Chapter Thirty Five
Malam yang Sama
POV: Salsa
Nggak apa-apa.
Ia mengucapkannya pukul satu siang, di telepon, dari depan pagar rumah Ibu. Dua kata. Suaranya tenang, sangat tenang, dan di belakangnya aku mendengar daun jambu air bergesek ditiup angin.
Aku sedang berdiri di depan bangsal tiga dengan map pasien di tangan. Aku menutup telepon. Aku membuka map. Aku membaca hasil lab pasien di dalamnya, seorang ibu dengan gagal ginjal akut karena obat herbal, dan aku tidak bisa membaca satu angka pun.
Nggak apa-apa.
Aku sudah mendengar dua kata itu ribuan kali. Dari pasien yang menahan nyeri dada supaya tidak dirawat. Dari bapak-bapak yang menyembunyikan bengkak kakinya di balik kaus kaki. Dari residen yang baru saja salah memberi dosis dan tidak mau mengaku. Dari Mama, setiap kali gula darahnya naik.
Dari laki-laki dua puluh enam tahun di kedai Dago, setiap kali ia mual.
Aku dokter. Aku bisa mendiagnosis nggak apa-apa dari jarak tiga puluh kilometer lewat sambungan telepon yang terputus-putus.
Malam itu aku jaga di bangsal penyakit dalam lantai empat.
Ruang jaga dokter di lantai empat sempit. Satu ranjang lipat dengan sprei yang sudah dipakai ratusan residen. Satu meja dengan komputer yang lambat. Satu jendela kecil yang menghadap ke jalan. Kalau aku berdiri di samping jendela itu dan memiringkan kepala sedikit, aku bisa melihat papan nama kayu Kedai Setengah di seberang. Gelap, karena sudah tutup.
Lima tahun aku berdiri di samping jendela ini. Lima tahun aku menatap papan nama itu setiap malam jaga.
Pukul dua lewat sebelas, aku meneleponnya.
Ia tidak mengangkat.
Aku menelepon lagi. Ia tidak mengangkat.
Tidur ya?
Tidak ada balasan. Centang dua, abu-abu. Ponselnya menyala, pesannya sampai. Ia tidak membacanya.
Atau ia membacanya dari notifikasi, tanpa membuka aplikasi, supaya centangnya tidak berubah biru.
Aku tahu trik itu. Aku yang mengajarinya, sembilan tahun lalu, ketika ia ingin membaca pesan dari pemilik kedai Dago tanpa ketahuan bahwa ia sudah membacanya.
Ya udah. Tidur yang nyenyak. Besok jam enam.
Aku menekan kirim. Lalu aku meletakkan ponsel di meja, layar menghadap ke bawah, dan menatap jendela kecil.
Papan nama Kedai Setengah gelap di seberang jalan.
Aku mulai menghitung. Bukan hari. Detik. Satu. Dua. Tiga. Kebiasaan dari ruang tunggu RS Kartika, dari tangga darurat, dari balik ambulans. Menghitung sesuatu yang pasti, ketika semua yang lain tidak pasti.
Pada hitungan delapan ratus empat puluh tiga, ponselku bergetar.
Bukan dia.
Ibu.
“Neng,” bisik Ibu. Suaranya sangat pelan, sangat rendah, seperti orang yang sedang bersembunyi di dalam lemari. “Neng, Neng udah tidur?”
“Belum, Bu. Saya jaga.”
“Neng.” Napas Ibu pendek-pendek. “Van buka lemari.”
Aku berdiri dari kursi.
“Ibu denger, Neng. Pintu lemarinya. Yang suka bunyi kalau dibuka cepet. Dia buka pelan-pelan, tapi Ibu denger. Terus Ibu denger resleting.” Suara Ibu bergetar. “Resleting tas yang karatan. Tas yang dulu, Neng. Yang dia bawa ke rumah sakit Kartika. Yang dia bawa waktu pindah kos.”
Aku tidak bisa bicara.
“Ibu di kamar, Neng. Lampu Ibu matiin. Ibu duduk di ranjang. Ibu nggak tahu harus ngapain.” Ibu menarik napas yang tersendat. “Ibu samperin dia ya, Neng? Ibu ketok pintunya? Ibu tarik tasnya?”
Aku menatap jendela kecil. Papan nama Kedai Setengah di seberang jalan, gelap.
Tiga puluh kilometer. Bandung timur. Gang sempit, rumah bercat hijau pupus, pohon jambu air, pagar besi rendah. Aku bisa ke sana dalam empat puluh menit kalau ngebut dengan Brio merah marun. Tiga puluh menit kalau tidak ada truk di Jalan Supratman.
Aku bisa sampai sebelum ia membuka pintu.
Aku bisa berdiri di teras dan menunggunya keluar. Aku bisa menghalangi pagar. Aku bisa memeluknya dan bilang jangan, dan ia akan berhenti, dan ia akan menangis di bahuku, dan ia akan tetap tinggal.
Dan suatu hari nanti, jam tiga pagi, ia akan membuka lemari lagi. Karena ia tidak pernah memilih untuk tinggal. Aku yang memilihkan untuknya. Lagi.
Delapan tahun aku memilihkan. Ruko. Rumah sakit. Ginjal. Aku menyusun hidupnya dari jauh, sudut ketemu sudut, supaya ia tidak bisa lari. Dan ia tidak lari. Tapi ia juga tidak pernah benar-benar memilih untuk tinggal. Ia hanya tidak menemukan jalan keluar.
Seperti ikan di kolam keruh di taman belakang rumah sakit.
“Jangan, Bu,” kataku.
Hening di seberang.
“Neng?”
“Jangan samperin, Bu.” Suaraku keluar sangat pelan. “Jangan ketok. Jangan tarik tasnya.”
“Neng, kalau dia pergi...”
“Kalau dia pergi, saya cari lagi.”
“Neng...”
“Saya selalu bisa nyari dia, Bu. Delapan tahun saya bisa.” Aku memejamkan mata. “Tapi kali ini saya mau dia yang milih. Bukan Ibu. Bukan saya. Bukan Papa. Bukan Mbak Nadia. Dia.”
Ibu diam lama sekali.
“Neng yakin?”
Aku tidak yakin. Aku tidak pernah seyakin itu tentang apa pun, dan sekaligus tidak pernah setakut itu.
“Yakin, Bu.”
Ibu menarik napas panjang. Lalu, dengan suara yang bergetar tapi tegas, suara ibu yang delapan tahun mengganti kamper di lemari jati setiap Lebaran:
“Ibu nggak keluar kamar. Tapi Ibu laporan ke Neng. Boleh?”
“Boleh, Bu.”
Laporan Ibu datang lewat WhatsApp. Setiap beberapa menit. Diketik dengan jempol yang gemetar, dalam gelap, dengan typo di setiap kalimat dan emoji bunga yang tidak pernah absen.
Neng dia msh di kmr. Bunyi lemari lg. Kyknya masukin baju 🌸
Aku duduk di kursi ruang jaga, ponsel di dua tangan, menatap layar.
Neng dia masukin kotak obat. Ibu denger bunyi plastiknya. Kotak obat yg Neng beliin 🌸
Aku menutup mata. Ia membawa obatnya. Ia tidak berhenti minum obat. Ia tidak sedang mencoba berhenti hidup.
Ia sedang mencoba berhenti menjadi beban.
Aku tahu bentuk takut itu. Aku pernah melihatnya di ratusan pasien. Aku pernah membacanya di berkas rekam medis RS Kartika.
Neng dia keluar kmr. Jln ke ruang tamu. Pelan bgt. Ibu intip dr celah pintu 🌸
Ketukan di pintu ruang jaga. Aku terlonjak.
“Dok?” Perawat jaga bangsal tiga, Sus Wening, mengintip dari celah pintu. “Maaf, Dok. Pasien bed dua belas gelisah. Kakek Darmo. Minta ketemu Dokter.”
Aku menatap ponselku. Lalu menatap Sus Wening.
“Sebentar, Sus.”
“Katanya penting, Dok. Katanya nggak bisa tidur kalau belum ketemu Dokter.”
Aku berdiri. Aku memasukkan ponsel ke saku jas, layar menyala, menempel di dadaku.
Kakek Darmo, bed dua belas, delapan puluh satu tahun, gagal ginjal kronis dan gagal jantung, sedang duduk di ranjangnya dengan selang oksigen di hidung dan mata yang sangat segar untuk ukuran pukul dua pagi.
“Dokter,” katanya begitu melihatku. “Dokter udah nikah belum?”
Aku menatapnya.
Sus Wening, di belakangku, menutup wajahnya dengan map.
“Kakek,” kataku. “Ini jam dua pagi.”
“Saya tahu, Dok. Saya nggak bisa tidur. Saya kepikiran Dokter.” Kakek Darmo menatapku dengan mata penuh iba. “Dokter tiap visite selalu sendirian. Nggak ada yang nganter. Nggak ada yang jemput. Cucu saya ganteng, Dok. Umurnya udah tiga belas sekarang. Bulan depan ulang tahun.”
“Kakek, saya...”
Ponsel di saku jasku bergetar. Sekali. Dua kali.
Aku menatap Kakek Darmo. Lalu, karena aku tidak bisa menahannya, aku mengeluarkan ponsel dan membaca layar di depannya.
Neng dia berdiri di dpn pintu. Pegang grendel 🌸
Neng grendelnya kebuka dikit 🌸
Aku berhenti bernapas.
“Dok?” Kakek Darmo menatapku. “Dokter kenapa? Pucat.”
Aku menatap layar ponsel. Lalu aku menatap Kakek Darmo. Laki-laki delapan puluh satu tahun dengan selang oksigen dan dua organ yang gagal, yang terbangun pukul dua pagi karena khawatir dokternya tidak punya siapa-siapa.
“Kek,” kataku pelan. “Saya belum nikah.”
“Tuh kan.”
“Tapi calon suami saya ada.”
Kakek Darmo mengedip. “Ada?”
“Ada.” Aku menatap layar ponsel lagi. “Dia lagi berdiri di depan pintu. Mau kabur.”
Kakek Darmo menatapku dengan mata terbelalak. Lalu ia mencabut selang oksigen dari hidungnya dan menunjuk pintu bangsal dengan jari gemetar.
“Kejar, Dok!” katanya. “Kejar! Ngapain di sini?!”
Sus Wening berlari memasang kembali selang oksigen ke hidung Kakek Darmo.
“Nggak, Kek,” kataku. Aku tersenyum. Senyumku pasti terlihat aneh, karena mataku basah. “Kali ini saya nggak ngejar.”
“Kenapa?”
“Karena saya udah delapan tahun ngejar dia dari jauh.” Aku memasukkan ponsel kembali ke saku. “Kali ini saya nunggu. Biar dia yang milih jalan ke mana.”
Kakek Darmo menatapku lama. Selang oksigen di hidungnya, terpasang miring oleh Sus Wening yang panik. Lalu ia menghela napas panjang, napas orang tua yang sudah melihat banyak hal.
“Istri saya dulu juga gitu, Dok,” katanya. “Saya kabur tiga kali sebelum nikah. Tiga kali dia nunggu di rumah. Nggak ngejar. Nggak nangis di depan orang.” Ia tersenyum, memperlihatkan gigi yang tinggal empat. “Kali keempat saya pulang, dia lagi masak sayur asem. Dia nggak nanya saya dari mana. Dia cuma bilang, garamnya kurang, Kang, cobain.”
Aku menatapnya.
“Lima puluh tiga tahun kami nikah, Dok,” kata Kakek Darmo. “Dia meninggal tahun lalu. Sampai akhir, saya nggak pernah kabur lagi.” Ia menepuk tanganku dengan tangan tuanya yang kering. “Dokter tunggu aja. Masakin sayur asem.”
Aku kembali ke ruang jaga pukul dua lewat empat puluh lima.
Ada empat pesan baru dari Ibu.
Neng ada kucing Bu RT jatohin pot di teras. Kenceng bgt. Van kaget loncat. Ibu jg kaget 🌸
Neng dia ketawa?? 🌸
Neng skrg dia nangis. Duduk di kursi rotan. Di bwh foto lamaran 🌸
Pesan keempat datang lima menit kemudian.
Neng dia buka tasnya. Dikeluarin semua. Ditaruh di meja. Disusun rapi. Sudut ketemu sudut. Kyk Neng dulu rapiin undangan 🌸🌸🌸
Aku duduk di lantai ruang jaga.
Bukan di kursi. Di lantai. Bersandar di kaki ranjang lipat, dengan ponsel di dada, dan aku menangis tanpa suara, menutup mulut dengan punggung tangan, supaya Sus Wening tidak mendengar dari koridor.
Pesan kelima datang pukul tiga lewat sepuluh.
Neng dia buang botol kecil. Botol minum yg ada garis spidolnya. Yg dr Kartika. Ke tmpt sampah dapur 🌸
Pesan keenam, pukul tiga lewat dua puluh.
Neng dia udh balik ke kmr. Pintunya ditutup. Lampunya mati. 🌸
Neng. Dia nggak jadi pergi. 🌸🌸🌸🌸🌸
Lalu, sepuluh menit kemudian, satu pesan lagi. Tanpa emoji.
Ibu tidur dulu ya Neng. Ibu capek nangis.
Aku tidak tidur.
Aku duduk di lantai ruang jaga sampai pukul empat, lalu pindah ke kursi di samping jendela kecil. Papan nama Kedai Setengah di seberang jalan masih gelap.
Ia tidak membalas pesanku. Pesan pukul dua lewat sebelas masih berstatus centang dua abu-abu.
Aku tidak meneleponnya. Aku tidak mengirim pesan. Aku tidak memberi tahu Ibu untuk membangunkannya. Aku duduk di samping jendela dan menunggu.
Delapan tahun aku menunggu. Aku tahu cara menunggu. Aku tahu cara duduk di samping jendela dan menatap sesuatu yang gelap di seberang jalan dan menghitung.
Tapi malam ini, aku tidak menghitung.
Aku membuka tas selempangku dan mengeluarkan buku catatan koas. Buku tua dengan sampul biru yang sudah lusuh, yang delapan tahun kubawa ke mana-mana. Aku membukanya ke halaman terakhir.
Di sana, berderet, angka-angka dalam tinta hijau. Hari ke-1. Hari ke-147. Hari ke-392. Lalu angka-angka yang lebih kecil, lebih rapat, karena aku mulai menulisnya setiap hari di tahun ketiga. Ribuan angka. Sampai ke halaman sebelumnya, dan halaman sebelumnya lagi, karena halaman terakhir sudah lama tidak cukup.
Angka terakhir yang kutulis, di bawah semuanya, Hari ke-2.904. Malam ia bilang jangan datang lagi.
Setelah itu, aku tidak menulis lagi. Hari-hari setelahnya terlalu penuh. Kursi kosong jam enam. Lantai kedai. Kamar rawat. Map biru. Kamar 513. Brio merah marun. Payung hijau di bawah hujan.
Aku mengambil pulpen hijau dari saku kanan jas.
Aku menatap angka 2.904 itu lama sekali.
Lalu aku menarik satu garis di bawahnya. Garis lurus, mendatar, dari ujung kiri halaman ke ujung kanan. Garis yang sama dengan yang ditarik dokter di bawah hasil lab terakhir pasien yang sudah boleh pulang.
Di bawah garis itu, aku tidak menulis angka.
Aku menutup buku itu.
Pukul lima lewat dua belas, langit di jendela kecil berubah dari hitam ke biru tua.
Ponselku bergetar di meja.
Bukan Ibu.
Aku membaliknya.
Van.
Selamat pagi. Jam enam ya.
Hanya itu. Lima kata. Tanpa emoji, tanpa penjelasan, tanpa maaf semalam nggak angkat.
Aku membaca pesan itu sekali. Lalu aku meletakkan ponsel di dada, dan aku tertawa. Tawa kecil, basah, di ruang jaga yang sunyi, dengan matahari yang belum terbit dan papan nama Kedai Setengah yang masih gelap di seberang jalan.
Jam enam ya.
Ia memilih.
Aku membuka laci meja ruang jaga. Di dalamnya, di antara pulpen-pulpen bekas dan formulir resep dan sebungkus biskuit yang sudah melempem, ada sleeve cokelat. Kosong. Sleeve yang diberikan Mbak Kirana padaku seminggu lalu, di pintu belakang kedai, dengan wajah datar dan satu kalimat: Buat jaga-jaga, Bu Dokter. Mas Irvan suka lupa bilang hal-hal penting.
Aku mengeluarkan sleeve itu. Aku meletakkannya di atas meja.
Aku mengambil pulpen hijau dari saku kanan jas.
Lalu aku menulis satu kalimat. Pelan. Tidak terburu-buru. Dengan tulisan bulat-bulat yang rapi.
Aku tidak mencoretnya.
Aku melipat sleeve itu dua, memasukkannya ke saku kiri jas, di tempat kartu indeks yang dulu kupakai untuk latihan nembak. Lalu aku berdiri, merapikan jas, dan mencepol rambutku di depan kaca jendela kecil. Cepolnya miring. Satu helai lolos di pelipis kiri.
Aku tidak membetulkannya.
Pukul lima lima puluh delapan, aku berdiri di zebra cross di depan gerbang rumah sakit. Pak Ujang belum datang. Satpam shift malam tertidur di pos.
Di seberang jalan, lampu bohlam kuning di atas bar Kedai Setengah menyala.
- 1 Pesanan Jam Enam
- 2 Aku Nggak Siap
- 3 Tiup Tiga Kali
- 4 Permen Jahe di Toples Tip
- 5 Croissant Terakhir
- 6 Gula Tiga Sendok
- 7 Hal yang Tidak Diketahui Orang Asing
- 8 Van
- 9 Pasar Hari Minggu
- 10 Menu Baru
- 11 Masa Depan yang Pantas
- 12 Sandiwara Makan Siang
- 13 Kejutan untuk dr. Salsa
- 14 Kalimat yang Sama
- 15 Kursi Kosong Jam Enam
- 16 Yang Berlari Menyeberang
- 17 Tahun Kedua
- 18 Kaleng Biskuit
- 19 Tabungan Nikah
- 20 Harga Lima Tahun
- 21 Yang Kusiapkan Sambil Menunggu
- 22 Satu Malam
- 23 Sebelum Operasi
- 24 Tangan yang Masih Menggenggam
- 25 Sekarang Aku yang Jaga
- 26 Pulang
- 27 Kencan Pertama yang Kedua
- 28 Pegangan Tangan Itu Susah
- 29 Nembak Ulang
- 30 Resmi (Lagi)
- 31 Sandiwara yang Ketahuan
- 32 Lamaran
- 33 Angka yang Naik
- 34 Di Depan Pintu
- 35 Malam yang Sama reading
- 36 Nilai Kembali Normal
- 37 Kebaya yang Menunggu
- 38 Pagi Akad
- 39 Sekarang Aku Siap
- 40 Rumah Kecil, Dapur Gosong
- 41 Epilog: Gelas Penuh