Chapter Twelve
Sandiwara Makan Siang
POV: Irvan
“Ketawa,” kata Nadia.
Aku tertawa.
“Bukan gitu.”
“Itu ketawa, Nad.”
“Itu bunyi mesin fotokopi yang kertasnya nyangkut.” Nadia duduk di bangku plastik merah di dapur Kedai Setengah, tangan dilipat di dada, menatapku seperti juri pencarian bakat yang sudah mendengar dua ratus penyanyi sumbang hari ini. “Ulang.”
Aku tertawa lagi.
“Van. Kamu ketawa kayak orang yang lagi disandera, terus penyanderanya bilang ‘ketawa atau aku tembak.’”
“Aku nggak bisa ketawa kalau nggak ada yang lucu.”
“Ya udah, aku bikin lucu.” Nadia berdiri, berdeham, lalu memasang wajah paling serius yang ia punya. “Kenapa kopi nggak pernah menang debat?”
“Kenapa?”
“Karena argumennya selalu ampas.”
Aku menatapnya.
Nadia menatapku.
Dari balik pintu dapur yang setengah terbuka, terdengar suara Dodi tertawa terbahak-bahak, lalu suara Kirana yang berkata, “Dod. Itu nggak lucu,” lalu suara Dodi yang berkata, “Lucu, Kir, kamu aja yang nggak punya selera humor.”
“Oke,” kata Nadia, duduk kembali di bangku plastik. “Rencana B. Kamu nggak usah ketawa. Kamu senyum aja. Aku yang ketawa. Aku ketawanya kenceng, kamu senyum-senyum kayak orang lagi jatuh cinta.”
“Aku nggak bisa senyum kayak orang lagi jatuh cinta.”
“Bisa.” Nadia menatapku lurus. “Kamu senyum kayak gitu tiap pagi jam enam. Aku lihat di video Dodi.”
Aku tidak menjawab.
“Bayangin aja aku dia,” kata Nadia. Lalu ia mengerutkan dahi. “Eh, jangan. Jangan bayangin aku dia. Nanti Gilang bunuh kita berdua.”
Gilang tahu semuanya malam itu, seperti janji Nadia.
Aku tahu karena pukul sebelas malam, ponselku berdering dengan nomor yang tidak kukenal. Aku mengangkatnya, dan suara laki-laki yang berat dan sangat tenang berkata, “Mas Irvan. Ini Gilang. Tunangan Nadia.”
“Mas Gilang.”
“Saya udah dengar rencananya.”
“Iya, Mas.”
Jeda panjang. Aku mendengar napas Gilang di seberang. Gilang polisi lalu lintas. Aku pernah bertemu dengannya dua kali, di acara ulang tahun Nadia, dan kedua kalinya ia berdiri di pojok dengan wajah datar seperti sedang mengawasi persimpangan Pasteur di jam pulang kantor.
“Mas Irvan,” kata Gilang akhirnya. “Saya cuma mau bilang satu hal.”
“Iya, Mas.”
“Pegangannya jangan beneran.”
“Nggak ada pegangan, Mas. Nadia udah bilang.”
“Saya tahu. Saya cuma mau bilang langsung. Biar Mas dengar dari mulut saya.” Jeda lagi. Lalu, dengan suara yang sedikit lebih manusiawi, “Nadia sayang sama Mas. Kayak kakak sayang adiknya. Dia nangis waktu cerita ke saya. Jadi tolong, Mas, jangan bikin dia nangis lagi.”
Ia menutup telepon sebelum aku sempat menjawab.
Senin, hari pertama.
Rencananya sederhana. Salsa datang pukul enam, tapi pagi terlalu sibuk dan terlalu cepat; tidak ada waktu untuk sandiwara apa pun. Jadi sandiwaranya harus dimulai di jam lain, jam yang bisa dilihat semua orang yang penting: jam makan siang.
Jam makan siang adalah jam ketika perawat dan staf rumah sakit menyeberang ke Kedai Setengah untuk membeli kopi kedua mereka. Jam ketika Sus Mira membawa dua temannya dari unit hemodialisis. Jam ketika Pak Ujang mengambil pesanan untuk pos satpam. Jam ketika gosip berpindah dari Kedai Setengah ke RS Mitra Harapan lebih cepat daripada ambulans.
Pukul dua belas, Nadia datang. Ia tidak membawa karung goni. Ia memakai kemeja putih yang rapi, rambut pendeknya disisir ke samping, dan lipstik merah tipis yang, kata Nadia, dipinjem dari adiknya Gilang, tolong jangan sampai belepotan.
Ia duduk di meja dekat jendela.
Di kursi dekat jendela.
Aku membawa dua piring roti bakar srikaya dan dua gelas es kopi jahe ke meja itu, lalu duduk di depannya.
“Kenapa di sini?” bisikku.
“Biar kelihatan dari mana-mana,” bisik Nadia balik. “Ini kursi panggung, Van. Semua orang di kedai ini tahu ini kursi siapa.”
Aku tidak menjawab. Kursi itu hangat dari matahari siang. Pagi tadi, Salsa duduk di sana. Pagi tadi, aku menyeduh kopinya dengan sleeve kosong lagi, dan ia meninggalkan sleeve kosong itu di meja ini, dan tidak ada tanda hijau apa pun di atasnya. Tidak ada titik, tidak ada tanda tanya, tidak ada garis bergelombang.
Kosong.
“Senyum,” desis Nadia. “Van, senyum.”
Aku tersenyum.
“Bukan senyum kayak lagi difoto KTP.”
Aku mencoba lagi. Nadia menutup matanya sebentar, seperti orang yang berdoa meminta kesabaran.
Lalu ia membuka mata, memasang senyum paling lebar yang pernah kulihat di wajahnya, dan tertawa. Keras. Sangat keras. Tawa Nadia yang biasa terdengar dari ujung gang, sekarang terdengar dari ujung jalan, mungkin sampai ke gerbang rumah sakit.
Seluruh kedai menoleh.
Sus Mira, yang baru saja masuk dengan dua temannya, berhenti di ambang pintu dan menatap meja kami dengan mata menyipit.
“Apa yang lucu?” bisikku.
“Nggak ada,” bisik Nadia, masih dengan senyum lebar. “Aku ketawa karena kamu jelek. Senyum terus.”
Di meja pojok dekat rak buku, ada seorang laki-laki dengan topi bucket, kacamata hitam, dan koran yang dibuka lebar menutupi seluruh wajahnya.
Di dalam kedai. Di siang hari. Dengan kacamata hitam.
Korannya terbalik.
Dari balik koran itu, sesekali, muncul sepasang mata di atas kacamata hitam yang melorot, menatap meja kami dengan intensitas seorang polisi yang sedang memantau pengendara motor yang melawan arus.
“Nad,” bisikku. “Itu Gilang.”
“Aku tahu.”
“Kenapa dia di sini?”
“Dia bilang mau mengawasi pelaksanaan.” Nadia mengambil serbet dan mengusap sudut bibirku dengan gerakan yang sangat lembut, sangat mesra, dan sangat jelas dibuat-buat. “Kamu ada remah srikaya.”
Koran di meja pojok bergemerisik keras.
“Nad,” bisikku. “Korannya bunyi.”
“Biarin.”
“Dia cemburu.”
“Dia setuju sama rencananya, Van. Dia cuma cemburu sama pelaksanaannya.” Nadia meletakkan serbet dan meraih kerah kemejaku, merapikannya dengan dua tangan. “Kerahmu miring.”
Koran di meja pojok turun sedikit. Kacamata hitam di baliknya melorot sampai ke ujung hidung.
“Kerahku nggak miring, Nad.”
“Sekarang nggak. Tadi iya.”
Dodi muncul di samping meja dengan nampan kosong, berpura-pura mengambil gelas yang tidak ada. Ia membungkuk dan berbisik sangat keras, sekeras orang berbisik di bioskop, “Mas. Mas. Bapak di meja pojok itu udah pesan empat kali. Pesannya air putih. Saya tanya atas nama siapa, dia bilang Pengawas Lalu Lintas.”
“Kasih aja, Dod.”
“Dia nanya ada CCTV nggak, Mas. Katanya buat dokumentasi.”
“Dod.”
“Mas, ini kenapa kayak sinetron azab?”
Pukul dua belas lewat dua puluh lima, lonceng berbunyi.
Aku tidak menoleh. Aku sudah berjanji pada Nadia bahwa selama sandiwara, aku tidak akan menoleh setiap kali lonceng berbunyi. Katanya, orang yang sedang jatuh cinta tidak peduli siapa yang masuk ke ruangan.
Tapi aku melihat wajah Nadia berubah.
Hanya sedikit. Senyumnya tetap di tempatnya, lebar dan merah. Tapi matanya bergerak ke arah pintu, dan berhenti, dan sesuatu di matanya mengeras.
“Van,” bisik Nadia tanpa menggerakkan bibir. “Jam dua belas. Jas putih.”
Aku tidak menoleh.
Aku tidak perlu menoleh. Aku mendengar langkahnya. Langkah pendek-pendek yang terburu-buru, seolah-olah selalu terlambat ke sesuatu. Aku mendengar suaranya di kasir, rendah dan sedikit serak.
“Kopi susu, enam. Dibawa. Buat residen.”
“Gula...” suara Dodi tersendat. “Gulanya, Kak?”
“Biasa aja. Satu sendok.”
Bukan setengah. Kopi itu bukan untuknya.
Salsa belum pernah datang di jam makan siang. Tidak sekali pun dalam lima minggu. Aku tidak tahu apakah ia datang karena residennya memang butuh kopi, atau karena gosip tentang tawa Nadia sudah menyeberang jalan lebih cepat daripada ambulans, atau karena hal lain yang tidak bisa kutebak.
Aku tidak menoleh.
Di depanku, Nadia mengangkat tangannya dan menyentuh rambutku. Merapikan poni yang tidak berantakan. Jari-jarinya menyapu dahiku dengan gerakan paling lembut yang pernah ia lakukan pada siapa pun, termasuk pada Gilang, karena aku pernah melihat Nadia merapikan rambut Gilang dan gerakannya seperti mengelap kaca mobil.
Koran di meja pojok jatuh ke lantai.
“Kamu lucu banget sih, Van,” kata Nadia. Keras. Cukup keras untuk didengar di kasir.
Dan aku tertawa.
Bukan karena lucu. Tidak ada yang lucu. Aku tertawa karena Nadia menendang tulang keringku di bawah meja, keras, tepat di bagian yang paling sakit, dan tawa itu keluar sebagai satu-satunya cara untuk tidak berteriak.
Tawa itu terdengar wajar. Mungkin terlalu wajar. Mungkin terdengar seperti tawa orang yang sedang bahagia.
Di kasir, suara Dodi terdengar menyebut total harga. Suara uang. Suara laci kasir. Suara Kirana menyusun enam cup ke dalam tatakan karton.
Lalu langkah pendek-pendek itu. Menjauh. Lonceng berbunyi.
Pintu tertutup.
Aku masih tertawa. Aku tidak bisa berhenti. Tawaku berubah bentuk di tengah jalan, menjadi sesuatu yang tidak lagi terdengar seperti tawa, dan Nadia meraih tanganku di atas meja, dan Gilang di meja pojok tidak protes, karena Gilang sedang memungut korannya dari lantai dan tidak melihat.
“Van,” bisik Nadia. Suaranya pecah. “Van, udah. Dia udah pergi.”
Aku menunduk menatap piring roti bakar srikaya yang belum kusentuh.
Ia tidak menoleh. Aku tahu tanpa melihat. Ia membayar, mengambil enam kopi untuk residennya, dan berjalan keluar tanpa menoleh ke kursi dekat jendela.
Kursinya.
Pukul tiga sore, setelah Nadia dan Gilang pulang, Kirana mendekatiku di belakang bar.
Ia tidak membawa nampan. Ia tidak membawa lap. Ia berdiri di sampingku dengan tangan kosong, yang untuk Kirana berarti ini serius.
“Mas,” katanya. “Mas lagi bohong, ya.”
Aku menatap mesin espresso. “Bohong apa?”
“Mbak Nadia itu tunangan orang. Cincinnya kelihatan. Tunangannya duduk di pojok pakai kacamata item, pesan air putih empat kali.” Kirana menatapku dengan mata kalemnya. “Dodi mungkin percaya. Pelanggan mungkin percaya. Tapi saya lima tahun kerja sama Mas.”
“Kir...”
“Ketawa Mas tadi beda,” kata Kirana. “Ketawa Mas sama Bu Dokter waktu bikin angsa, itu ketawa Mas yang asli. Yang tadi...” Ia berhenti. “Yang tadi kayak orang yang lagi nahan sakit.”
Aku tidak menjawab.
Kirana menunggu. Lalu, ketika aku tetap tidak menjawab, ia mengangguk pelan, seperti menerima sesuatu yang tidak ia setujui.
“Saya nggak akan nanya kenapa,” katanya. “Itu urusan Mas. Tapi saya mau bilang satu hal.”
Ia menatap kursi dekat jendela, yang sekarang kosong, disinari matahari sore.
“Bu Dokter nggak ambil kembaliannya tadi,” kata Kirana. “Dia kasih uang seratus ribu, totalnya delapan puluh empat. Saya panggil dua kali. Dia nggak dengar.” Kirana mengeluarkan sesuatu dari saku celemeknya dan meletakkannya di meja bar. Selembar uang sepuluh ribu, selembar lima ribu, sekeping koin seribu. “Bu Dokter yang selalu bayar pakai uang pas, Mas. Tiap hari. Lima minggu.”
Ia berbalik dan kembali ke etalase.
Aku menatap uang kembalian itu sampai matahari hilang dari jendela.
Selasa, Rabu, Kamis, sandiwara berlanjut.
Selasa, aku cuci darah. Sus Mira tidak menanyakan apa pun tentang Nadia, yang berarti Sus Mira sudah tahu semuanya dari jalur gosip dan sedang menyimpan pertanyaannya untuk momen yang tepat. Ia hanya menimbang berat badanku dan berkata, “Turun, Mas. Kebanyakan turun. Mas nggak makan?”
Rabu, Nadia datang lagi. Kami makan siang di kursi dekat jendela. Nadia tertawa keras. Aku tersenyum seperti difoto KTP. Gilang duduk di meja pojok dengan topi bucket yang sama dan majalah otomotif yang, kali ini, tidak terbalik.
Salsa tidak datang di jam makan siang.
Tapi pagi itu, pukul enam, ia datang seperti biasa. Kopi susu. Gula setengah sendok. Atas nama: Tetap.
Kamis, Nadia membawa bekal nasi kuning dan menyuapiku satu sendok di depan seluruh kedai. Satu sendok, kata Nadia, karena ia sudah berjanji pada Gilang tidak lebih dari satu. Gilang mencatat sesuatu di buku saku dari meja pojok, mungkin jumlah sendok, mungkin pasal pelanggaran.
Seluruh perawat yang makan siang di kedai hari itu menyaksikannya. Sus Eka dari bangsal tiga menjatuhkan sedotan. Pak Ujang, yang datang mengambil pesanan untuk pos satpam, berdiri di depan kasir dengan mulut terbuka cukup lama sampai Dodi harus melambaikan tangan di depan wajahnya.
Malam itu, papan taruhan di balik loker satpam, kata Dodi, punya kolom baru dengan judul MAS IRVAN: SELINGKUH ATAU KHILAF?
Dan di pojok kanan bawah papan menu Kedai Setengah, tempat Dodi diam-diam masih mencatat nama-nama Bu Dokter dengan huruf sangat kecil, hari Jumat kosong. Hari Jumat kedai buka siang.
Sabtu pagi, pukul enam kurang lima, aku berdiri di balik bar dan menatap pintu.
Aku tidak tahu apakah ia akan datang.
Seminggu sandiwara. Seminggu tawa Nadia yang terdengar sampai gerbang rumah sakit. Seminggu gosip yang menyeberang jalan. Seminggu kursi dekat jendela yang dipakai orang lain di siang hari. Kalau aku Salsa, aku tidak akan datang. Aku akan memilih kantin VIP dengan kopi yang rasanya seperti air cucian karpet. Aku akan memilih dr. Reza, yang akan menembaknya nanti malam di kursi yang sama, dengan pidato yang sudah direvisi Dodi tiga kali.
Itu yang kuinginkan. Itu tujuan dari semua ini.
Pukul enam kurang satu menit, aku menyadari tanganku sedang mencengkeram tepi meja bar sangat erat.
Pukul enam tepat, lonceng berbunyi.
Ia masuk. Jas dokter. Cepol. Satu helai rambut lolos di pelipis kiri.
Ia berjalan ke kasir dengan langkah yang sama, pendek-pendek, terburu-buru. Ia berdiri di depan Dodi dengan wajah yang sama. Ia membuka dompet.
“Kopi susu,” katanya. “Gula setengah sendok.”
Dodi menatapnya. Dodi, yang seminggu ini menyaksikan semuanya dari balik kasir dan tidak mengerti apa pun, menatap perempuan di depannya dengan mata yang tiba-tiba berkaca-kaca.
“Atas nama siapa, Kak?” tanya Dodi pelan.
Salsa menaruh uang pas di meja kasir. Lalu ia mengangkat wajahnya dan menatapku, lurus, melewati bahu Dodi, melewati mesin kasir, melewati seminggu tawa yang bukan miliknya.
“Masih di sini,” katanya.
- 1 Pesanan Jam Enam
- 2 Aku Nggak Siap
- 3 Tiup Tiga Kali
- 4 Permen Jahe di Toples Tip
- 5 Croissant Terakhir
- 6 Gula Tiga Sendok
- 7 Hal yang Tidak Diketahui Orang Asing
- 8 Van
- 9 Pasar Hari Minggu
- 10 Menu Baru
- 11 Masa Depan yang Pantas
- 12 Sandiwara Makan Siang reading
- 13 Kejutan untuk dr. Salsa
- 14 Kalimat yang Sama
- 15 Kursi Kosong Jam Enam
- 16 Yang Berlari Menyeberang
- 17 Tahun Kedua
- 18 Kaleng Biskuit
- 19 Tabungan Nikah
- 20 Harga Lima Tahun
- 21 Yang Kusiapkan Sambil Menunggu
- 22 Satu Malam
- 23 Sebelum Operasi
- 24 Tangan yang Masih Menggenggam
- 25 Sekarang Aku yang Jaga
- 26 Pulang
- 27 Kencan Pertama yang Kedua
- 28 Pegangan Tangan Itu Susah
- 29 Nembak Ulang
- 30 Resmi (Lagi)
- 31 Sandiwara yang Ketahuan
- 32 Lamaran
- 33 Angka yang Naik
- 34 Di Depan Pintu
- 35 Malam yang Sama
- 36 Nilai Kembali Normal
- 37 Kebaya yang Menunggu
- 38 Pagi Akad
- 39 Sekarang Aku Siap
- 40 Rumah Kecil, Dapur Gosong
- 41 Epilog: Gelas Penuh