← Gula Setengah Sendok

Chapter One

Pesanan Jam Enam

POV: Irvan


Setiap pagi, hal pertama yang kuseduh bukan kopi.

Pukul lima lewat dua puluh, sebelum mesin espresso panas, sebelum Dodi datang dengan muka bantal, aku menuang air putih ke gelas kecil bening yang biasa dipakai untuk sloki kopi. Isinya dua ratus mililiter. Aku menandai garisnya dengan spidol hitam bertahun-tahun lalu, dan garis itu sudah hampir pudar, tapi tanganku hafal di mana harus berhenti.

Gelas itu kutaruh di rak bawah meja kasir, di belakang tumpukan cup ukuran medium, di tempat yang tidak terlihat pelanggan.

Itu jatahku sampai siang.

Lalu barulah aku menyalakan mesin, menggiling biji pertama, dan membiarkan bau kopi mengisi ruko kecil dua lantai yang lima tahun ini kusebut Kedai Setengah.

“Pagi, Mas.” Dodi masuk lewat pintu belakang pukul lima empat puluh, rambutnya masih basah, kemeja hitam seragam dikancing salah satu lubang. “Saya mimpi buruk, Mas.”

“Mimpi apa?”

“Mimpi kedai kita viral di TikTok. Antreannya sampai ke gerbang rumah sakit. Terus saya disuruh bikin seratus latte art bentuk angsa.”

“Itu mimpi buruk?”

“Mas tahu sendiri angsa saya bentuknya kayak ayam ditabrak motor.”

Aku tidak menjawab. Kirana, yang masuk tiga menit di belakangnya, sudah mengikat celemek dan mulai menurunkan kursi dari atas meja tanpa suara. Kirana jarang bicara sebelum jam tujuh. Katanya, mulutnya baru di-booting setelah kopi kedua.

Di luar jendela besar, langit Bandung masih abu-abu. Gerbang RS Mitra Harapan di seberang jalan baru mulai ramai: tukang bubur mendorong gerobak, satpam shift malam menguap di posnya, perawat bergantian keluar-masuk dengan wajah yang sama capeknya.

Separuh pelanggan kami datang dari gedung itu. Perawat yang baru turun jaga, keluarga pasien yang semalaman duduk di kursi plastik, dokter muda yang butuh kafein untuk bertahan sampai visite. Mereka datang, memesan, lalu kembali menyeberang. Aku hafal pesanan sebagian besar dari mereka.

Aku tidak pernah hafal wajah mereka. Itu kebiasaan yang sengaja kupelihara.

“Mas,” Dodi bersandar di bar, “kenapa sih kita buka jam enam? Kafe di Dago aja bukanya jam sepuluh.”

“Kafe di Dago nggak di depan rumah sakit.”

“Iya, tapi...”

“Orang yang jaga malam butuh kopi jam enam, Dod. Bukan jam sepuluh.”

Dodi mengangguk-angguk seperti baru mendengar kebenaran agung, lalu mencoba memutar papan CLOSED jadi OPEN dan malah menjatuhkannya.

Pukul lima lima puluh delapan, semuanya siap. Susu di pitcher, biji yang baru digiling, cup tersusun, spidol di saku kemeja. Aku menggulung lengan kemeja sampai pergelangan, tidak lebih. Aku selalu pakai lengan panjang. Dodi pernah bertanya kenapa, dan aku bilang supaya terlihat profesional. Dia percaya, karena Dodi percaya apa saja yang kukatakan dengan muka datar.

Pukul enam tepat, lonceng kecil di atas pintu berbunyi.

Aku sedang menunduk, mengelap steam wand, dan aku tidak langsung mendongak. Pelanggan pertama biasanya Sus Mira dari unit hemodialisis, atau Pak Ujang yang membeli kopi hitam untuk satpam shift pagi.

“Selamat pagi, Kak!” Dodi bersuara terlalu riang. “Selamat datang di Kedai Setengah!”

Ada jeda. Lalu suara Dodi berubah jadi sesuatu yang belum pernah kudengar sebelumnya.

“...Selamat pagi, Bu Dokter.”

Aku mendongak.

Delapan tahun.

Delapan tahun aku menghindari setiap kemungkinan ini. Aku tidak datang ke reuni. Aku memblokir semua nomor teman kuliah yang mungkin masih berhubungan dengannya. Aku pindah kos sekali, waktu masih kerja di Dago, ketika seorang kawan lama memanggil namaku di pasar Kosambi. Aku memilih hidup sekecil mungkin, di sudut kota yang tidak akan ia datangi, supaya kalimat ini tidak pernah terjadi:

Salsabila Harin berdiri di depan kasirku.

Ia memakai jas dokter putih di atas kemeja biru muda. Rambutnya dicepol asal di belakang kepala, dan satu helai lolos di pelipis kiri, persis di tempat yang sama dengan delapan tahun lalu, seolah-olah helai rambut itu juga menolak untuk berubah. Wajahnya lebih tirus. Ada lingkar tipis di bawah mata yang tidak dulu ada di sana. Tapi selebihnya, ia masih perempuan yang membuat orang berhenti bicara di tengah kalimat.

Dodi sedang membuktikannya. Mulutnya masih setengah terbuka.

Di saku jas dokternya, papan nama kecil: dr. Salsabila H., Sp.PD.

Spesialis penyakit dalam. Ia berhasil. Tentu saja ia berhasil.

Tanganku masih memegang lap. Aku tidak tahu harus menaruhnya di mana.

Salsa menatap papan menu di atas kepalaku. Lalu, pelan, matanya turun dan berhenti di wajahku.

Aku menunggu. Menunggu ia terkejut, atau marah, atau menangis, atau berbalik dan keluar. Aku sudah membayangkan ratusan versi pertemuan ini di malam-malam sesudah cuci darah, ketika tubuhku terlalu lelah untuk tidur, dan di semua versi itu, Salsa mengenaliku.

Ia menatapku seperti menatap barista yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya.

“Kopi susu,” katanya.

Suaranya. Masih sama. Sedikit serak di pagi hari, karena ia selalu lupa minum air sebelum keluar rumah.

Dan sebelum aku sempat menghentikannya, mulutku bergerak sendiri.

“Gula setengah sendok, kan?”

Udara di kedai berhenti.

Dodi menoleh padaku. Kirana, yang sedang menata croissant di etalase, berhenti dengan penjepit di udara.

Salsa mengangkat alis sedikit. Hanya sedikit.

“Iya,” katanya. “Kok tahu?”

Aku bisa merasakan jantungku memukul tulang rusuk. “Tebakan.”

“Tebakannya bagus.”

“Kebanyakan dokter suka manisnya tanggung.” Aku tidak tahu dari mana kalimat itu datang. Sepertinya dari bagian otakku yang sedang panik dan memutuskan berbohong dengan statistik. “Cukup buat bangun, nggak cukup buat merasa bersalah.”

Sudut bibirnya bergerak. Hampir senyum, tapi tidak jadi.

“Teori yang menarik,” katanya. “Satu, ya. Dibawa.”

“Wih,” Dodi berbisik dengan kagum, terlalu keras untuk ukuran bisikan. “Mas Irvan cenayang.”

Salsa tidak bereaksi pada nama itu. Tidak ada kedip, tidak ada jeda napas. Ia membuka dompet, membayar dengan uang pas, lalu berjalan ke kursi dekat jendela dan duduk menghadap gerbang rumah sakit, membelakangiku.

Aku menatap punggungnya selama dua detik penuh sebelum Kirana menyenggol lenganku dengan siku.

“Mas,” katanya pelan. “Pesanan.”

Benar. Pesanan.

Tanganku bekerja tanpa aku. Menakar biji, menekan tamper, memasang portafilter. Espresso mengalir pelan, cokelat gelap ke cokelat keemasan. Susu kupanaskan sampai enam puluh lima derajat, tidak lebih, karena dulu ia selalu mengeluh lidahnya terbakar dan aku selalu bilang itu salahnya sendiri yang tidak sabar menunggu.

Busanya kutipiskan. Ia tidak suka busa tebal. Katanya busa tebal itu “kopi yang pura-pura kaya”.

Gula setengah sendok. Kuaduk sebelum susu masuk, supaya larut sempurna.

Lalu aku mengambil sleeve karton cokelat, memasangnya di cup, dan mengeluarkan spidol dari saku.

Aku menulis sebelum sempat berpikir.

Apa kabar, Sa

Aku menatap tiga kata itu. Lalu aku menarik garis hitam tebal di atasnya, dua kali, sampai tulisannya hampir tenggelam di bawah tinta.

Aku tidak tahu kenapa aku menulisnya. Aku tidak tahu kenapa aku tidak membuang sleeve itu dan mengambil yang baru. Yang aku tahu, tanganku tidak mau.

“Mas,” Dodi mengambil cup dari tanganku dengan hati-hati, seolah aku sedang menyerahkan bom. “Mas kenapa? Muka Mas kayak orang habis lihat hantu.”

“Nggak apa-apa.”

“Mas kenal Bu Dokter itu?”

“Nggak.”

Dodi menatapku lama. Lalu ia menatap tulisan yang kucoret di sleeve, memiringkan kepala, mencoba membacanya.

“Ini tulisan apa, Mas?”

“Salah tulis.”

“Mas nulis apa sampai salah tulis di sleeve? Kita kan nggak pernah nulis di sleeve.”

“Antar aja, Dod.”

Dodi masih ingin bertanya, tapi Kirana memanggilnya dari etalase dengan nada yang tidak bisa ditawar. Ia berjalan ke arah jendela, cup di tangan, dan aku kembali mengelap steam wand yang sudah bersih.

Lonceng pintu berbunyi lagi. Sus Mira masuk dengan seragam perawat dan sweater rajut ungu, rambut keriting diikat tinggi. Ia memesan latte dingin seperti biasa, lalu menyandarkan siku di meja kasir dan menurunkan suaranya.

“Mas,” bisiknya, “itu dr. Salsa, kan? Yang di jendela?”

“Nggak tahu, Sus.”

“Iya, itu dr. Salsa. Penyakit dalam. Lagi ambil subspesialis ginjal.” Sus Mira mengucapkannya dengan nada penuh rasa hormat dan sedikit takut, seperti orang menyebut nama gunung berapi. “Galak, Mas. Residen junior pada nangis di toilet gara-gara dia. Tapi pasien pada sayang semua.”

Aku tidak berkata apa-apa. Tanganku menuang susu dingin ke gelas Sus Mira, dan aku sadar tanganku gemetar karena es di gelas berdenting tidak beraturan.

Subspesialis ginjal.

Aku menyeberang ke gedung itu dua kali seminggu. Selasa dan Jumat, pukul tujuh pagi, lantai dua, unit hemodialisis. Empat setengah jam, dua jarum di lengan kiri, dan mesin yang membersihkan darahku karena tubuhku sendiri sudah lama berhenti melakukannya.

Lima tahun aku melakukan itu, di gedung yang sama tempat Salsa bekerja.

Dan aku tidak tahu.

“Tumben dokter senior turun ngopi ke sini,” lanjut Sus Mira, menerima gelasnya. “Biasanya mereka di kantin VIP. Kopi kantin VIP kan gratis.”

“Mungkin kopi kantinnya nggak enak.”

“Kopi kantin VIP enak, Mas. Mesinnya Italia.” Sus Mira mengedip. “Mungkin dia ke sini karena baristanya ganteng.”

“Sus.”

“Becanda, Mas. Becanda.” Ia tertawa dan pergi, tapi di pintu ia berhenti dan menoleh ke kursi dekat jendela, lalu menoleh lagi padaku. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang tidak kusukai, sesuatu yang biasanya muncul di mata perempuan yang baru menemukan bahan gosip seminggu.

Pagi berjalan seperti biasa, dan tidak ada satu detik pun yang biasa.

Aku membuat empat puluh tiga gelas kopi antara pukul enam dan tujuh lewat seperempat. Aku salah membuat dua: americano yang seharusnya panas kubuat dingin, dan cappuccino kuberi sirup karamel yang tidak dipesan. Kirana diam-diam membetulkan keduanya tanpa berkata apa-apa, dan hanya sekali, ketika menyerahkan cappuccino yang benar ke pelanggan, ia melirikku dengan pandangan yang seolah berkata nanti kita bicara.

Salsa duduk di kursi dekat jendela selama dua puluh tiga menit. Aku tahu karena aku melihat jam setiap kali tidak melihatnya.

Ia tidak memainkan ponsel. Ia hanya duduk, memegang cup dengan dua tangan, dan memandang gerbang rumah sakit. Sesekali ia mengangkat cup dan meniupnya sebelum minum.

Aku tidak menghitung berapa kali ia meniup.

Aku tidak perlu menghitung. Aku tahu.

Pukul enam dua puluh tiga, ia berdiri. Ia merapikan jas dokter, menyelipkan helai rambut yang lolos ke belakang telinga, dan helai itu langsung lolos lagi begitu ia melangkah. Ia berjalan ke arah pintu.

Ia tidak melihat ke arahku. Ia tidak berhenti di kasir.

Lonceng berbunyi. Pintu terbuka. Lalu tertutup.

Aku menghembuskan napas yang ternyata kutahan sejak pukul enam.

“Mas,” kata Dodi, muncul di sampingku dengan muka seperti anak sekolah yang baru jatuh cinta pada guru PPL. “Mas, saya mau ngaku sesuatu.”

“Apa.”

“Saya jatuh cinta.”

“Sama siapa.”

“Sama Bu Dokter yang tadi. Mas lihat nggak cara dia megang gelas? Kayak megang bayi burung. Lembut tapi pasti.” Dodi memegang dadanya. “Mas, menurut Mas, saya punya kesempatan nggak?”

“Nggak.”

“Kok langsung nggak?”

“Kamu dua puluh tiga, Dod. Kamu masih nangis kalau nonton iklan sirup.”

“Itu iklan sirupnya emang sedih, Mas! Bapaknya pulang kampung bawa sirup, terus anaknya udah nggak ada di rumah karena merantau...” Dodi berhenti, matanya berkaca-kaca. “Tuh kan. Saya jadi sedih lagi.”

Kirana lewat di belakang kami dengan nampan berisi cup kosong. “Dod. Cuci.”

“Iya, iya.”

Dodi berjalan ke wastafel. Kirana meletakkan nampan, lalu, tanpa kata pengantar, menyodorkan sesuatu padaku.

Sleeve cokelat.

Sleeve yang tadi. Dengan tulisan yang dicoret.

“Ketinggalan di meja jendela,” kata Kirana. “Cup-nya dibawa, sleeve-nya ditinggal.”

Aku menatap sleeve itu di telapak tangannya. Tinta hitam, tiga kata yang tenggelam di bawah dua garis.

Ia melepasnya dari cup sebelum pergi. Ia melepasnya dengan sengaja, lalu meninggalkannya di meja tempat ia duduk.

Apakah ia membacanya? Apakah coretannya cukup tebal?

“Mas mau saya buang?” tanya Kirana.

“Iya. Buang aja.”

Kirana tidak bergerak. Ia menatapku dengan mata kalemnya yang tidak pernah bisa kubohongi, lalu ia menaruh sleeve itu di meja kasir, tepat di depanku, dan pergi tanpa berkata apa-apa.

Aku tidak membuangnya.

Aku melipatnya dua, lalu menyelipkannya di saku kemeja, di belakang spidol.


Pukul tujuh lewat dua puluh, Dodi berdiri di sampingku sambil mengeringkan gelas, menatap kursi kosong di dekat jendela dengan penuh kerinduan.

“Mas,” katanya. “Bu Dokter bakal balik lagi nggak, ya?”

“Nggak tahu.”

“Saya lupa nanya namanya. Biasanya kan saya nanya nama buat ditulis di cup. Tadi saya lupa, saking terpesonanya.” Dodi menghela napas panjang. “Besok kalau dia datang lagi, saya mau nanya. Biar saya bisa nulis namanya di cup pakai huruf yang cantik.”

Aku tidak menjawab. Aku sedang menatap gelas kecil di rak bawah meja kasir, yang isinya baru berkurang sedikit. Aku belum minum sejak pukul enam. Tenggorokanku kering, tapi aku tidak ingin minum.

Aku ingin mengulang pukul enam tadi.

Aku ingin mengulangnya, dan kali ini aku tidak akan bertanya soal gula. Aku akan membuat kopinya seperti untuk orang asing, dengan busa standar dan gula yang ia pilih sendiri, dan ia akan pergi dan tidak kembali, dan semuanya akan tetap aman.

Atau mungkin aku ingin mengulangnya untuk alasan yang sebaliknya. Aku tidak tahu. Delapan tahun, dan aku masih tidak tahu.


Keesokan paginya, pukul enam tepat, lonceng berbunyi.

Dodi sudah berdiri di kasir sejak pukul lima lima puluh, rambut disisir rapi, kemeja dikancing benar untuk pertama kalinya dalam sejarah. Ia menyambut dengan senyum yang ia latih di depan cermin toilet selama sepuluh menit.

Salsa masuk dengan jas dokter dan cepol yang sama. Satu helai rambut di pelipis kiri.

“Kopi susu,” katanya. “Gula setengah sendok.”

Ia mengatakannya sebelum aku sempat bertanya. Ia mengatakannya sambil menatap papan menu, bukan aku.

Aku mulai menggiling biji.

Dodi mengangkat spidol dan cup kosong, dengan pose yang ia pikir keren. “Boleh saya tahu namanya, Kak? Buat ditulis di cup.”

Salsa sudah berbalik, berjalan ke kursi dekat jendela. Ia menjawab tanpa menoleh.

“Orang asing.”