← Gula Setengah Sendok

Chapter Five

Croissant Terakhir

POV: Irvan


Tidak ada yang bergerak selama tiga detik.

Tiga detik itu terasa seperti satu sesi cuci darah. Ibu berdiri di ambang pintu dengan tangan kosong yang masih terangkat, seolah-olah nampannya belum jatuh. Kue lapis berserakan di lantai. Sepasang keluarga pasien di meja dekat pintu menatap kue-kue itu dengan wajah sedih, seperti melihat makanan yang mati muda. Dodi membeku dengan spidol di tangan. Kirana membeku dengan penjepit croissant di tangan.

Dan Salsa, di kursi dekat jendela, sudah menoleh.

Aku tidak bisa bernapas.

Lalu Salsa berdiri.

Ia menutup map pasien di mejanya, menaruhnya di samping cup kosong, lalu berjalan ke arah pintu. Langkahnya tidak cepat, tidak lambat. Jas dokternya berkibar sedikit. Ia berhenti di depan Ibu, lalu berjongkok di antara kue lapis yang berserakan.

“Ibu nggak apa-apa?” tanyanya.

Suaranya tenang. Suara dokter yang sudah ribuan kali bertanya pada ribuan orang asing apakah mereka baik-baik saja.

Ibu tidak menjawab. Ibu menunduk, menatap perempuan yang berjongkok di depan kakinya, dan bibir Ibu bergetar.

Salsa mulai memungut kue lapis satu per satu dan menaruhnya kembali di nampan. Ia melakukannya dengan rapi, menyusunnya sejajar, sudut ketemu sudut. Ia selalu merapikan barang ketika tidak tahu harus melakukan apa dengan tangannya.

Aku tahu kebiasaan itu. Aku melihatnya terakhir kali di teras rumah Ibu, di atas kotak undangan krem dengan pita hijau sage.

“Lantainya agak licin, Bu,” kata Salsa, menyerahkan nampan yang sudah disusun ulang. “Kuenya udah nggak bisa dimakan, tapi nampannya nggak pecah.”

Ibu menerima nampan itu dengan dua tangan. Jari-jari Ibu menyentuh jari-jari Salsa.

Dan tidak melepasnya.

Salsa berhenti. Ia masih berjongkok, nampan di antara mereka, tangan Ibu menggenggam tangannya di atas tumpukan kue lapis yang hancur. Ia mendongak menatap Ibu.

Aku tidak bisa melihat wajah Salsa. Aku hanya bisa melihat wajah Ibu, yang sedang menangis tanpa suara, air matanya jatuh ke kerudung cokelat dan tidak dihapus.

“Ibu,” kata Salsa pelan. Sangat pelan. Aku hampir tidak mendengarnya dari bar. “Ibu kenapa?”

Ibu membuka mulut. Lalu Ibu menatapku.

Aku menggeleng. Sangat kecil, hampir tidak terlihat. Jangan, Bu. Tolong.

Ibu menutup mulutnya lagi. Ia menarik napas panjang, melepaskan tangan Salsa pelan-pelan, dan tersenyum. Senyum Ibu yang paling sulit, senyum yang sama dengan yang ia pakai di pemakaman Bapak waktu menyalami para tamu.

“Nggak apa-apa, Neng,” kata Ibu. “Ibu cuma sedih kuenya jatuh. Bu RT bikinnya susah.”

Salsa menatap Ibu beberapa detik lagi. Lalu ia mengangguk dan berdiri.

“Hati-hati, Bu,” katanya.

Ia kembali ke meja dekat jendela, mengambil map pasien dan cup kosongnya, lalu berjalan ke pintu. Ia melewati Ibu, melewati sisa remah kue lapis, melewati Dodi yang masih membeku.

Ia tidak melewatiku, karena aku di balik bar. Ia tidak menoleh ke bar.

Lonceng berbunyi. Pintu terbuka, tertutup.

Ibu berdiri di tengah kedai memeluk nampan berisi kue lapis rusak, menatap pintu yang baru tertutup itu.

“Dodi,” kata Kirana, sangat tenang. “Ambil pel.”

“Hah? Oh. Iya. Iya!” Dodi berlari ke belakang.

Kirana meletakkan penjepit croissant, berjalan ke Ibu, mengambil nampan dari pelukannya dengan lembut, lalu menuntun Ibu ke arah dapur di belakang bar.

“Ibu duduk dulu di belakang, ya,” kata Kirana. “Mas Irvan juga.”

Ia menatapku ketika mengatakannya. Kirana jarang menyuruhku. Tapi ketika Kirana menyuruh, aku selalu menurut.


Dapur Kedai Setengah sempit. Satu meja kerja stainless, satu kulkas dua pintu, satu rak berisi karung biji kopi dan kotak susu, dan satu bangku plastik merah yang biasa dipakai Dodi untuk tidur siang. Ibu duduk di bangku plastik itu. Aku berdiri di depannya, bersandar di meja kerja.

Kirana menutup pintu dapur dan kembali ke bar tanpa berkata apa-apa.

Ibu menatapku lama sekali.

“Itu Salsa,” kata Ibu.

“Iya, Bu.”

“Itu Salsa, Van.”

“Iya.”

“Sejak kapan?”

“Seminggu lebih.”

Ibu memejamkan mata. Lalu Ibu memukul lenganku. Bukan lengan kiri. Ibu tidak pernah memukul lengan kiriku. Lengan kanan, cukup keras sampai aku meringis.

“Seminggu!” desis Ibu. “Seminggu, dan kamu nggak bilang Ibu?”

“Bu...”

“Ibu tiap malam doa, Van. Delapan tahun. Tiap malam, habis Isya, Ibu doa biar Salsa sehat, biar Salsa bahagia, biar Salsa ketemu laki-laki yang baik.” Ibu memukul lenganku lagi, lebih pelan. “Terus dia muncul di kedai anak Ibu, dan anak Ibu diem aja kayak patung?”

“Dia nggak kenal aku, Bu.”

Ibu berhenti memukul. “Apa?”

“Dia pura-pura nggak kenal aku.” Kata-katanya terasa aneh di mulut. Aku belum pernah mengatakannya keras-keras, bahkan pada diriku sendiri. “Tiap pagi dia datang, pesan kopi, duduk di jendela, terus pergi. Dia nggak pernah nyebut namaku. Dia nggak pernah natap aku lebih dari dua detik. Dia kasih nama palsu ke Dodi buat ditulis di cup.”

“Nama palsu?”

“Orang Asing. Dokter Galak. Tamu Undangan.”

Ibu terdiam. Matanya bergerak, menghitung sesuatu.

“Tamu undangan,” ulang Ibu pelan.

“Iya, Bu.”

Ibu menatap lantai dapur. Lalu, pelan sekali, Ibu tertawa. Tawa kecil yang pecah di tengahnya dan berubah menjadi sesuatu yang lain.

“Anak itu,” kata Ibu, menyeka matanya dengan ujung kerudung. “Dari dulu kalau marah, dia nggak pernah teriak. Dia cuma jadi sopan. Sopan banget. Kamu ingat? Waktu kamu lupa ulang tahunnya yang ke-dua puluh tiga, dia panggil kamu ‘Mas Irvan’ selama tiga hari.”

Aku ingat. Tiga hari Salsa memanggilku Mas Irvan dengan suara sangat ramah, seperti petugas bank yang melayani nasabah bermasalah. Hari keempat aku datang ke kosnya membawa martabak keju dan berlutut di depan pintu, dan ia membuka pintu, menatapku, lalu bilang “Martabaknya yang keju doang? Nggak ada yang cokelat?”

“Dia marah sama kamu, Van,” kata Ibu. “Delapan tahun. Dan dia masih datang tiap pagi.”

“Dia datang karena kedainya dekat rumah sakit, Bu.”

“Kantin rumah sakit lebih dekat.”

“Kopi kantinnya nggak enak.”

Ibu menatapku dengan pandangan yang sama seperti waktu aku umur sembilan tahun dan bilang yang memecahkan vas bunga itu kucing tetangga.

“Van.” Ibu meraih tangan kananku dan menggenggamnya. Tangan Ibu kecil, kasar, penuh bekas tusukan jarum jahit. “Kamu udah delapan tahun nyuruh dia pergi. Kamu yakin dia masih mau pergi?”

Aku tidak bisa menjawab.

“Ibu janji nggak bilang,” lanjut Ibu. “Ibu udah janji delapan tahun lalu, dan Ibu tepatin. Tadi Ibu hampir nggak tahan. Lihat dia jongkok di lantai mungutin kue lapis, rapiin kayak waktu dia rapiin undangan...” Suara Ibu pecah. Ia menarik napas. “Tapi Ibu nggak bilang. Karena kamu minta.”

“Makasih, Bu.”

“Jangan makasih.” Ibu melepas tanganku dan berdiri. “Ibu tepatin janji bukan karena Ibu setuju. Ibu tepatin janji karena Ibu ibumu.”

Ia merapikan kerudung, mengambil tas kecilnya, lalu berhenti di pintu dapur.

“Dia kurusan,” kata Ibu tanpa menoleh. “Kasih dia makan, Van. Jangan cuma kopi.”


Sore harinya, hujan.

Bukan hujan sore Bandung yang sopan, yang turun sebentar lalu pergi. Ini hujan yang serius. Hujan yang membuat jalan di depan rumah sakit jadi sungai kecil, yang membuat tukang parkir berteduh di bawah spanduk, yang menghantam atap ruko kedai seperti ribuan jari mengetuk minta masuk.

Kedai Setengah buka sampai pukul sembilan malam, tapi di hari hujan begini, biasanya sepi setelah magrib. Pukul tujuh, hanya ada tiga meja yang terisi: dua mahasiswa keperawatan yang belajar untuk ujian, dan seorang bapak tua yang menunggu istrinya selesai kemoterapi.

Dodi sudah pulang. Hari Rabu ia kuliah malam. Tinggal aku dan Kirana.

Pukul tujuh lewat dua puluh, lonceng berbunyi.

Aku sedang menghitung stok susu di kulkas bawah bar, dan aku mendengar lonceng itu, dan aku tidak mendongak, karena tidak ada alasan bagi siapa pun yang kukenal untuk datang di jam ini, di hujan ini.

“Selamat malam,” sapa Kirana dari kasir. Lalu ada jeda kecil, dan suara Kirana sedikit berubah. “Bu Dokter.”

Aku mendongak.

Salsa berdiri di ambang pintu, basah kuyup.

Jas dokternya sudah tidak ada. Ia hanya memakai kemeja biru muda yang basah di bahu dan lengan, menempel di kulit. Rambutnya, yang biasanya dicepol, sudah setengah lepas, beberapa helai menempel di pipi dan leher. Ia memegang payung lipat yang rusak, salah satu rangkanya patah dan mencuat ke luar seperti sayap burung yang terkilir.

Ia terlihat seperti seseorang yang baru berlari menyeberang jalan di tengah hujan dan kalah.

Ia juga terlihat seperti hal paling cantik yang pernah kulihat, dan aku membenci diriku karena masih berpikir begitu.

“Payungnya rusak di tengah jalan,” kata Salsa, mengangkat payung itu seperti barang bukti. “Saya numpang neduh, boleh?”

“Boleh, Bu,” kata Kirana. “Duduk aja di mana pun.”

Salsa mengangguk. Ia melirik kursi dekat jendela, tapi kursi itu basah karena tempias. Lalu, setelah ragu sebentar, ia berjalan ke kursi tinggi di depan bar.

Ke depanku.

Ia duduk. Ia meletakkan payung rusak di lantai, menyeka air dari dahinya dengan punggung tangan, dan mencoba merapikan rambutnya kembali ke dalam cepol. Ia gagal. Rambutnya terlalu basah.

Kirana menaruh selembar handuk kecil di meja bar, di depan Salsa. Handuk kedai, warna abu-abu, bersih. Lalu Kirana berbalik dan mulai berjalan ke meja-meja yang tersisa.

“Mas, Mbak,” kudengar Kirana berkata pada dua mahasiswa keperawatan, dengan nada yang sangat ramah. “Kita mau tutup lebih cepat malam ini, karena hujan. Mungkin lima belas menit lagi, ya.”

Dua mahasiswa itu menatap jam. “Bukannya sampai jam sembilan, Kak?”

“Biasanya,” kata Kirana. “Hari ini spesial.”

Lalu Kirana berjalan ke bapak tua di pojok, dan aku mendengar ia menawarkan untuk mengantar bapak itu ke lobi rumah sakit dengan payung kedai, supaya bapak itu bisa menunggu istrinya di tempat yang lebih hangat.

Aku menatap Kirana. Kirana tidak menatapku. Kirana menatap ke mana pun kecuali aku, dengan wajah kalem yang sempurna.

Salsa menggosok rambutnya dengan handuk abu-abu. Ia tidak menatapku juga.

“Mau pesan apa?” tanyaku. Suaraku keluar lebih serak dari yang kumaksud.

Ia berhenti menggosok rambut. Ia menatap papan menu di atas kepalaku sebentar.

“Yang biasa,” katanya.

Aku menyeduh kopi susu dengan gula setengah sendok, dan karena hujan, dan karena bajunya basah, dan karena Ibu bilang jangan cuma kopi, aku memanaskan susunya sampai tujuh puluh derajat. Lima derajat lebih panas dari biasa. Aku tahu ia akan mengeluh. Tapi ia kedinginan.

Aku memasang sleeve, mengambil spidol, lalu berhenti.

Ia duduk tepat di depanku. Satu meter jauhnya. Kalau aku menulis sesuatu di sleeve ini, ia akan melihat aku menulisnya. Ia akan melihat aku mencoretnya.

Aku menaruh spidol kembali ke saku.

Lalu aku membuka etalase di samping mesin kasir. Hanya tersisa satu croissant di sana, croissant mentega yang paling besar, yang sejak sore kusisihkan di sudut belakang supaya tidak dibeli orang lain. Aku tidak tahu kenapa aku menyisihkannya. Aku cuma tahu bahwa pukul tiga sore, ketika langit mulai gelap, tanganku memindahkan croissant itu ke belakang dan menutupinya dengan kertas roti.

Aku menaruh croissant itu di piring kecil dan meletakkannya di samping kopi.

Salsa menatap croissant itu.

“Saya nggak pesan ini,” katanya.

“Sisa,” kataku. “Mau dibuang.”

“Croissant semahal ini mau dibuang?”

“Lebih baik dimakan orang daripada dibuang.”

Salsa menatapku. Kali ini lebih dari dua detik. Tiga. Empat.

Lalu ia mengambil croissant itu dan menggigitnya.

Ia mengunyah pelan. Ia memejamkan mata sebentar. Lalu ia mengangkat cup kopi, meniupnya tiga kali, dan menyesap.

Dahinya mengernyit. “Panas.”

“Kamu kedinginan.”

Kata kamu lolos sebelum aku bisa menangkapnya. Bukan Ibu, bukan Bu Dokter, bukan Kak. Kamu.

Salsa tidak menunjukkan reaksi apa pun. Ia hanya meniup kopinya lagi, sekali, lalu menyesap lagi.

Dua mahasiswa keperawatan keluar. Kirana mengantar bapak tua ke rumah sakit dengan payung kedai. Lonceng berbunyi dua kali, lalu sunyi.

Hanya ada aku, Salsa, dan suara hujan.


Kami tidak banyak bicara.

Ia menghabiskan croissant itu sampai remah terakhir, menekan remah-remah di piring dengan ujung jari dan memakannya juga, persis seperti dulu. Aku mengelap mesin espresso yang sudah bersih. Ia memutar cup di antara kedua telapak tangannya. Aku menyusun cup-cup kosong yang sudah tersusun.

“Kedainya udah berapa lama?” tanyanya akhirnya.

“Lima tahun.”

“Kok bisa di sini? Depan rumah sakit?”

Karena aku cuci darah di gedung seberang dua kali seminggu, dan aku tidak kuat naik motor jauh-jauh setelahnya.

“Sewanya murah,” kataku.

Salsa mengangguk pelan, seperti menyimpan jawaban itu di suatu tempat.

“Ramai?”

“Lumayan. Kebanyakan dari rumah sakit.”

“Dokter?”

“Perawat. Keluarga pasien. Dokter jarang.” Aku berhenti. “Katanya kopi di kantin VIP gratis.”

“Kopi kantin VIP rasanya kayak air cucian karpet.”

Aku tidak bisa menahannya. Tawa kecil keluar dari tenggorokanku sebelum aku sempat menelannya.

Salsa mendongak. Ia menatapku tertawa. Dan untuk sepersekian detik, sudut bibirnya bergerak lagi, seperti di hari pertama. Hampir senyum.

Kali ini senyumnya jadi.

Senyum yang kecil, sangat kecil, tapi nyata. Senyum yang membuat lingkar lelah di bawah matanya terlihat lebih ringan.

Aku berhenti tertawa. Aku tidak bisa bernapas lagi.

Lalu senyum itu hilang secepat munculnya, dan Salsa menunduk ke cup-nya, dan hujan terus turun.

Pukul delapan kurang sepuluh, hujan mulai reda. Salsa menghabiskan tetes terakhir kopinya. Ia melipat handuk abu-abu Kirana dengan rapi dan menaruhnya di samping piring kosong. Ia mengambil payung rusaknya dari lantai.

Ia membayar. Kopi saja. Ketika aku menolak uang untuk croissant, ia tidak memaksa.

Lalu ia berdiri, merapikan kemejanya yang masih lembab, dan berjalan ke pintu.

Di ambang pintu, ia berhenti.

Ia berbalik. Bukan ke arahku. Matanya naik ke atas pintu, ke papan nama kayu kecil yang dipasang di dinding dalam, papan yang sama dengan yang di luar, dibuat Kirana di tahun pertama dengan huruf yang dicat tangan.

KEDAI SETENGAH.

“Kedainya bagus,” kata Salsa. Ia masih menatap papan nama itu. “Kenapa namanya Setengah?”