← Gula Setengah Sendok

Chapter Ten

Menu Baru

POV: Irvan


Salsa tidak menjawab Ibu dengan kata-kata.

Ia menatap Ibu lama sekali di teras itu, tangannya masih digenggam dua tangan Ibu yang kecil dan kasar. Lalu ia tersenyum. Bukan senyum sopan dokter. Bukan senyum miring yang tahu sedang dibohongi. Senyum lain, yang sudah delapan tahun tidak kulihat, senyum yang dulu ia berikan pada Ibu setiap kali Ibu menyelipkan lauk tambahan ke dalam rantangnya.

“Makasih udah disimpan, Bu,” kata Salsa.

Lalu ia melepaskan tangannya pelan-pelan, membuka pagar besi rendah, dan berjalan menyusuri gang sampai hilang di belokan dekat warung Bu Enok.

Aku menunggu sampai ia benar-benar hilang.

“Bu,” kataku.

Ibu tidak menoleh. Ibu masih menatap belokan gang. “Hm?”

“Ibu janji.”

“Ibu janji nggak bilang soal sakitmu.” Ibu berbalik dan berjalan melewatiku masuk ke rumah, mengambil sapu dari balik pintu dan mulai menyapu teras yang sudah bersih. “Ibu nggak pernah janji soal kebaya.”

“Bu...”

“Kebaya itu Ibu jahit tiga bulan, Van.” Sapu Ibu bergerak dengan irama yang marah. “Tiga bulan. Payetnya Ibu pasang satu-satu pakai tangan, nggak pakai mesin, karena Neng Salsa bilang dia mau kebaya yang dijahit sama orang yang sayang dia. Ibu lembur tiap malam sampai mata Ibu kayak mata kelinci.”

Aku ingat. Aku ingat Ibu duduk di depan mesin jahit sampai pukul dua pagi, kacamata baca melorot di hidung, kain putih gading terhampar di pangkuan. Aku ingat Salsa datang untuk fitting terakhir, dua minggu sebelum akad, dan berdiri di depan cermin lemari Ibu, dan tidak bisa berkata apa-apa, dan Ibu menangis duluan.

“Kebaya itu punya Neng Salsa,” kata Ibu. “Bukan punya kamu. Bukan punya Ibu. Ibu cuma nyimpenin.”

Ia berhenti menyapu. Ia menatapku dari ujung teras.

“Delapan tahun, Van. Delapan tahun Ibu buka lemari tiap Lebaran, ganti kamper, ganti kain pembungkus, biar nggak kuning, biar nggak dimakan ngengat.” Suara Ibu pecah sedikit. “Ibu udah capek nyimpen barang orang yang nggak pernah diambil.”

Aku tidak bisa menjawab. Aku berdiri di ambang pintu, di tempat yang sama, dan untuk pertama kalinya aku bertanya-tanya berapa banyak orang lain yang ikut membayar harga keputusanku delapan tahun lalu.


Hari Senin, ketika Salsa membayar kopinya, aku mengatakannya sebelum sempat berubah pikiran.

“Kamis malam,” kataku, “kami mau coba menu baru. Setelah tutup.”

Salsa berhenti dengan dompet terbuka. Dodi, di sampingnya dengan spidol siap menulis atas nama, membeku seperti patung lilin.

“Terus?” tanya Salsa.

“Butuh penguji.”

“Saya bukan penguji makanan.”

“Lidah dokter galak paling jujur.”

Salsa menatapku. Matanya menyipit sedikit. Di sampingnya, Dodi menahan napas sampai wajahnya mulai memerah.

“Jam berapa?” tanya Salsa.

“Setengah sembilan.”

Ia mengangguk sekali. Lalu ia menoleh pada Dodi, yang masih menahan napas dengan spidol di tangan.

“Atas nama,” kata Salsa, “Penguji Menu.”

Dodi menghembuskan napas sekaligus, seperti balon yang dilepas, dan menulis PENGUJI MENU dengan tangan yang gemetar karena kebahagiaan.


Kamis malam, pukul delapan lewat lima, aku menyuruh Dodi dan Kirana pulang.

“Mas,” kata Dodi dengan nada sangat tersinggung. “Kami tim. Kami keluarga. Kami harus ada di momen bersejarah ini.”

“Ini cuma uji menu, Dod.”

“Uji menu dengan Bu Dokter, Mas! Jam setengah sembilan malam! Habis tutup! Lampunya pasti dibikin remang-remang!”

“Lampunya biasa.”

“Mas mau ganti lampu kuning yang di gudang, kan? Saya lihat Mas ambil tadi sore.”

Aku tidak menjawab. Kirana, yang sedang melepas celemek, menatap lampu bohlam kuning di atas meja bar, yang memang baru kuganti pukul empat sore dengan alasan lampu putih yang lama terlalu silau buat mata pelanggan. Kirana tidak berkata apa-apa. Ia hanya menggantung celemeknya, mengambil tas, lalu menarik kerah kemeja Dodi dari belakang.

“Ayo, Dod.”

“Kir, aku belum siap pulang...”

“Kamu nggak pernah siap pulang,” kata Kirana, dan menyeret Dodi keluar lewat pintu belakang. Di ambang pintu, Kirana menoleh sekali. “Mas. Jangan lupa makan juga. Jangan cuma lihatin dia makan.”

Pintu belakang tertutup.

Aku sendirian di Kedai Setengah, dengan tiga menu baru yang sudah kusiapkan sejak sore dan lampu bohlam kuning yang bukan untuk pelanggan.

Pukul delapan dua puluh, hujan turun.

Pukul delapan dua puluh sembilan, lonceng berbunyi.


Ia datang tanpa jas dokter. Kemeja putih, celana kain gelap, rambut dicepol lebih rapi dari biasanya, tapi helai rambut di pelipis kiri tetap lolos, setia seperti biasa. Ia membawa payung lipat baru, warna hijau tua, yang ia lipat dan sandarkan di dekat pintu dengan gerakan yang sangat hati-hati, seperti tidak ingin payung ini bernasib sama dengan yang lama.

Ia berhenti di tengah kedai dan menatap lampu bohlam kuning di atas meja bar.

“Lampunya ganti?”

“Yang lama silau.”

“Hm,” kata Salsa. Lalu ia duduk di kursi tinggi di depan bar. Di depanku. “Menu pertama.”

Aku menyajikan menu pertama: kopi pandan. Espresso, susu, dan sirup pandan yang kubuat sendiri dari daun pandan di halaman belakang rumah Ibu, direbus dengan gula aren, disaring tiga kali. Warnanya hijau pucat di dasar gelas, putih di atasnya, cokelat di lapisan paling atas.

Salsa mengangkat gelasnya ke arah lampu dan memutarnya pelan, menatap lapisan-lapisan warnanya. Lalu ia meniupnya tiga kali dan menyesap.

Ia diam.

“Gimana?” tanyaku.

“Pandannya kebanyakan.”

“Oh.”

“Rasanya kayak kue lapis Bu RT yang jatuh,” lanjutnya, menyesap lagi. “Tapi versi yang nggak jatuh.”

“Itu pujian atau kritik?”

“Diagnosis.” Ia meletakkan gelasnya. “Kurangin sirupnya sepertiga. Nanti kopinya kedengeran.”

“Kedengeran?”

“Rasanya kayak orang ngomong. Sekarang kopinya bisik-bisik, ketutupan pandan.”

Aku mencatatnya di buku kecil. Salsa melihatku mencatat dan tersenyum tipis.

Menu kedua: es kopi jahe. Cold brew yang direndam semalaman dengan irisan jahe merah bakar, dicampur sedikit madu dan susu, disajikan dengan es batu. Ide ini datang padaku beberapa minggu lalu, hari Rabu, sambil mengunyah permen jahe yang membuat mataku berair.

Salsa menatap gelas itu. Ia tidak langsung minum.

“Jahe,” katanya.

“Iya.”

Ia mengangkat gelasnya pelan-pelan. Ia tidak meniup, karena kopinya dingin. Ia menyesap.

Ia memejamkan mata.

“Ini,” katanya, masih dengan mata terpejam, “kayak permen jahe yang lagi marah. Tapi udah dimaafin.”

Aku tidak bisa bernapas sebentar.

Salsa membuka matanya. Ia menatap gelasnya, bukan aku. “Nggak usah diubah apa-apa. Yang ini udah bener.”


Menu ketiga bukan kopi. Roti bakar srikaya, dengan srikaya buatan Ibu, roti tebal yang dipanggang di atas wajan dengan mentega, dipotong segitiga.

Salsa makan dua potong sebelum aku sempat bertanya pendapatnya.

“Srikayanya buatan Ibu,” katanya dengan mulut penuh. Itu bukan pertanyaan.

“Iya.”

“Ibu masih masak pakai daun pandan dari belakang?”

“Masih.”

Salsa mengangguk dan makan potongan ketiga.

Hujan masih turun. Lampu bohlam kuning membuat semua yang ada di bawahnya terlihat lebih hangat dari kenyataannya: meja bar kayu yang lecet, mesin espresso perak, tangan Salsa yang memegang roti, pipinya yang sedikit menggembung karena mengunyah.

Aku membuat dua cangkir teh hangat, satu untuknya, satu untukku. Tehku hanya setengah cangkir. Ia melihat itu dan tidak berkata apa-apa.

Lalu, entah bagaimana, kami mulai bicara.

Bukan tentang delapan tahun lalu. Tidak ada yang menyentuh itu. Kami berjalan di sekelilingnya seperti dua orang yang berjalan di sekeliling lubang besar di tengah jalan, sangat hati-hati, sangat sadar, tidak pernah menatap ke bawah.

Kami bicara tentang Mang Ade. Salsa bilang warungnya masih buka. Ia mampir bulan lalu. Mang Ade sudah delapan puluh tahun, masih menaruh gula tiga sendok di setiap gelas tanpa bertanya, dan masih ingat wajahnya.

“Dia nanya kamu,” kata Salsa, lalu langsung menyesap tehnya, seperti kalimat itu terlepas tanpa izin.

Aku tidak bertanya apa yang Salsa jawab.

Kami bicara tentang Dodi dan latte art angsanya. Salsa tertawa sampai harus menutup mulut. Kami bicara tentang Sus Mira, yang ternyata adalah satu-satunya perawat di RS Mitra Harapan yang tidak takut pada Salsa, karena menurut Sus Mira, dokter galak itu cuma dokter yang terlalu peduli dan nggak tahu cara bilangnya. Kami bicara tentang pasien Salsa, seorang kakek di bangsal tiga yang setiap visite selalu menanyakan apakah Salsa sudah menikah, dan setiap kali Salsa bilang belum, kakek itu menawarkan cucunya.

“Cucunya ganteng?” tanyaku.

“Umur dua belas.”

Aku tertawa. Salsa tertawa. Hujan turun.

Lalu, tanpa kurencanakan, pertanyaan itu keluar.

“Dulu kamu mau ambil spesialis anak.”

Salsa berhenti tertawa. Ia menatap cangkir tehnya.

“Kamu bilang,” lanjutku pelan, karena sudah terlanjur, “anak-anak itu pasien paling jujur di dunia.”

“Iya,” kata Salsa. “Aku bilang gitu.”

Aku. Bukan saya. Pertama kali sejak ia masuk ke kedaiku.

“Kenapa ginjal?”

Ia memutar cangkir tehnya di atas meja bar, pelan, satu putaran penuh. Lalu ia menjawab tanpa mendongak.

“Pasien ginjal itu nggak sembuh-sembuh,” katanya. “Mereka pulang, terus balik lagi. Minggu depan. Bulan depan. Tahun depan. Mereka selalu balik lagi.”

Ia mendongak dan menatapku.

“Aku suka pasien yang balik lagi.”

Lampu bohlam kuning berdengung sangat pelan di atas kami. Hujan menghantam atap. Dan aku menatap perempuan di depanku, perempuan yang memilih menghabiskan hidupnya merawat orang-orang yang tidak pernah sembuh, dan aku tahu, dengan kepastian yang sama menakutkannya dengan sembilan tahun lalu di warung Mang Ade, bahwa aku sedang jatuh lagi.

Lebih dalam dari dulu.

Dan kali ini, aku tahu persis betapa jauhnya dasar jurang itu.


Pukul sepuluh kurang seperempat, hujan reda. Salsa melirik jam tangannya.

“Aku jaga besok pagi,” katanya.

“Aku bikinin teh buat dibawa.”

Ia tidak menolak.

Aku menyeduh teh melati hangat, menuangnya ke cup karton, memasang tutup. Lalu aku mengambil sleeve dan spidol.

Aku menatap karton cokelat kosong itu.

Lalu aku menulis. Pelan. Tidak terburu-buru. Tidak panik. Untuk pertama kalinya sejak pagi pertama, aku menulis sesuatu yang sudah kupikirkan dengan sadar, sesuatu yang benar-benar ingin kukatakan.

Aku masih

Spidolku berhenti.

Aku menatap dua kata itu. Di depanku, Salsa sedang memakai payung hijau tuanya, membelakangiku. Ia tidak melihat. Kalau aku menyelesaikan kalimat ini, kalau aku tidak mencoretnya, kalau aku menyerahkan cup ini dan membiarkannya membaca...

Ujung spidolku menyentuh karton lagi. Huruf berikutnya.

Hatchi!

Bersin keras meledak dari luar jendela.

Aku dan Salsa menoleh bersamaan. Di balik kaca jendela besar, di bawah tempias lampu jalan, ada sosok yang berjongkok di antara pot tanaman. Basah kuyup. Memakai helm. Memegang ponsel yang kameranya menghadap ke dalam kedai.

Sosok itu membeku. Lalu berdiri pelan-pelan, mengangkat tangan dengan gerakan tukang parkir, dan mulai mengarahkan mobil yang tidak ada.

“Kiri, kiri, terus... kanan dikit...” teriak Dodi ke jalan kosong.

Salsa menutup mulutnya. Bahunya mulai berguncang.

Dan tanganku, refleks, panik, menarik dua garis hitam tebal di atas Aku masih, dan memasang sleeve itu di cup teh melati.

Salsa tertawa terus sampai di pintu. Ia menerima cup teh dariku dengan satu tangan, tangan lainnya masih menutup mulut. Ia membuka pintu, melewati Dodi yang sekarang mengarahkan motor yang juga tidak ada, dan menepuk helm basah Dodi sekali.

“Parkirnya rapi, Pak,” katanya.

Lalu ia berjalan menyeberang jalan dengan payung hijau tuanya, menuju gerbang rumah sakit yang lampunya masih menyala. Di bawah lampu gerbang, ia berhenti, menatap cup di tangannya.

Ia menatap sleeve itu lama sekali.

Lalu ia masuk ke dalam.


Hari Selasa, pukul delapan pagi, di kursi tujuh, Sus Mira menekan dua jarinya di atas fistulaku dan mengerutkan dahi.

“Mas,” katanya. “Thrill-nya lemah.”

Aku membuka mata. Mesin di sampingku berbunyi. Bukan bunyi dengung biasa, tapi bunyi alarm pendek yang tinggi, tiga kali.

Sus Mira memeriksa layar. Ia memeriksa selang. Ia menekan fistulaku lagi, di tempat berbeda, lebih lama.

“Tekanannya naik,” gumamnya. “Mas, sebentar, ya. Saya panggil dokter.”

Ia pergi. Aku menatap lengan kiriku. Darah masih mengalir di selang, merah gelap, tapi lebih lambat dari biasanya. Aku menempelkan dua jari tangan kanan di atas fistula, di tempat yang biasanya berdengung seperti kucing tidur.

Dengungnya masih ada. Tapi lebih pelan. Lebih jauh. Seperti kucing yang sedang bermimpi buruk.

Lima belas menit kemudian, dr. Bambang Wiratmo datang. Konsultan ginjal-hipertensi, enam puluhan, rambut putih, kacamata bundar, suara pelan yang tidak pernah terburu-buru. Ia sudah memegang kasusku sejak hari pertama aku duduk di kursi tujuh.

Ia memeriksa lenganku. Ia meraba sepanjang fistula dengan ujung jari, dari pergelangan sampai siku, dengan mata terpejam, seperti pemain piano yang mencari nada sumbang. Ia mendengarkan dengan stetoskop. Ia membaca layar mesin.

Lalu ia menarik kursi dan duduk di sampingku. Itu tanda buruk. Dr. Bambang jarang duduk.

“Mas Irvan,” katanya. “Ada penyempitan di aksesnya. Stenosis.”

“Bisa dibetulin, Dok?”

“Kita coba. Ada tindakan untuk melebarkannya. Biasanya berhasil.” Ia melepas kacamatanya dan mengelapnya dengan ujung jas, gerakan yang selalu ia lakukan sebelum mengatakan sesuatu yang tidak ingin ia katakan. “Tapi akses ini sudah lima tahun, Mas. Mas pasien yang sangat disiplin, tapi tubuh punya batas. Kalau ini menyempit lagi, kita harus buat akses baru. Dan setiap akses baru, pilihan kita berkurang.”

Aku menatap lampu neon di langit-langit.

“Sudah saatnya kita bicara serius soal transplantasi,” kata dr. Bambang. “Mas masih muda. Kondisi Mas stabil. Mas kandidat yang baik.”

“Daftar tunggunya lama, Dok.”

“Untuk donor jenazah, iya. Sangat lama.” Ia memasang kacamatanya kembali. “Tapi untuk donor hidup, prosesnya bisa jauh lebih cepat. Donor dari keluarga, biasanya.”

Ia menatapku dengan mata pelan di balik kacamata bundar.

“Mas Irvan,” katanya, “ada keluarga yang bisa dites sebagai calon donor?”

Aku memikirkan Ibu. Enam puluh tahun, gula darah yang naik-turun, tekanan darah yang sama tingginya dengan Bapak dulu. Aku memikirkan bahwa bahkan kalau Ibu bisa, aku tidak akan pernah membiarkan Ibu.

Aku tidak punya saudara. Aku tidak punya siapa-siapa lagi.

Aku menggeleng.