← Gula Setengah Sendok

Chapter Eight

Van

POV: Irvan


Aku menyimpan sleeve itu di dompet.

Bukan di laci, bukan di saku kemeja, bukan di toples atau kotak mana pun. Di dompet, di belakang KTP, di tempat yang akan kubawa ke mana-mana. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku takut kalau kusimpan di tempat lain, besok pagi aku akan bangun dan sleeve itu tidak ada, dan semua yang terjadi hari Kamis ternyata cuma efek samping cuci darah.

Gula setengah sendok. Dari dulu.

Hari Jumat, di kursi tujuh, aku membacanya empat kali sementara mesin membersihkan darahku. Sus Mira memergokiku di bacaan ketiga.

“Mas baca apa? Surat cinta?”

“Struk belanja, Sus.”

“Struk belanja kok dibaca sambil senyum?”

“Harganya murah.”

Sus Mira menatapku dengan pandangan yang membuatku yakin papan taruhan di balik loker satpam akan punya kolom baru sebelum makan siang.

Malamnya, aku berbaring di kasur dan memutuskan sesuatu.

Aku tidak akan bertanya. Aku tidak akan mengungkit nama yang ia sebut, atau tulisan hijau di sleeve itu, atau apa pun yang terjadi hari Kamis. Kalau Salsa ingin terus menjadi orang asing yang tahu ulang tahunku, aku akan menjadi barista yang tidak tahu apa-apa tentang orang asing itu. Kalau ini permainan, aku akan ikut bermain.

Karena kalau aku bertanya, ia mungkin akan menjawab. Dan kalau ia menjawab, aku harus menjawab juga.

Dan aku belum siap menjawab apa pun.


Sabtu pagi, pukul enam tepat, lonceng berbunyi.

“Kopi susu,” kata Salsa. “Gula setengah sendok.”

“Atas nama siapa, Kak?” tanya Dodi. Sejak hari Kamis, Dodi menanyakan nama dengan suara yang bergetar karena terlalu banyak emosi, seperti presenter acara reuni keluarga di televisi.

Salsa melirikku sekilas. Hanya sekilas.

“Pelanggan Biasa,” katanya.

Dodi menulis PELANGGAN BIASA dengan huruf kapital, lalu menambahkan tanda kutip di kedua ujungnya, karena menurut Dodi tidak ada yang biasa dari pelanggan ini.

Aku menyeduh kopinya. Aku menulis di sleeve: Makasih. Lalu mencoretnya. Lalu, setelah ragu, mencoretnya sekali lagi. Dodi mengantarnya ke kursi dekat jendela.

Salsa minum. Salsa pergi. Sleeve tertinggal di meja, seperti biasa.

Tidak ada tinta hijau di sleeve itu. Aku memeriksanya. Aku memeriksanya dua kali, di bawah lampu bar, membolak-baliknya seperti orang yang mencari nomor undian. Kosong. Hanya coretanku.

Kirana melihatku memeriksanya. Ia tidak berkata apa-apa. Tapi sorenya, ketika aku membuka laci kasir, ada pulpen tinta hijau baru di sana, masih dalam plastiknya, dengan sticky note kuning bertuliskan tangan Kirana yang kecil-kecil:

Kalau Mas mau balas.

Aku menutup laci itu dengan sangat pelan.


Senin pagi, semuanya kacau.

Pukul lima tiga puluh, Kirana mengirim pesan: Mas maaf saya demam 39. Nggak kuat bangun. Disertai foto termometer digital dan emoji menangis yang tidak cocok dengan kepribadiannya.

Pukul lima empat puluh lima, Dodi menelepon. Suaranya bercampur bunyi klakson dan angin. “Mas! Motor saya mogok di Pasupati! Saya dorong ke bengkel dulu, Mas! Paling lambat jam setengah tujuh!”

Pukul lima lima puluh delapan, aku berdiri sendirian di balik bar Kedai Setengah, menatap jalan di seberang yang mulai ramai, dan menyadari bahwa hari Senin adalah hari paling sibuk dalam seminggu. Semua perawat yang libur hari Minggu kembali dengan kebutuhan kafein dua kali lipat.

Pukul enam tepat, lonceng berbunyi.

Bukan Salsa. Rombongan perawat bangsal empat, lima orang, masih memakai jaket di atas seragam, wajah setengah sadar.

Pukul enam lewat dua, lonceng berbunyi lagi. Pak Ujang dengan pesanan empat kopi hitam.

Pukul enam lewat empat, lonceng berbunyi lagi. Dua keluarga pasien. Lalu satu lagi. Lalu Sus Mira dengan dua temannya dari unit hemodialisis.

Pukul enam lewat enam, antrean sudah sampai ke pintu, dan aku berdiri sendirian di antara mesin kasir dan mesin espresso, mencoba mencatat pesanan sambil menggiling biji sambil memanaskan susu, dan aku punya dua tangan dan kedua-duanya sudah kewalahan.

“Mas, saya pesan latte dingin, tadi udah bilang belum?”

“Mas, kopi hitam saya yang mana?”

“Mas, bisa bayar pakai QRIS?”

Pukul enam lewat delapan, lonceng berbunyi lagi.

Aku tidak mendongak. Aku sedang menuang susu ke gelas ketiga dari tujuh, dan aku sudah salah menulis dua nama di cup.

“Kopi susu,” kata sebuah suara di depan kasir. “Gula setengah...”

Suara itu berhenti.

Aku mendongak. Salsa berdiri di ujung antrean, jas dokter, cepol, satu helai rambut. Ia menatap kedai yang penuh, lalu menatap meja kasir yang kosong, lalu menatap mesin espresso, lalu menatapku. Satu orang, dua tangan, tujuh gelas.

“Kedainya sendirian?” tanyanya.

“Kirana sakit. Dodi motornya mogok.”

Salsa diam sebentar. Lalu ia melepas jas dokternya.

Ia melipat jas itu dua kali dan menaruhnya di atas kursi kosong dekat pintu. Ia menggulung lengan kemeja biru mudanya sampai siku. Ia berjalan memutari meja kasir, mengangkat papan kayu penghalang yang memisahkan area pelanggan dari area bar, dan masuk ke balik bar.

Masuk ke tempatku.

“Saya pegang kasir,” katanya. “Kamu bikin kopi.”

“Sa...” Suku kata itu keluar sebelum aku bisa menangkapnya. Aku menelannya. “Bu Dokter. Nggak usah...”

“Antrean kamu sampai pintu,” kata Salsa, sudah berdiri di depan mesin kasir, menatap layarnya dengan dahi berkerut seperti menatap hasil rontgen. “Saya ada visite jam tujuh. Kita punya lima puluh menit. Ini cara ngebukanya gimana?”

Aku menatapnya.

Lalu aku menunjuk tombol hijau di pojok kanan layar.


Lima puluh menit berikutnya adalah lima puluh menit paling aneh dan paling sempurna dalam lima tahun hidupku di Kedai Setengah.

Salsa ternyata payah di kasir. Ia salah menekan tombol tiga kali dalam lima menit pertama. Ia memberi kembalian terlalu banyak pada Pak Ujang, dan Pak Ujang, yang jujur, mengembalikannya sambil menatap Salsa dengan mata yang hampir berlinang karena terharu dokter paling galak di rumah sakit melayaninya kopi. Ia tidak tahu harus menulis apa di cup, jadi ia menulis nama pelanggan dengan tulisan dokter yang tidak terbaca, padahal tulisan aslinya rapi dan bulat-bulat. Aku tahu ia sengaja.

Tapi ia cepat belajar. Di menit kesepuluh, ia sudah hafal semua tombol. Di menit kelima belas, ia sudah bisa menebak pesanan pelanggan tetap dari wajah mereka. Di menit kedua puluh, Sus Mira berdiri di depan kasir dengan mulut terbuka, dan Salsa berkata, “Latte dingin, kan, Sus? Seperti biasa?”

Sus Mira mengangguk tanpa suara. Lalu Sus Mira menatapku melewati bahu Salsa, dan mata Sus Mira mengatakan sesuatu yang tidak perlu diucapkan.

Area di balik bar Kedai Setengah sempit. Lebarnya hanya satu setengah meter, dari mesin espresso di dinding sampai meja kasir di depan. Satu orang bisa bergerak dengan nyaman. Dua orang harus berbagi.

Kami berbagi.

Setiap kali aku berbalik dari mesin espresso untuk mengambil cup, bahuku menyentuh bahunya. Setiap kali ia berbalik dari kasir untuk mengambil spidol, sikunya menyenggol lenganku. Setiap kali, salah satu dari kami mengucapkan maaf dengan suara rendah, dan yang lain mengucapkan nggak apa-apa dengan suara lebih rendah, dan lalu kami kembali bekerja seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Ia masih wangi sabun bayi. Delapan tahun, dan ia masih memakai sabun bayi karena kulitnya gampang gatal kalau pakai sabun biasa.

Aku tahu karena aku pernah membelikannya selusin di minimarket dekat kosnya, ketika stoknya habis di tengah ujian koas.

Pukul enam lewat tiga puluh lima, antrean akhirnya habis. Kedai masih penuh, tapi semua orang sudah memegang kopi. Salsa menghembuskan napas panjang dan bersandar di meja kasir.

“Kamu tiap hari kayak gini?” tanyanya.

“Biasanya bertiga.”

“Bertiga juga gila.”

“Lebih gila jaga malam.”

Ia menoleh padaku. Matanya menyipit sedikit, seperti mau bilang sesuatu, lalu tidak jadi.

“Kopi saya belum dibikin,” katanya akhirnya.

“Iya. Sebentar.”

“Nggak usah. Saya bikin sendiri.” Ia mendorong dirinya dari meja kasir dan berjalan ke arah mesin espresso. Ke arahku. “Kamu ajarin.”

“Bu Dokter...”

“Lima menit. Saya penasaran.”

Aku minggir. Ia berdiri di depan mesin espresso, di tempatku berdiri lima tahun terakhir.

Aku menunjukkan cara menakar biji. Ia menakar terlalu banyak, lalu terlalu sedikit, lalu pas. Aku menunjukkan cara menekan tamper. Ia menekan terlalu keras, sampai seluruh tubuhnya ikut condong ke depan, dan aku harus menahan tawa. Aku menunjukkan cara memasang portafilter. Ia memasangnya miring, lalu memutarnya dengan sekuat tenaga sampai aku khawatir mesinnya akan patah.

Espresso mengalir. Ia menatap aliran cokelat keemasan itu dengan wajah serius, seperti sedang menonton operasi jantung terbuka.

Lalu ia mengambil toples gula dan sendok kecil. Ia berhenti, sendok di atas toples.

Ia menoleh padaku.

“Setengah sendok, kan?” tanyanya.

Ada senyum kecil di sudut bibirnya. Senyum yang miring sedikit ke kiri.

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya mengangguk.

Ia menakar setengah sendok gula dengan sangat hati-hati, menuangnya ke espresso, mengaduknya. Lalu ia mengambil pitcher susu yang sudah kupanaskan, mengangkatnya di atas cup, dan menatapku.

“Bikin gambar itu gimana?”

“Latte art?”

“Yang bentuk hati.”

“Itu butuh latihan berbulan-bulan.”

“Saya residen penyakit dalam lima tahun,” kata Salsa. “Saya pernah pasang kateter jam tiga pagi sambil setengah tidur. Masa saya kalah sama susu.”

Ia menuang.

Susu jatuh ke espresso dengan terlalu cepat, terlalu tinggi, membentuk gumpalan putih yang menyebar tidak beraturan. Salsa panik dan menggoyang pitcher-nya ke kiri dan ke kanan, mencoba menyelamatkan bentuknya. Gumpalan itu memanjang di satu sisi, membulat di sisi lain, dan berakhir dengan sebuah garis tipis yang melengkung ke atas seperti ekor.

Kami berdua menatap cup itu.

“Ini angsa?” tanyaku.

“Ini hati,” kata Salsa dengan tegas.

“Kok ada lehernya?”

“Itu bukan leher. Itu...” Ia memiringkan kepala, mempelajari karyanya sendiri. “Itu pembuluh darah. Aorta. Ini hati secara anatomis.”

Aku tertawa.

Aku tidak bisa menahannya. Tawa itu meledak dari dadaku, keras dan tiba-tiba, cukup keras sampai dua perawat di meja terdekat menoleh. Aku tertawa sampai harus berpegangan pada meja bar, karena dokter penyakit dalam paling galak di RS Mitra Harapan baru saja membuat latte art berbentuk angsa yang ditabrak motor dan menyebutnya hati anatomis.

Salsa menatapku tertawa. Ia mencoba mempertahankan wajah tersinggung.

Ia gagal.

Ia tertawa juga. Tawa yang kecil dulu, lalu makin besar, lalu ia harus menutup mulutnya dengan punggung tangan karena terlalu keras, dan kami berdua berdiri di balik bar sempit itu, tertawa seperti dua orang bodoh, bahu kami bersentuhan dan tidak ada yang bilang maaf.

Delapan tahun.

Delapan tahun aku tidak tertawa seperti ini.


Tawanya mereda. Salsa menyeka sudut matanya dengan ujung jari.

Lalu ia mengangkat cup berisi hati anatomisnya, meniupnya tiga kali, dan menyesap.

“Kemanisan,” katanya.

“Kamu tuang gulanya sebelum espresso-nya selesai. Larutnya nggak rata.”

“Oh.” Ia menyesap lagi. “Masih enak, sih.”

Aku meraih pitcher susu kosong di samping mesin espresso untuk dicuci. Pitcher itu masih panas, dan tanganku tergelincir, dan pitcher itu miring ke arah pergelangan tanganku.

Tangan Salsa bergerak lebih cepat dariku.

Ia menangkap lenganku. Lengan kiri. Jari-jarinya melingkari lengan bawahku di atas kemeja, persis di tempat yang paling tidak boleh disentuh siapa pun, dan menariknya menjauh dari pitcher panas itu.

“Hati-hati,” katanya.

Pitcher itu jatuh ke meja bar dengan bunyi dentang. Tidak ada yang terluka.

Tapi Salsa tidak melepaskan lenganku.

Jari-jarinya masih di sana. Di atas kemeja abu-abu, di bagian dalam lengan bawah kiriku. Dan aku tahu ia bisa merasakannya, karena aku bisa merasakannya: getaran halus fistula di bawah kulit, terus-menerus, seperti dengung kucing tidur, merambat melewati kain kemeja ke ujung-ujung jarinya.

Salsa diam.

Ia tidak menatap lenganku. Ia menatap pitcher di meja. Tapi jari-jarinya tidak bergerak. Satu detik. Dua detik. Tiga.

Aku tidak bernapas.

Lalu, pelan, ia melepaskan lenganku. Jari-jarinya meluncur turun dari lengan bawahku, sangat pelan, seolah-olah ia sedang menghafal sesuatu, sampai akhirnya ujung jarinya lepas dari manset kemeja.

Ia menurunkan tangannya. Ia mengambil cup kopinya dari meja bar.

“Pitcher-nya jangan dipegang pas masih panas,” katanya. Suaranya biasa. Sangat biasa. Suara dokter yang memberi nasihat pada orang asing. “Nanti tangannya melepuh.”

“Iya.”

Lonceng berbunyi.

“MAS! MAAF, MAS! BENGKELNYA LAMA BANGET, MAS, TUKANGNYA...” Dodi berhenti di ambang pintu dengan helm masih di kepala, napas tersengal-sengal, menatap pemandangan di balik bar.

Menatap Salsa yang berdiri di balik bar, kemeja digulung sampai siku, memegang cup kopi buatannya sendiri.

Menatapku di sampingnya.

Helm Dodi miring sedikit ke kiri. Mulutnya terbuka. Tidak ada suara yang keluar.

Salsa melirik jam tangannya. “Visite,” katanya.

Ia keluar dari balik bar, melewati papan penghalang, mengambil jas dokternya dari kursi dekat pintu. Ia memakainya sambil berjalan. Ia melewati Dodi yang masih membeku dan menepuk helm Dodi sekali, dengan ujung jari, seperti menepuk kepala anak kecil.

“Motornya diservis rutin,” katanya pada Dodi. “Jangan nunggu mogok.”

Lalu di pintu, dengan tangan di gagang, ia berhenti. Ia menoleh. Tidak ke Dodi. Ke arahku.

“Mas libur besok?” tanyanya.

Pertanyaan itu ringan. Pertanyaan biasa yang bisa ditanyakan pelanggan mana pun.

“Papan di pintu bilang Selasa sama Jumat buka siang,” lanjutnya, mengetuk papan kapur buatan Kirana di kaca pintu dengan buku jarinya. Lalu ia menatapku, dan untuk sepersekian detik, wajahnya tidak seperti wajah orang asing sama sekali.

“Isi ulang tenaganya,” katanya, “jangan kelamaan.”

Lonceng berbunyi. Pintu tertutup.

Dodi melepas helmnya pelan-pelan, seolah-olah gerakan tiba-tiba bisa menghancurkan semesta.

“Mas,” bisiknya. “Saya cuma telat empat puluh menit.”

Aku tidak menjawab. Aku berdiri di balik bar dengan tangan kanan menekan lengan kiri, di tempat jari-jari Salsa tadi berada, dan getaran di bawah telapak tanganku terasa lebih keras dari biasanya.

Atau mungkin itu cuma jantungku.