekerja pada semua orang di dunia, sejak aku empat belas tahun, tidak bekerja pada satu orang ini. Tidak sekarang, tidak dulu, tidak pernah.

Dan itu artinya semua yang dia lakukan selama dua tahun di SMA — kipas, obeng, jaket, sepeda, kotak musik — tidak ada hubungannya dengan wajahku.

Sama sekali.

Yang kedua, dan ini yang membuatku menutup wajah dengan kedua tangan di anak tangga samping balai:

Tiga ratus orang melihat wajahku hari itu.

Satu orang melihat sandalku.

Dan aku sudah dua puluh dua tahun menunggu seseorang melihat hal lain, dan ternyata orang itu sudah ada sejak aku enam belas, dan aku menghabiskan seluruh waktu itu untuk tidak melihat balik.


Ipeh menemukanku jam enam.

“Kamu ngapain di sini?”

“Duduk.”

“Kamu nangis?”

“Enggak.”

“Zar, maskara kamu turun sampai—“

“Enggak.”

Dia duduk di sebelahku dan tidak bicara sekitar satu menit.

“Gagal, ya?” katanya akhirnya.

Aku memikirkan pertanyaan itu.

Aku memikirkan sandal yang diikat kabel tis, dan tiga ratus orang, dan satu orang yang tidak melihat apa yang dilihat tiga ratus orang.

“Enggak,” kataku. “Aku baru menang.”

“Hah?”

“Aku baru tahu aku selama ini salah bawa senjata.”

Ipeh menatapku seperti orang yang khawatir.

Aku berdiri, memakai sandalku yang sudah diikat kabel tis, dan berjalan pulang ke posko dengan langkah yang sempurna.