← Gula Setengah Sendok

Chapter Twenty Four

Tangan yang Masih Menggenggam

POV: Salsa


Hal pertama yang kurasakan bukan sakit.

Hal pertama yang kurasakan adalah haus. Haus yang aneh, haus yang datang dari tenggorokan yang baru saja dilewati selang pernapasan, kering dan perih seperti amplas. Lalu dingin. Ruang pemulihan selalu dingin, dan selimut tipis rumah sakit tidak pernah cukup.

Baru setelah itu, sakit. Di perut kiri bawah, di tiga titik kecil tempat alat laparoskopi masuk, dan di satu sayatan yang sedikit lebih panjang di bawah pusar, tempat ginjalku dikeluarkan. Sakitnya tumpul, berdenyut, seperti seseorang menekan memar dari dalam.

Aku membuka mata. Lampu putih. Plafon putih. Monitor yang berbunyi pelan di samping kepalaku.

Seorang perawat ruang pemulihan, perempuan muda dengan masker hijau, menunduk di atasku.

“Dok? Dokter Salsa? Udah sadar?”

Aku membuka mulut. Suaraku keluar seperti bisikan orang yang baru pulang dari konser.

“Ginjalnya.”

“Dok?”

“Ginjalnya,” ulangku. “Di resipien. Udah keluar urin belum?”

Perawat itu menatapku. Lalu menatap rekannya di meja jaga. Lalu menatapku lagi.

“Dok,” katanya dengan sangat sabar. “Dokter pasien sekarang. Dokter baru sadar dari bius umum. Dokter nggak usah mikirin resipien dulu.”

“Kencing nggak?”

“Dok...”

“Sus.” Aku mencoba mengangkat kepala. Perutku menjerit. Aku menurunkan kepala lagi. “Sus, tolong. Satu pertanyaan. Setelah itu saya diem.”

Perawat itu menghela napas panjang di balik maskernya. Lalu ia berjalan ke meja jaga dan mengangkat telepon.

Aku menatap plafon dan menghitung. Satu. Dua. Tiga. Pada hitungan keempat puluh tujuh, tirai di sekeliling ranjangku tersibak.

Dr. Bambang. Masih memakai baju bedah biru dan topi bermotif bebek kuning. Kacamata bundarnya berembun sedikit di bagian bawah.

Ia berdiri di samping ranjangku. Ia tidak duduk.

“Sa,” katanya.

Aku menatapnya. Aku tidak bisa bernapas.

Dr. Bambang melepas kacamatanya. Mengelapnya dengan ujung baju bedah. Memasangnya lagi.

“Ginjalnya langsung kerja,” katanya. “Di meja operasi. Begitu klemnya dilepas, warnanya langsung merah muda, dan urinnya langsung keluar.” Suaranya yang pelan sedikit bergetar. “Banyak, Sa. Banyak sekali.”

Aku menutup mata.

Air mata keluar dari sudut mataku, mengalir ke telinga, dingin. Aku tidak menyekanya. Aku tidak bisa mengangkat tangan.

“Banyak,” ulangku.

“Banyak.” Dr. Bambang menepuk bahuku dua kali, sangat pelan, menghindari selang infus. “Sekarang kamu istirahat. Kamu pasien. Jangan bikin perawat ruang pemulihan nangis.”

“Saya nggak bikin...”

“Kamu udah nanya empat kali ke tiga perawat yang berbeda sebelum kamu sadar penuh. Mereka ngira kamu ngigau.”


Hari pertama, mereka tidak mengizinkanku ke kamarnya.

Ia di ruang perawatan intensif di lantai empat. Aku di kamar 513 di lantai lima. Aku bisa berjalan, secara teknis, dengan tiang infus dan wajah meringis dan tangan menekan perut, tapi perawat jaga lantai lima berdiri di ambang pintu kamarku seperti penjaga gerbang istana.

“Besok, Dok,” katanya. “Besok pakai kursi roda. Hari ini Dokter istirahat.”

“Saya cuma mau lihat.”

“Besok.”

“Lima menit.”

“Dok,” kata perawat itu, dan aku mengenali nada suaranya. Itu nada suaraku sendiri. Nada yang kupakai pada pasien-pasien keras kepala yang ingin pulang sebelum waktunya. “Dokter mau saya telepon dr. Bambang?”

Aku tidak mau.

Jadi aku berbaring di ranjang kamar 513 sepanjang hari, menatap dinding tipis di antara kamarku dan kamar 512 yang kosong, dan membuka ponselku setiap lima belas menit untuk membaca pesan dari Ibu.

Ibu menungguinya di ruang tunggu ICU. Ibu mengirim laporan setiap jam, lengkap dengan typo dan emoji bunga.

Neng, Van udh bangun. Mukanya pucat tp dia senyum. Dia nanya Neng gmn. Ibu blg Neng sehat. 🌸

Neng, kata suster kencingnya bnyk bgt. Suster smpe ganti kantongnya 2x. Ibu nangis. 🌸🌸

Neng, Ibu liat kantong kencingnya. Ibu foto ya. 🌸

Di bawah pesan itu, ada foto. Foto kantong urin kateter yang tergantung di sisi ranjang ICU, berisi cairan kuning bening, hampir penuh.

Aku menatap foto itu lama sekali.

Kalau ada orang yang bertanya padaku, sebagai dokter ginjal, foto apa yang paling indah yang pernah kulihat seumur hidup, aku akan menjawab tanpa ragu: foto kantong urin di ponsel Ibu, dengan emoji bunga di bawahnya.

Aku menyimpannya di galeri. Aku menjadikannya favorit.


Hari kedua, aku memenangkan pertarungan kursi roda.

Perawat jaga lantai lima mendorongku ke lift, turun ke lantai empat, melewati pintu ganda ICU yang berbunyi bip ketika dibuka dengan kartu. Ia mendorongku sampai ke samping ranjang nomor tiga, dekat jendela, lalu memarkir kursi rodaku dengan rem yang dikunci keras, seolah takut aku akan kabur.

“Sepuluh menit, Dok,” katanya.

Ia tertidur.

Tentu saja ia tertidur. Resipien transplantasi di hari kedua dibius dengan antinyeri yang cukup untuk menenangkan kuda. Ia berbaring setengah duduk, dengan selang oksigen di hidung, selang drain di sisi perutnya, kateter, tiga jalur infus, dan monitor yang berbunyi pelan dengan irama yang sangat teratur.

Aku menatap angka di monitor. Tekanan darah, seratus tiga puluh per delapan puluh. Nadi, delapan puluh delapan. Saturasi, sembilan puluh tujuh.

Lalu aku menatap kantong urin di sisi ranjangnya.

Kuning bening. Hampir penuh lagi.

Aku menatap wajahnya. Pucat, dengan lingkar gelap di bawah mata dan bekas plester di pipi. Rambutnya berantakan. Ia butuh cukur. Ia terlihat lebih tua dan lebih muda sekaligus, seperti barista dua puluh enam tahun di kedai Dago yang tertidur di bangku belakang setelah jaga malam.

Ada sesuatu yang berbeda di wajahnya. Aku tidak bisa menyebutkannya sebagai dokter. Sebagai dokter, aku akan bilang: perfusi perifer membaik, edema periorbital berkurang, warna kulit lebih cerah karena ureum mulai turun.

Sebagai aku, aku hanya bisa bilang: ia terlihat seperti seseorang yang baru saja diizinkan untuk tetap tinggal.

Aku mengulurkan tangan. Pelan, karena perutku masih menjerit setiap kali aku condong ke depan. Aku menemukan tangan kanannya di atas selimut.

Aku tidak menekan dua jari di atas nadinya. Untuk pertama kalinya, aku tidak menghitung.

Aku hanya menggenggam tangannya.

Sepuluh menit kemudian, perawat jaga lantai lima mendorongku keluar dari ICU. Aku tidak protes. Aku menatap ranjang nomor tiga sampai pintu ganda menutup dengan bunyi bip.


Hari ketiga, residen jaga datang untuk memeriksaku pukul tujuh pagi.

Aku mendengar ketukan di pintu, lalu langkah kaki, lalu suara yang terlalu formal dan sedikit gemetar.

“Selamat pagi, Bu. Saya residen jaga, mau periksa luka operasi...”

Aku membuka mata. “Pagi. Kenapa kamu periksa dari kanan? Lukanya di kiri.”

“Oh. Iya, Bu. Maaf, Bu.” Residen itu berpindah ke sisi kiri ranjang. Ia mengangkat selimut, memeriksa balutan luka, menekan perutku dengan ujung jari.

“Pelan,” kataku. “Itu bukan adonan roti.”

“Iya, Bu. Maaf, Bu.”

“Cek drainnya?”

“Iya, Bu, ini mau...”

“Produksinya berapa semalam?”

“Tiga puluh, Bu.”

“Warnanya?”

“Serosanguinous, Bu.”

“Bagus. Terus kenapa kamu nggak catat di status dari tadi malam? Saya lihat jam lima tadi masih kosong.”

Residen itu membeku. Lalu, pelan-pelan, ia mendongak dan menatap wajahku. Wajahnya berubah dari gugup menjadi ngeri. Ngeri yang sangat spesifik. Ngeri yang hanya bisa dimiliki oleh seseorang yang baru sadar bahwa pasien yang sedang ia periksa adalah orang yang sama dengan yang membimbingnya di bangsal tiga bulan lalu.

“Dok,” bisiknya. “Dokter Salsa.”

Aku menatapnya. Aku mengenalinya. Residen tahun pertama, dari angkatan yang kuajari cara membaca analisis gas darah di ruang jaga pukul dua pagi. Yang menangis di toilet setelah kumarahi karena lupa memeriksa kalium pasien gagal ginjal.

“Rizky,” kataku.

“Iya, Dok.”

“Saya pasien kamu sekarang.”

“Iya, Dok.”

“Kamu periksa saya kayak periksa pasien lain. Jangan takut.”

“Iya, Dok.” Rizky menelan ludah. “Dok... drainnya boleh saya catat sekarang?”

“Boleh.”

Ia mencatat. Tangannya gemetar. Lalu ia menunduk sopan, sangat sopan, terlalu sopan, dan berjalan ke pintu.

Di pintu, ia berhenti dan menoleh.

“Dok,” katanya. “Maaf, satu lagi.”

“Apa?”

“Pasien resipien dari ICU, Dok. Mas Irvan. Udah pindah ke kamar 512 tadi subuh.” Rizky menunjuk ke arah dinding di antara kamarku dan kamar sebelah, dengan dagunya. “Kata perawat, jam lima tadi dia minta jalan-jalan. Katanya mau latihan jalan, biar cepet pulih.”

“Terus?”

Rizky menatapku dengan wajah yang tidak bisa kubaca. Lalu ia menatap sesuatu di samping ranjangku, di sisi kanan, di sisi yang tadi tidak ia periksa.

“Terus jalannya ke sini, Dok,” kata Rizky. “Dari jam lima.”

Ia keluar.

Aku menoleh ke kanan.


Ia ada di sana.

Di kursi plastik di samping ranjangku, di sisi kanan, sisi yang tidak kulihat karena aku tidur menghadap kiri, karena luka operasiku di kiri dan tidur miring ke kanan terlalu sakit.

Ia duduk di kursi itu dengan baju pasien biru kotak-kotak, tiang infus di sampingnya, kantong urin tergantung di tiang itu, selang drain menyembul dari balik baju. Kepalanya terkulai ke bahu kanan. Matanya terpejam. Mulutnya sedikit terbuka. Napasnya pelan dan teratur.

Ia tertidur.

Dan tangan kirinya, tangan dengan fistula yang masih berdengung pelan di bawah kulit, tangan dengan dua bekas jarum dari cuci darah terakhir delapan hari lalu, sedang menggenggam tangan kananku di atas selimut.

Aku tidak sadar. Aku tidur sepanjang malam, terbangun karena residen, memarahi residen, dan tidak sekali pun sadar ada tangan yang menggenggam tanganku dari sisi lain ranjang.

Sejak jam lima.

Dua jam. Hari ketiga setelah transplantasi. Dengan drain dan kateter dan tiga jalur infus. Ia berjalan dari kamar 512 ke kamar 513, dua puluh langkah di koridor yang dingin, mendorong tiang infusnya sendiri. Ia menarik kursi plastik ke samping ranjangku, di sisi yang tidak akan kulihat. Ia menggenggam tanganku. Lalu ia tertidur di sana, duduk, dengan kepala terkulai, karena tubuhnya yang baru saja dioperasi tidak bisa tetap terjaga lebih lama.

Aku menatap tangannya di tanganku.

Lalu aku menatap wajahnya, dan aku menangis lagi. Tanpa suara. Tangisan yang sudah terlalu sering kulakukan minggu ini, dan aku sudah berhenti peduli.

Delapan tahun aku memegang pergelangan tangannya. Dua jari di atas nadi. Menghitung. Memastikan.

Sekarang ia yang memegang tanganku. Bukan untuk menghitung. Hanya untuk memegang.


Ia bangun pukul delapan kurang sepuluh.

Kepalanya terangkat pelan. Matanya terbuka setengah, bingung, seperti orang yang tidak ingat sedang di mana. Lalu matanya menemukan tanganku di tangannya, lalu wajahku, lalu air mataku.

“Sa,” katanya. Suaranya serak dan berat. “Kamu kenapa? Sakit? Aku panggil perawat...”

“Nggak.”

“Lukanya?”

“Nggak, Van.” Aku tertawa, basah. “Kamu ngapain di sini? Kamu hari ketiga. Kamu harusnya tiduran.”

“Aku latihan jalan.”

“Dua puluh langkah terus tidur dua jam?”

“Latihan duduk juga.” Ia mengedip pelan, mengumpulkan kesadarannya. Lalu matanya bergerak ke meja di samping ranjangku. Ada gelas plastik di sana, berisi air hangat yang dituang perawat tadi pagi, dengan sedotan bengkok.

Ia melepaskan tanganku. Ia meraih gelas itu, pelan, dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia mendekatkan gelas itu ke bibirnya.

Lalu ia meniupnya.

Satu.

Dua.

Tiga.

Ia menyodorkan gelas itu padaku, sedotan bengkok menghadap ke arahku.

“Minum,” katanya. “Dari kemarin kamu belum minum, kata Ibu.”

Aku menatap gelas itu. Air hangat, bukan kopi. Tidak perlu ditiup. Tidak panas sama sekali.

Tiupan pertama buat panasnya. Tiupan kedua buat capeknya. Tiupan ketiga buat doa.

“Tiupan ketiganya,” kataku. “Buat siapa?”

Ia menatapku. Lalu, pelan, pipinya yang pucat sedikit memerah.

“Kepo,” katanya.

Aku tertawa sampai perutku menjerit, dan aku harus menekan luka operasiku dengan bantal, dan air mataku jatuh ke gelas air hangat yang ditiup tiga kali. Ia menatapku tertawa dengan senyum kecil yang miring sedikit, yang sudah delapan tahun tidak kulihat dan yang sekarang tidak akan kubiarkan pergi lagi.

Aku minum dari sedotan bengkok. Airnya hangat. Rasanya seperti air biasa.

Rasanya seperti hal paling enak yang pernah kuminum.


“Sa,” katanya setelah aku selesai minum.

“Hm?”

Ia meletakkan gelas kembali ke meja. Lalu ia menatapku dengan wajah serius, wajah orang yang sudah memikirkan sebuah kalimat sejak di ruang pemulihan dan baru sekarang menemukan keberanian untuk mengucapkannya.

“Sekarang,” katanya, “separuh aku tinggal di kamu. Jadi jangan macam-macam.”

Aku menatapnya.

Ia menatapku balik dengan sangat serius. Sangat yakin. Dengan antinyeri dosis tinggi di pembuluh darahnya dan kantong urin tergantung di tiang infus di sampingnya, berisi cairan kuning bening yang dihasilkan oleh ginjal yang tiga hari lalu masih ada di perutku.

“Van,” kataku pelan.

“Hm?”

“Kebalik.”

Ia mengedip.

“Kebalik, Van,” ulangku, dan tawaku muncul lagi, dan perutku menjerit lagi, dan aku tidak peduli. “Ginjalnya punya aku. Pindah ke kamu. Separuh aku yang tinggal di kamu.”

Ia diam. Aku melihat otaknya, yang masih setengah terbius, bekerja sangat lambat, memproses kalimat itu. Lalu aku melihat wajahnya berubah. Dari serius, ke bingung, ke malu, ke sesuatu yang lain.

“Oh,” katanya.

“Iya.”

“Separuh kamu,” katanya pelan, “tinggal di aku.”

“Iya.”

Ia menunduk, menatap perutnya sendiri, ke tempat drain menyembul dari balik baju pasien. Lalu ia meletakkan telapak tangannya di sana, sangat hati-hati, di atas tempat yang kini ditinggali ginjal kiriku.

“Kalau gitu,” katanya, masih menunduk, “aku yang nggak boleh macam-macam.”

“Iya.”

“Seumur hidup.”

“Iya, Van.”

Ia mendongak. Matanya basah.

“Separuh kamu tinggal di aku,” katanya sekali lagi, seperti orang yang menghafal sesuatu yang tidak boleh dilupakan. Lalu ia tersenyum, senyum yang paling lebar yang pernah kulihat di wajahnya sejak warung Mang Ade. “Aku jagain.”