← Gula Setengah Sendok

Chapter Sixteen

Yang Berlari Menyeberang

POV: Irvan


Gelap itu tidak sepenuhnya gelap.

Ada suara di dalamnya. Potongan-potongan, seperti siaran radio yang sinyalnya putus-putus di jalan Lembang.

“...jangan diangkat! Jangan diangkat, dudukin dia! Setengah duduk, sandarin ke kulkas! Kepalanya lebih tinggi dari...”

Suara itu. Rendah, sedikit serak, dan sekarang keras, sangat keras, dengan nada yang belum pernah kudengar darinya. Nada orang yang terbiasa memberi perintah dan terbiasa dituruti.

“...kamu, yang pakai celemek, lari ke IGD, bilang dr. Salsa minta brankar sama tabung oksigen ke Kedai Setengah, sekarang! Kamu, telepon unit HD lantai dua, minta Sus Mira! Bilang pasien kursi tujuh!”

Langkah kaki berlari. Lonceng pintu berbunyi keras, terlalu keras, seperti dibanting.

Jari-jari di leherku. Dingin. Menekan. Menghitung.

“Van.” Suara itu dekat sekali sekarang. Tepat di samping telingaku. Nadanya berubah, tidak lagi memerintah, tidak lagi keras. “Van. Van, lihat aku. Buka mata. Van.”

Aku mencoba. Kelopak mataku terasa seperti terbuat dari besi.

“Van, kamu dengar aku? Remas tanganku kalau dengar.”

Ada tangan di tanganku. Aku meremasnya. Atau mungkin aku hanya berpikir meremasnya.

“Bagus. Bagus, Van. Napas. Pelan-pelan. Aku di sini.”

Lalu suara lain, suara Dodi, dari jauh, menangis seperti anak kecil. “Bu Dokter, Mas Irvan kenapa? Mas Irvan kenapa?”

Dan suara itu, menjawab tanpa ragu, tanpa jeda, seperti membaca dari catatan yang sudah dihafal bertahun-tahun:

“Kelebihan cairan. Edema paru. Kemungkinan hiperkalemia juga. Dia butuh cuci darah sekarang.”

Lalu gelap lagi.


Lampu putih.

Bukan lampu bohlam kuning. Lampu neon panjang, terlalu terang, di langit-langit dengan panel plafon yang salah satu sudutnya bernoda bekas bocor.

Bentuknya seperti peta pulau Sulawesi.

Aku tahu langit-langit ini. Lima tahun aku menatap noda ini setiap Selasa dan Jumat.

Lalu aku sadar ini bukan kursi tujuh. Aku berbaring di ranjang, bukan duduk. Ada sesuatu di hidungku, selang oksigen yang dingin. Ada mesin berdengung di sampingku, dan lengan kiriku terasa berat, ditusuk dua jarum di tempat yang sudah sangat kukenal.

Napasku masih pendek. Tapi tidak lagi menabrak dinding.

“Tekanannya stabil, Dok.” Suara Sus Mira, di sisi kanan ranjang. “Udah keluar dua koma delapan. Kalium udah mulai turun.”

“Pelan-pelan, Sus. Jangan buru-buru tarik. Tensinya baru naik.”

Suara dr. Bambang. Pelan, tidak terburu-buru.

“Berat keringnya enam puluh koma enam, Dok.” Suara ketiga. Suara itu lagi. Dari sisi kiri, sangat dekat. “Sebulan terakhir sebelum ini rata-rata naiknya cuma satu koma dua sampai satu koma lima antar-sesi. Jadwalnya Selasa sama Jumat, pagi, kursi tujuh. Sebelum minggu ini dia nggak pernah lewat dari dua kilo.”

Hening sebentar.

“Kamu hafal, Sa,” kata dr. Bambang. Bukan pertanyaan.

Suara itu tidak menjawab.

Aku menoleh ke kiri. Leherku kaku, kepalaku berat, tapi aku menoleh.

Salsa duduk di kursi plastik di samping ranjangku. Jas dokternya kotor di bagian lutut, bekas berlutut di lantai kedai. Rambutnya terurai sampai bahu, berantakan, tidak dicepol. Aku belum pernah melihat rambutnya terurai sejak delapan tahun lalu. Ada noda susu di lengan kemejanya. Pitcher yang jatuh tadi, mungkin.

Tangannya memegang pergelangan tangan kananku. Dua jari di atas nadi.

Ia sedang menatap layar mesin, bukan aku. Matanya merah.

“Sa,” kataku. Suaraku keluar seperti kertas yang diremas.

Ia menoleh.

Ia menatapku. Lama sekali. Wajahnya tidak bergerak, wajah dokter yang tenang, wajah yang selama dua jam terakhir pasti memberi perintah, menghitung nadi, membaca angka, menjelaskan kondisiku pada dr. Bambang dengan suara yang tidak bergetar sedikit pun.

Lalu wajah itu runtuh.

Bukan pelan-pelan. Sekaligus. Seperti tumpukan sleeve yang disusun sudut ketemu sudut, lalu ditiup angin. Bibirnya bergetar, lalu matanya, lalu bahunya, dan Salsa, dokter paling galak di RS Mitra Harapan, perempuan yang bilang menangis itu seperti bersin dan lebih baik dilakukan sendiri, menangis di samping ranjangku di depan dr. Bambang dan Sus Mira dan tiga pasien lain di unit hemodialisis.

Ia tidak menutup wajahnya. Ia tidak memalingkan wajah. Ia menangis dengan dua jari masih di atas nadiku, seolah-olah ia takut kalau ia melepasnya, nadiku akan berhenti.

Dr. Bambang berdiri pelan, menyentuh bahu Salsa sekali, lalu berjalan pergi. Sus Mira menarik tirai di sekeliling ranjangku, menutup kami dari pasien lain, lalu menghilang di balik tirai itu juga.

Hanya ada kami berdua.

Aku mengangkat tangan kanan. Tangan yang ia pegang. Pelan-pelan, karena seluruh tubuhku terasa seperti terbuat dari pasir basah, aku membalik pergelangan tanganku dan menggenggam jari-jarinya.

Salsa menunduk. Menatap tangan kami.

Lalu ia bergerak.

Ia condong ke depan dari kursi plastik, melingkarkan lengannya di bahuku, hati-hati, sangat hati-hati, menghindari selang oksigen dan lengan kiriku yang sedang disambung ke mesin. Ia menempelkan dahinya di bahuku. Rambutnya yang terurai jatuh di leherku, masih wangi sabun bayi.

Dan aku menangis.

Aku tidak tahu kapan terakhir kali aku menangis seperti ini. Bukan di malam vonis. Bukan di teras rumah Ibu. Bukan di parkiran rumah sakit dengan undangan krem di dasbor motor. Aku tidak menangis di semua tempat itu karena aku harus memutuskan sesuatu, dan orang yang sedang memutuskan sesuatu tidak boleh menangis.

Aku menangis sekarang. Di bahunya. Dengan napas yang masih pendek dan bunyi gelembung kecil di dasar paru-paru, aku menangis sampai Sus Mira harus mengintip dari balik tirai karena alarm saturasi oksigen berbunyi.

Salsa tidak melepaskan pelukannya. Ia mengangkat satu tangan, membetulkan selang oksigen di hidungku tanpa melihat, dengan gerakan yang sudah ia lakukan ribuan kali pada ribuan pasien, lalu memelukku lagi.

“Napas, Van,” bisiknya di bahuku. Suaranya basah. “Napas pelan. Aku di sini.”


Empat jam kemudian, aku dipindahkan ke ruang rawat di lantai tiga.

Kamar kelas dua, berdua dengan seorang kakek yang tidur sepanjang hari dan mendengkur dengan irama yang sangat teratur, seperti metronom. Jendelanya menghadap ke jalan.

Kalau aku duduk tegak dan memiringkan kepala, aku bisa melihat papan nama Kedai Setengah di seberang.

Pukul dua siang, pintu kamar diketuk.

Dodi masuk dengan kantong plastik di tangan. Matanya bengkak. Hidungnya merah. Celemeknya masih terpasang, dengan noda susu di bagian depan.

“Mas,” katanya. Suaranya serak karena kebanyakan menangis. “Mas, saya bawain kopi.”

Ia mengeluarkan cup karton dari kantong plastik. Cup itu masih hangat. Di sleeve-nya, dengan huruf kapital cantik buatan Dodi, tertulis CEPAT SEMBUH MAS IRVAN, dengan gambar hati, matahari, dan sesuatu yang mungkin angsa.

“Kopi susu, Mas. Gula setengah sendok. Saya bikin sendiri. Saya inget takarannya...”

“Dod,” kata Kirana dari belakang Dodi. Ia masuk dengan tenang, mengambil cup kopi itu dari tangan Dodi, lalu meletakkannya di meja di luar jangkauanku. “Pasien cuci darah. Baru kelebihan cairan. Nggak boleh minum kopi.”

Dodi menatap kopinya. Lalu menatapku. Lalu menatap kopinya lagi. Lalu bibirnya mulai bergetar.

“Saya nggak tahu, Mas,” katanya. “Saya nggak tahu Mas cuci darah. Lima tahun. Saya nggak tahu. Saya kira Mas ke Lembang. Saya titip tahu susu, Mas. Saya titip tahu susu terus.”

“Nggak apa-apa, Dod.”

“Apa-apa, Mas!” Dodi menyeka hidungnya dengan lengan celemek. “Saya titip tahu susu ke orang yang lagi ditusuk jarum!”

Kirana meletakkan tangan di bahu Dodi. Lalu Kirana menatapku. Mata kalemnya basah, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Kirana tidak menyembunyikannya.

“Mas,” katanya pelan. “Lima tahun. Selasa sama Jumat.”

“Maaf, Kir.”

“Jangan minta maaf ke saya.” Kirana menatap jendela, ke papan nama kedai di seberang jalan. “Saya cuma kesel karena nggak sadar sendiri. Padahal saya yang bikin papan kapurnya. Barista-nya lagi isi ulang tenaga.” Ia tertawa kecil, tanpa suara. “Saya kira itu lucu.”

Dari luar kamar, terdengar suara keras dan bariton.

“Maaf, Bu, jam besuk dibatasi! Pasien VIP! Harus izin keluarga dulu!”

“Ini kamar kelas dua, Pak Ujang,” jawab suara perempuan yang kesal. “Saya mau ganti infus.”

“Oh. Iya. Silakan, Sus. Silakan.”

Pintu terbuka. Seorang perawat masuk, menatap kami bertiga dengan wajah lelah, lalu mengganti kantong infus. Di belakangnya, di ambang pintu, Pak Ujang berdiri tegap dengan seragam satpam, tangan di belakang punggung, seperti pengawal presiden.

“Saya jaga di sini, Mas,” kata Pak Ujang. “Sampai Mas sembuh. Shift saya udah selesai, tapi saya jaga.”

“Pak, nggak usah...”

“Udah diputuskan, Mas. Grup satpam udah sepakat. Kita gantian.” Pak Ujang menatapku dengan mata yang berkaca-kaca di atas kumis tebalnya. “Mas yang bikinin kopi kita lima tahun. Sekarang giliran kita yang jagain Mas.”


Ibu datang pukul tiga.

Aku tertidur sebelum Ibu datang. Obat-obat yang mereka berikan membuat kepalaku berat, dan ruangan itu terlalu hangat, dan dengkuran metronom kakek di ranjang sebelah membuatku terlelap tanpa sadar.

Aku terbangun setengah, sebentar, karena mendengar suara.

Mataku masih terpejam. Tapi aku mendengar mereka.

Suara Ibu, pecah, menangis. Suara langkah-langkah kecil yang terburu-buru. Lalu suara Salsa, sangat pelan.

“Bu.”

Hanya itu. Satu kata.

Lalu bunyi dua orang berpelukan. Bunyi kain yang bergesek, napas yang tersendat. Bunyi Ibu menangis di bahu seseorang, dan seseorang itu tidak berkata apa-apa, hanya menepuk punggung Ibu, pelan, berirama, seperti menepuk punggung bayi.

“Neng,” isak Ibu. “Neng. Maafin Ibu. Ibu udah janji. Ibu nggak bisa bilang. Ibu udah janji sama Van.”

“Iya, Bu.”

“Delapan tahun, Neng. Ibu pengin bilang tiap hari.”

“Iya, Bu. Saya tahu.”

Aku ingin membuka mata. Aku ingin mendengar lebih banyak. Tapi obat itu menarikku kembali ke bawah, ke tempat yang hangat dan gelap, dan hal terakhir yang kudengar sebelum tenggelam adalah suara Salsa, berbisik pada Ibu.

“Ibu nepatin janji, Bu. Ibu nggak salah apa-apa.”


Aku terbangun lagi pukul sebelas malam.

Kamar gelap. Hanya lampu kecil di atas pintu yang menyala, kuning pucat, dan lampu jalan dari jendela yang membentuk kotak terang di lantai. Kakek di ranjang sebelah mendengkur. Ibu sudah pulang. Dodi, Kirana, dan Pak Ujang sudah pulang, kecuali Pak Ujang yang ternyata diganti satpam lain yang duduk di kursi plastik di luar pintu dan sesekali batuk dengan sengaja, seperti mengingatkan bahwa ia masih di sana.

Salsa masih di sini.

Ia duduk di kursi plastik di samping ranjangku, kepala bersandar di dinding, mata terpejam. Jas dokternya dilipat di pangkuan. Rambutnya masih terurai.

Tangannya masih di pergelangan tanganku. Dua jari di atas nadi. Bahkan saat tidur.

Aku menatapnya lama sekali.

Ia lebih kurus dari delapan tahun lalu. Ada garis halus di sudut matanya yang dulu tidak ada. Di bawah lampu jalan yang pucat, wajahnya terlihat sangat lelah dan sangat muda sekaligus, seperti mahasiswa koas yang datang ke kedai Dago pukul sebelas malam dengan mata merah dan rambut dicepol asal.

Aku tidak mengerti.

Aku tidak mengerti bagaimana ia bisa berlari menyeberang jalan dalam hitungan detik, seolah-olah ia sudah berdiri di gerbang rumah sakit dan menatap jendela kedaiku. Aku tidak mengerti bagaimana ia bisa tahu berat keringku, kursiku, jadwalku, angka-angka yang bahkan Dodi dan Kirana tidak tahu selama lima tahun. Aku tidak mengerti bagaimana ia bisa membaca angka di layar mesin dan langsung tahu sebulan terakhir aku tidak pernah naik lebih dari dua kilo.

Aku tidak mengerti, dan aku takut mengerti.

Jari-jari di pergelangan tanganku bergerak sedikit.

Salsa membuka mata.

Ia tidak terkejut melihatku bangun. Ia hanya menatapku dari kursi plastik, kepala masih bersandar di dinding, dalam cahaya lampu jalan yang pucat.

“Kamu bangun,” katanya pelan.

“Sa.”

“Hm.”

“Kamu tahu dari mana?”

Ia tidak menjawab.

“Berat keringku,” kataku. Suaraku masih serak, masih seperti kertas yang diremas. “Kursi tujuh. Selasa sama Jumat. Tadi kamu bilang ke dr. Bambang. Kamu...” Aku menelan ludah. “Kamu tahu sejak kapan? Sejak lenganku kelihatan? Sejak hari Sabtu itu?”

Salsa menatapku.

Lalu ia menegakkan punggungnya, pelan, menjauh dari dinding. Ia tidak melepaskan pergelangan tanganku. Dua jarinya masih di atas nadiku, dan aku tahu ia bisa merasakannya, jantungku yang tiba-tiba berdetak terlalu cepat.

“Bukan, Van,” katanya.

Air matanya jatuh lagi. Tanpa suara. Ia tidak menyekanya.

“Aku tahu dari tahun kedua,” kata Salsa. “Aku tahu semuanya.”