Chapter Six
Gula Tiga Sendok
POV: Irvan
“Karena modalnya setengah,” kataku.
Itu jawaban yang kuberikan pada semua orang selama lima tahun. Pada Dodi di hari pertama ia melamar kerja. Pada pelanggan yang penasaran. Pada Pak Ujang, yang sampai sekarang yakin aku punya investor rahasia yang menanggung setengah sisanya. Jawaban itu sudah begitu sering kuucapkan sampai terdengar seperti kebenaran.
Salsa menatap papan nama itu beberapa detik lagi. Lalu matanya turun dan menemukan mataku di seberang kedai.
Ia tersenyum.
Bukan senyum kecil yang tadi. Ini senyum lain. Senyum yang miring sedikit ke kiri, senyum yang dulu ia pakai setiap kali aku bilang aku tidak capek padahal mataku hampir tertutup, setiap kali aku bilang aku sudah makan padahal belum, setiap kali aku bilang aku baik-baik saja.
Senyum orang yang tahu ia sedang dibohongi, dan memutuskan untuk membiarkannya.
“Oh,” kata Salsa.
Hanya itu. Lalu ia membuka pintu dan melangkah ke gerimis yang tersisa, payung rusaknya terkepit di ketiak, tidak dibuka.
Lonceng berbunyi. Aku berdiri di balik bar, memegang lap basah, dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku tidak yakin jawaban itu masih berfungsi.
Dr. Reza mulai datang setiap hari.
Awalnya hanya pagi, bersamaan dengan Salsa, atau beberapa menit sesudahnya. Ia selalu duduk di depan Salsa di meja dekat jendela, kecuali kalau Salsa sedang membaca map pasien, dan pada hari-hari itu ia duduk di meja sebelah dan berpura-pura sibuk dengan ponselnya sambil mencuri pandang. Aku tahu, karena aku juga berpura-pura sibuk sambil mencuri pandang, dan dari balik bar aku bisa melihat kami berdua melakukan hal yang sama.
Bedanya, ia boleh duduk di sana.
Lalu dr. Reza mulai datang sore juga. Ia memesan americano panas, duduk sebentar, memeriksa ponsel, lalu pergi. Setelah tiga hari, aku sadar ia datang di sore hari karena berharap Salsa akan datang juga, seperti malam hujan itu.
Salsa tidak pernah datang sore lagi.
Hari Sabtu, dr. Reza datang ke kasir dengan wajah yang tidak bisa kubaca.
“Mas,” katanya. “Saya mau lapor.”
Dodi, yang sedang mengisi toples gula, berhenti dan menatap dr. Reza dengan curiga, seperti anjing penjaga yang melihat kurir paket.
“Lapor apa, Pak?” tanyaku.
“Soal mi kocok.” Dr. Reza bersandar di meja kasir dan menghela napas panjang. “Saya ajak dia hari Kamis. Saya bilang saya tahu tempat mi kocok enak di Banceuy. Pakai kikil, tanpa seledri, kuah panas.”
Aku menunggu. Tanganku di bawah meja kasir mencengkeram ujung celemek.
“Dia nolak lagi,” kata dr. Reza.
Aku menghembuskan napas, terlalu lega, dan langsung membenci diriku karena lega.
“Tapi,” lanjut dr. Reza, “dia diem lama banget sebelum nolak. Lama banget, Mas. Saya kira dia mau bilang iya. Terus dia nanya, ‘Siapa yang bilang ke kamu soal mi kocok itu?’”
Tanganku berhenti mencengkeram celemek.
“Saya jujur,” kata dr. Reza, sedikit malu. “Saya bilang saya nanya ke barista di Kedai Setengah. Karena Mas yang tiap hari bikin kopinya, pasti Mas tahu seleranya.”
Dodi menjatuhkan sendok gula.
“Terus?” tanyaku. Suaraku terdengar sangat jauh, seperti datang dari ruangan lain.
“Terus dia ketawa.” Dr. Reza mengerutkan dahi, bingung. “Ketawa kecil gitu, terus bilang, ‘Baristanya pintar nebak.’ Terus dia pergi visite.” Ia menatapku dengan mata penuh rasa ingin tahu yang tulus. “Mas, saya penasaran. Mas tebak dari mana? Kok bisa pas? Dia kayak kaget banget.”
Aku membuka mulut. Lalu menutupnya. Lalu membukanya lagi.
“Statistik, Pak,” kataku. “Kebanyakan dokter suka mi kocok.”
Dr. Reza mengangguk perlahan, seperti mempertimbangkan apakah ia pernah membaca jurnal tentang itu. “Saya kardiolog, Mas. Saya nggak suka mi kocok. Kolesterolnya.”
“Mungkin Bapak pengecualian.”
“Mungkin.” Ia tersenyum lagi, senyum yang tidak pernah bisa kubenci sepenuh hati. “Ya udah, Mas. Americano satu, ya. Saya mau coba ajak dia lagi minggu depan. Kali ini ke tempat lain. Nanti saya konsultasi lagi sama Mas.”
Jangan, pikirku. Jangan konsultasi lagi denganku. Tolong.
“Siap, Pak,” kataku.
Aku membuat americanonya. Aku menakar espresso dua shot, menuang air panas, lalu tanganku bergerak ke toples gula yang baru diisi Dodi.
Satu sendok.
Dua sendok.
Tiga sendok.
Kuaduk perlahan sampai gulanya larut, lalu kututup dan kuserahkan dengan senyum paling profesional yang kumiliki.
Dodi menatap americano itu dengan mata terbelalak, lalu menatapku, lalu menatap americano itu lagi.
Dr. Reza membayar, mengucapkan terima kasih, dan duduk di meja dekat pintu. Ia menyeruput kopinya.
Ia berhenti.
Ia menatap cup-nya. Ia menyeruput lagi, lebih pelan, dengan dahi berkerut seperti sedang membaca hasil EKG yang tidak biasa.
Lalu wajahnya cerah.
“Mas!” panggilnya dari meja. “Ini unik banget! Manis banget! Saya suka!”
“Makasih, Pak.”
“Ini resep baru, Mas?”
“Resep khusus, Pak.”
“Wah. Saya merasa terhormat.” Ia mengangkat cup-nya ke arahku seperti bersulang, lalu menyeruput lagi dengan bahagia.
Dodi menarik lengan bajuku dan menyeretku ke balik mesin espresso, ke tempat dr. Reza tidak bisa melihat kami.
“Mas,” bisiknya dengan wajah penuh kekaguman dan sedikit ketakutan. “Mas barusan sabotase kopi orang.”
“Nggak.”
“Tiga sendok, Mas. Itu americano. Americano itu sakral. Mas sendiri yang bilang americano itu jujur, nggak boleh dikasih gula, nanti kopinya sedih.”
“Dia nggak protes.”
“Dia kardiolog, Mas! Dia ngurus jantung orang! Mas kasih dia diabetes!”
“Tiga sendok nggak bikin diabetes, Dod.”
“Tiga sendok tiap hari?” Dodi menyipitkan mata. Lalu, pelan-pelan, wajahnya berubah. Dari ngeri menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih berbahaya. “Mas... Mas cemburu.”
“Nggak.”
“Mas cemburu sama dr. Reza.”
“Dod. Cuci gelas.”
“Mas cemburu karena dr. Reza deket sama Bu Dokter!” Dodi menutup mulutnya dengan dua tangan, matanya berbinar seperti baru menemukan rahasia negara. “Mas suka Bu Dokter! Mas... Mas saingan saya!”
“Dodi.”
“Ya Allah. Saya bersaing sama bos sendiri.” Dodi memegang dadanya. “Ini kayak sinetron, Mas. Ini kayak sinetron jam tujuh malam.”
Kirana lewat di belakang kami dengan nampan. “Dod. Kamu nggak bersaing sama siapa-siapa. Kamu cuma penonton.”
“Saya penonton yang punya perasaan!”
“Penonton yang punya perasaan juga harus cuci gelas.”
Hari Kamis berikutnya, Nadia datang.
Nadia mengantar biji kopi setiap dua minggu sekali, dari kebun keluarganya di Pangalengan. Ia datang dengan mobil bak terbuka warna oranye yang catnya sudah mengelupas di mana-mana, dan ia selalu memarkirnya dengan sembarangan di depan kedai sampai tukang parkir rumah sakit menjerit-jerit dari seberang.
“Van!” teriaknya dari pintu, membopong dua karung goni di bahu seolah-olah isinya kapas. “Arabika Malabar, panen kemarin, honey process! Aku jamin kamu nangis!”
Nadia tiga puluh tiga tahun, rambut pendek seperti cowok, kaus belel bergambar band yang tidak pernah kudengar, dan tawa yang bisa terdengar dari ujung gang. Kami berteman sejak kuliah. Di luar Ibu dan para perawat unit hemodialisis yang disumpah menjaga rahasia pasien, ia satu-satunya orang yang tahu apa yang terjadi padaku delapan tahun lalu.
Ia tahu karena ia orang yang mengantarku ke rumah sakit pertama kali, ketika aku pingsan di kedai Dago. Ia tahu karena ia orang yang menungguku di ruang tunggu IGD sampai subuh. Ia tahu karena ia menatap hasil labku dari balik bahuku, dan ketika aku memintanya untuk tidak bilang siapa-siapa, ia memukul kepalaku dengan buku menu, lalu memelukku sampai tulangku berbunyi, lalu berjanji.
Ia menepati janjinya. Tapi setiap dua minggu, ia tidak pernah lupa bertanya apakah aku masih minum obat, dan setiap dua minggu, ia memeriksa pergelangan kakiku diam-diam ketika mengira aku tidak melihat.
“Taruh di belakang, Nad,” kataku.
“Tunggu, aku mau seduh satu dulu. Kamu harus nyobain sebelum...” Nadia berhenti bicara.
Ia berdiri di depan bar, dua karung goni masih di bahu, dan matanya terpaku ke jendela.
Ke kursi dekat jendela.
Hari ini Salsa datang agak siang, pukul tujuh. Itu sudah terjadi beberapa kali minggu ini. Pak Ujang bilang ada perubahan jadwal visite di bangsal penyakit dalam, dan papan taruhan di balik loker satpam sekarang punya kolom baru: JAM BERAPA BU DOKTER DATANG?
Nadia menatap punggung Salsa. Nadia melihat cepol itu, helai rambut itu.
Lalu Nadia menatapku.
Nadia tidak pernah bertemu Salsa. Tapi Nadia pernah melihat ratusan foto Salsa di ponselku, dulu, sebelum aku menghapus semuanya. Nadia pernah mendengarku bercerita tentang Salsa sampai ia bilang telinganya berdarah. Nadia pernah memelukku di parkiran rumah sakit malam itu ketika aku bilang aku akan membatalkan pernikahan, dan Nadia pernah menamparku sekali, sangat keras, ketika aku bilang aku tidak akan memberi tahu Salsa alasannya.
Dua karung goni turun dari bahu Nadia ke lantai dengan bunyi gedebuk.
“Van,” katanya dengan suara yang sangat pelan untuk ukuran Nadia. “Dapur. Sekarang.”
“Itu dia,” kata Nadia, begitu pintu dapur tertutup. “Itu dia, kan? Salsa.”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Tiga minggu.”
Nadia menatapku. Lalu ia menutup wajahnya dengan dua tangan dan mengerang panjang ke telapak tangannya, seperti orang yang baru dikabari harga cabai naik tiga kali lipat.
“Tiga minggu,” ulangnya dari balik tangan. “Tiga minggu, dan aku baru tahu sekarang?”
“Kamu baru datang sekarang.”
“Kamu punya HP, Van! HP! Teknologi abad dua puluh satu!” Ia menurunkan tangannya. “Dia tahu?”
“Tahu apa?”
“Tahu soal...” Nadia melirik lengan kiriku, yang tertutup kemeja abu-abu sampai pergelangan. “Soal itu.”
“Nggak.”
“Kamu yakin?”
“Dia pura-pura nggak kenal aku, Nad.”
Nadia diam sebentar. Lalu ia menyipitkan mata, persis seperti Ibu, persis seperti Kirana. Kenapa semua perempuan di hidupku punya tatapan yang sama?
“Pura-pura nggak kenal,” ulangnya, “tapi datang tiap hari?”
“Kedainya deket rumah sakit.”
“Van, kantin rumah sakit lebih deket.”
“Kenapa semua orang ngomong itu?”
“Karena itu fakta, bodoh!” Nadia memukul lengan kananku. Juga bukan lengan kiri. “Dengerin. Aku cuma mau ngomong satu hal. Satu. Kamu dengerin baik-baik.”
Aku menunggu.
“Delapan tahun lalu aku nampar kamu karena kamu bego. Kamu ingat?”
“Ingat.”
“Aku masih pengin nampar kamu sampai sekarang. Tapi aku udah tunangan, Gilang bilang aku harus belajar ngontrol emosi, jadi aku nggak nampar kamu.” Nadia menarik napas panjang. “Tapi kalau kamu bego lagi, Van, aku nggak peduli Gilang bilang apa.”
“Aku nggak ngapa-ngapain, Nad.”
“Justru itu.” Nadia mengambil karung goninya kembali ke bahu. “Kamu nggak ngapa-ngapain. Udah delapan tahun kamu nggak ngapa-ngapain. Dan perempuan itu masih datang.”
Ia membuka pintu dapur dan berjalan keluar, kembali ke bar, kembali ke Dodi yang sedang menunggu dengan tangan terentang untuk menerima karung dan pertanyaan di seluruh wajahnya.
Aku berdiri sendirian di dapur sebentar. Lalu aku keluar.
Hari Sabtu, setelah cuci darah hari Jumat, plester bulat kecil masih menempel di lengan kiriku.
Plester itu menutupi bekas tusukan jarum, dua titik kecil di atas fistula, yang biasanya baru kering betul setelah dua hari. Aku tidak pernah melepasnya di hari Sabtu. Itu aturan Sus Mira, dan aturan Sus Mira lebih sakral daripada americano tanpa gula.
Pagi itu kedai ramai. Rombongan perawat bangsal tiga datang sekaligus, tujuh orang, merayakan ulang tahun salah satu dari mereka. Cup ukuran medium di bawah bar habis sebelum pukul enam lewat sepuluh.
“Mas, cup medium habis!” seru Dodi.
“Di rak atas.”
Rak atas menempel di dinding di belakang bar, tinggi, hampir menyentuh plafon. Aku harus berjinjit untuk mencapainya. Aku mengangkat kedua tangan, meraih kardus cup yang paling ujung, dan menariknya pelan supaya tumpukan di belakangnya tidak ikut jatuh.
Kardus itu macet. Aku menariknya lebih keras, mengangkat lengan lebih tinggi.
Dan aku merasakannya: manset kemeja kiriku, yang kancingnya longgar sejak minggu lalu dan belum sempat kujahit, tergelincir turun dari pergelangan. Turun ke lengan bawah. Turun sampai hampir ke siku.
Udara dingin menyentuh kulit di bagian dalam lengan kiriku.
Aku membeku, masih berjinjit, kardus di tangan.
Di bawah lampu kedai, fistula itu terlihat jelas. Tali kebiruan yang berkelok di bawah kulit, menonjol seperti akar pohon. Dua plester bulat kecil di atasnya. Bekas-bekas tusukan lama di sekitarnya, titik-titik kecil yang sudah memudar menjadi pola yang hanya bisa dibuat oleh lima tahun jarum dua kali seminggu.
Aku menurunkan lengan secepat mungkin. Kardus cup ikut turun, menghantam bahuku, dan beberapa cup berhamburan ke lantai. Aku menarik manset kemeja kembali ke pergelangan, mencengkeramnya dengan tangan kanan.
Lalu aku menoleh.
Salsa berdiri di depan kasir. Ia sedang membayar. Dompetnya terbuka di tangan, uang pas di antara jari-jarinya. Ia berdiri tepat di garis pandang ke rak atas, satu setengah meter dariku.
Ia sedang menatap lengan kiriku.
Matanya ada di sana. Di manset yang baru saja kutarik, di tanganku yang mencengkeramnya. Wajahnya tidak bergerak, tidak berubah, tidak terkejut. Wajah dokter yang sudah melihat ribuan lengan seperti itu.
Satu detik. Dua detik.
Lalu Salsa memalingkan wajahnya.
Ia meletakkan uang pas di meja kasir. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia berbalik dan berjalan ke kursi dekat jendela, dan duduk membelakangiku, seperti setiap pagi.
Dodi berjongkok memungut cup-cup yang berhamburan, menggerutu tentang kardus yang tidak bertanggung jawab.
Aku berdiri di balik bar, tangan kanan masih mencengkeram manset kiri, dan aku merasakan getaran halus fistula di bawah telapak tanganku, terus-menerus, seperti dengung kucing tidur.
Seperti sesuatu yang tidak bisa lagi disembunyikan.
- 1 Pesanan Jam Enam
- 2 Aku Nggak Siap
- 3 Tiup Tiga Kali
- 4 Permen Jahe di Toples Tip
- 5 Croissant Terakhir
- 6 Gula Tiga Sendok reading
- 7 Hal yang Tidak Diketahui Orang Asing
- 8 Van
- 9 Pasar Hari Minggu
- 10 Menu Baru
- 11 Masa Depan yang Pantas
- 12 Sandiwara Makan Siang
- 13 Kejutan untuk dr. Salsa
- 14 Kalimat yang Sama
- 15 Kursi Kosong Jam Enam
- 16 Yang Berlari Menyeberang
- 17 Tahun Kedua
- 18 Kaleng Biskuit
- 19 Tabungan Nikah
- 20 Harga Lima Tahun
- 21 Yang Kusiapkan Sambil Menunggu
- 22 Satu Malam
- 23 Sebelum Operasi
- 24 Tangan yang Masih Menggenggam
- 25 Sekarang Aku yang Jaga
- 26 Pulang
- 27 Kencan Pertama yang Kedua
- 28 Pegangan Tangan Itu Susah
- 29 Nembak Ulang
- 30 Resmi (Lagi)
- 31 Sandiwara yang Ketahuan
- 32 Lamaran
- 33 Angka yang Naik
- 34 Di Depan Pintu
- 35 Malam yang Sama
- 36 Nilai Kembali Normal
- 37 Kebaya yang Menunggu
- 38 Pagi Akad
- 39 Sekarang Aku Siap
- 40 Rumah Kecil, Dapur Gosong
- 41 Epilog: Gelas Penuh