Chapter Nine
Pasar Hari Minggu
POV: Irvan
Pukul sebelas lewat lima belas, hari Minggu, ponselku berdering di saku celemek.
Ibu.
Ibu tidak pernah menelepon di jam kerja. Ibu tahu hari Minggu adalah hari kedua tersibuk di Kedai Setengah, ketika keluarga pasien datang berombongan setelah jam besuk pagi. Ibu biasanya mengirim pesan WhatsApp yang panjang, penuh emoji bunga dan typo, dan tidak pernah menelepon kecuali ada sesuatu yang penting.
Terakhir kali Ibu menelepon di jam kerja, kompor gas di rumah bocor dan Ibu sudah berdiri di pinggir gang sambil memeluk mesin jahit.
Aku mengangkat dengan jantung di tenggorokan. “Bu? Kenapa?”
“Van.” Suara Ibu terdengar aneh. Terlalu tenang. Terlalu ceria. Suara yang sama dengan yang Ibu pakai waktu bilang ke tetangga bahwa ia baik-baik saja, sehari setelah pemakaman Bapak. “Kamu pulang makan siang, ya.”
“Bu, kedai lagi rame.”
“Ada Dodi, kan? Ada Kirana?”
“Ada, tapi...”
“Pulang, Van. Makan siang di rumah.” Jeda. “Ada tamu.”
“Tamu siapa?”
Tapi Ibu sudah menutup teleponnya.
Aku menatap layar ponsel. Lalu aku menatap Kirana, yang sedang menuang susu di sampingku. Kirana tidak menatapku balik, tapi ia berkata, “Pulang aja, Mas. Saya sama Dodi bisa.”
“Kamu baru sembuh.”
“Saya sembuh kemarin. Hari ini saya sehat banget.” Ia menuang susu dengan gerakan yang sempurna, membentuk hati simetris di atas espresso. Hati yang tidak punya aorta. “Lagian, Mas, kalau Ibu nelepon bilang ada tamu, itu biasanya bukan tamu biasa.”
“Kamu tahu dari mana?”
“Firasat perempuan,” kata Kirana, dan dari meja kasir aku mendengar Dodi berbisik, itu alasan Mbak Rina Lab di papan taruhan.
Rumah Ibu ada di gang sempit di Bandung timur, tiga puluh menit naik motor dari kedai. Rumah kecil bercat hijau pupus, dengan pagar besi rendah, pohon jambu air di halaman, dan papan kecil di samping pintu bertuliskan MENERIMA JAHITAN – BU RATNA.
Aku memarkir motor di depan pagar pukul dua belas kurang sepuluh.
Ada sandal di teras. Sandal jepit hitam milik Ibu, seperti biasa. Dan di sampingnya, sepasang sepatu flat warna krem, ukuran tiga puluh tujuh, dengan ujung yang sedikit lecet di kiri karena pemiliknya selalu menyeret kaki kiri ketika lelah.
Aku berdiri di depan sepatu itu lama sekali.
Dari dalam rumah, terdengar suara Ibu tertawa. Lalu suara lain. Suara perempuan, lebih rendah, sedikit serak, tertawa juga.
Aku membuka pintu.
Ruang tamu rumah Ibu tidak berubah dalam delapan tahun. Kursi rotan dengan bantalan batik. Lemari kaca berisi piring-piring yang hanya dikeluarkan saat Lebaran. Mesin jahit tua di pojok, dengan kain setengah jadi masih terjepit di bawah jarumnya. Dan di dinding, di atas lemari kaca, deretan foto berbingkai.
Foto Bapak dan Ibu di hari pernikahan mereka, hitam putih, Bapak dengan peci miring.
Fotoku umur enam tahun, ompong, memegang ikan cupang dalam plastik.
Fotoku umur dua puluh, wisuda D3, toga kebesaran.
Dan foto keempat.
Aku tahu foto itu ada di sana. Aku melihatnya setiap hari, setiap pagi dan setiap malam, selama delapan tahun. Aku pernah meminta Ibu menurunkannya. Sekali, di tahun pertama. Ibu menolak. Ibu bilang, ini rumah Ibu, dinding Ibu, foto Ibu. Aku tidak pernah meminta lagi.
Foto itu diambil di halaman depan rumah ini, di bawah pohon jambu air, sembilan tahun lalu. Aku berdiri di belakang, tanganku melingkar di pinggang seorang perempuan berkebaya merah muda, perempuan yang tertawa ke arah kamera dengan mata tertutup, karena Ibu yang memegang kamera dan Ibu tidak bisa berhenti mengoceh soal lipstiknya yang ketebalan.
Itu hari lamaran kami.
Aku berdiri di ruang tamu, menatap foto itu, dan dari dapur, suara tawa itu terdengar lagi.
Dapur Ibu juga tidak berubah. Kompor dua tungku. Rak piring kayu. Jendela kecil yang menghadap ke halaman belakang, tempat Ibu menjemur kain.
Ibu berdiri di depan kompor, mengaduk panci berisi sayur asem.
Dan di samping Ibu, memotong tempe di talenan kayu, rambut dicepol asal dengan satu helai lolos di pelipis kiri, memakai kaus abu-abu dan celana kain longgar, tanpa jas dokter, tanpa map pasien, tanpa apa pun yang membuatnya terlihat seperti dokter paling galak di RS Mitra Harapan.
Salsa.
Di dapur ibuku.
Memotong tempe.
“Eh, Van udah datang!” seru Ibu, terlalu riang, terlalu keras, seperti pembawa acara kuis yang mengumumkan pemenang. “Van, kenalin. Ini Nak Salsa. Ibu ketemu di pasar Cicadas tadi pagi.”
Salsa mendongak dari talenan. Ia menatapku. Ia tersenyum sopan.
“Selamat siang,” katanya.
Aku tidak bisa bicara.
“Ibu tadi belanja,” lanjut Ibu, masih mengaduk sayur asem dengan semangat yang berlebihan. “Ibu beli kangkung, beli tempe, beli ikan asin, beli kacang panjang. Terus Ibu mau beli labu siam, tapi kantong belanjaan Ibu udah penuh, terus talinya putus, terus kangkungnya jatuh semua ke becek. Terus Nak Salsa ini lewat, terus Nak Salsa bantuin Ibu mungutin kangkung. Ya, kan, Neng?”
“Iya, Bu.”
“Terus Nak Salsa bantuin Ibu bawa belanjaan sampai ke angkot. Terus Ibu bilang, wah, Neng, Ibu nggak enak, ayo mampir ke rumah, Ibu masakin makan siang. Terus Nak Salsa bilang nggak usah, Bu. Terus Ibu maksa.” Ibu tersenyum lebar padaku. “Ibu kan pemaksa, Van. Kamu tahu sendiri.”
“Iya, Bu.”
“Kebetulan banget, ya, Van?”
Aku menatap Ibu.
Ibu menatapku balik dengan mata yang berbinar terlalu terang.
Pasar Cicadas ada di Bandung timur. RS Mitra Harapan ada di tengah kota. Kos Salsa, dulu, ada di dekat kampus kedokteran di utara. Aku tidak tahu di mana ia tinggal sekarang, tapi aku cukup yakin dokter subspesialis ginjal tidak tinggal di gang sempit Bandung timur dan tidak berbelanja kangkung di pasar Cicadas pada Minggu pagi.
“Kebetulan banget, Bu,” kataku.
Salsa kembali memotong tempe. Potongannya rapi, tipis, sama besar. Seperti potongan dokter yang terbiasa memegang pisau bedah, walaupun ia penyakit dalam dan seharusnya tidak sering memegang pisau.
Makan siang terhidang di meja makan kecil dekat dapur. Sayur asem, tempe goreng, ikan asin, sambal terasi, nasi putih hangat. Ibu duduk di ujung. Salsa duduk di sisi kiri. Aku duduk di sisi kanan, berhadapan dengannya.
Aku tidak tahu harus melihat ke mana. Jadi aku melihat sayur asem.
“Nak Salsa kerja di mana?” tanya Ibu, menyendokkan nasi ke piring Salsa dengan porsi yang cukup untuk tiga orang.
“Di rumah sakit, Bu. Mitra Harapan.”
“Oh, rumah sakit! Perawat?”
“Dokter, Bu.”
“Ya Allah, dokter!” Ibu meletakkan sendok nasi dan menatap Salsa dengan kekaguman yang terlalu dibuat-buat. “Dokter apa, Neng?”
“Penyakit dalam, Bu. Sekarang lagi ambil ginjal.”
Sendok nasi di tangan Ibu berhenti di udara. Sangat sebentar. Lalu Ibu tersenyum lagi, terlalu lebar.
“Ginjal,” ulang Ibu. “Wah. Hebat. Ginjal itu penting.”
“Iya, Bu.”
“Anak Ibu juga punya ginjal,” kata Ibu.
Aku tersedak.
Air putih yang baru saja kuminum, air dari jatah yang sudah kuhitung dengan hati-hati pagi ini, menyembur keluar dari mulutku dan sebagian masuk ke hidung. Aku terbatuk keras, menunduk di atas piring, memukul dadaku dengan kepalan tangan.
“Semua orang punya ginjal, Bu,” kata Salsa dengan tenang, menyodorkan tisu ke arahku melewati meja. Ia tidak menatapku. Ia menatap Ibu. “Biasanya dua.”
“Iya, iya, maksud Ibu begitu,” kata Ibu cepat. “Semua orang punya dua. Ibu punya dua. Van punya dua. Iya, kan, Van? Kamu punya dua?”
Aku masih terbatuk. Air mata menggenang di sudut mataku. Aku mengambil tisu dari tangan Salsa tanpa menyentuh jarinya.
“Dua, Bu,” kataku serak.
Secara teknis, itu bukan bohong. Aku masih punya dua. Dua-duanya hanya sudah tidak bekerja.
Setelah batuk mereda, makan siang berjalan lebih tenang. Atau lebih tepatnya, Ibu bicara terus-menerus sementara aku dan Salsa makan tanpa saling menatap.
Ibu bercerita tentang pelanggan jahitannya yang minta kebaya dengan payet bentuk naga. Ibu bercerita tentang Bu RT yang kue lapisnya jatuh di kedai minggu lalu, “karena lantainya licin, Neng, bukan karena Ibu kaget atau apa.” Ibu bercerita tentang pohon jambu air di halaman yang tahun ini berbuah terlalu banyak sampai tetangga bosan dikasih.
Salsa mendengarkan semuanya. Ia tertawa di tempat-tempat yang tepat. Ia bertanya di tempat-tempat yang tepat. Ia menghabiskan semua nasi yang disendokkan Ibu, porsi untuk tiga orang, dan menerima tambahan tempe goreng tanpa protes.
Dulu ia selalu makan banyak di rumah Ibu. Ia bilang masakan Ibu adalah satu-satunya masakan di dunia yang membuatnya lupa ia pernah diet.
Lalu Ibu menyendokkan sayur asem ke mangkukku, dan Salsa berhenti makan.
Ia menatap mangkukku. Lalu menatap mangkuknya sendiri.
Sayur asem di mangkukku berwarna lebih pucat. Kuahnya lebih bening. Ibu memasaknya di panci terpisah, panci kecil di tungku kedua yang tadi tidak kuperhatikan, tanpa garam, tanpa kaldu bubuk, dengan potongan labu dan kacang panjang yang direbus lebih lama untuk mengurangi kaliumnya. Ibu melakukan itu setiap hari, selama delapan tahun, dan tidak pernah mengeluh sekali pun.
Dan Ibu lupa menyamarkannya hari ini. Atau Ibu tidak lupa.
“Sayur asemnya beda, Bu?” tanya Salsa pelan.
Ibu membeku dengan sendok sayur di tangan.
“Oh, itu...” Ibu menatapku. Aku menatap Ibu. Lalu Ibu tersenyum, senyum yang paling sulit. “Van darah tinggi, Neng. Kayak almarhum bapaknya. Jadi Ibu masakin yang nggak pakai garam.”
Salsa menatap mangkukku beberapa detik lagi.
“Darah tinggi harus hati-hati, Bu,” katanya akhirnya. Suaranya biasa. Suara dokter. “Ibu udah bener. Garamnya dikurangin.”
“Iya, Neng.”
Salsa kembali makan. Ia tidak menatapku. Tapi aku melihat tangannya, yang memegang sendok, sedikit lebih erat dari sebelumnya.
Selesai makan, Salsa bersikeras mencuci piring. Ibu bersikeras melarang. Mereka berdebat di depan wastafel selama dua menit penuh, dua perempuan keras kepala dengan argumen yang sama sekali tidak masuk akal.
“Neng tamu, Neng nggak boleh cuci piring.”
“Saya udah makan tiga porsi, Bu. Saya harus bayar.”
“Bayarnya dengan datang lagi.”
“Bayarnya sekarang aja, Bu, biar nggak ngutang.”
Akhirnya mereka mencuci piring bersama. Salsa mencuci, Ibu membilas. Aku duduk di meja makan, menatap punggung mereka berdua, dan sesuatu di dadaku sakit dengan cara yang tidak bisa dijelaskan oleh dokter mana pun.
Dulu, seperti ini setiap Minggu.
Ibu berdiri di samping Salsa di depan wastafel, membilas piring yang dicuci Salsa, lalu menatap wajah Salsa dari samping dengan mata yang basah. Ibu tidak menyeka matanya. Salsa tidak menoleh. Mereka berdua pura-pura tidak tahu.
“Nak Menantu,” kata Ibu tiba-tiba. “Tolong ambilin lap di gantungan.”
Piring di tangan Salsa berhenti.
Aku tersedak lagi. Kali ini tidak ada air di mulutku. Aku tersedak udara.
“Eh,” kata Ibu. Ia menutup mulutnya dengan tangan basah. “Eh, maaf, Neng. Ibu salah sebut. Ibu suka ngelantur kalau kekenyangan. Maksud Ibu, Nak Salsa. Tolong ambilin lap, Nak Salsa.”
Salsa tidak bergerak selama tiga detik.
Lalu ia mengambil lap dari gantungan dan menyerahkannya pada Ibu. Ia tidak berkata apa-apa. Tapi aku melihat bahunya, dari belakang, naik sedikit, lalu turun. Seperti orang yang baru menarik napas panjang dan menahannya.
Pukul dua siang, Salsa pamit.
Ibu mengantarnya sampai teras. Aku berdiri di ambang pintu, di tempat yang sama dengan delapan tahun lalu, ketika aku mengucapkan tiga kata yang menghancurkan segalanya. Salsa memakai sepatu flat kremnya di teras, di tempat yang sama dengan delapan tahun lalu, ketika ia merapikan undangan sudut ketemu sudut sebelum berdiri dan pergi.
Kami berdua tidak menyinggungnya. Kami berdua tidak perlu.
“Makasih makan siangnya, Bu,” kata Salsa. “Sayur asemnya enak banget.”
“Datang lagi, ya, Neng. Kapan pun. Ibu masakin lagi.”
“Iya, Bu.”
Salsa berbalik ke arah pagar.
Lalu Ibu menangkap tangannya.
Sama seperti di kedai, ketika kue lapis jatuh. Ibu menggenggam tangan Salsa dengan dua tangan, tangan kecil yang kasar penuh bekas tusukan jarum jahit, dan tidak melepaskannya.
Salsa berhenti. Ia menoleh.
Ibu menatapnya lama. Lalu Ibu mengatakannya. Pelan, sangat pelan, tapi aku mendengarnya dari ambang pintu, karena gang ini sunyi di siang hari Minggu dan satu-satunya suara selain itu adalah daun jambu air yang bergesek ditiup angin.
“Nak Salsa,” kata Ibu, “kebayamu masih Ibu simpan.”
- 1 Pesanan Jam Enam
- 2 Aku Nggak Siap
- 3 Tiup Tiga Kali
- 4 Permen Jahe di Toples Tip
- 5 Croissant Terakhir
- 6 Gula Tiga Sendok
- 7 Hal yang Tidak Diketahui Orang Asing
- 8 Van
- 9 Pasar Hari Minggu reading
- 10 Menu Baru
- 11 Masa Depan yang Pantas
- 12 Sandiwara Makan Siang
- 13 Kejutan untuk dr. Salsa
- 14 Kalimat yang Sama
- 15 Kursi Kosong Jam Enam
- 16 Yang Berlari Menyeberang
- 17 Tahun Kedua
- 18 Kaleng Biskuit
- 19 Tabungan Nikah
- 20 Harga Lima Tahun
- 21 Yang Kusiapkan Sambil Menunggu
- 22 Satu Malam
- 23 Sebelum Operasi
- 24 Tangan yang Masih Menggenggam
- 25 Sekarang Aku yang Jaga
- 26 Pulang
- 27 Kencan Pertama yang Kedua
- 28 Pegangan Tangan Itu Susah
- 29 Nembak Ulang
- 30 Resmi (Lagi)
- 31 Sandiwara yang Ketahuan
- 32 Lamaran
- 33 Angka yang Naik
- 34 Di Depan Pintu
- 35 Malam yang Sama
- 36 Nilai Kembali Normal
- 37 Kebaya yang Menunggu
- 38 Pagi Akad
- 39 Sekarang Aku Siap
- 40 Rumah Kecil, Dapur Gosong
- 41 Epilog: Gelas Penuh