Chapter Thirty
Resmi (Lagi)
POV: Irvan
Tulisannya bulat-bulat dan rapi. Tinta hijau di bawah tinta hijau. Dua pulpen kembar, satu sleeve.
Di atas, tulisanku:
Mau jadi pacarku lagi? (Jawabannya tulis di bawah. Kalau nggak, kopinya kutarik.)
Di bawah, tulisannya:
Iya. Dari hari ke-1. (Kopinya jangan ditarik. Aku belum minum.)
Aku membacanya tiga kali.
Dari hari ke-1.
Bukan dari hari ini. Bukan dari kencan di warung Mang Ade, bukan dari payung hijau di bawah hujan, bukan dari kamar 513 atau gelang kuning atau map biru. Dari hari ke-1. Hari pertama di halaman terakhir buku catatan koas. Malam ketika ia menangis di kamar mandi kos dengan keran terbuka penuh, dan ibu kos mengira pipanya bocor.
Delapan tahun lalu.
Ia tidak pernah berhenti menjadi pacarku. Ia hanya menunggu aku bertanya lagi.
Aku meletakkan pitcher susu di meja bar, sangat pelan. Aku tidak tahu kenapa aku masih memegangnya. Aku mengangkat wajah dan menatapnya di seberang meja kasir, perempuan dengan cepol miring dan satu helai rambut yang lolos, dengan mata merah karena tertawa sampai menangis, dengan pulpen hijau di saku kanan jas dokternya.
Ia menatapku balik. Menunggu.
Aku tidak tahu wajahku sedang melakukan apa. Aku hanya tahu bahwa Dodi, di samping Salsa, mengeluarkan suara seperti balon yang dilepas, dan Sus Mira di meja dekat pintu menutup mulutnya dengan dua tangan.
Aku berjalan memutari meja kasir.
Aku mengangkat papan kayu penghalang. Aku keluar dari balik bar. Aku berdiri di depannya, tanpa meja di antara kami, tanpa mesin kasir, tanpa sleeve.
Lalu aku memeluknya.
Bukan pelukan hati-hati seperti di ICU, menghindari selang dan drain. Bukan pelukan pelan seperti di kamar 513, menghindari luka operasi. Pelukan biasa. Pelukan laki-laki tiga puluh lima tahun yang memeluk pacarnya di depan kasir kedai kopi pukul enam pagi, dua tangan melingkar di punggungnya, dagu di atas kepalanya, cepol miring itu menekan rahangku.
Salsa membeku sebentar.
Lalu ia memelukku balik. Erat. Sangat erat. Sampai luka operasiku di perut menarik sedikit, dan aku tidak peduli.
Kedai Setengah meledak.
Pak Ujang yang pertama. Ia berdiri dari kursinya dan bersorak dengan suara bariton yang membuat jendela besar bergetar. Lalu Sus Mira, menjerit dan menangis bersamaan. Lalu Sus Eka dan Mbak Rina, bertepuk tangan. Lalu dr. Reza, yang berdiri dari meja pojok dengan americano tiga sendok gula di tangan, mengangkatnya tinggi-tinggi seperti bersulang di pesta pernikahan.
Dodi tidak bersorak. Dodi berdiri di kasir dengan spidol di tangan dan wajah basah, dan berkata dengan suara yang hampir tidak terdengar, “Ya Allah. Ya Allah. Ini lebih bagus dari sinetron.”
Kirana tidak bersorak juga. Kirana berjalan dari etalase croissant ke meja kasir, mengambil cup kopi susu dengan sleeve bertuliskan dua tinta hijau, dan memegangnya dengan dua tangan seperti memegang benda pusaka.
“Mas,” kata Kirana. “Sleeve-nya saya simpan, ya.”
Aku masih memeluk Salsa. Aku tidak bisa menjawab.
“Kopinya juga,” kata Salsa ke dadaku. “Aku belum minum.”
Kirana menatap cup itu. Lalu ia melepas sleeve-nya dengan sangat hati-hati, meletakkan cup kopi susu di depan Salsa, dan membawa sleeve itu ke dapur.
Ketika ia kembali lima menit kemudian, sleeve itu sudah ada di dalam bingkai foto kayu kecil, ukuran sepuluh kali lima belas, yang aku tidak tahu ia dapat dari mana. Ia menggantungnya di dinding di samping papan menu, di bawah papan nama kayu KEDAI SETENGAH, dengan paku kecil yang ia pukul pakai sepatunya sendiri.
“Kir,” kataku. “Bingkainya dari mana?”
“Saya beli minggu lalu, Mas,” kata Kirana. “Jaga-jaga.”
Pukul tujuh, Salsa harus visite. Ia melepaskan pelukanku dengan sangat terpaksa, menghabiskan kopi susunya dalam tiga tegukan panjang setelah meniupnya tiga kali, lalu berjalan ke pintu.
Di pintu, ia berhenti dan menoleh.
“Van,” katanya.
“Hm?”
“Kamu pacarku.”
“Iya.”
“Resmi.”
“Iya.”
“Lagi.”
“Iya, Sa.”
Ia menatapku lama. Lalu ia tersenyum, senyum yang tidak miring ke mana-mana, dan keluar. Melalui jendela besar, aku melihatnya menyeberang zebra cross dengan langkah pendek-pendek, lalu berhenti di tengah jalan, lalu menoleh ke arah kedai dan melambaikan tangan. Tiga mobil membunyikan klakson. Ia tidak peduli.
Pak Ujang, yang sudah kembali ke pos satpam, memberi hormat padanya dengan tangan kanan di pelipis. Salsa membalas dengan tangan kiri.
Sore harinya, Pak Ujang datang lagi dengan kertas lipat baru.
Kertas bergaris dari buku tulis anak sekolah, bolpoin biru. Tapi judulnya berbeda.
TARUHAN RESMI POS SATPAM RSMH – JILID 2 Kapan Mas Irvan & dr. Salsa nikah?
Pak Ujang: 6 bulan (alasan: udah tua, nggak boleh lama-lama) Sus Mira: 1 tahun (alasan: nunggu Mas Irvan stabil) Sus Eka: 3 bulan (alasan: dr. Salsa nggak sabaran) Mas Didit Lab: 2 tahun (alasan: konsultan sibuk) Mbak Rina Lab: tgl 12 Juni (alasan: firasat perempuan)
Aku menatap baris terakhir itu.
Dua belas Juni.
“Pak,” kataku pelan. “Mbak Rina tahu dari mana tanggal itu?”
Pak Ujang mengangkat bahu. “Saya nggak tahu, Mas. Dia cuma bilang firasat. Kita semua bilang tanggalnya terlalu spesifik, nggak adil. Tapi Mbak Rina keras kepala.” Ia menggaruk kumisnya. “Kenapa, Mas? Tanggal itu ada artinya?”
Aku menatap kertas itu lama sekali.
“Taruhannya pakai apa, Pak?”
“Gorengan, Mas. Kayak biasa. Tapi kali ini sebulan.” Pak Ujang menurunkan suaranya. “Dan yang kalah harus nyumbang buat kado nikahan.”
Aku menyerahkan kertas itu kembali padanya.
“Pak,” kataku. “Bilang ke Mbak Rina, saya mau traktir dia gorengan juga. Seminggu. Dari saya.”
Pak Ujang menatapku. “Buat apa, Mas?”
“Buat firasatnya.”
Minggu-minggu setelah itu, aku belajar sesuatu yang belum pernah kupelajari dalam delapan tahun.
Aku belajar pacaran.
Ternyata, pacaran dengan dokter penyakit dalam yang sedang menempuh pendidikan konsultan ginjal sama sekali tidak seperti pacaran dengan mahasiswa koas. Mahasiswa koas punya waktu luang, kadang-kadang, di antara jaga dan ujian. Calon konsultan tidak punya waktu luang sama sekali. Ia punya visite pagi, poli siang, konsul sore, jaga malam dua kali seminggu, laporan kasus, jurnal, dan tiga residen junior yang membutuhkannya setiap jam untuk membaca hasil analisis gas darah.
Jadi kami pacaran di sela-sela.
Pukul enam pagi, kopi susu di Kedai Setengah. Dua puluh menit. Kadang lima belas, kalau ada pasien darurat. Ia duduk di kursi dekat jendela, dan sekarang, aku boleh duduk di depannya. Kirana menjalankan bar selama dua puluh menit itu tanpa diminta. Dodi menulis nama Salsa di cup setiap pagi dengan huruf yang makin hari makin rumit, sampai di minggu ketiga ia mulai menambahkan bayangan tiga dimensi.
Pukul satu siang, pesan WhatsApp. Udah minum berapa? Aku mengirim foto teko biru muda di bawah meja kasir, dengan garis penanda di sisinya. Ia membalas dengan emoji jempol, atau dengan kurang 300 ml, minum sekarang, dan aku minum sekarang.
Pukul delapan malam, alarm obat. Suara Dodi menyanyikan Selamat Ulang Tahun setengah langkah terlalu tinggi. Lalu, satu menit kemudian, telepon dari Salsa. Udah minum obat? Udah. Foto. Aku memotret bungkus obat yang kosong. Ia membalas dengan emoji hati, yang tidak pernah ia kirim pada siapa pun, kata Kirana, yang tahu dari Mbak Rina, yang tahu dari Sus Mira.
Dan pukul dua pagi, di malam-malam jaga, telepon lagi.
Pertama kali terjadi, aku terbangun dengan jantung berdebar, mengira sesuatu yang buruk terjadi. Aku mengangkat dengan suara serak.
“Sa? Kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Ada pasien?”
“Ada. Udah stabil. Aku lagi di ruang jaga.”
“Terus kenapa telepon?”
Hening di seberang. Lalu suara Salsa, sangat pelan, sedikit malu.
“Lagi apa?”
Aku menatap langit-langit kamarku. Pukul dua lewat tujuh menit pagi.
“Tidur, Sa.”
“Oh.” Hening lagi. “Ya udah. Lanjut tidur.”
“Kamu telepon jam dua pagi cuma buat nanya aku lagi apa?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena aku bisa,” kata Salsa. “Delapan tahun aku nggak bisa. Sekarang aku bisa.”
Aku tidak menutup telepon. Ia juga tidak. Kami diam di telepon selama dua puluh menit, aku di kasur dan ia di ruang jaga lantai empat, mendengarkan napas satu sama lain dan sesekali bunyi monitor pasien di latar belakang, sampai seorang perawat memanggilnya untuk pasien di bangsal tiga.
Itu terjadi lagi di malam jaga berikutnya. Dan berikutnya. Setelah minggu kedua, aku mulai bangun pukul satu lima puluh lima, menunggu ponsel berdering.
Kadang, setelah telepon itu selesai, aku tidak bisa tidur lagi.
Bukan karena sedih. Karena terlalu bahagia. Bahagia yang terasa seperti barang pinjaman, seperti sesuatu yang dititipkan padaku sementara dan sewaktu-waktu bisa diminta kembali. Aku berbaring dan meletakkan telapak tangan di perut kanan bawah, di tempat ginjalnya tinggal, dan merasakan bekas luka operasi yang sudah mulai memudar di bawah jari-jariku.
Delapan tahun aku hidup dengan menghitung apa yang akan diambil berikutnya. Aku belum tahu caranya hidup tanpa menghitung.
Aku tidak bilang soal itu pada Salsa. Aku belum tahu caranya mengatakan bahwa aku takut pada sesuatu yang baik.
Hari Sabtu di minggu keempat, Nadia dan Gilang datang ke kedai.
Bukan untuk mengantar biji kopi. Nadia datang dengan kemeja putih yang sama dengan hari pertama sandiwara, lipstik merah tipis yang dipinjam dari adik Gilang, dan sebuah amplop cokelat di tangan.
Ia berjalan ke kasir. Ia meletakkan amplop itu di depanku.
“Tagihan,” katanya.
Aku membuka amplop itu. Selembar kertas HVS, dicetak rapi, dengan kop surat bertuliskan NADIA & GILANG – JASA SANDIWARA PROFESIONAL.
Rincian Biaya: Akting makan siang (4 hari) ............. Rp 4.000.000 Latihan ketawa mesra (3 sesi) ........... Rp 1.500.000 Suap nasi kuning (1 sendok, sesuai kontrak) ... Rp 500.000 Rapiin kerah palsu ...................... Rp 250.000 Pinjam lipstik adik Gilang .............. Rp 100.000 Biaya pengawasan lapangan (Gilang, 4 hari) .... Rp 2.000.000 Biaya trauma emosional ................... Rp 10.000.000 TOTAL: Rp 18.350.000
Pembayaran dapat dilakukan dalam bentuk: roti bakar srikaya seumur hidup.
Aku menatap kertas itu. Lalu menatap Nadia.
“Biaya trauma emosional sepuluh juta?”
“Itu murah, Van,” kata Nadia. “Aku harus pura-pura mesra sama kamu. Kamu tahu nggak gimana rasanya ngerapiin kerah orang yang ketawanya kayak mesin fotokopi?”
“Pengawasan lapangan dua juta?”
“Gilang duduk di pojok empat hari pakai kacamata item,” kata Nadia. “Matanya iritasi. Dia harus beli obat tetes mata.”
Gilang, di sampingnya, mengangguk dengan sangat serius. “Merek yang mahal, Mas.”
Aku tertawa. Tawa yang keras, yang nyata, yang membuat Dodi menoleh dari mesin kasir dengan wajah lega, karena itu tawa yang sama dengan tawa di balik bar bersama Salsa dan angsa latte art.
Nadia menatapku tertawa. Lalu ia tersenyum. Lalu senyumnya berubah, sedikit, menjadi sesuatu yang lebih serius.
Ia menarik lenganku. Lengan kanan. Ia menyeretku ke ujung meja bar, dekat pintu dapur, jauh dari Dodi dan Kirana dan pelanggan.
“Van,” katanya pelan.
“Hm?”
“Aku seneng banget. Beneran.” Nadia menatap bingkai foto kecil di dinding, sleeve dengan dua tinta hijau. “Kamu ketawa lagi. Kamu pakai kaus. Kamu minum tiga liter sehari. Kamu punya pacar. Aku seneng banget sampai pengin nangis tiap kali lihat kamu.”
“Makasih, Nad.”
“Tapi aku masih ngerasa ada yang belum beres.”
Aku menatapnya.
“Dia tahu itu sandiwara,” kata Nadia. “Aku tahu dia tahu. Gilang bilang dia udah diagnosis dari awal. Tapi dia belum tahu detailnya, Van. Dia belum tahu kamu maksa aku latihan ketawa tiga sesi. Dia belum tahu aku nendang tulang kering kamu biar kamu ketawa pas dia di kasir. Dia belum tahu kenapa kamu ketawa kayak orang kesakitan hari itu.”
“Nad...”
“Dan dia belum dengar dari aku.” Nadia menarik napas panjang. “Aku yang ngerapiin kerah kamu di kursi dia, Van. Aku yang ketawa kenceng biar dia dengar dari kasir. Aku utang permintaan maaf ke dia. Langsung. Dari mulut aku.”
Ia melepas lenganku dan menatapku dengan mata yang serius dan sedikit basah.
“Dia belum tahu semuanya, Van,” kata Nadia. “Aku harus cerita.”
- 1 Pesanan Jam Enam
- 2 Aku Nggak Siap
- 3 Tiup Tiga Kali
- 4 Permen Jahe di Toples Tip
- 5 Croissant Terakhir
- 6 Gula Tiga Sendok
- 7 Hal yang Tidak Diketahui Orang Asing
- 8 Van
- 9 Pasar Hari Minggu
- 10 Menu Baru
- 11 Masa Depan yang Pantas
- 12 Sandiwara Makan Siang
- 13 Kejutan untuk dr. Salsa
- 14 Kalimat yang Sama
- 15 Kursi Kosong Jam Enam
- 16 Yang Berlari Menyeberang
- 17 Tahun Kedua
- 18 Kaleng Biskuit
- 19 Tabungan Nikah
- 20 Harga Lima Tahun
- 21 Yang Kusiapkan Sambil Menunggu
- 22 Satu Malam
- 23 Sebelum Operasi
- 24 Tangan yang Masih Menggenggam
- 25 Sekarang Aku yang Jaga
- 26 Pulang
- 27 Kencan Pertama yang Kedua
- 28 Pegangan Tangan Itu Susah
- 29 Nembak Ulang
- 30 Resmi (Lagi) reading
- 31 Sandiwara yang Ketahuan
- 32 Lamaran
- 33 Angka yang Naik
- 34 Di Depan Pintu
- 35 Malam yang Sama
- 36 Nilai Kembali Normal
- 37 Kebaya yang Menunggu
- 38 Pagi Akad
- 39 Sekarang Aku Siap
- 40 Rumah Kecil, Dapur Gosong
- 41 Epilog: Gelas Penuh