Chapter Three
Tiup Tiga Kali
POV: Irvan
Hari Rabu, pukul enam tepat, lonceng berbunyi.
Hari Kamis, pukul enam tepat, lonceng berbunyi lagi.
Pada hari Senin berikutnya, Dodi sudah membuat papan.
Papan itu sebenarnya papan tulis kecil yang biasanya kami pakai untuk menu spesial hari ini. Dodi menghapus tulisan Es Kopi Gula Aren, Beli 2 Gratis Senyum Barista dan menggantinya dengan judul besar berhuruf kapital, digarisbawahi dua kali:
NAMA-NAMA BU DOKTER
Di bawahnya, dengan tanggal:
Minggu: Orang Asing Senin: Pasien Nomor Tujuh Rabu: Dokter Galak Kamis: Bukan Urusan Kamu Sabtu: Masih Ngantuk Minggu: Tamu Undangan
“Dod,” kataku, berdiri di depan papan itu pukul lima empat puluh lima, sebelum kedai buka. “Hapus.”
“Jangan, Mas! Ini dokumentasi sejarah.”
“Ini papan menu.”
“Menu bisa dihafal, Mas. Sejarah nggak bisa diulang.” Dodi berdiri di depan papan dengan tangan direntangkan, seperti melindungi lukisan di museum. “Lagian pelanggan suka, Mas. Kemarin ada tiga perawat yang foto papan ini. Satu bilang mau dijadiin status.”
“Status apa?”
“Status WhatsApp, Mas. Katanya, ‘Kalian kira kisah cintamu rumit? Ini dokter tiap hari ganti nama.’”
Aku menatap papan itu. Mataku berhenti di nama terakhir.
Tamu Undangan.
Kemarin pagi, ketika Dodi bertanya nama untuk ditulis di cup, Salsa menjawab itu dengan nada datar seperti sedang menyebut cuaca. Aku sedang menuang susu ke espresso, dan pitcher di tanganku goyang, dan latte art yang seharusnya berbentuk hati jadi berbentuk sesuatu yang lebih mirip pulau.
Tamu undangan.
Lima ratus undangan krem dengan pita hijau sage. Rudi pakai I.
Mungkin itu kebetulan. Orang memilih nama palsu secara acak. Pasien Nomor Tujuh juga mungkin kebetulan, walaupun kursiku di unit hemodialisis nomor tujuh. Dokter Galak jelas bukan kebetulan, karena itu fakta yang sudah dikonfirmasi oleh separuh perawat RS Mitra Harapan.
Aku mengambil penghapus dan menghapus papan itu.
“Mas!” Dodi menjerit seperti seseorang baru saja menghapus nama anaknya dari akta kelahiran.
“Tulis menu.”
“Tapi...”
“Tulis menu, Dod.”
Dodi menulis menu sambil menggerutu. Tapi ketika aku berbalik ke bar, kudengar ia diam-diam menulis sesuatu di pojok kanan bawah papan, dengan huruf sangat kecil. Aku tidak menegurnya. Kirana, yang sedang mengikat celemek, melirik pojok papan itu, lalu melirikku, lalu kembali menatap celemeknya dengan wajah datar yang aku tahu sedang menahan senyum.
Pukul enam tepat. Lonceng.
Salsa masuk. Jas dokter, cepol, satu helai rambut. Hari ini kemeja di balik jasnya berwarna hijau pucat, dan untuk sepersekian detik aku berpikir warna itu mirip hijau sage, lalu aku memaksa diri berhenti berpikir.
“Kopi susu,” katanya. “Gula setengah sendok.”
“Atas nama siapa, Kak?” Dodi bertanya dengan spidol siap, seolah-olah ia wartawan yang menunggu pernyataan presiden.
Salsa berpikir sebentar. “Yang Sabar.”
Dodi menulis YANG SABAR di cup dengan huruf kapital, lalu menoleh padaku dengan ekspresi seperti baru mendapat harta karun. Aku pura-pura tidak melihatnya.
Aku menyeduh kopi Salsa seperti enam pagi sebelumnya. Enam puluh lima derajat. Busa tipis. Gula setengah sendok diaduk sebelum susu masuk. Lalu aku memasang sleeve dan mengambil spidol.
Kemarin aku menulis Kamu masih jaga malam? dan mencoretnya.
Sabtu aku menulis Kamu kurusan dan mencoretnya.
Hari Kamis aku menulis Maaf dan mencoretnya sampai karton sleeve itu hampir sobek.
Hari ini aku menulis, Kenapa ginjal, Sa? dan menatapnya cukup lama sampai Kirana berdehem di belakangku. Aku mencoretnya dua kali.
Dodi mengantar cup itu ke kursi dekat jendela. Aku kembali ke mesin.
Dan karena aku tidak bisa berhenti, aku melihat.
Salsa memegang cup dengan dua tangan. Ia mengangkatnya sedikit, mendekatkan bibir ke tutup cup, dan meniup.
Satu.
Dua.
Tiga.
Lalu ia minum.
Kencan pertama kami bukan di tempat yang romantis.
Itu terjadi tiga bulan setelah Salsa mulai rutin datang ke kedai Dago pukul sebelas malam. Suatu malam, ketika aku menyerahkan kopi susunya, ia tidak langsung duduk. Ia berdiri di depan bar dengan wajah yang terlalu serius untuk ukuran perempuan yang sedang memesan kopi.
“Kamu libur hari apa?” tanyanya.
“Selasa.”
“Selasa depan, jam tujuh malam, aku traktir kamu kopi.”
“Aku barista, Sa. Aku bisa bikin kopi sendiri.”
“Justru itu.” Ia menunjuk dadaku dengan telunjuk. “Kamu selalu bikin kopi buat orang. Kamu nggak pernah dibikinin kopi sama orang. Aku pengin tahu muka kamu kalau dibikinin kopi.”
Selasa berikutnya, ia membawaku ke warung kopi kecil di belakang kampus fakultas kedokterannya. Warung itu cuma punya tiga meja, satu teko besar, dan Mang Ade, pemiliknya, yang sudah tujuh puluh tahun dan tidak pernah tahu apa itu espresso.
Kopinya kopi tubruk. Ampasnya mengendap setengah gelas. Rasanya pahit, gosong, dan terlalu manis karena Mang Ade menaruh gula tiga sendok tanpa bertanya.
Aku menyeruput sekali dan berusaha keras mempertahankan wajah netral.
Salsa menatapku dengan mata berbinar. “Gimana?”
“Enak.”
“Bohong.”
“Enak, Sa.”
“Muka kamu kayak orang lagi dioperasi tanpa bius.” Ia tertawa sampai harus memegangi meja. Itu pertama kali aku mendengarnya tertawa sekeras itu, tawa yang tidak peduli sedang di mana, tawa yang membuat Mang Ade menoleh dari tekonya dan ikut tersenyum walaupun tidak tahu apa yang lucu.
Lalu ia mengangkat gelasnya sendiri dan meniupnya.
Satu. Dua. Tiga.
“Kenapa tiga kali?” tanyaku.
Ia berhenti, gelas masih di depan bibir. Ia terlihat sedikit malu, seperti tertangkap basah melakukan sesuatu yang kekanak-kanakan.
“Kebiasaan,” katanya.
“Kebiasaan apa?”
“Nenekku dulu begitu. Tiup kopi tiga kali sebelum minum.” Ia memutar gelas di antara kedua telapak tangannya. “Katanya, tiupan pertama buat panasnya. Tiupan kedua buat capeknya. Tiupan ketiga buat doa.”
“Doa apa?”
“Terserah. Doa buat orang yang kamu sayang.” Ia menyeruput kopinya, lalu menjulurkan lidah karena terlalu manis. “Waktu kecil aku pikir itu cuma takhayul. Terus waktu Nenek meninggal, aku nggak bisa berhenti.”
Aku tidak berkata apa-apa. Aku menatap perempuan di depanku, yang rambutnya dicepol asal dan matanya merah karena baru turun jaga dan lidahnya masih terjulur karena gula Mang Ade, dan aku tahu, dengan kepastian yang menakutkan, bahwa aku tidak akan pernah bisa mencintai orang lain lagi.
“Tiupan ketiga kamu tadi,” kataku. “Buat siapa?”
Salsa menatapku. Lalu, pelan, pipinya memerah.
“Kepo,” katanya. Tapi ia tersenyum ke gelasnya, dan senyum itu jawabannya.
“Mas Irvan! Mas Irvan!”
Aku kembali ke masa kini dengan kaget, dan menemukan Pak Ujang menempel di meja kasir. Pak Ujang adalah satpam RS Mitra Harapan shift pagi, umur lima puluhan, kumis tebal, perut buncit, dan bicaranya selalu seperti orang yang baru menang lotre.
“Mas, saya mau pesan kopi hitam empat, buat anak-anak di pos.” Ia menurunkan suaranya dan mendekatkan kepala. “Sama satu informasi.”
“Informasi apa, Pak?”
“Itu, Mas.” Ia melirik ke kursi dekat jendela, lalu kembali padaku dengan gerakan yang menurutnya rahasia tapi sebenarnya bisa dilihat dari Pluto. “dr. Salsa. Udah berapa hari dia pesan menu yang sama?”
“Kenapa, Pak?”
“Ada yang lagi pasang taruhan.”
Aku berhenti menggiling biji. “Taruhan?”
“Bukan taruhan uang, Mas! Haram!” Pak Ujang mengangkat tangan dengan wajah tersinggung. “Taruhan gorengan. Yang kalah traktir gorengan satu pos selama seminggu. Yang ikut saya, Sus Mira, Sus Eka dari bangsal tiga, sama dua orang dari laboratorium.”
“Taruhan soal apa?”
Pak Ujang mengeluarkan kertas lipat dari saku seragamnya. Kertas itu bergaris, dirobek dari buku tulis anak sekolah, dan di atasnya tertulis dengan bolpoin biru:
TARUHAN RESMI POS SATPAM RSMH Berapa hari dr. Salsa tahan pesan menu yg sama di Kedai Setengah? Pak Ujang: 10 hari Sus Mira: 2 minggu (alasan: dokter galak itu konsisten) Sus Eka: 7 hari (alasan: dokter bosenan) Mas Didit Lab: sebulan Mbak Rina Lab: SELAMANYA (alasan: firasat perempuan)
“Bandarnya saya,” kata Pak Ujang dengan bangga. “Papannya saya tempel di balik pintu loker satpam. Nah, saya perlu data resmi dari Mas, karena Mas yang paling tahu. Udah berapa hari?”
“Delapan hari, Pak,” jawab Dodi dari samping, sebelum aku sempat membuka mulut. “Hitungannya dari Sabtu minggu lalu. Selasa sama Jumat kita buka siang, jadi nggak kehitung.”
“Waduh.” Pak Ujang mencatat di kertasnya. “Berarti Sus Eka udah kalah. Gorengan seminggu, Sus Eka.”
“Pak,” kataku. “Ini nggak sopan.”
“Nggak sopan gimana, Mas? Ini apresiasi.” Pak Ujang menepuk dadanya. “Mas tahu nggak, dr. Salsa itu dokter paling galak di rumah sakit ini? Residen takut. Perawat takut. Saya juga takut, padahal saya pegang pentungan. Tapi tiap pagi, dia nyebrang ke sini, duduk di jendela, minum kopi dua puluh menit, terus balik lagi ke rumah sakit.” Pak Ujang menghela napas penuh perasaan. “Ini fenomena, Mas. Dokter galak punya ritual. Kita semua penasaran.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku menyerahkan empat kopi hitam dalam satu tatakan karton, dan Pak Ujang pergi sambil bersenandung.
Di pintu, ia berpapasan dengan seseorang yang baru masuk.
Laki-laki itu tinggi. Itu hal pertama yang kuperhatikan, karena ia harus sedikit menunduk melewati lonceng di atas pintu. Ia memakai kemeja biru tua yang disetrika rapi, celana bahan, sepatu kulit cokelat yang mengilat. Stetoskop melingkar di lehernya seperti selendang. Wajahnya bersih, rahang tegas, senyum yang lebar dan percaya diri, senyum laki-laki yang belum pernah ditolak oleh apa pun dalam hidupnya.
Pak Ujang memberi hormat padanya dengan gaya yang setengah bercanda. “Pagi, dr. Reza!”
Dr. Reza dari kardiologi udah ngejar dia dari setahun lalu. Ganteng, Mas. Tinggi. Pakai mobil listrik.
Dr. Reza membalas salam Pak Ujang, lalu matanya menyapu kedai dan berhenti di kursi dekat jendela. Senyumnya berubah, menjadi lebih lembut dan lebih lebar sekaligus.
Ia berjalan langsung ke meja Salsa, menarik kursi di depannya, dan duduk.
Salsa mendongak. Aku tidak bisa melihat wajahnya dari bar, karena ia membelakangiku. Aku cuma bisa melihat bahunya, cepolnya, dan helai rambut yang lolos.
Dr. Reza mengatakan sesuatu. Aku tidak bisa mendengarnya.
Lalu Salsa tertawa.
Tawanya tidak sekeras tawa di warung Mang Ade. Ini tawa yang lebih kecil, lebih sopan, tawa orang dewasa yang tidak ingin menarik perhatian satu kedai. Tapi aku mendengarnya dari balik mesin espresso, di bawah dengung grinder dan obrolan pelanggan, dan aku mendengarnya sampai ke tulang.
Delapan tahun aku tidak mendengar Salsa tertawa.
Dan sekarang aku mendengarnya, dan tawa itu bukan untukku.
“Mas,” kata Kirana pelan di sampingku. “Mas, susunya.”
Aku menunduk. Susu di pitcher sudah naik sampai tujuh puluh lima derajat. Terlalu panas. Busanya pecah-pecah seperti tanah kering. Aku membuang susu itu ke wastafel dan mengambil yang baru.
“Siapa dia?” bisik Dodi di sisiku yang lain, menatap meja dekat jendela dengan wajah pengkhianatan. “Mas, siapa cowok itu? Kenapa dia duduk di depan Bu Dokter? Itu kursi... itu kursi...”
“Kursi pelanggan, Dod.”
“Itu kursi sakral, Mas!”
“Dod.”
“Saya nggak terima, Mas. Saya nggak terima.” Dodi mengepalkan tangan di samping tubuhnya. “Saya yang tiap hari nulis namanya di cup pakai huruf cantik. Saya yang bikin papan dokumentasi. Saya yang...”
“Dodi,” kata Kirana tanpa menoleh. “Kamu kalah di mobil.”
Dodi menatap Kirana dengan wajah tidak percaya. “Kamu tahu dari mana dia pakai mobil listrik?”
“Kelihatan dari mukanya.”
Aku tidak ikut tertawa. Aku sedang membuat kopi lain untuk pelanggan lain, dengan tangan yang terlalu kencang memegang pitcher.
Pukul enam dua puluh, ponsel Salsa berbunyi.
Ia mengangkatnya, mendengarkan sebentar, lalu berdiri dengan cepat. Jas dokternya berkibar sedikit ketika ia berputar. Ia mengatakan sesuatu pada dr. Reza, mungkin duluan ya, atau ada pasien, lalu ia berjalan cepat ke pintu.
Ia tidak menoleh ke bar. Ia tidak pernah menoleh ke bar.
Tapi hari ini, di pintu, langkahnya melambat setengah detik. Hanya setengah detik. Seperti seseorang yang hampir lupa sesuatu, lalu memutuskan bahwa sesuatu itu tidak penting.
Lonceng berbunyi. Ia pergi.
Cup-nya tertinggal di meja, masih setengah penuh. Sleeve-nya masih terpasang. Di karton cokelat itu, di bawah dua garis hitam, ada tulisan tanganku yang tidak terbaca dari jarak sejauh ini.
Dr. Reza tidak ikut pergi. Ia duduk sebentar di kursi dekat jendela, menatap cup yang ditinggalkan Salsa, lalu ia meraih cup itu dan memutarnya pelan di atas meja, seperti sedang membaca sesuatu.
Ia membaca nama di cup. YANG SABAR, dalam huruf kapital cantik buatan Dodi. Ia tersenyum kecil.
Lalu jarinya menyentuh sleeve, tepat di atas coretanku.
Jantungku berhenti sebentar.
Tapi dr. Reza tidak mencoba membaca coretan itu. Mungkin karena ia tidak tertarik. Mungkin karena ia mengira itu cuma kesalahan barista. Ia melepaskan cup, berdiri, dan merapikan kemejanya.
Lalu ia berjalan ke arah kasir.
Ke arahku.
Aku pura-pura sibuk dengan portafilter. Dodi berdiri tegak di kasir dengan wajah prajurit yang siap mati membela negara.
“Mau pesan apa, Pak?” Dodi bertanya dengan nada yang terlalu formal, terlalu dingin, seperti petugas imigrasi.
“Saya mau tanya sesuatu, sebenarnya.” Dr. Reza tersenyum. Senyumnya ramah, tulus, tidak ada sedikit pun kesombongan di sana. Itu yang paling membuatku kesal. Laki-laki ini bahkan tidak memberiku alasan untuk membencinya. “Sama Mas yang di mesin. Boleh?”
Dodi melirikku. Aku meletakkan portafilter dan berjalan ke kasir.
“Ya, Pak?”
“Saya Reza. Kardiologi, di seberang.” Ia mengulurkan tangan, dan aku menjabatnya karena aku dibesarkan oleh Ibu yang akan menjewer telingaku kalau aku menolak jabat tangan. Genggamannya hangat dan mantap. “Mas yang bikin kopinya dr. Salsa tiap pagi, kan?”
“Iya.”
“Mas pasti udah hafal dia. Dia tiap hari ke sini.” Dr. Reza menggaruk tengkuknya, dan untuk pertama kalinya ia terlihat sedikit gugup, sedikit seperti laki-laki biasa dan bukan iklan mobil listrik. “Saya mau minta tolong, sebenarnya. Saya udah setahun ngajak dia makan malam, dan dia nolak terus. Katanya sibuk. Tapi minggu depan saya mau coba sekali lagi, dan kali ini saya mau ngajak dia ke tempat yang dia beneran suka.”
Ia menatapku dengan mata yang penuh harapan dan sama sekali tidak curiga.
“Mas, menurut Mas,” katanya, “dia biasanya suka apa selain kopi?”
- 1 Pesanan Jam Enam
- 2 Aku Nggak Siap
- 3 Tiup Tiga Kali reading
- 4 Permen Jahe di Toples Tip
- 5 Croissant Terakhir
- 6 Gula Tiga Sendok
- 7 Hal yang Tidak Diketahui Orang Asing
- 8 Van
- 9 Pasar Hari Minggu
- 10 Menu Baru
- 11 Masa Depan yang Pantas
- 12 Sandiwara Makan Siang
- 13 Kejutan untuk dr. Salsa
- 14 Kalimat yang Sama
- 15 Kursi Kosong Jam Enam
- 16 Yang Berlari Menyeberang
- 17 Tahun Kedua
- 18 Kaleng Biskuit
- 19 Tabungan Nikah
- 20 Harga Lima Tahun
- 21 Yang Kusiapkan Sambil Menunggu
- 22 Satu Malam
- 23 Sebelum Operasi
- 24 Tangan yang Masih Menggenggam
- 25 Sekarang Aku yang Jaga
- 26 Pulang
- 27 Kencan Pertama yang Kedua
- 28 Pegangan Tangan Itu Susah
- 29 Nembak Ulang
- 30 Resmi (Lagi)
- 31 Sandiwara yang Ketahuan
- 32 Lamaran
- 33 Angka yang Naik
- 34 Di Depan Pintu
- 35 Malam yang Sama
- 36 Nilai Kembali Normal
- 37 Kebaya yang Menunggu
- 38 Pagi Akad
- 39 Sekarang Aku Siap
- 40 Rumah Kecil, Dapur Gosong
- 41 Epilog: Gelas Penuh