← Gula Setengah Sendok

Chapter Seventeen

Tahun Kedua

POV: Salsa


Orang yang paling kubenci di dunia ini sedang berbaring di ranjang kelas dua, dengan selang oksigen di hidung dan dua bekas jarum baru di lengan kiri, menatapku seolah-olah aku baru saja mencabut sesuatu dari dadanya.

Aku tidak pernah benar-benar membencinya. Aku sudah mencoba. Aku mencoba dengan sangat serius selama satu tahun penuh, dengan disiplin yang sama yang kupakai untuk menghafal seluruh farmakologi menjelang ujian kompetensi. Aku gagal.

Tapi untuk satu tahun itu, aku benar-benar mencoba.

“Dari tahun kedua,” ulangnya. Suaranya seperti kertas yang diremas. “Gimana...”

“Kamu mau aku cerita?”

Ia menatapku. Matanya merah. Bibirnya pucat. Di bawah lampu jalan dari jendela, wajahnya terlihat sepuluh tahun lebih tua dari tiga puluh lima.

Ia mengangguk.

Aku menarik napas. Aku masih memegang pergelangan tangannya. Dua jari di atas nadi. Kebiasaan buruk dari jaga malam, kata teman-teman residenku: Salsa nggak bisa ngobrol sama orang tanpa ngitung nadinya. Aku tidak melepaskannya. Aku tidak mau melepaskannya.

Nadinya cepat. Seratus dua. Aku pura-pura tidak menghitung.


Malam itu, lima hari sebelum akad, aku tidak menangis di teras.

Aku menulis label nama Rudi pakai I, menyusun undangan sudut ketemu sudut, dan berjalan ke gerbang tanpa menoleh. Aku bilang bilang ke Ibu, aku minta maaf nggak pamitan, karena aku tidak sanggup masuk ke rumah itu dan melihat wajah Ibu.

Aku naik angkot ke kos. Aku duduk di bangku paling belakang, di samping bapak-bapak yang membawa karung berisi sayuran, dan aku menatap jendela sepanjang jalan. Aku tidak menangis di angkot.

Aku tidak menangis di depan pagar kos. Aku tidak menangis di tangga. Aku tidak menangis di depan pintu kamar, ketika kuncinya tidak mau masuk karena tanganku gemetar.

Aku menangis di kamar mandi, dengan keran terbuka penuh, sampai ibu kos mengetuk pintu dan bertanya apakah pipanya bocor.

Aku bilang iya. Pipanya bocor.

Aku nggak cinta kamu sebanyak yang kamu kira.

Kalimat itu yang paling lama tinggal. Bukan aku nggak siap. Orang bisa tidak siap untuk banyak alasan. Takut, ragu, belum punya cukup uang, belum selesai dengan dirinya sendiri. Aku bisa mengerti tidak siap. Aku bisa menunggu orang yang tidak siap.

Tapi nggak cinta sebanyak yang kamu kira. Itu kalimat yang mengubah tiga tahun di belakangku menjadi sesuatu yang lain. Setiap kopi gula setengah sendok, setiap mangkuk mi kocok setelah ujian, setiap permen jahe yang kuselipkan di sepatunya. Tiba-tiba semua itu terasa seperti aku yang menulis cerita sendirian, dan ia hanya membaca sambil menunggu halamannya habis.

Malam itu juga, aku mulai menghitung.

Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku calon dokter, dan dokter menghitung semuanya. Mungkin karena aku butuh sesuatu yang pasti di tengah hal-hal yang tidak masuk akal. Aku mengambil buku catatan koas, membuka halaman terakhir, dan menulis:

Hari ke-1.


Papa membatalkan semuanya keesokan harinya. Katering, gedung, penghulu, fotografer. Ia melakukannya dengan suara tenang di telepon, satu per satu, sementara aku duduk di sofa ruang tamu dan menatap dinding. Papa tidak pernah bertanya kenapa. Ia hanya bilang, Papa urus semua. Kamu istirahat.

Mama yang marah. Mama mengamuk di dapur selama tiga hari, membanting panci, menyebut nama-nama binatang yang tidak pernah kudengar keluar dari mulutnya. Mama ingin datang ke rumah itu. Mama ingin menuntut penjelasan.

Aku melarang. Aku bilang, Ma, kalau dia nggak mau jelasin ke aku, dia juga nggak bakal jelasin ke Mama.

Di halaman belakang rumah Papa, ada kaleng cat bekas yang biasa dipakai untuk membakar daun kering.

Aku membawa sisa undangan bagianku ke sana. Seratus dua puluh lembar, krem, pita hijau sage, sudah diberi label nama dengan tinta hijau. Aku membakarnya satu per satu. Satu lembar setiap kali api mengecil. Aku membaca setiap nama sebelum melemparnya. Bude Narti. Pak RT. dr. Wirawan, pembimbing koas. Rina dan suami.

Butuh dua jam. Papa duduk di kursi teras belakang sepanjang waktu itu, tidak berkata apa-apa, hanya menemaniku sampai lembar terakhir jadi abu.

Pulpen hijau yang kupakai menulis label nama tertinggal di teras rumah Ibu, di atas kotak undangan. Tapi dulu aku membeli dua, satu untuk cadangan, karena aku takut tintanya habis di tengah jalan. Yang cadangan tidak ikut kubakar. Aku tidak tahu kenapa. Aku memasukkannya ke kotak pensil di laci meja, dan tidak pernah memakainya selama setahun.


Tahun pertama, aku mencoba membencinya.

Aku memulai internsip lanjutan di sebuah rumah sakit kecil di pinggir kota, RS Kartika, rumah sakit tipe C dengan empat puluh ranjang dan unit hemodialisis kecil berisi enam kursi. Aku memilih rumah sakit itu karena jauh dari kampus, jauh dari Dago, jauh dari semua jalan yang pernah kami lewati berdua.

Aku bekerja seperti orang gila. Aku mengambil semua jaga malam yang tidak diinginkan orang lain. Aku belajar untuk ujian masuk spesialis anak sampai pukul tiga pagi, setiap malam, sampai mata kiriku berkedut tanpa bisa berhenti.

Aku tidak pernah lagi minum kopi susu. Aku pindah ke teh tawar. Teh tawar tidak punya takaran gula. Teh tawar tidak punya kenangan.

Sesekali, di tengah jaga malam, aku membuka buku catatan koas dan menambah angka di halaman terakhir. Hari ke-147. Hari ke-203. Hari ke-311. Aku tidak tahu sedang menghitung menuju apa. Aku hanya tidak bisa berhenti.

Di hari ke-365, aku tidak menulis apa-apa. Aku duduk di ruang jaga dan bilang pada diriku sendiri: sudah setahun. Sudah cukup. Ia tidak cinta kamu sebanyak yang kamu kira, dan itu bukan salahmu, dan kamu harus berhenti menghitung.

Aku menutup buku catatan itu.

Hari ke-366, aku membukanya lagi.


“Hari ke-tiga ratus sembilan puluh dua,” kataku.

Ia menatapku dari ranjang. Tidak berkedip.

“Itu harinya,” kataku. “Aku masih ingat angkanya. Aku masih ingat semuanya. Hari Selasa, bulan Juli. Hujan dari subuh.”

Aku melepaskan pergelangan tangannya. Aku tidak sanggup menghitung nadinya sambil menceritakan bagian ini.


Hari Selasa itu, aku jaga pagi di IGD RS Kartika. Pukul delapan, perawat unit hemodialisis menelepon. Salah satu pasien di sana kram berat dan tekanan darahnya jatuh. Dokter jaga unit sedang cuti. Aku diminta naik.

Unit hemodialisis RS Kartika ada di lantai dua, di ruangan sempit dengan enam kursi abu-abu dan jendela kecil menghadap tempat parkir. Aku menangani pasien yang kram, seorang ibu tua yang menangis karena betisnya kejang. Aku memberinya cairan, menurunkan kecepatan tarikan mesin, memijat betisnya sampai kejangnya reda.

Lalu aku berjalan ke meja perawat untuk menulis catatan.

Di dinding di atas meja itu ada papan tulis putih. Jadwal pasien. Nama, umur, hari, kursi. Ditulis dengan spidol biru, dengan tulisan perawat yang miring-miring.

Aku tidak berniat membacanya. Aku hanya mengangkat wajah dari kertas catatan, sebentar, untuk memeriksa nama ibu yang kram tadi.

Kursi 4 – Tn. Irvan – 27 th – Selasa/Jumat.

Aku menatap papan itu.

Ada banyak Irvan di Bandung. Ratusan. Ribuan, mungkin. Nama yang biasa sekali.

Dua puluh tujuh tahun. Ia dua puluh tujuh tahun bulan April lalu.

Aku berbalik. Pelan. Ke kursi nomor empat, di pojok, dekat jendela kecil yang menghadap tempat parkir.

Kursi itu kosong. Ada selimut tipis yang dilipat rapi di sandarannya. Ada gelas plastik kecil di meja samping kursi, dengan sisa air sedikit di dasarnya, dan sebuah garis yang digambar dengan spidol hitam di dinding luar gelas itu.

“Sus,” kataku pada perawat di meja. Suaraku keluar dengan normal. Aku masih ingat betapa anehnya suaraku terdengar normal. “Kursi empat ke mana?”

“Oh, Mas Irvan? Udah selesai tadi jam tujuh, Dok. Dia selalu minta jadwal paling pagi, biar bisa kerja siangnya.” Perawat itu tersenyum. “Anaknya baik, Dok. Disiplin banget. Tapi kasihan, masih muda. Katanya dulu mau nikah, terus batal.”

Aku menulis catatan tentang ibu yang kram. Aku menulisnya dengan sangat rapi. Aku masih ingat bahwa tulisanku hari itu lebih rapi daripada tulisanku sepanjang masa koas.

Lalu aku bertanya, dengan suara yang masih normal, apakah aku boleh melihat rekam medis pasien kursi empat. Aku bilang ada kemungkinan interaksi obat dengan pasien yang kram tadi. Itu kebohongan. Itu satu-satunya pelanggaran etik yang pernah kulakukan selama aku menjadi dokter, dan aku masih memikirkannya setiap kali aku menandatangani persetujuan kerahasiaan pasien.

Aku membaca berkasnya selama tiga menit.

Tanggal diagnosis. Seminggu sebelum dua belas Juni.

Diagnosis. Penyakit ginjal kronis stadium lima. Etiologi: hipertensi tidak terkontrol, kemungkinan bertahun-tahun.

Keluhan awal: mual berulang, edema tungkai, sesak saat aktivitas.

Mual berulang.

Kamu mual lagi? Ini udah keempat kalinya minggu ini.

Aku menutup berkas itu. Aku mengembalikannya ke perawat. Aku mengucapkan terima kasih dengan suara normal.

Lalu aku berjalan ke tangga darurat, menutup pintunya di belakangku, duduk di anak tangga ketiga, dan tidak bisa bernapas.


“Aku ngerti semuanya dalam satu detik,” kataku.

Di ranjang, ia memejamkan mata.

“Satu detik, Van. Aku duduk di tangga darurat itu, dan semua kalimat kamu malam itu tiba-tiba punya arti lain. Aku nggak siap. Kamu baru divonis. Aku nggak sakit. Kamu bohong. Aku nggak cinta kamu sebanyak yang kamu kira.” Suaraku pecah. Aku tidak menariknya kembali. Aku sudah terlalu lelah untuk menariknya kembali. “Kamu bilang itu supaya aku berhenti nanya. Kamu bilang itu supaya aku pergi.”

Ia tidak membuka mata. Air mata keluar dari sudut matanya yang terpejam, mengalir ke pelipis, ke bantal.

“Dan aku pergi,” kataku. “Aku pergi kayak orang bodoh. Setahun aku nyalahin diriku sendiri, setahun aku mikir aku kurang cantik, kurang pintar, kurang sabar, kurang apa-apa. Padahal kamu lagi duduk di kursi abu-abu, empat setengah jam, dua kali seminggu. Sendirian.”

Aku mengusap mataku dengan punggung tangan.

“Dan yang paling parah,” bisikku, “aku yang pertama tahu kamu mual. Aku yang pertama lihat kaki kamu bengkak. Aku calon dokter, Van. Aku tahu itu bukan maag. Aku tahu. Dan aku cuma kasih kamu permen jahe.”

Kalimat itu sudah tujuh tahun duduk di dadaku. Aku belum pernah mengucapkannya pada siapa pun. Tidak pada Papa, tidak pada Mama, tidak pada sahabatku, tidak pada psikolog rumah sakit yang pernah kudatangi dua kali di tahun ketiga lalu berhenti karena jadwal jaga.

Ia membuka mata.

“Sa,” katanya. “Itu bukan salah kamu.”

“Aku tahu.”

“Aku yang nggak mau periksa.”

“Aku tahu, Van.” Aku tertawa, tawa yang basah dan jelek. “Aku dokter ginjal sekarang. Aku tahu persis gimana pasien hipertensi umur dua puluhan nggak mau periksa. Aku ngadepin mereka tiap hari di poli. Aku tetap nyalahin diri sendiri. Itu bedanya tahu sama ngerasa.”


Hari itu, setelah jaga, aku tidak pulang.

Aku menunggu di parkiran RS Kartika. Aku tahu jadwalnya. Jumat pagi, pukul enam, kursi empat. Aku tahu, karena aku membacanya di papan tulis, dan setelah itu aku tidak bisa berhenti membacanya di kepalaku.

Jadi hari Jumat, aku datang ke parkiran itu pukul lima tiga puluh pagi. Bukan jadwal jagaku. Aku datang dengan jaket tebal, masker, dan topi rajut, karena Bandung bulan Juli dingin dan karena aku tidak ingin dikenali.

Aku bersembunyi di balik ambulans.

Satu-satunya ambulans RS Kartika, Toyota tua warna putih dengan stiker palang merah yang sudah mengelupas, diparkir di pojok dekat pintu samping. Dari celah antara bumper belakang ambulans dan tembok, aku bisa melihat pintu samping rumah sakit.

Pukul lima lima puluh, motor masuk ke parkiran.

Motor bebek biru tua yang sama. Dengan stiker kecil Kopi Dago yang sudah pudar di sayap depan, stiker yang dulu kutempel sendiri sambil tertawa.

Ia turun dari motor.

Ia lebih kurus. Jauh lebih kurus. Pipinya cekung, kulitnya sedikit lebih gelap, ada sesuatu di cara ia berjalan, sedikit lebih lambat, sedikit lebih hati-hati, seperti orang yang menyimpan tenaganya untuk sesuatu yang lebih penting dari berjalan. Ia memakai kemeja lengan panjang. Bulan Juli. Bandung. Tapi itu tidak aneh. Bandung dingin.

Lalu ia berhenti di depan pintu samping dan menggulung lengan kemeja kirinya sampai siku. Hanya sebentar, untuk menggaruk sesuatu, lalu menurunkannya lagi.

Dari balik ambulans, dari jarak dua puluh meter, aku melihat bentuk itu di lengan bawahnya. Tali kebiruan yang berkelok di bawah kulit.

Aku menutup mulutku dengan dua tangan.

“Mbak,” kata sebuah suara di belakangku.

Aku menjerit.

Bukan jeritan pelan. Jeritan yang cukup keras untuk membuat burung gereja di atap rumah sakit terbang semua. Aku berbalik dan menemukan seorang satpam tua dengan senter di tangan, menatapku dengan curiga di balik masker dan topi rajut dan jaket tebalku.

“Mbak ngapain di balik ambulans jam segini?”

“Saya...” Otakku kosong. “Saya dokter.”

“Dokter apa ngumpet di balik ambulans?”

“Dokter jaga. IGD. Saya...” Aku menunjuk ambulans dengan gerakan tangan yang tidak jelas. “Saya ngecek ban.”

Satpam itu menatap ban ambulans. Lalu menatapku. “Bannya kenapa?”

“Kempes,” kataku. “Sedikit. Bahaya kalau ada pasien darurat.”

Satpam itu berjongkok dan menekan ban ambulans dengan jempolnya, sangat serius, persis seperti aku dulu menekan punggung kaki seseorang untuk memeriksa edema. Ia menekan lama. Lalu ia berdiri.

“Nggak kempes, Dok.”

“Oh,” kataku. “Syukurlah.”

Ketika aku menoleh lagi ke pintu samping, ia sudah masuk. Motor biru tua itu terparkir sendirian di bawah tetes air hujan sisa semalam.


“Kamu nggak pernah lihat aku,” kataku. “Kamu nggak pernah tahu aku di sana.”

Di ranjang, ia menatap langit-langit. “Kamu bisa aja nyamperin aku.”

“Aku tahu.”

“Kenapa nggak?”

“Karena aku kenal kamu, Van.” Aku menatapnya. “Kalau aku nyamperin kamu hari itu, kamu bakal ngapain?”

Ia tidak menjawab.

“Kamu bakal pindah,” kataku. “Kamu bakal pindah rumah sakit. Kamu bakal ganti jadwal. Kamu bakal ganti nomor. Kamu bakal ngilang lagi, lebih jauh, lebih rapi, dan kali ini aku nggak bakal pernah nemuin kamu.” Aku menarik napas. “Kamu bohong sama aku di teras rumah Ibu biar aku pergi. Kamu bilang kamu nggak cinta aku. Orang yang rela bilang itu, Van, orang itu rela ngelakuin apa aja biar aku nggak deket-deket dia.”

Ia menutup matanya lagi.

“Jadi aku nggak nyamperin,” kataku. “Aku pulang.”


Malam itu, aku duduk di meja belajar kos, di depan laptop.

Batas waktu pendaftaran ujian masuk program pendidikan dokter spesialis gelombang itu jatuh keesokan harinya, pukul dua belas siang. Formulirku sudah terisi semua. Sudah kucek tiga kali. Tinggal satu tombol: Kirim.

Di kolom Program Studi Pilihan, tertulis: Ilmu Kesehatan Anak.

Anak-anak itu pasien paling jujur di dunia. Aku pernah bilang begitu padanya, di kedai Dago, pukul sebelas malam, dengan kopi susu gula setengah sendok di tangan. Aku ingin jadi dokter anak sejak SMA. Aku ingin punya poli dengan dinding bergambar jerapah dan stiker bintang untuk pasien yang berani disuntik.

Aku menatap kolom itu lama sekali.

Lalu aku membuka laci meja. Kotak pensil. Di dalamnya, pulpen tinta hijau cadangan yang tidak ikut kubakar.

Aku mengambil pulpen itu. Aku membuka buku catatan koas, halaman terakhir, di bawah deretan angka yang sudah mencapai Hari ke-392, dan aku menulis satu kalimat dengan tinta hijau.

Pasien ginjal selalu balik lagi.

Lalu aku menutup buku itu, kembali ke laptop, dan mengklik menu Program Studi Pilihan.

Aku menggeser pilihannya ke Ilmu Penyakit Dalam, dan menekan Kirim.